- Sekitar 25 persen dari 4.412 orang dewasa Saudi yang disurvei masuk kategori makan emosional tinggi.
- Wilayah Perbatasan Utara mencatat porsi tertinggi 31,4 persen, sedangkan Qassim terendah 17,1 persen.
- Laki-laki mencatat median skor total 28, lebih tinggi daripada perempuan yang 24.
- Pada laki-laki makan emosional tidak berhubungan dengan IMT, sedangkan pada perempuan skor lebih tinggi berhubungan dengan IMT lebih tinggi.
Daftar Isi
- Riset Terdahulu: Mahasiswi di Riyadh, Jeddah, dan Taif
- Peta 2025: Perbatasan Utara Tertinggi, Qassim Terendah
- Usia 50 sampai 65 Tahun, Berbeda dari Temuan Elran 2021
- Berat Badan: Sejalan dengan Al-Musharaf dan Konttinen 2019
- Skor Pria Lebih Tinggi, Berlawanan dengan Madali 2021
- Hanya pada Perempuan, Seperti Catatan Guerrero-Hreins 2022
- Batas Survei 2025 dan Studi yang Masih Ditunggu
Dalam beberapa dekade terakhir, Arab Saudi bergerak cepat: ekonomi tumbuh, urbanisasi meluas, dan pola makan makin kebarat-baratan. Perubahan itu, menurut sebuah tim peneliti di negeri tersebut, ikut mendorong naiknya obesitas di semua kelompok umur, sementara kelebihan berat badan dan obesitas kini dialami lebih dari 60 persen orang dewasa Saudi. Di tengah angka itu tersisa satu pertanyaan yang belum dijawab di tingkat nasional: seberapa sering orang makan bukan karena lapar, melainkan karena perasaan?
Kebiasaan itu dalam literatur disebut makan emosional, yakni dorongan makan sebagai tanggapan atas keadaan emosi, bukan atas rasa lapar fisik. Pemicunya umumnya emosi negatif seperti stres dan sedih, meski pada sebagian orang emosi positif seperti kegembiraan atau perayaan ikut berperan. Pada 2010, Konttinen dan rekan menemukan bahwa makan emosional berhubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi. Para penulis survei ini mencatat besar dan arah hubungan itu tampak berbeda-beda antarpopulasi.
Pertanyaan itulah yang dibawa Rehab Y. Alghamdi dari Departemen Gizi Klinis, Fakultas Ilmu Kedokteran Terapan, King Abdulaziz University, Jeddah, dan rekan ke dalam artikel Emotional eating, body mass index, and sex differences: a national cross-sectional study of Saudi adults di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Mereka menyurvei secara daring 4.412 orang dewasa berusia 18 sampai 65 tahun dari ke-13 wilayah administratif Arab Saudi pada Januari hingga September 2025, terdiri atas 2.648 perempuan dan 1.764 laki-laki.
Alat ukurnya adalah Emotional Eating Scale versi bahasa Arab, berisi 25 butir yang menanyakan seberapa kuat dorongan makan muncul ketika seseorang merasakan emosi tertentu. Skala itu terbagi ke dalam empat subskala: sedih dan mudah tersinggung, kelelahan, kegembiraan, serta tertekan. Karena belum ada ambang klinis untuk versi Arab, tim menetapkan skor pada atau di atas persentil ke-75 sampel sebagai penanda makan emosional tinggi.
Riset Terdahulu: Mahasiswi di Riyadh, Jeddah, dan Taif
Sebelum survei ini, riset makan emosional di Arab Saudi terbatas pada Riyadh, Jeddah, Taif, dan wilayah barat, dan kebanyakan menyasar kelompok khusus seperti mahasiswa atau pasien. Pada 2020, Al-Musharaf meneliti 638 mahasiswi berusia 18 sampai 39 tahun di King Saud University, Riyadh, dan mendapati 52,8 persen menunjukkan makan emosional sedang atau tinggi. Penelitian itu memakai alat ukur yang sama, tetapi dikerjakan pada masa pandemi Covid-19.
Empat tahun kemudian, Mansoury memeriksa 359 mahasiswi di King Abdulaziz University, Jeddah, dan mendapati 41,2 persen tergolong pemakan emosional sedang, sementara hanya 26,7 persen yang bukan pemakan emosional. Pada 2025, El-Zayat dan rekan menyurvei 1.050 mahasiswi di Jeddah dan Taif. Sebanyak 21 persen tergolong pemakan emosional tinggi dan 54 persen pemakan emosional, sehingga 75 persen punya kadar makan emosional tertentu, dengan stres sebagai prediktor yang bermakna.
Ketiga penelitian itu punya kesamaan yang dicatat Alghamdi dan rekan: pesertanya hanya perempuan, dan dua di antaranya berasal dari satu kampus saja. Survei 2025 menghasilkan angka yang lebih rendah, yakni sekitar 25 persen peserta masuk kategori makan emosional tinggi. “Dibandingkan studi-studi tersebut, perkiraan keseluruhan kami yang lebih rendah, yakni 25%, kemungkinan mencerminkan sampel nasional kami yang beragam,” tulis para penulis, sebagaimana diterjemahkan dari naskah berbahasa Inggris.
Mereka menambahkan kemungkinan lain. Peserta yang pernah didiagnosis gangguan kesehatan jiwa dikeluarkan dari survei, sehingga angka makan emosional mungkin lebih rendah dari semestinya. Pengecualian serupa berlaku bagi perempuan hamil atau menyusui, penderita gangguan makan, serta pengidap ADHD atau spektrum autisme.
Baca juga Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi
Peta 2025: Perbatasan Utara Tertinggi, Qassim Terendah
Angka 25 persen itu tidak tersebar merata. Wilayah Perbatasan Utara mencatat porsi tertinggi, 31,4 persen, disusul Jazan 28,6 persen, Riyadh 28,4 persen, dan Al-Jouf 28,1 persen. Di ujung lain ada Qassim dengan 17,1 persen dan Provinsi Timur dengan 17,2 persen, sementara Makkah, salah satu wilayah besar, berada di 22,5 persen. Perbedaan antarwilayah ini bermakna secara statistik.
Pola subskalanya pun berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Di banyak wilayah, makan emosional paling sering muncul pada subskala kegembiraan, dengan rentang dari 24,2 persen di Provinsi Timur sampai 42,7 persen di Jazan. Perbatasan Utara mencatat angka tertinggi untuk tiga subskala lain: kelelahan 35,4 persen, sedih dan mudah tersinggung 33,2 persen, serta tertekan 36,3 persen.
Angka terendah untuk tiga subskala itu tersebar di tempat berbeda: kelelahan 17,4 persen di Qassim, sedih dan mudah tersinggung 18,9 persen di Provinsi Timur, serta tertekan 18,2 persen di Najran. Alghamdi dan rekan menduga perbedaan antarwilayah bisa mencerminkan faktor setempat yang tidak diukur, seperti lingkungan pangan atau urbanisasi. Mereka juga mengingatkan bahwa sampel wilayah kecil seperti Najran, yang hanya 99 orang, menghasilkan rentang kepercayaan lebar sehingga perbandingan antarwilayah perlu dibaca hati-hati.
Usia 50 sampai 65 Tahun, Berbeda dari Temuan Elran 2021
Riset-riset yang dirujuk para penulis umumnya menggambarkan makan emosional memuncak pada masa remaja dan dewasa muda, lalu menurun seiring usia ketika kemampuan mengatur emosi menguat. Survei Saudi memberi gambaran yang tidak sepenuhnya sama. Median skor total tertinggi justru ada pada kelompok 50 sampai 65 tahun, yaitu 30, sedangkan yang terendah pada kelompok 30 sampai 39 tahun, yaitu 22. Kelompok 18 sampai 29 tahun dan 40 sampai 49 tahun sama-sama 26.
Kelompok usia 30 sampai 39 tahun berbeda bermakna dari tiga kelompok lainnya, sementara kelompok 50 sampai 65 tahun mencetak skor total lebih tinggi daripada kelompok 18 sampai 29 dan 40 sampai 49 tahun. Kelompok tertua juga umumnya lebih tinggi pada keempat subskala dibanding kelompok 30 sampai 39 tahun, misalnya median subskala sedih dan mudah tersinggung 12 berbanding 8.
Temuan ini berlawanan dengan studi nasional Elran dan rekan pada 2021 terhadap 5.863 orang di Amerika Serikat, yang mendapati bahwa di antara perempuan kulit putih non-Hispanik, mereka yang lebih muda, berusia 21 sampai 39 tahun, lebih mungkin makan emosional. Hasil Saudi justru sejalan dengan studi di Mesir terhadap 200 lansia berusia 60 sampai 75 tahun di klub sosial lansia milik pemerintah, yang 98 persennya menunjukkan makan emosional sedang atau berat.
Para penulis menduga beban penyakit kronis dan tekanan psikologis pada tahap hidup ini ikut berperan. Mereka mencatat bahwa kedua hal itu tidak diukur langsung dalam survei mereka, dan bahwa makan emosional pada usia paruh baya dan lanjut masih jarang diteliti.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Berat Badan: Sejalan dengan Al-Musharaf dan Konttinen 2019
Lalu bagaimana dengan berat badan? Median IMT peserta 24,9 kg/m², lebih tinggi pada laki-laki (26,1) daripada perempuan (24,1). Sebanyak 28,5 persen peserta berada di rentang kelebihan berat badan dan 20,6 persen di rentang obesitas. Median skor total makan emosional naik dari 21 pada kelompok berat badan kurang menjadi 25 pada kelompok normal, 26 pada kelebihan berat badan, dan 27 pada obesitas.
Uji lanjutan menunjukkan perbedaan yang bermakna terletak antara kelompok berat badan kurang dan masing-masing kelompok lain. Menurut para penulis, makan emosional yang lebih rendah terutama tampak pada peserta berat badan kurang, sedangkan peserta berberat normal, berlebih, dan obesitas punya profil yang serupa dan lebih tinggi, terutama untuk subskala sedih dan mudah tersinggung.
Setelah faktor sosial-demografis, perilaku terkait berat badan, dan indikator klinis diperhitungkan, makan emosional yang lebih tinggi berhubungan dengan IMT yang lebih tinggi. Setiap selisih 10 poin skor total berkaitan dengan IMT harapan kira-kira 1 persen lebih tinggi. Untuk subskala sedih dan mudah tersinggung angkanya sekitar 2 persen, sedangkan untuk subskala tertekan sekitar 4 persen, hubungan paling kuat di antara keempatnya.
Arah ini sejalan dengan riset terdahulu yang dikutip para penulis. Al-Musharaf pada 2020 melaporkan hubungan kuat antara IMT dan makan emosional pada mahasiswi Riyadh, sementara Konttinen dan rekan pada 2019 menemukan makan emosional dan depresi berhubungan positif dengan IMT dalam studi longitudinal berbasis populasi. Shatwan dan Alzharani pada 2024 juga mencatat skor lebih tinggi pada mahasiswa Jeddah yang kelebihan berat badan atau obesitas.
Meski begitu, Alghamdi dan rekan menahan diri untuk tidak membesar-besarkan angka tersebut. “Meskipun asosiasi ini bermakna secara statistik karena besarnya sampel, efek nyata per satuannya kecil dan tidak boleh ditafsirkan berlebihan,” tulis mereka dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka juga menegaskan bahwa hubungan itu mencerminkan korelasi, bukan bukti bahwa rasa tertekan langsung memicu makan emosional atau perubahan IMT.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Skor Pria Lebih Tinggi, Berlawanan dengan Madali 2021
Satu temuan berjalan berlawanan dengan banyak riset di negara lain. Laki-laki dalam survei ini mencatat median skor total 28, sedangkan perempuan 24. Laki-laki juga lebih tinggi pada subskala sedih dan mudah tersinggung, 10 berbanding 8, dan kelelahan, 7 berbanding 6. Pada subskala kegembiraan dan tertekan mediannya sama, masing-masing 6 dan 4, meski sebaran skornya berbeda bermakna antara kedua jenis kelamin.
Pada 2021, Madali dan rekan mendapati perempuan di Turki punya skor lebih tinggi daripada laki-laki dalam survei terhadap 16.003 orang dewasa, meski survei itu dikerjakan pada masa pandemi Covid-19. Serban dan rekan pada 2025 menemukan pola serupa pada 300 mahasiswa kedokteran gigi di Rumania. Di Arab Saudi sendiri, Shatwan dan Alzharani pada 2024 tidak menemukan perbedaan bermakna antarjenis kelamin di antara 434 mahasiswa Jeddah, dengan alat ukur yang berbeda.
Hanya pada Perempuan, Seperti Catatan Guerrero-Hreins 2022
Ketika data dipisah menurut jenis kelamin, gambarannya berbalik. Pada laki-laki, makan emosional tidak berhubungan dengan IMT, baik untuk skor total maupun keempat subskalanya. Pada perempuan, skor yang lebih tinggi konsisten berhubungan dengan IMT yang lebih tinggi untuk skor total dan semua subskala. Selisih 10 poin pada subskala tertekan, misalnya, berkaitan dengan IMT harapan sekitar 6 persen lebih tinggi pada perempuan.
Uji interaksi menegaskan bahwa hubungan itu memang lebih kuat pada perempuan daripada laki-laki. Pola ini sejalan dengan riset Guerrero-Hreins dan rekan pada 2022 yang dirujuk para penulis, yang menggambarkan hubungan makan emosional dengan IMT lebih kuat pada perempuan, sementara pola pada laki-laki kurang konsisten dan mungkin bergantung pada jenis pemicu emosinya.
“Disosiasi antara tingkat makan emosional dan hubungan makan emosional dengan IMT ini memerlukan penafsiran yang hati-hati,” tulis para penulis. Mereka menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan: perbedaan komposisi tubuh dan respons metabolik, perbedaan jenis makanan yang disantap saat makan karena emosi, serta kemungkinan laki-laki sulit mengenali atau mengakui keadaan emosinya, sehingga makan emosional pada laki-laki bisa kurang terlaporkan dalam literatur sebelumnya.
Batas Survei 2025 dan Studi yang Masih Ditunggu
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Tinggi dan berat badan dilaporkan sendiri oleh peserta, dan kadar salah lapor bisa berbeda menurut jenis kelamin serta ukuran tubuh, sehingga pola perempuan dan laki-laki tadi mungkin sebagian ikut dipengaruhi hal itu. Karena itu, hasilnya dibaca sebagai hubungan antara makan emosional dan IMT yang dilaporkan sendiri.
Peserta direkrut lewat survei daring yang disebar di Instagram, WhatsApp, dan Snapchat, sehingga sampelnya kemungkinan lebih banyak diisi orang muda, berpendidikan, dan akrab dengan dunia digital. Ambang persentil ke-75 juga bukan batas diagnostik, sehingga angka 25 persen bergantung pada sampel dan tidak bisa dibandingkan langsung dengan studi yang memakai definisi lain. Desain potong lintang pun tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.
Dalam simpulannya, Alghamdi dan rekan menulis bahwa beban makan emosional tidak terbagi merata di Arab Saudi, sehingga pendekatan umum untuk seluruh populasi mungkin tidak cukup. Mereka menyarankan skrining makan emosional dimasukkan ke layanan pengelolaan berat badan dan layanan kesehatan primer, dengan perhatian khusus pada pasien perempuan, serta program yang peka terhadap wilayah dan jenis kelamin.
Survei 2025 ini menjadi mata rantai berikutnya sesudah riset di kampus-kampus Riyadh, Jeddah, dan Taif, kali ini dengan laki-laki dan perempuan dari ke-13 wilayah. Langkah sesudahnya, menurut para penulis, adalah studi longitudinal berskala nasional dengan pengukuran tinggi dan berat secara klinis, untuk memastikan apakah makan emosional dapat memperkirakan arah perubahan IMT dari waktu ke waktu.















