Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

A A

Ilustrasi truk jungkit kuning-hijau melaju di jalan raya dua lajur berlatar padang kering [Foto: Shams948/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hampir separuh sopir, 45,1 persen, tergolong berkualitas tidur buruk.
  • Kira-kira satu dari tiga sopir, 34,2 persen, tidur kurang dari tujuh jam sehari.
  • Sopir yang tidur tujuh jam atau kurang lebih mungkin berada di kelompok berat berlebih.
  • Hampir dua pertiga sopir, 63,5 persen, menyetir lebih dari delapan jam sehari.
  • Semua keterangan tentang tidur berasal dari jawaban sopir, sehingga bisa meleset karena ingatan.
Daftar Isi
  1. Kursi sopir
  2. Tujuh jam
  3. Obat tidur
  4. Pita di leher
  5. Yang tak tercatat
  6. Angka di tabel

Bertelanjang kaki dan berpakaian tipis, seorang sopir naik ke timbangan di Kasra Occupational Health Center, Shahroud, Iran. Pemeriksa mencatat tinggi dan berat badannya, lalu melingkarkan pita tak lentur di leher dan pinggangnya. Tiap ukuran diambil tiga kali. Begitulah pemeriksaan kesehatan kerja tahunan yang wajib dijalani para pengemudi profesional di kota itu.

Dari ruang periksa itu Masoumeh Atefi, Khosro Sadegh Niiat, dan Mohammad Hossein Ebrahimi menyusun artikel The Associations between Sleep Duration and Sleep Quality with Overweight/Obesity in Professional Drivers: Evidence from an Iranian Case-Control Study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2411, tahun 2026. Atefi dan Ebrahimi bekerja di Shahroud University of Medical Sciences, sedangkan Sadegh Niiat di Tehran University of Medical Sciences.

Yang mereka amati 1.200 sopir laki-laki berusia 18 sampai 60 tahun. Ada sopir truk, sopir bus, dan sopir taksi, semuanya sudah bekerja paling sedikit setahun. Separuhnya, 600 orang, punya indeks massa tubuh 25 atau lebih, batas yang dipakai naskah untuk berat berlebih dan obesitas. Separuh lainnya berada di bawah angka itu. Datanya dikumpulkan pada 2018.

Selain ditimbang, para sopir ditanya tentang tidur mereka selama sebulan terakhir. Jawabannya tidak menggembirakan. Hampir separuh, 45,1 persen, tergolong berkualitas tidur buruk. Kira-kira satu dari tiga, 34,2 persen, tidur kurang dari tujuh jam sehari. Lalu ketiga penulis mencari tahu apakah tidur semacam itu berjalan seiring dengan angka di timbangan.

Jawaban mereka ya, dengan catatan. Sopir yang tidur tujuh jam atau kurang lebih mungkin berada di kelompok berat berlebih dibanding sopir yang tidur lebih lama. Begitu pula sopir yang tidurnya buruk dibanding yang tidurnya baik. Kaitan itu bertahan setelah jam menyetir, rokok, kerja sif, dan beberapa kondisi kesehatan ikut diperhitungkan.

Kursi sopir

Sebelum sampai ke tempat tidur, naskah lebih dulu memotret hari kerja mereka. Hampir dua pertiga sopir, 63,5 persen, menyetir lebih dari delapan jam sehari. Tiga dari empat membawa kendaraan jalan raya, sisanya mobil penumpang. Menurut naskah, menyetir lebih dari delapan jam lebih sering dijumpai pada sopir berberat lebih, 44,1 persen, daripada sopir berberat normal, 19,4 persen.

Jadwal kerja ikut berbeda. Sebanyak 71,6 persen sopir bekerja dengan sif teratur, 14,9 persen dengan sif tak teratur, dan 13,5 persen dengan sif terbagi atau bergilir. Pada dua jenis sif yang terakhir, bagian sopir berberat lebih tercatat lebih besar. Lebih dari separuh sopir, 52,3 persen, menyetir malam setidaknya sekali seminggu, tetapi untuk hal ini kedua kelompok tidak berbeda bermakna.

Di luar kemudi, gambarannya seragam. Sebanyak 89,6 persen sopir sudah menikah dan 77,2 persen berpendidikan sekolah menengah. Tiga dari empat merokok, sementara hampir semuanya, 98,1 persen, tidak minum alkohol. Hanya empat persen yang aktivitas fisiknya tergolong tinggi. Sebanyak 69,3 persen tergolong rendah.

Rokok dan kurang gerak lebih banyak terkumpul di kelompok berberat lebih. Untuk aktivitas fisik rendah, naskah mencatat 49,2 persen berbanding 20,1 persen. Untuk merokok, 50,4 persen berbanding 24,0 persen. Sopir yang menikah juga lebih banyak di kelompok itu.

Dua kelompok sopir di ShahroudMenyetir lebih dari 8 jam sehari: Berat berlebih atau obesitas +44,1, Berat tidak berlebih +19,4; Aktivitas fisik rendah: Berat berlebih atau obesitas +49,2, Berat tidak berlebih +20,1; Merokok: Berat berlebih atau obesitas +50,4, Berat tidak berlebih +24,0; Dislipidemia: Berat berlebih atau obesitas +33,2, Berat tidak berlebih +12,2; Sindrom metabolik: Berat berlebih atau obesitas +27,9, Berat tidak berlebih +2,8.Dua kelompok sopir di ShahroudPersen, seperti tercatat di tabel naskahBerat berlebih atau obesitasBerat tidak berlebih2040600Menyetir lebih dari 8 jam sehari44,119,4Aktivitas fisik rendah49,220,1Merokok50,424,0Dislipidemia33,212,2Sindrom metabolik27,92,81.200 sopir profesional laki-laki, 600 orang di tiap kelompok.
Sumber: Masoumeh Atefi, Khosro Sadegh Niiat, dan Mohammad Hossein Ebrahimi, The Associations between Sleep Duration and Sleep Quality with Overweight/Obesity in Professional Drivers: Evidence from an Iranian Case-Control Study, BMC Public Health, 26(2411), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketiga penulis memberi penjelasan untuk tiap hal. Jam menyetir yang panjang berarti duduk lama, makan tak teratur, dan kesempatan bergerak yang menyempit. Orang yang menikah, tulis mereka, mungkin lebih berisiko karena lebih sering makan dengan porsi lebih besar. Merokok dikaitkan dengan perubahan pengaturan metabolisme dan penumpukan lemak di bagian tengah tubuh.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Tujuh jam

Garis batasnya tujuh jam. Sopir ditanya berapa jam mereka benar-benar tidur tiap malam, lalu dipilah menjadi dua: tujuh jam atau kurang, dan lebih dari tujuh jam. Tidur lebih dari tujuh jam jauh lebih lazim di kelompok berberat normal, 46,7 persen berbanding 19,1 persen. Tidur singkat lebih banyak di kelompok berberat lebih, 20,8 persen berbanding 13,4 persen.

Ukuran yang dipakai penulis adalah rasio odds, perbandingan peluang antara dua kelompok. Tanpa penyesuaian apa pun, angkanya 1,576 bagi sopir yang tidur tujuh jam atau kurang. Setelah pendidikan, lama menyetir, rokok, dan kerja sif diperhitungkan, angkanya turun menjadi 1,419. Ketika aktivitas fisik, sindrom metabolik, dan henti napas saat tidur ikut masuk, tersisa 1,319.

Angka itu mengecil di tiap langkah, tetapi tidak pernah hilang. Rentang kepercayaannya, 1,011 sampai 1,722, masih berada di atas satu. Artinya, di antara para sopir Shahroud ini, tidur singkat tetap berkaitan dengan berat berlebih sekalipun kebiasaan dan kondisi lain sudah disisihkan.

Kualitas tidur menempuh jalan sebaliknya. Tidur buruk tercatat pada 30,7 persen sopir berberat lebih dan 14,4 persen sopir berberat normal, tetapi selisih mentah itu tidak bermakna secara statistik. Rasio odds awalnya 1,211, juga belum bermakna. Baru setelah semua faktor tadi diperhitungkan angkanya menjadi 1,287 dan melewati ambang bermakna.

Di bagian pembahasan, ketiga penulis merumuskan arti angka-angka itu. “Hasil ini menyoroti tidur sebagai faktor yang penting, tetapi kerap terabaikan, dalam munculnya kelebihan berat badan pada pengemudi profesional,” tulis Masoumeh Atefi, Khosro Sadegh Niiat, dan Mohammad Hossein Ebrahimi dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Tidur 1.200 sopir IranDari 1.200 sopir, 45,1 persen tidur buruk dan 34,2 persen tidur kurang dari 7 jam; rasio odds berat berlebih 1,319 dan 1,287.Tidur 1.200 sopir IranRasio odds: peluang berat berlebih atau obesitas45,1%Tidur burukkualitas tidur34,2%Tidur singkatkurang dari 7 jam1,319Rasio oddstidur 7 jam ataukurang1,287Rasio oddskualitas tidurburukJalan risetnyaSopir diperiksaTidur ditanyakanBerat dibandingkanPembanding: sopir yang tidur lebih dari 7 jam dan sopir yang kualitastidurnya baik.
Sumber: Masoumeh Atefi, Khosro Sadegh Niiat, dan Mohammad Hossein Ebrahimi, The Associations between Sleep Duration and Sleep Quality with Overweight/Obesity in Professional Drivers: Evidence from an Iranian Case-Control Study, BMC Public Health, 26(2411), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mereka juga menguraikan mengapa kaitan itu masuk akal. Kurang tidur disebut menurunkan leptin dan menaikkan ghrelin, dua hormon pengatur selera makan, sehingga rasa lapar dan asupan bertambah. Tubuh yang lelah juga cenderung kurang bergerak. Naskah menyebut pula resistansi insulin, perubahan mikroba usus, dan peradangan sebagai jalur yang mungkin.

Arah sebaliknya juga mereka akui. Obesitas dapat memperburuk tidur lewat henti napas saat tidur, kapasitas napas yang berkurang, dan lelah menahun. Bagi sopir, gabungan keduanya menjadi bahaya kerja, sebab tidur yang kurang atau buruk berkaitan dengan kewaspadaan yang turun dan kemungkinan kecelakaan yang lebih besar.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Obat tidur

Kualitas tidur dalam naskah ini tersusun dari beberapa komponen, dan tidak semuanya berperan sama. Tiga di antaranya berbeda nyata antara kedua kelompok. Gangguan tidur tercatat pada 10,3 persen sopir berberat lebih, berbanding 1,8 persen. Pemakaian obat tidur 2,1 persen berbanding 0,5 persen. Tidur yang tidak efisien 59,1 persen berbanding 29,6 persen.

Setelah semua faktor diperhitungkan, gangguan tidur membawa rasio odds paling besar, 3,098. Minum obat tidur sekali seminggu atau lebih menyusul dengan 2,326. Tidur yang tidak efisien hanya menunjukkan kaitan tipis, 1,021. Penilaian sopir sendiri atas tidurnya, gangguan fungsi pada siang hari, dan lama waktu untuk terlelap tidak berbeda antara kedua kelompok.

Dari situ penulis menarik dua hal. Ukuran tidur yang spesifik pada perilaku lebih berguna daripada kesan umum seorang sopir tentang tidurnya. Mereka juga mengusulkan agar penapisan gangguan tidur dimasukkan ke dalam upaya pencegahan obesitas di tempat kerja para pengemudi.

Pita di leher

Pita yang dilingkarkan di leher sopir punya kegunaan sendiri. Lingkar leher di atas 40 sentimeter adalah satu dari delapan pertanyaan ya atau tidak untuk menaksir risiko henti napas saat tidur, bersama dengkuran, kantuk siang hari, dan tekanan darah tinggi. Hasilnya, 9,4 persen sopir berisiko tinggi. Hampir semuanya berada di kelompok berberat lebih: 9,0 persen berbanding 0,4 persen.

Pita di pinggang dan contoh darah bercerita serupa. Sindrom metabolik dijumpai pada 30,4 persen sopir, dengan 27,9 persen di kelompok berberat lebih dan 2,8 persen di kelompok lain. Dislipidemia, kelainan kadar lemak darah, mengenai 45,4 persen sopir, 33,2 persen berbanding 12,2 persen.

Diabetes dan hipertensi lebih jarang, tetapi polanya sama. Diabetes tercatat 4,0 persen berbanding 0,4 persen, hipertensi 3,2 persen berbanding 0,4 persen. Penulis menilai bertahannya kaitan tidur dengan berat badan, setelah sindrom metabolik dan henti napas saat tidur diperhitungkan, sebagai petunjuk bahwa tidur yang terganggu memengaruhi pengaturan energi tubuh secara langsung.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Yang tak tercatat

Ada batas yang diakui penulis sendiri. Semua keterangan tentang tidur berasal dari jawaban sopir, sehingga bisa meleset karena ingatan. Tidak ada alat perekam tidur yang dipakai. Asupan makan harian dan pola makan tidak dicatat. Kesehatan jiwa, tekanan kerja, dan kelelahan pun tidak diukur dengan instrumen baku.

Batas lain menyangkut siapa yang diperiksa. Semuanya laki-laki, semuanya sopir Iran, sehingga penulis meminta kehati-hatian bila hasilnya hendak dipakai untuk kelompok atau pekerjaan lain. Yang ditemukan pun kaitan, bukan sebab dan akibat. Menurut mereka, pengamatan jangka panjang dan uji perbaikan tidur masih diperlukan untuk memastikan arahnya.

Meski begitu, mereka menyebut tidur sebagai penentu kesehatan metabolik yang bisa diubah. Program kesehatan kerja yang memasukkan urusan tidur, tulis mereka, mungkin membantu pengendalian berat badan sekaligus keselamatan para pengemudi.

Angka di tabel

Beberapa angka di naskah bisa diperiksa pembaca. Tiap kelompok berisi 600 sopir, tetapi persentase di kedua kolom tabel tidak terbagi rata. Pada baris lama tidur, kolom berat normal berjumlah 60,1 persen dan kolom berat lebih 39,9 persen. Pada baris status menikah, perbandingannya berbalik menjadi 34,2 dan 65,8 persen.

Ada pula selisih kecil antarbagian. Batas atas rentang kepercayaan untuk tidur buruk tertulis 1,625 di abstrak, tetapi 1,639 di tabel dan uraian hasil. Bagian sopir berberat lebih dengan sif terbagi tertulis 9,3 persen di tabel dan 9,8 persen di teks. Abstrak menyebut tidur kurang dari tujuh jam, sedangkan bagian lain memakai tujuh jam atau kurang.

Timbangan dan pita di Shahroud mencatat berat, leher, dan pinggang seorang sopir sekali setahun. Jam tidurnya hanya tercatat karena ada yang bertanya. Dari jawaban 1.200 orang itu, tujuh jam ternyata menjadi garis yang memisahkan dua kelompok di atas timbangan yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Jam Makan Anak Mundur Saat Libur Sekolah, Lebih Sering Terlewat
Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Saat Orang Tua Kena Kanker, Remaja Memilih Diam dan Makin Sepi
Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas
Remaja Miskin Taiwan Lebih Puas Berkat Keluarga, Tetap Tertekan
Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea