- Proporsi orang dewasa yang berolahraga di waktu luang setidaknya sekali seminggu naik dari 45,1 persen pada 2013 menjadi 54,6 persen pada 2023.
- Laju perubahan pada perempuan lebih cepat, 11,5 persen berbanding 7,0 persen pada pria, meski pria selalu lebih banyak yang aktif.
- Kenaikan terbesar terjadi pada usia 40 sampai 64 tahun, dari 39,1 persen menjadi 52,2 persen.
- Porsi sesi 60 menit atau lebih naik dari 30,9 persen menjadi 36,7 persen.
Daftar Isi
Tatiana Rehder Gonçalves menelusuri jawaban puluhan ribu orang dewasa Brasil yang setiap tahun ditelepon petugas survei kesehatan. Pertanyaan yang diajukan kepada mereka: dalam tiga bulan terakhir, apakah mereka berolahraga di waktu luang, berapa hari dalam seminggu, dan berapa lama setiap kali. Dari jawaban yang terkumpul sepanjang 2013 sampai 2023, Gonçalves dan rekan-rekannya mendapati warga ibu kota Brasil kian banyak yang bergerak.
Temuan itu dimuat dalam artikel Trends in leisure-time physical activity participation by sex and age in Brazil: insights from Vigitel 2013–2023 di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Tatiana Rehder Gonçalves dan rekan menulisnya dari Institut Kedokteran Sosial Hésio Cordeiro, Universitas Negeri Rio de Janeiro (UERJ), serta Institut Nasional Penyakit Infeksi Evandro Chagas di Yayasan Oswaldo Cruz. Di antara sembilan rekan penulisnya ada Mauro Felippe Felix Mediano, Vitor Barreto Paravidino, dan Pedro Curi Hallal dari University of Illinois Urbana-Champaign.
“Temuan terpenting studi ini adalah kenaikan keseluruhan sekitar 10% dalam proporsi orang yang berpartisipasi dalam aktivitas fisik waktu luang antara 2013 dan 2023,” tulis Gonçalves dan rekan dalam bagian pembahasan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Proporsi itu bergerak dari 45,1 persen pada 2013 menjadi 54,6 persen pada 2023.
Membaca Jawaban Warga Lewat Telepon
Data yang diolah Gonçalves berasal dari Vigitel, survei telepon yang digelar Kementerian Kesehatan Brasil setiap tahun sejak 2006. Survei ini menjangkau orang dewasa berusia 18 tahun ke atas di 26 ibu kota negara bagian dan Distrik Federal. Jumlah orang yang datanya dianalisis sebanyak 52.929 orang pada 2013 dan 21.690 orang pada 2023.
Tim Gonçalves memulai hitungan dari 2013 demi menjaga keterbandingan data, sebab pada tahun itu dansa ditambahkan sebagai pilihan jawaban baru. Pilihan lainnya beragam, mulai dari jalan kaki di luar perjalanan sehari-hari, lari, angkat beban, kelas aerobik, senam air, peregangan, Pilates, yoga, renang, bela diri, bersepeda, sepak bola atau futsal, basket, voli, sampai tenis. Siapa pun yang melakukannya setidaknya sekali seminggu digolongkan aktif secara fisik.
Menghitung Siapa yang Mulai Bergerak
Langkah berikutnya, yang dikerjakan Gonçalves bersama Mediano dan Paravidino, adalah memilah angka itu menurut usia. Hasilnya, semua kelompok umur naik. Pada orang berusia 18 sampai 39 tahun, proporsi yang aktif bergerak dari 51,7 persen menjadi 59,7 persen. Pada usia 40 sampai 64 tahun, angkanya naik dari 39,1 persen menjadi 52,2 persen, kenaikan yang menurut para peneliti paling besar di antara kelompok usia.
Orang yang lebih tua tetap lebih jarang berolahraga, tetapi mereka pun ikut naik. Gonçalves dan rekan mencatat kelompok 65 sampai 79 tahun bergerak dari 38,4 persen menjadi 45,6 persen. Kelompok 80 tahun ke atas, yang angkanya paling rendah, naik dari 25,9 persen menjadi 34,2 persen.
Baca juga Olahraga Luar Ruang Spanyol Pascalockdown Naik ke 53,4 Persen
Untuk kelompok 40 sampai 64 tahun, Gonçalves dan rekan menduga kenaikan yang lebih tajam itu mungkin dipengaruhi tumbuhnya kesadaran kesehatan di usia tersebut. Mereka juga menyebut kemungkinan peran inisiatif perawatan pencegahan yang menekankan perubahan gaya hidup. Kedua hal itu disampaikan para penulis sebagai kemungkinan dalam bagian pembahasan.
Memilah Pria dan Perempuan
Ketika Gonçalves memisahkan pria dan perempuan, terlihat jarak yang belum tertutup. Sepanjang periode studi, pria selalu lebih banyak yang berolahraga di waktu luang. Proporsi pria yang aktif naik dari 52,6 persen menjadi 59,6 persen, sedangkan perempuan dari 38,8 persen menjadi 50,3 persen.
Namun laju perubahan pada perempuan lebih cepat, 11,5 persen berbanding 7,0 persen pada pria, dan perbedaan itu bermakna secara statistik. “Meskipun perempuan secara konsisten melaporkan tingkat aktivitas fisik waktu luang yang lebih rendah dibanding pria sepanjang periode studi, kenaikan yang lebih menonjol di kalangan perempuan menunjukkan menyempitnya perbedaan jenis kelamin dalam keterlibatan aktivitas fisik,” tulis Gonçalves dan rekan (terjemahan).
Pola kerapnya pun berbeda. Pada pria, tabel yang disusun Gonçalves, Mediano, dan Paravidino menunjukkan porsi yang hanya berolahraga satu sampai dua hari seminggu turun dari 37,3 persen menjadi 28,2 persen. Sebaliknya, pria yang berolahraga tiga sampai empat hari seminggu naik dari 29,6 menjadi 32,6 persen. Yang berolahraga lima sampai enam hari naik dari 23,3 menjadi 28,2 persen.
Perempuan menunjukkan pola lain. Menurut catatan Gonçalves, porsi perempuan yang berolahraga tiga sampai empat hari maupun lima sampai enam hari seminggu cenderung stabil. Yang turun justru porsi yang berolahraga setiap hari, dari 10,2 persen menjadi 7,0 persen. Pada pria, angka tujuh hari seminggu itu tetap stabil, yakni 9,8 persen pada 2013 dan 11,1 persen pada 2023.
Kenaikan yang lebih cepat pada perempuan, menurut Gonçalves dan rekan, mungkin mencerminkan makin terlihatnya program kesehatan masyarakat yang mendorong aktivitas fisik di Brasil serta kesadaran yang tumbuh tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan perempuan, terutama di usia paruh baya. Adapun frekuensi perempuan yang stabil, tulis mereka, mungkin berkaitan dengan hambatan yang bertahan, seperti keterbatasan waktu, tanggung jawab mengasuh, dan kekhawatiran soal keamanan. Turunnya latihan harian pada perempuan, menurut mereka, bisa jadi menandakan peralihan ke pola aktivitas yang lebih mudah dijalani dan berkelanjutan.
Baca juga Perempuan Santiago Enggan Berjalan Kaki karena Jalan Gelap
Menengok Lama Setiap Latihan
Selain kerapnya, Gonçalves juga menelusuri berapa lama orang berolahraga dalam satu sesi. Secara keseluruhan, porsi yang melaporkan sesi kurang dari 10 menit turun dari 55,0 persen menjadi 45,6 persen. Pada saat yang sama, sesi 10 sampai 29 menit naik dari 2,1 menjadi 2,7 persen, sesi 30 sampai 59 menit dari 12,0 menjadi 15,0 persen, dan sesi 60 menit atau lebih naik dari 30,9 menjadi 36,7 persen.
Pergeseran ke sesi yang lebih panjang itu terlihat pada pria maupun perempuan. Dalam tabel Gonçalves dan rekan, perempuan yang berolahraga 60 menit atau lebih per sesi naik dari 25,0 persen menjadi 32,0 persen, sedangkan pria dari 37,7 persen menjadi 42,2 persen. Sesi di bawah 10 menit pada perempuan turun dari 61,4 persen menjadi 49,8 persen, dan pada pria dari 47,6 persen menjadi 40,7 persen.
Menurut usia, Gonçalves dan rekan mencatat semua kelompok mengalami penurunan porsi sesi di bawah 10 menit. Pada usia 40 sampai 64 tahun, sesi 60 menit atau lebih naik dari 24,1 persen menjadi 32,7 persen, dan sesi 30 sampai 59 menit dari 13,1 menjadi 16,4 persen. Pada usia 65 sampai 79 tahun, sesi 60 menit atau lebih bertambah dari 18,6 menjadi 24,6 persen.
Kelompok termuda, 18 sampai 39 tahun, juga bergeser dalam kerapnya latihan. Gonçalves dan rekan mencatat porsi yang hanya berolahraga satu sampai dua hari seminggu turun dari 32,0 menjadi 22,0 persen, sementara yang berolahraga lima sampai enam hari naik dari 27,7 menjadi 34,0 persen. Pada kelompok 40 sampai 64 tahun, yang berolahraga tujuh hari seminggu justru turun dari 11,6 menjadi 8,1 persen.
Kenaikan durasi di semua kelompok, terutama pada usia 18 sampai 64 tahun, dibaca para peneliti sebagai tanda keterlibatan yang lebih terstruktur dan disengaja. Menurut Gonçalves dan rekan, hal itu kemungkinan dipengaruhi meluasnya akses ke program komunitas, upaya edukasi, dan platform digital. Yang mereka sebut antara lain aplikasi kebugaran di ponsel, media sosial, dan video olahraga daring.
Baca juga Kenangan Pelajaran Olahraga di Sekolah Terbawa sampai Dewasa
Membaca Turun-Naik dan Program Kota
Garis kenaikan itu tidak mulus. Gonçalves dan rekan mencatat proporsi warga yang aktif sempat lebih rendah pada 2017 dan 2020 dibanding tahun di sekitarnya, yakni 49,4 persen pada 2017 setelah 50,7 persen pada 2016, serta 50,3 persen pada 2020 setelah 52,4 persen pada 2019. Menurut mereka, penurunan 2017 mungkin mencerminkan krisis ekonomi dan kebijakan penghematan di Brasil saat itu, sedangkan penurunan 2020 mungkin bertepatan dengan pandemi COVID-19.
Untuk tren naik secara umum, para penulis menengok program pemerintah. Gonçalves dan rekan menyebut program Agita São Paulo yang diluncurkan pada 1996 dan Academia da Cidade di Recife sejak 2002, yang mengilhami Programa Academia da Saúde secara nasional pada 2011. Program-program itu, tulis mereka, mungkin membantu menumbuhkan kesadaran dan keterlibatan yang bertahan dalam aktivitas fisik waktu luang.
Lingkungan kota juga ikut disebut. Menurut Gonçalves dan rekan, bertambahnya taman, ruang hijau, dan jalur sepeda di kota-kota Brasil mungkin turut mendorong partisipasi. Fasilitas semacam itu, tulis mereka, menyediakan kesempatan yang aman dan mudah dijangkau untuk berjalan kaki, bersepeda, dan berolahraga di luar ruang.
Mencatat Batas dan Pesan untuk Pengawasan
Gonçalves dan rekan juga mencatat keterbatasan data mereka. Seluruh aktivitas fisik diukur dari pengakuan responden sendiri. Sampel Vigitel hanya mencakup orang yang punya telepon rumah atau telepon seluler, sehingga warga dengan status sosial ekonomi lebih rendah, yang cenderung lebih jarang berolahraga di waktu luang, mungkin tidak terjangkau dan hasilnya bisa terpengaruh.
Para peneliti juga menulis bahwa tidak adanya data dari kota-kota di luar ibu kota membatasi penerapan temuan ini ke seluruh penduduk Brasil. Meski begitu, Gonçalves dan rekan menyebut pembobotan pascastratifikasi membantu mengurangi kemungkinan perkiraan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Di sisi lain, Gonçalves dan rekan menilai kekuatan studi ini ada pada analisis tren sepuluh tahun dari sampel besar yang disurvei setiap tahun. Menurut mereka, data pengawasan jangka panjang seperti itu langka di negara berpendapatan rendah dan menengah, sehingga nilainya penting bagi pemantauan kesehatan penduduk.
Dalam kesimpulan, Gonçalves dan rekan menegaskan kembali peran data pengawasan itu. “Tren positif ini menegaskan pentingnya pengawasan berkelanjutan melalui sistem seperti Vigitel dan menyoroti perlunya kebijakan publik yang berkelanjutan dan berbasis informasi yang mendorong aktivitas fisik waktu luang serta memperbaiki kesehatan penduduk,” tulis mereka (terjemahan).















