- Sebanyak 211 dari 445 atlet muda di Damaskus, atau 47,4 persen, pernah mengalami cedera gigi atau jaringan lunak di mulut dan wajah karena berolahraga.
- Pemain basket mencatat angka tertinggi, 64,8 persen, disusul pemain sepak bola dengan 59,5 persen.
- Pada kelompok yang berlatih lebih dari lima tahun, angkanya melompat menjadi 91,0 persen, yaitu 61 dari 67 atlet.
- Dari 445 atlet, 294 orang atau 66,1 persen tidak memakai alat pelindung apa pun.
Daftar Isi
- Basket dan sepak bola menyumbang benturan paling banyak
- Makin lama berlatih, makin panjang riwayat benturannya
- Lebih dari empat sesi sepekan mengubah hitungannya
- Pelindung mulut berkaitan dengan cedera yang lebih jarang
- Gigi atas, bibir, dan hidung paling sering menerima benturan
- Perang dan krisis ekonomi ikut dipakai menjelaskan angkanya
- Di mana penjelasan ini berhenti
Pelindung mulut adalah benda kecil yang gunanya sudah terbukti di lapangan olahraga: ia menjaga gigi agar tidak bergeser atau patah dan melindungi jaringan lunak mulut dari robekan. Namun di klub-klub olahraga Damaskus, sebagian besar atlet anak dan remaja berlatih dan bertanding tanpa pelindung apa pun. Mereka yang paling lama berlatih justru yang paling banyak membawa riwayat benturan di gigi dan wajah.
Temuan itu dicatat Taimaa Riad Hamdan, Lana Alshayeb, dan Mayssoon Dashash dalam Prevalence and risk factors of orofacial trauma among child and adolescent athletes in Damascus, Syria: a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Pediatric Dentistry Department, Faculty of Dentistry, Damascus University. Mereka menanyai dan memeriksa mulut 445 atlet berusia 6 sampai 16 tahun dari sebelas klub olahraga di Damaskus.
Sebanyak 211 dari 445 atlet itu, atau 47,4 persen, pernah mengalami cedera gigi atau jaringan lunak di mulut dan wajah karena berolahraga, dihitung sepanjang masa mereka ikut olahraga terorganisasi. Menurut para penulis, angka itu melampaui sebagian besar laporan dari kawasan yang sama maupun dari negara lain, yang biasanya berkisar antara 15 dan 30 persen. Mereka mencatat pula pengecualian, yakni sebuah penelitian di Portugal yang menemukan 73 persen pada pemain basket.
Basket dan sepak bola menyumbang benturan paling banyak
Cabang olahraga ikut menentukan seberapa sering wajah terkena. Pemain basket mencatat angka tertinggi, 64,8 persen, disusul pemain sepak bola dengan 59,5 persen. Di bawahnya ada tinju 43,4 persen, voli 42,2 persen, dan senam 41,4 persen. Karate berada di urutan paling bawah dengan 32,5 persen. Para penulis membaca urutan ini sebagai penegasan bahwa olahraga yang dinamis dan sarat kontak fisik membawa risiko cedera mulut dan wajah yang lebih besar.
Untuk karate dan senam, para penulis menawarkan dugaan tentang cara kerjanya. Angka yang lebih rendah di kedua cabang itu, menurut mereka, mungkin berasal dari aturan kontak yang lebih ketat serta penekanan yang lebih besar pada penguasaan tubuh dan latihan melindungi diri. Angka tinju dan karate sendiri, kata mereka, lebih tinggi daripada sebagian penelitian lain tetapi lebih rendah daripada sebagian yang lain.
Angka 41,4 persen pada pesenam jauh di atas laporan terdahulu yang dirujuk para penulis, yakni antara 3,6 dan 8,3 persen. Akan tetapi, ketika semua faktor dihitung bersama, hanya pesenam yang peluang cederanya lebih rendah secara bermakna dibanding pemain sepak bola, dengan rasio peluang 0,395. Para penulis menyebutnya paradoks yang mungkin mencerminkan pengaruh faktor lain yang tersisa, misalnya usia pesenam yang lebih muda dan perbedaan intensitas latihan.
Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen
Makin lama berlatih, makin panjang riwayat benturannya
Di antara atlet yang berlatih kurang dari setahun, 26,9 persen pernah cedera. Pada mereka yang sudah berlatih satu sampai lima tahun, angkanya 45,6 persen. Pada kelompok yang berlatih lebih dari lima tahun, angkanya melompat menjadi 91,0 persen, yaitu 61 dari 67 atlet.
Setelah faktor lain ikut diperhitungkan, pola itu bertahan. Dibanding atlet yang berlatih kurang dari setahun, mereka yang berlatih satu sampai lima tahun punya rasio peluang cedera 2,642. Pada atlet dengan pengalaman lebih dari lima tahun, rasio itu mencapai 28,159, dengan selang kepercayaan 95 persen dari 10,270 sampai 77,211. Para penulis menyebut hubungan ini bertingkat: makin panjang masa berlatih, makin tinggi angkanya.
Penjelasan yang mereka ajukan menyangkut cara risiko itu menumpuk. Menurut para penulis, hubungan tersebut kemungkinan mencerminkan dampak kumulatif dari paparan yang lebih lama, intensitas kompetisi yang lebih tinggi, dan kepatuhan pada aturan keselamatan yang perlahan menurun.
Lebih dari empat sesi sepekan mengubah hitungannya
Kepadatan latihan bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Atlet yang berlatih kurang dari tiga sesi sepekan mencatat angka cedera 44,6 persen, dan mereka yang berlatih tiga sampai empat sesi 40,6 persen. Kedua kelompok itu tidak berbeda secara bermakna. Lonjakan baru terlihat pada atlet yang berlatih lebih dari empat sesi sepekan: 47 dari 52 orang, atau 90,4 persen, pernah cedera, dengan rasio peluang 9,121 dibanding kelompok yang paling jarang berlatih.
Para penulis menafsirkan lonjakan itu lewat tubuh yang lelah. Kaitan antara beban latihan mingguan yang tinggi dan cedera, menurut mereka, mungkin dijelaskan oleh kelelahan yang menumpuk, waktu pemulihan yang berkurang, dan koordinasi saraf-otot yang terganggu. Ketiganya dapat menurunkan mutu teknik dan melemahkan gerak refleks untuk melindungi diri. Mereka menyebut temuan ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu.
Lama tiap sesi dan usia tampak penting ketika dilihat sendiri-sendiri. Angka cedera naik dari 31,2 persen pada sesi satu jam menjadi 49,8 persen pada sesi satu sampai dua jam dan 59,2 persen pada sesi dua sampai tiga jam, dan remaja yang lebih tua lebih banyak cedera. Persoalannya, kedua faktor itu kehilangan makna statistik begitu lama pengalaman dan jumlah sesi mingguan dimasukkan. Jenis kelamin sejak awal tidak berkaitan dengan cedera.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Pelindung mulut berkaitan dengan cedera yang lebih jarang
Dari 445 atlet, 294 orang atau 66,1 persen tidak memakai alat pelindung apa pun. Sebanyak 114 orang, 25,6 persen, memakai pelindung mulut, dan 37 orang, 8,3 persen, memakai pelindung mulut bersama pelindung kepala atau wajah. Di kelompok tanpa pelindung, 52,4 persen pernah cedera. Di kelompok pemakai pelindung mulut, angkanya 34,2 persen, sedangkan pada pemakai kombinasi 48,6 persen.
Ketika cabang olahraga, lama pengalaman, dan jumlah sesi ikut dihitung, kedua kelompok pemakai alat sama-sama menunjukkan peluang cedera yang lebih rendah daripada atlet tanpa pelindung. Rasio peluangnya 0,286 untuk pelindung mulut dan 0,327 untuk pelindung mulut yang dipakai bersama pelindung kepala atau wajah. Para penulis menyebutnya kaitan yang bersifat melindungi, sejalan dengan bukti dari berbagai negara tentang peran alat itu di olahraga kontak maupun nonkontak.
Pemakaian alat itu rendah. “Meski demikian, hanya sepertiga peserta (33,9 persen) yang melaporkan memakai pelindung dalam bentuk apa pun,” tulis Taimaa Riad Hamdan, peneliti kedokteran gigi anak Damascus University, bersama Lana Alshayeb dan Mayssoon Dashash dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Rendahnya kepatuhan itu, menurut mereka, kemungkinan bersumber dari rasa tidak nyaman, kurangnya kesadaran, dan lemahnya penegakan oleh pelatih dan lembaga.
Gigi atas, bibir, dan hidung paling sering menerima benturan
Pada 211 atlet yang pernah cedera, benturan tidak jatuh merata. Gigi atas terkena pada 48,3 persen dari mereka, sedangkan gigi bawah hanya 5,7 persen. Di luar mulut, bibir cedera pada 37,9 persen dan hidung pada 29,4 persen, disusul dagu 22,3 persen, pipi 17,5 persen, dan dahi 13,3 persen. Di dalam mulut, gusi terkena pada 26,5 persen, jauh di atas lidah yang hanya 6,2 persen.
Para penulis menjelaskan pola itu lewat letak. Bibir dan hidung, menurut mereka, paling sering terkena kemungkinan karena posisinya yang menonjol dan tidak terlindung. Gigi atas lebih sering cedera daripada gigi bawah karena lebih terpapar, sama seperti yang dilaporkan beberapa penelitian lain. Wajah secara keseluruhan mereka gambarkan sebagai bagian tubuh yang paling terbuka dan paling sedikit dilindungi selama berolahraga.
Jenis cedera giginya juga dicatat. Yang terbanyak adalah cedera jenis konkusi, pada 25,6 persen atlet yang pernah cedera, lalu patah mahkota gigi 14,2 persen dan gigi goyang 10,4 persen. Gigi yang lepas seluruhnya, atau avulsi, paling jarang, 3,8 persen. Urutan ini berbeda dari penelitian lain yang menempatkan patah mahkota di posisi pertama. Para penulis menduga selisih itu muncul karena mereka bersandar pada laporan peserta dan pemeriksaan klinis dasar tanpa foto rontgen.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Perang dan krisis ekonomi ikut dipakai menjelaskan angkanya
Mengapa angka Damaskus setinggi itu? Para penulis menunjuk keadaan yang khas Suriah: alat pelindung yang terjangkau sulit didapat, aturan keselamatan tidak memadai, dan kesadaran atlet serta pelatih rendah. Dampak panjang konflik dan krisis ekonomi yang masih berlangsung, menurut mereka, melemahkan sarana kesehatan dan olahraga, mengganggu program pencegahan di sekolah, dan membatasi kemampuan keluarga membeli pelindung mulut yang dibuat sesuai ukuran pemakainya.
Dari situ mereka menyusun saran dalam dua lapis. Kewajiban memakai pelindung mulut di cabang berisiko tinggi, pemeriksaan gigi rutin di sekolah dan klub, serta pengaturan beban latihan mereka tempatkan sebagai tujuan kebijakan jangka panjang. Untuk saat ini, yang mereka anggap sesuai keadaan adalah pelindung mulut bersubsidi atau yang disediakan sekolah, kampanye penyadaran bagi pelatih dan keluarga, dan pemeriksaan gigi yang dimasukkan sedikit demi sedikit ke program kesehatan sekolah dan klub.
Di mana penjelasan ini berhenti
Para penulis sendiri memberi batas pada temuan mereka. Karena semua data diambil pada satu waktu, penelitian ini tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat antara faktor risiko dan cedera. Riwayat cedera dan pemakaian pelindung bersandar pada ingatan peserta atau walinya, yang bagi atlet berpengalaman berarti mengingat seluruh masa berolahraga. Pencocokan dengan catatan klub atau orang tua hanya mungkin pada sedikit kasus dan tidak dilakukan secara sistematis.
Batas berikutnya menyangkut siapa yang diwakili. Seluruh peserta berasal dari klub di kota Damaskus, sehingga hasilnya sulit diberlakukan bagi penduduk perdesaan atau pengungsi yang mungkin lebih sulit memperoleh alat pelindung dan perawatan gigi. “Akibatnya, beban sebenarnya trauma gigi dan orofasial di Suriah mungkin diperkirakan terlalu rendah,” tulis Hamdan, Alshayeb, dan Dashash. Pengelompokan atlet menurut klub juga tidak diperhitungkan dalam analisis.
Ada pula hal yang tidak diukur sama sekali. Penelitian ini tidak mengumpulkan data tentang keadaan sosial ekonomi keluarga, keterjangkauan alat, akses ke perawatan gigi, atau susunan gigi yang dapat menambah risiko. Karena ini penelitian pertama tentang cedera gigi dan wajah pada atlet di Suriah, tidak ada data sebelum konflik untuk dibandingkan. Ketiadaan data pembanding itu, menurut para penulis, membatasi kemampuan menilai pengaruh langsung konflik terhadap pola cedera.
Atlet muda Damaskus yang paling lama dan paling sering berlatih adalah yang paling banyak pernah cedera di gigi dan wajah, sementara pemakaian pelindung mulut berkaitan dengan peluang cedera yang lebih rendah tetapi hanya dilakukan sepertiga dari mereka. Para penulis menyimpulkan hasil ini mendukung pendidikan bagi atlet, pembenahan kebijakan, dan kewajiban memakai pelindung mulut. Untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya, kata mereka, diperlukan penelitian jangka panjang di banyak daerah.















