- Hanya 3,3 persen peserta memakai rokok batangan atau syisyah selama hamil, dan 0,9 persen memakai rokok elektrik.
- Sebanyak 28,3 persen peserta terpapar asap rokok orang lain selama kehamilan, di rumah atau di tempat kerja.
- Di antara ibu yang terpapar asap, 81,4 persen bersuami yang sedang merokok, dibanding 23,7 persen pada yang tidak terpapar.
- Hanya 9,2 persen peserta yang pernah ditanya tenaga kesehatan apakah mereka merokok dalam 12 bulan terakhir.
Daftar Isi
Kehamilan kerap dibayangkan sebagai masa ketika seorang perempuan paling leluasa menjaga tubuhnya, ketika apa yang ia makan, minum, dan hirup menjadi urusan yang ia putuskan sendiri dengan penuh kehati-hatian. Namun udara di sebuah rumah jarang menjadi milik satu orang, dan penelitian dari Madinah, Arab Saudi, memperlihatkan betapa jauh jarak antara menahan diri dari rokok dan benar-benar terlindung dari asapnya.
Di antara perempuan yang baru melahirkan di kota itu, hampir semuanya tidak merokok selama hamil, dan pemakai rokok elektrik bahkan lebih jarang lagi. Justru sebaliknya, lebih dari seperempat dari mereka yang datanya lengkap mengaku terpapar asap rokok orang lain selama kehamilan, di rumah atau di tempat kerja, sementara hanya sedikit yang pernah ditanya soal rokok oleh tenaga kesehatan dalam setahun terakhir.
Temuan itu ditulis Samah Alfahl dari Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Taibah, Madinah, dan rekan dalam makalah Tobacco use and secondhand smoke exposure during pregnancy: a cross-sectional study in Al-Madinah, Saudi Arabia di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka membagikan kuesioner kepada 469 perempuan di bangsal nifas Maternity and Children Hospital Madinah pada Oktober hingga Desember 2024; usia mereka 19 sampai 45 tahun, rata-rata 31,8 tahun.
Rokok yang Nyaris Tak Disentuh
Untuk rokok yang dibakar, yakni rokok batangan dan syisyah, ada 419 peserta yang jawabannya lengkap, dan 401 orang atau 95,7 persen tidak pernah memakainya. Empat orang adalah bekas pemakai yang berhenti sebelum kehamilan itu, sedangkan 14 orang, atau 3,3 persen, memakainya selama kehamilan itu, termasuk bila hanya sesekali, karena pemakaian kini di sini berarti pemakaian apa pun selama kehamilan tersebut.
Rokok elektrik lebih sepi lagi, sebab dari 451 peserta yang menjawab lengkap, 439 orang atau 97,3 persen tidak pernah memakainya, delapan orang pernah, dan hanya empat orang, 0,9 persen, memakainya selama hamil. Tiga dari empat pemakai itu berusia 25 tahun atau kurang, atau 75,0 persen, dibanding 15,9 persen pada kelompok yang tidak pernah memakai, dan perbedaan menurut usia ini dinyatakan bermakna.
Gambaran tentang perempuan yang tetap merokok selama hamil, sekecil apa pun jumlahnya, membawa satu nama lain ke dalam cerita ini, yaitu suami. Di antara pemakai rokok dibakar saat hamil, 69,2 persen bersuami perokok, sedangkan pada yang tidak pernah merokok angkanya 34,9 persen; pada rokok elektrik, 75,0 persen berbanding 34,6 persen, meski yang terakhir ini tidak mencapai kemaknaan statistik.
Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Udara yang Dibagi Serumah
Seandainya cerita berhenti pada angka perokok aktif, para ibu dalam penelitian ini akan tampak nyaris bersih dari tembakau. Namun dari 343 peserta yang datanya tentang asap orang lain lengkap, 97 orang atau 28,3 persen terpapar selama kehamilan, sementara 246 orang atau 71,7 persen tidak, dan seseorang dihitung terpapar bila melaporkan paparan asap rokok di rumah atau di tempat kerja selama kehamilan.
Di situlah poros temuan ini berbelok, dari soal pilihan pribadi ke soal ruang yang dihuni bersama. “Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan hamil, meski sebagian besar tidak memakai tembakau sendiri, tetap rentan terhadap paparan yang tidak mereka kehendaki di lingkungan rumah mereka,” tulis Alfahl dan rekan dalam bagian pembahasan, kalimat yang di sini diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Angka itu sendiri tidak berdiri sendirian di kota yang sama, karena para penulis menyebut penelitian lain di Madinah terhadap ibu hamil yang memeriksakan kandungan di puskesmas, yang mencatat 9,2 persen perokok aktif dan 46,8 persen terpapar asap. Mereka menduga selisihnya berasal dari waktu pengumpulan data, saat hamil atau sesudah melahirkan, serta perbedaan cara meneliti, sedangkan studi di 30 negara berpenghasilan rendah dan menengah mencatat paparan harian dari 6 persen di Nigeria hingga 73 persen di Armenia.
Tahu Bahayanya, Belum Tentu Sepakat
Pengetahuan dan anggapan para ibu tentang bahaya asap rokok, menurut para penulis, tidak seragam. Hanya 240 peserta atau 51,6 persen yang menjawab bahwa asap rokok menyebabkan penyakit serius pada orang yang tidak merokok, 174 orang atau 37,4 persen menjawab tidak, dan 51 orang atau 11,0 persen mengaku tidak tahu, angka yang menurut para penulis jauh lebih rendah daripada penelitian di Taiwan, tempat 99,2 persen peserta menyadari risiko merokok bagi kesehatan ibu dan bayi.
Namun pertanyaan tentang janin menghasilkan nada yang lain, karena 44,3 persen peserta menilai merokok saat hamil amat sangat berbahaya bagi janin dan 30,5 persen menilainya sangat berbahaya. Sisanya, 25,2 persen, menganggapnya hanya cukup berbahaya, sedikit berbahaya, atau sama sekali tidak berbahaya bagi janin yang dikandung, dengan rincian 11,7 persen cukup berbahaya, 12,6 persen sedikit berbahaya, dan 0,9 persen tidak berbahaya.
Aturan di rumah pun tampak tegas di permukaan, sebab 356 peserta atau 75,9 persen menyatakan merokok tidak pernah diizinkan di rumah mereka. Akan tetapi 68 orang atau 14,5 persen tinggal di rumah yang membolehkannya, 32 orang atau 6,8 persen di rumah tanpa aturan, dan 13 orang atau 2,8 persen di rumah yang melarang dengan pengecualian, sehingga menurut para penulis hampir satu dari empat ibu tinggal di rumah yang membolehkan merokok, tidak punya batasan yang jelas, atau memberi pengecualian.
Baca juga Suami Ikut Diedukasi, Kepatuhan Tablet Tambah Darah Naik
Di Antara Asap dan Suami
Di antara semua faktor yang diperiksa, kebiasaan merokok suami menunjukkan hubungan paling kuat, baik dengan pemakaian tembakau oleh ibu sendiri maupun dengan paparan asap. Di antara ibu yang terpapar asap, 81,4 persen bersuami yang sedang merokok, sedangkan pada ibu yang tidak terpapar angkanya 23,7 persen, dan dalam analisis yang menimbang faktor-faktor lain sekaligus rasio odds paparan pada kelompok bersuami perokok mencapai 16,17.
Faktor lain yang ikut diperiksa tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan paparan asap, baik usia ibu, status pekerjaan, ada atau tidaknya penyakit kronis, maupun cara bersalin, normal atau caesar. Secara keseluruhan, 34,7 persen peserta bersuami perokok, dan penelitian Madinah sebelumnya yang dikutip para penulis mencatat 86,4 persen ibu hamil yang terpapar menyebut kebiasaan merokok suami sebagai asal paparan mereka.
Para penulis membaca angka ini sebagai persoalan yang melampaui pengetahuan perorangan, karena di Arab Saudi, seperti di banyak masyarakat, merokok terutama dilakukan laki-laki, dan cara keputusan diambil di rumah dapat membatasi ruang perempuan untuk menetapkan rumah bebas asap. Mereka menulis bahwa merokoknya suami “bukan sekadar faktor risiko, melainkan penentu struktural paparan yang mungkin hanya sedikit dapat dikendalikan perempuan,” juga dalam terjemahan.
Pertanyaan yang Jarang Diajukan
Kesenjangan yang oleh para penulis disebut mencolok muncul di layanan kesehatan, yakni antara tingginya paparan asap dan rendahnya pertanyaan soal rokok dari tenaga kesehatan. Hanya 43 peserta atau 9,2 persen yang mengaku pernah ditanya tenaga kesehatan apakah mereka merokok dalam 12 bulan terakhir, 420 orang atau 89,6 persen tidak ditanya, dan enam orang atau 1,3 persen memilih tidak menjawab.
Baca juga Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung
Para penulis menyebut keadaan ini sebagai peluang yang terlewat, mengingat seringnya kunjungan pemeriksaan kehamilan dan cakupannya yang hampir menyeluruh di Arab Saudi. Menurut mereka, kampanye informasi saja tidak cukup untuk menurunkan paparan asap rokok orang lain, dan memasukkan penilaian paparan asap serta konseling secara rutin ke dalam kunjungan kesehatan ibu dan anak dapat membantu menutup celah tersebut.
Usulan mereka bergerak dari perempuan ke seluruh rumah, yaitu melibatkan suami dalam upaya berhenti merokok, membingkai rumah bebas asap sebagai perlindungan bagi kesehatan keluarga, dan menggandeng tokoh masyarakat serta tokoh agama yang dipercaya. Pendekatan semacam itu, tulis mereka, mungkin lebih efektif daripada cara yang menaruh seluruh beban perubahan perilaku di pundak ibu hamil.
Batas Satu Bangsal Nifas
Penelitian ini dikerjakan di satu rumah sakit dengan desain potong lintang, sehingga para penulis menegaskan bahwa ia tidak dapat menunjukkan sebab-akibat, dan seluruh jawabannya bersandar pada pengakuan peserta sendiri. Keinginan tampak baik di mata orang lain bisa membuat perokok aktif kurang dilaporkan, sehingga angka sebenarnya mungkin lebih tinggi dari 3,3 persen, sedangkan jumlah perokok aktif yang kecil membuat perbandingan antarkelompoknya perlu dibaca hati-hati.
Pertanyaan tentang ditanya atau tidaknya soal rokok juga tidak memisahkan kunjungan pemeriksaan kehamilan dari kunjungan kesehatan lain, dan pengetahuan hanya diukur lewat dua pertanyaan tunggal. Pengetahuan tentang dampak kesehatan per bidang, misalnya pada jantung dan pernapasan, juga tidak dinilai secara menyeluruh. Dalam kesimpulannya, para penulis menyerukan pendekatan berlapis di Arab Saudi, mulai dari pemeriksaan rutin soal rokok dalam layanan kesehatan ibu, edukasi yang sesuai budaya bagi perempuan dan keluarganya, hingga kebijakan yang langsung menyasar paparan asap rokok di dalam rumah.















