Kontrasepsi Nonpermanen di India Lebih Banyak Dipakai Si Kaya

A A

Ilustrasi dua kemasan blister pil merah muda di atas latar kuning [Foto: Karola G/Pexels]

  • Kontrasepsi modern nonpermanen dipakai 41,93 persen perempuan termiskin dan 56,86 persen perempuan terkaya di India.
  • Ketimpangan lebih lebar pada metode kerja pendek seperti pil dan kondom, dengan indeks 0,093.
  • Perempuan yang sama sekali tidak terpapar media menyumbang 31,80 persen ketimpangan.
  • Wilayah timur menyumbang 16,71 persen ketimpangan dan tinggal di kota 14,39 persen.
  • Para peneliti meminta cakupan Mission Parivar Vikas diperbesar.
Daftar Isi
  1. Selisih lima belas poin
  2. Pil dan kondom
  3. Media paling menentukan
  4. Wilayah timur India
  5. Kota dan sekolah
  6. Anak dan usia
  7. Beban layanan publik
  8. Batas dan saran

Kontrasepsi modern nonpermanen di India lebih banyak dipakai perempuan kaya. Di kelompok rumah tangga termiskin, 41,93 persen perempuan memakainya, sedangkan di kelompok terkaya angkanya 56,86 persen. Jaraknya, menurut naskah, hampir 15 poin persentase.

Angka itu berasal dari kajian Puja Das, Tanmoy Ghosh, Pradip Chouhan, Ankita Zaveri, Apurba Sarkar, Salim Mandal, Avijit Roy, dan Margubur Rahaman. Judulnya Decomposing wealth-based inequality in modern reversible contraceptive utilisation in India: evidence from national family health survey, 2019-21, dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Das dan Chouhan bekerja di Department of Geography, University of Gour Banga, West Bengal.

Mereka memeriksa 202.954 perempuan dari survei kesehatan keluarga nasional India putaran kelima, 2019-21. Semuanya berstatus menikah, tidak sedang hamil, tidak disterilisasi, dan membutuhkan keluarga berencana. Sebagian besar tinggal di desa, yaitu 65,83 persen.

Selisih lima belas poin

Kurang dari separuh perempuan itu memakai kontrasepsi modern nonpermanen, tepatnya 48,77 persen. Sisanya, 51,23 persen, tidak memakai cara apa pun atau memakai cara tradisional. Angka pemakaian itu berbeda nyata menurut keadaan sosial ekonomi mereka.

Yang dimaksud kontrasepsi modern nonpermanen adalah cara yang bisa dihentikan. Daftarnya di naskah mencakup pil, alat kontrasepsi dalam rahim, suntik, diafragma, kondom pria dan perempuan, serta kontrasepsi darurat. Sterilisasi tidak termasuk, dan perempuan yang sudah disterilisasi tidak ikut dihitung.

Pemakaian naik tajam seiring naiknya kekayaan rumah tangga. Para peneliti merangkum ketimpangan itu dalam satu angka, indeks konsentrasi, yang nilainya 0,113 dan bermakna secara statistik. Nilai positif berarti pemakaian menumpuk pada perempuan dari rumah tangga terkaya.

Kontrasepsi nonpermanen India, empat angkaKontrasepsi nonpermanen India, empat angkaKontrasepsi nonpermanen India, empat angkaPerempuan menikah yang butuh keluarga berencana48,77%memakaidari 202.954perempuan41,93%termiskinyang memakai56,86%terkayayang memakai0,113indekscondong ke sikayaJalan risetnyaSurvei NFHS-5 2019-21202.954 perempuanKetimpangan diurai
Sumber: Puja Das, Tanmoy Ghosh, Pradip Chouhan, Ankita Zaveri, Apurba Sarkar, Salim Mandal, Avijit Roy, dan Margubur Rahaman, Decomposing wealth-based inequality in modern reversible contraceptive utilisation in India: evidence from national family health survey, 2019-21, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pil dan kondom

Ketimpangan itu tidak sama besar di semua jenis kontrasepsi. Naskah membaginya menjadi metode kerja pendek, seperti pil dan kondom, dan metode kerja panjang. Metode kerja panjang di naskah ini adalah alat kontrasepsi dalam rahim dan suntik.

Keduanya condong ke perempuan kaya. Jaraknya lebih lebar pada metode kerja pendek, dengan indeks 0,093, sedangkan pada metode kerja panjang indeksnya 0,020. Abstrak naskah menyebut pola condong ke si kaya lebih menonjol pada metode kerja pendek daripada metode kerja panjang.

Kedelapan penulis menempatkan temuan itu dalam gambaran yang lebih luas. Pemakaian kontrasepsi modern, tulis mereka, sudah naik berarti di semua lapisan kekayaan. Namun jurang pemakaian metode nonpermanen tetap bertahan pada perempuan dari kelompok sosial ekonomi bawah.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Media paling menentukan

Dari mana ketimpangan itu datang? Para peneliti mengurainya ke sejumlah faktor, dan faktor yang mereka periksa menerangkan 72,02 persen ketimpangan. Sisanya, 27,98 persen, tidak terjelaskan oleh faktor mana pun yang mereka analisis. Faktor yang ditimbang meliputi usia, tempat tinggal, jumlah anak, pendidikan, agama, kelompok sosial, paparan media, wilayah, dan jarak ke fasilitas kesehatan.

Penyumbang terbesar adalah ketiadaan paparan media massa. Perempuan yang sama sekali tidak terpapar media menyumbang 31,80 persen ketimpangan, yang oleh naskah disebut hampir sepertiga. Tidak ada faktor lain yang sumbangannya sebesar itu dalam uraian mereka.

Sebanyak 24,39 persen perempuan dalam kajian ini sama sekali tidak terpapar media. Di kelompok itu, 41,42 persen memakai kontrasepsi modern nonpermanen. Di kelompok yang terpapar sebagian, angkanya 50,47 persen.

Ketiadaan paparan media, menurut naskah, menumpuk pada perempuan termiskin. “Ini menandakan kegagalan struktural yang berakar pada akses yang tidak memadai atau pembatasan berbasis gender dalam akses media di kalangan perempuan termiskin,” tulis Puja Das dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Akibatnya, lanjut mereka, muncul kesenjangan informasi yang memperberat kesenjangan akses layanan.

Naskah merujuk sejumlah kajian terdahulu soal ini. Paparan media dikaitkan dengan bertambahnya pengetahuan dan kesadaran tentang kontrasepsi modern nonpermanen. Media juga disebut membantu menepis informasi keliru tentang metode itu, sehingga perempuan yang terpapar sebagian atau banyak lebih sering memakainya.

Tanpa media menyumbang paling besarTanpa media: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +31,80%; Wilayah timur: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +16,71%; Tinggal di kota: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +14,39%; Pendidikan tinggi: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +13,15%; 3 anak atau lebih: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +8,64%; Usia 35 ke atas: Sumbangan pada ketimpangan kaya-miskin +3,50%.Tanpa media menyumbang paling besarKontrasepsi modern nonpermanen di India, dalam persen10%20%30%40%0Tanpa media31,80%Wilayah timur16,71%Tinggal di kota14,39%Pendidikan tinggi13,15%3 anak atau lebih8,64%Usia 35 ke atas3,50%
Sumber: Puja Das, Tanmoy Ghosh, Pradip Chouhan, Ankita Zaveri, Apurba Sarkar, Salim Mandal, Avijit Roy, dan Margubur Rahaman, Decomposing wealth-based inequality in modern reversible contraceptive utilisation in India: evidence from national family health survey, 2019-21, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Wilayah timur India

Penyumbang kedua adalah tempat tinggal. Wilayah timur, yang terdiri atas Bihar, Jharkhand, Odisha, dan West Bengal, menyumbang 16,71 persen ketimpangan. Sebanyak 27,35 persen perempuan dalam kajian ini tinggal di sana.

Di wilayah timur, 45,47 persen perempuan memakai kontrasepsi modern nonpermanen. Naskah mencatat rumah tangga kaya lebih sedikit terkumpul di wilayah itu. Para peneliti menduga biaya membatasi akses, sehingga perempuan di sana bergantung pada layanan bersubsidi.

Mereka juga mengutip kajian terdahulu tentang persalinan aman di wilayah timur. Angkanya 20,4 persen pada kelompok termiskin dan 87,9 persen pada kelompok terkaya. Bagi para penulis, itu tanda ketimpangan kekayaan yang meluas di wilayah tersebut.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Kota dan sekolah

Tinggal di kota menyumbang 14,39 persen ketimpangan. Di kota, 53,9 persen perempuan memakai kontrasepsi modern nonpermanen, sedangkan di desa 46,11 persen. Sebagian besar perempuan dalam kajian ini, 65,83 persen, tinggal di desa.

Naskah mengaitkan pemakaian di kota dengan tiga hal yang disebut kajian terdahulu. Ketiganya adalah peran pusat sumber daya komunitas, keunggulan logistik, dan akses layanan keluarga berencana yang lebih besar. Para peneliti menyampaikannya sebagai kemungkinan, bukan kepastian.

Pendidikan tinggi menyumbang 13,15 persen, dan polanya bertingkat. Di kalangan perempuan tanpa pendidikan, 40 persen memakai kontrasepsi modern nonpermanen. Angkanya 48 persen pada lulusan pendidikan dasar dan 55,34 persen pada perempuan berpendidikan tinggi.

Para peneliti menawarkan penjelasan dari kajian terdahulu. Perempuan terdidik sering lebih tahu manfaat dan kemanjuran metode itu. Mereka juga disebut lebih leluasa memutuskan sendiri soal kontrasepsi, dan cenderung menunda pernikahan ke usia yang lebih tua.

Anak dan usia

Jumlah anak ikut berperan. Perempuan dengan tiga anak atau lebih menyumbang 8,64 persen ketimpangan. Di kelompok itu 43,6 persen memakai kontrasepsi modern nonpermanen, sedangkan di kelompok dengan paling banyak dua anak 50,75 persen.

Naskah menduga sebabnya sterilisasi. Perempuan yang sudah mencapai jumlah anak yang diinginkan mungkin memilih cara permanen. Mereka, tulis para peneliti, tidak mau lagi mengambil risiko hamil, dan kaitan serupa, menurut naskah, juga dilaporkan kajian lain di India dan di luar India.

Usia 35 tahun ke atas menyumbang 3,50 persen. Pemakaian naik bersama usia sampai 34 tahun, dengan angka 52,84 persen pada kelompok 30 sampai 34 tahun. Pada kelompok 35 tahun ke atas angkanya 45,91 persen.

Para peneliti mengaitkannya dengan kesuburan yang menurun dan pilihan sterilisasi. Mereka mengutip dua angka dari survei nasional India. Median usia melahirkan pertama di negara itu 21 tahun, dan median usia sterilisasi perempuannya 26 tahun.

Beban layanan publik

Mengapa perempuan miskin tertinggal? Naskah menawarkan beberapa kemungkinan dari kajian terdahulu. Salah satunya warisan praktik sterilisasi yang dominan di kalangan perempuan kurang mampu, yang di banyak keluarga berpenghasilan rendah dan menengah dipandang sebagai jalan keluar sekali untuk selamanya dari tekanan keuangan.

Kemungkinan lain ada di fasilitas kesehatan. Rumah tangga kurang mampu sering bergantung pada layanan publik. Di sana, menurut kajian yang dirujuk naskah, pasokan kontrasepsi kerap tidak konsisten, sementara tenaga dan prasarana kurang memadai.

Para penulis menyebut keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Lebih dari dua pertiga perempuan India mengandalkan fasilitas kesehatan publik untuk metode modern. Karena itu mereka menilai penguatan prasarana kesehatan publik sangat penting.

Jarak ke fasilitas kesehatan ikut dicatat. Di kalangan perempuan yang menganggap jarak sebagai masalah besar, 45,52 persen memakai kontrasepsi modern nonpermanen. Di kalangan yang tidak menganggapnya masalah, angkanya 50,42 persen.

Naskah juga mencatat soal kuasa memutuskan. Akses dan otonomi yang terbatas dalam keputusan kontrasepsi, tulis para peneliti, ikut menghambat pemakaian di kalangan perempuan kurang mampu. Keterangan itu mereka ambil dari kajian terdahulu.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Batas dan saran

Para penulis mencatat tiga keterbatasan. Datanya memotret satu waktu, sehingga tidak bisa dipakai menetapkan hubungan sebab-akibat. Jawaban para perempuan itu dilaporkan sendiri kepada petugas survei, sehingga bisa terpengaruh bias ingatan.

Keterbatasan ketiga menyangkut budaya. Data yang ada tidak cukup untuk menangkap peran norma budaya dan sosial dalam pemakaian kontrasepsi modern nonpermanen. Selain itu, 27,98 persen ketimpangan tidak terjelaskan oleh faktor yang diperiksa.

Saran mereka tertuju pada Mission Parivar Vikas. Program itu diluncurkan untuk memperluas pilihan lewat suntik dan pil gratis serta insentif uang. Para peneliti meminta cakupannya diperbesar, sebab distrik di luar program itu bergulat dengan prasarana yang tidak memadai.

Mereka juga meminta komunikasi tatap muka diperluas lewat petugas kesehatan komunitas, yang di India disebut ASHA. Sasarannya terutama distrik-distrik di wilayah timur. Kunjungan rumah sesudah persalinan disebut sebagai salah satu kesempatannya.

Saran lain menyangkut barang dan biaya. Ketersediaan alat kontrasepsi di fasilitas kesehatan primer perlu diperbaiki, disertai konseling oleh petugas di garis depan. Akses bersubsidi diminta untuk perempuan termiskin, terutama di desa.

Bagi kedelapan penulis, memperluas paparan media dan menguatkan program penjangkauan adalah langkah kunci menuju kesetaraan kesehatan reproduksi. Mereka juga menyebut dukungan komunitas di wilayah timur, agar perempuan dapat memilih dengan informasi yang cukup.

Bagikan

Baca Juga

Menu Serba Nasi Remaja Korea Terkait Obesitas dan HDL Rendah
Kantor Jepang yang Tahu Edaran Lebih Sering Beri Tes Hepatitis
Orang Tua Palestina Paham Tidur Sehat Anak tapi Sulit Menjalankan
Hampir Seperlima Pengasuh Anak Cerebral Palsy Bermutu Hidup Buruk
Badan Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Terkait Kerapuhan di Osaka
Stunting di Kampung Tambang Zambia Lebih Tinggi Tanpa Akses Pasar