Daftar Isi
Cekricek.id — Ada anggapan lama yang jarang diperiksa: mengeluh adalah gejala orang lemah, sesuatu yang sebaiknya disimpan sendiri, dan karena itu sastra yang serius diandaikan berisi hal-hal yang lebih gagah — perlawanan, keberanian, pengorbanan yang selesai dengan indah. Anggapan itu goyah begitu seseorang duduk dengan sabar lalu menghitung apa yang sebenarnya keluar dari mulut tokoh-tokoh sebuah novel realis Indonesia mutakhir. Yang paling sering terdengar bukan kalimat gagah, bukan pula pemberontakan, melainkan keluhan tentang uang, tubuh yang lelah, dan hari esok yang belum jelas; dan keluhan itu, setelah ditata, memperlihatkan peta yang jauh lebih rapi daripada kesan pertama seorang pembaca.
Perhitungan semacam itu dikerjakan Abel Putri dan Ermanto dari Universitas Negeri Padang lewat artikel Tindak Tutur Ekspresif dan Strategi Bertutur dalam Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna: Kajian Pragmatik, yang terbit dalam jurnal Persona: Kajian Bahasa dan Sastra volume 5 nomor 3 tahun 2026, halaman 440 hingga 450. Keduanya memperlakukan novel Brian Khrisna terbitan 2023 itu bukan sebagai cerita yang harus dinikmati, melainkan sebagai lapangan data yang harus disisir: tiap ujaran yang memuat ekspresi perasaan dicatat dengan bantuan aplikasi korpus KORTARA, dikelompokkan menurut jenisnya, lalu dihitung satu per satu sampai habis.
Keluhan yang Ternyata Punya Bentuk

Yang terkumpul 268 ujaran ekspresif dalam tujuh jenis. Mengeluh menempati 106 data atau 39,55 persen, hampir dua kali lipat jenis terdekatnya, yaitu mengecam dengan 52 data. Mengkritik menyusul dengan 41 data, sedangkan ungkapan kegembiraan hanya 22, pujian 19, permintaan maaf 16, dan ucapan terima kasih paling jarang dengan 12 data atau 4,48 persen. Susunan itu bukan sekadar statistik; ia semacam potret tekanan. Dalam novel berlatar keluarga urban pascaperceraian dengan himpitan ekonomi dan kekerasan di dalam rumah, kesempatan bagi tokoh untuk berterima kasih memang tipis, sementara alasan untuk mengeluh datang setiap hari dari banyak arah sekaligus. Abel Putri dan Ermanto menyebut empat pemicu yang berulang di sepanjang buku: tekanan ekonomi, konflik keluarga, kehilangan, dan ketidakberdayaan.
Baca juga Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Yang jarang muncul justru menerangkan yang sering muncul. Salah satu dari sembilan belas data pujian yang dicatat kedua peneliti adalah kalimat seorang ibu di halaman 86, dalam bahasa Jawa: “Cah lanangku kerja ning Jakarta. Dadi wong sukses. Kebanggaanku.” Anak laki-lakiku bekerja di Jakarta, jadi orang sukses, kebanggaanku. Kalimat itu pendek dan hangat. Di halaman 288 novel yang sama, seorang anak mengaku kepada ibunya bahwa selama ini ia bukan sales motor melainkan perampok. Pujian dalam novel ini hampir selalu berdiri di atas informasi yang tidak lengkap, sedangkan keluhan berdiri di atas hal yang benar-benar dialami penuturnya. Jarak antara keduanya itulah yang membuat angka 12 dan angka 106 terasa berhubungan, bukan sekadar berdampingan di satu tabel.
Yang menarik dari temuan itu justru terletak pada tempat keluhan berdiri di dalam kalimat. Abel Putri dan Ermanto tidak berhenti pada label; mereka membedah konteks tiap tuturan — siapa berbicara kepada siapa, dalam hubungan sedekat apa, dengan taruhan harga diri seperti apa. Contoh yang mereka jadikan model adalah tuturan seorang istri penjual kerupuk kepada suaminya di halaman 88, ketika keduanya sedang membicarakan uang yang tidak pernah cukup. Tuturan itu panjang, berulang, dan sama sekali tidak meminta apa pun; ia hanya menaruh satu hari kerja di atas meja supaya orang lain melihatnya. Menurut catatan konteks yang mereka susun, hubungan penutur dan mitra tuturnya adalah suami istri, cukup dekat sehingga perempuan itu merasa leluasa berbicara tanpa memoles apa pun.
Di halaman itu, kalimatnya berbunyi: “Saya jualan sampai jam dua malem, terus subuhnya saya pergi ke pasar, siang goreng kerupuk, sore siap-siap jualan. Gitu aja tiap hari.” Beberapa baris kemudian muncul pembandingnya: “Kalau Mas kan enak tuh, tinggal duduk aja tapi tetap dijamin dapet duit di akhir bulan.” Kedua peneliti menandai partikel kan, tuh, dan mah di dalam tuturan itu sebagai penguat emosi, lalu menyimpulkan bahwa kalimat tersebut tidak bertujuan menyuruh, melainkan meluapkan rasa lelah sekaligus rasa tidak adil. Keluhan, dalam pembacaan itu, adalah cara terakhir seseorang menuntut diakui. Bukan permintaan tolong, melainkan permintaan untuk dilihat.
Kesopanan yang Dikalahkan Kedekatan
Bagian kedua penelitian menukar pertanyaannya: bukan lagi apa yang diucapkan, melainkan bagaimana. Dengan kerangka kesantunan Brown dan Levinson, keduanya memilah 268 ujaran tadi ke dalam lima strategi. Bertutur terus terang tanpa basa-basi memimpin dengan 109 data atau 40,67 persen, disusul bertutur terus terang dengan kesantunan positif 93 data, kesantunan negatif 56 data, bertutur samar-samar hanya 6 data, dan bertutur dalam hati paling sedikit dengan 4 data atau 1,49 persen. Artinya, di dalam rumah yang sedang retak itu, tokoh-tokohnya nyaris tidak menyediakan bantalan apa pun bagi perasaan lawan bicara. Satu contoh yang dikutip kedua peneliti cukup mewakili: di halaman 229 seorang perempuan menyatakan ia sudah lelah hidup begitu karena setiap hari dipukuli dan tidak ada yang membantunya, tanpa satu pun kata pelunak.
Baca juga Kilas Balik yang Menjelaskan Dendam Ratu Charlotte
Temuan itu berlawanan dengan kebiasaan yang selama ini dianggap khas percakapan Indonesia, yaitu memutar kalimat agar tidak melukai muka orang lain. Abel Putri dan Ermanto menjelaskan pembalikan tersebut lewat dua hal yang saling menguatkan: hubungan antartokoh yang setara dan sangat akrab, serta intensitas emosi yang terlalu tinggi untuk ditahan. Ketika seseorang berbicara kepada suami, adik, atau ibunya sendiri di tengah tekanan yang menumpuk, kejelasan pesan menang atas kesopanan. Basa-basi berubah menjadi barang mewah, dan kemewahan itu tidak dimiliki orang yang sedang menghitung modal untuk esok pagi. Kesimpulan itu, tulis keduanya, sejalan dengan teori kesantunan Brown dan Levinson sendiri, yang menyebut strategi terus terang dipakai ketika penyampaian maksud secara efektif lebih diprioritaskan daripada pertimbangan menjaga muka.
Sisa peta itu memperlihatkan bahwa kesantunan tidak lenyap sama sekali. Sembilan puluh tiga tuturan masih memakai kesantunan positif, biasanya dalam adegan ketika seorang tokoh membawa kabar gembira atau menyodorkan sepiring makanan sambil berterima kasih, dan lima puluh enam tuturan memakai kesantunan negatif, yang sebagian besar berupa permohonan kepada Tuhan — sasaran yang mukanya tidak bisa terluka. Yang hampir hilang adalah cara bicara samar-samar, hanya enam data. Dalam novel ini, sindiran nyaris tidak berguna; orang yang tersinggung tidak punya tenaga untuk menerka maksud. Sindiran menuntut kesabaran dari dua pihak sekaligus, dan kesabaran adalah hal pertama yang habis di rumah-rumah dalam novel ini.
Empat Kalimat yang Tidak Sampai ke Mulut
Justru kategori terkecil yang paling menggoda untuk dipikirkan. Bertutur dalam hati — monolog batin yang tidak pernah terdengar tokoh lain — hanya muncul empat kali sepanjang novel, dan kedua peneliti mencatatnya sebagai varian ekspresivitas internal yang khas. Kelangkaan itu mereka baca sebagai pilihan pengarang: konflik dibangun lewat dialog terbuka, bukan lewat renungan yang disembunyikan. Novel ini tidak memberi tokohnya ruang diam yang panjang. Semua yang terasa harus segera dikatakan, sering kali kepada orang yang justru menjadi sebab perasaan itu muncul. Perbandingan yang dipakai kedua peneliti menegaskan hal tersebut: kajian sebelumnya oleh Rehanisafira dan Juita pada 2022 memakai kerangka Brown dan Levinson yang sama, tetapi pada tuturan di media digital, tempat orang justru punya waktu memilih kalimat sebelum mengirimnya.
Baca juga Gurabesi dan Empat Abad Arsip yang Berlubang
Ada konsekuensi kecil yang jarang dibicarakan dari cara membaca semacam ini. Ketika sebuah novel dibongkar menjadi tabel frekuensi, yang tampak bukan lagi alur atau watak tokoh, melainkan kebiasaan berbahasa yang dipilih pengarang tanpa selalu ia sadari. Dominannya keluhan dan cara bicara terus terang memberi tahu pembaca bahwa Brian Khrisna menulis dunia yang tidak punya waktu untuk sopan. Itu bukan penilaian estetis, melainkan catatan tentang bahan bakunya. Dan bahan baku itulah yang, menurut kedua peneliti, membuat novel tersebut terasa dekat dengan kenyataan sosial yang dikenali pembacanya. Searle, yang taksonominya dipakai sebagai landasan, menempatkan tindak tutur ekspresif sebagai ungkapan kondisi psikologis penutur terhadap suatu keadaan; kalau ukuran itu dipakai, keadaan yang dibayangkan novel ini adalah keadaan yang menekan hampir tanpa jeda.
Batas Sebuah Novel Tunggal
Kedua peneliti menutup laporannya dengan pagar yang jelas. Mereka menyatakan penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan satu novel sebagai sumber data sehingga temuannya belum dapat digeneralisasikan pada karya sastra lain; mereka juga mengakui kajiannya baru menyentuh tindak tutur ekspresif dan belum mencakup jenis tindak tutur ilokusi lain yang berpotensi memberi gambaran pragmatik lebih luas. Angka 39,55 persen itu, dengan kata lain, adalah angka tentang Sisi Tergelap Surga, bukan tentang sastra Indonesia kontemporer, apalagi tentang cara orang Indonesia berbicara di rumah masing-masing. Keduanya menyarankan penelitian lanjutan pada novel pengarang lain, cerpen, film, atau media digital, justru supaya angka itu punya pembanding.
Pagar itu perlu dipasang justru karena godaannya besar. Hitungan yang rapi mudah terdengar seperti kesimpulan tentang masyarakat, padahal ia berasal dari satu buku, satu pengarang, dan satu pilihan estetis. Yang bisa dipegang dari kerja Abel Putri dan Ermanto adalah metodenya: bahwa keluhan dapat dihitung, bahwa strategi bertutur meninggalkan jejak yang bisa dilacak, dan bahwa jejak itu mengatakan sesuatu tentang tekanan yang dibayangkan pengarangnya. Sisanya masih terbuka. Kalau novel lain karya pengarang berbeda disisir dengan cara yang sama, apakah keluhan tetap yang paling banyak terdengar, atau justru diam yang menang?















