Cekricek.id — Seorang perempuan tua berdiri di depan lukisan dirinya sendiri sewaktu muda. Menantunya baru saja meninggal, dan bersama menantu itu ikut mati calon penerus takhta. Di ruangan tersebut tidak ada yang berbicara kepadanya, tidak ada dayang, tidak ada penasihat. Yang terdengar justru suara narator, dari luar cerita, mempersoalkan hal yang tidak pernah ditanyakan siapa pun kepada sang ratu: benarkah tradisi perjodohan yang ia berlakukan bagi gadis-gadis di negerinya itu sekadar pembalasan atas hidupnya sendiri.
Adegan itu menjadi salah satu titik telaah Etsha Ari Kusuma Dianti, Nur Hamida, dan Ichda Nabilatin Nisa dari Universitas Gadjah Mada dalam artikel Perempuan dan Budaya dalam Narasi Serial Queen Charlotte: Analisis Struktur Naratif Gerard Genette, yang terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 2 pada 2025. Objeknya serial Queen Charlotte: A Bridgerton Story garapan Shonda Rhimes yang tayang di Netflix pada 2023, prekuel dari Bridgerton, berlatar lingkungan Kerajaan Inggris abad ke-18.
Yang mereka periksa bukan jalan ceritanya, melainkan urutannya. Ketiganya memakai kerangka Gerard Genette, yang memisahkan waktu peristiwa dari waktu penceritaan: yang pertama dihitung dengan detik, hari, bulan, dan tahun, yang kedua dengan baris, halaman, atau adegan. Ketika keduanya berjalan sejajar, Genette menyebutnya akroni. Ketika cerita melompat mundur atau melompat maju, ia menyebutnya anakroni. Serial ini nyaris seluruhnya dibangun dari lompatan mundur, dan di situlah ketiga peneliti tersebut menaruh perhatian. Penelusuran pustaka mereka menyebut belum ada kajian lain yang memakai teori analepsis Genette pada serial ini, meski ada yang pernah membacanya dari sudut feminisme.
Daftar Isi
Sebuah Lukisan, Ratu yang Menua, dan Suara yang Bertanya dari Luar Cerita

Pada adegan lukisan tadi, waktu cerita dan waktu penceritaan sedang berjalan sejajar. Etsha Ari Kusuma Dianti dan rekan-rekannya menyebutnya akroni, yaitu alur maju yang berjalan normal dari mula sampai akhir, dengan jeda khusus yang memuat lamunan tokoh dan bersifat imajiner. Yang membuat adegan tersebut bertenaga bukan lamunannya, melainkan suara yang datang bersamaan dengannya. Narator mempertanyakan kebenaran tradisi yang diciptakan sang ratu, sementara pernikahan ratu itu sendiri, tulis ketiganya, justru banyak mengalami tragedi.
Kematian menantu sekaligus calon pewaris takhta, dalam pembacaan ketiga peneliti tersebut, bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga. Bersamaan dengan itu terputus pula darah kulit hitam dari garis keturunan kerajaan, dan ikut padam dendam yang selama ini dijaga sang ratu sepanjang hidupnya. Satu adegan diam di depan sebuah lukisan, dan seluruh riwayat sebuah kebijakan istana tersangkut di dalamnya, termasuk alasan mengapa kebijakan tersebut dahulu dianggap perlu. Tanpa lompatan mundur yang menyusul kemudian, adegan itu hanya akan terbaca sebagai kesedihan seorang ibu.
Baca juga Tarik-Menarik Hutan Nagari Sumbar Sejak 1967
Susunan tersebut baru terbaca kalau ketiga bagian serialnya dijajarkan. Musim pertama dan kedua bergerak di sekitar tradisi perjodohan yang diselenggarakan sang ratu pada masa tuanya, lengkap dengan para gadis yang dikumpulkan dan para pemuda yang dinilai. Baru pada bagian ketiga, tulis ketiga peneliti itu, kilas balik perjalanan Charlotte ditampilkan. Tradisi yang semula tampak sebagai latar berubah menjadi akibat dari sesuatu yang terjadi jauh sebelumnya, di masa ketika sang ratu belum berkuasa dan belum menentukan apa pun bagi siapa pun.
Dari titik itu serial memotong ke belakang. Charlotte muda muncul, dan penonton diberi tahu bagaimana ia sampai ke istana: lewat perjanjian perjodohan antara kakaknya dan utusan Kerajaan Inggris. Ia menolak pada mulanya. Ia curiga, sebab ia perempuan kulit hitam dan menurut dugaannya kerajaan sebesar itu tidak mungkin mengambil menantu dari kaumnya. Ia baru bersedia setelah dibujuk kakaknya dan setelah melihat sendiri calon suaminya. Kecurigaan itu, seperti yang kemudian terbukti, tidak sepenuhnya keliru.
Gadis yang Dikirim ke Istana yang Menuntut Kemurnian Ras
Yang menunggu di istana bukan hanya aturan yang ketat. Ketiga peneliti itu mencatat penggambaran Charlotte muda yang beradaptasi dengan lingkungan barunya sambil menerima tindakan rasis dari keluarga kerajaan kulit putih. Konteksnya mereka ambil dari kajian terdahulu: di lingkungan kerajaan Eropa yang menekankan kemurnian ras dan nilai kebangsawanan, perempuan kulit hitam kerap dianggap tidak memenuhi standar yang berlaku, baik dari segi penampilan, politik, maupun budaya. Kekuasaan di sana bekerja secara struktural sekaligus simbolik.
Di tengah tekanan itulah muncul kalimat yang kemudian menopang sisa hidupnya. Dalam dialog yang dikutip papernya, Lady Danbury, sesama perempuan kulit hitam di lingkaran istana, berkata kepada Charlotte muda, “Kamu adalah yang pertama dari kaum kami, kedudukanmu di sini akan sangat berbeda jika kamu bukan seorang ratu”. Perkataan itu, tulis Etsha dan rekan-rekannya, menjadi semacam mantra yang terus diingat sang ratu sampai tua, dan menjelaskan mengapa ia memilih bertahan alih-alih pulang.
Baca juga Peta Riset Bahasa Kedua dan Sudut yang Sepi
Perjodohan sendiri bukan kebiasaan tanpa fungsi. Dengan merujuk Handayani, ketiga peneliti itu menempatkannya sebagai alat menjaga kesinambungan garis keturunan, membangun aliansi politik, dan mempertahankan kehormatan keluarga — sekaligus, di balik semua fungsi sosial tersebut, sebagai sistem kendali atas tubuh dan kehendak perempuan. Yang dijodohkan berubah menjadi bahan negosiasi, hak dan keinginannya dikorbankan demi kepentingan keluarga atau negara. Charlotte, dalam serial itu, pernah berada persis di posisi tersebut.
Lalu ia berpindah ke sisi yang lain. Adegan yang ditelaah ketiganya memperlihatkan sang ratu memerintahkan pelayan setianya, Bramsly, mendata dan mengumpulkan gadis-gadis muda untuk dijodohkan. Raja George, suaminya, tidak pernah menampakkan diri di hadapan publik sampai tuanya karena penyakit yang dideritanya, sehingga kerajaan dijalankan sang ratu sendiri tanpa campur tangan sang raja. Perempuan yang dahulu dikirim sebagai syarat sebuah aliansi kini yang menentukan siapa dikirim kepada siapa.
Kekuasaan itu tidak menyelesaikan segalanya. Adegan lain yang dicatat ketiganya memperlihatkan penyesalan dan kesedihan sang ratu atas perilaku anak-anaknya, yang di dalam serial digambarkan gemar mempermainkan perempuan dan enggan bersosialisasi dengan lingkungan istana. Ratu yang dikenal berkuasa dan mampu menundukkan hampir segala hal, tulis Nur Hamida dan rekan-rekannya, ternyata tidak sanggup mengatur anak-anaknya sendiri. Bagian itu dibiarkan tanpa penyelesaian di dalam serialnya.
Narator yang Tahu Segalanya tetapi Memilih Bungkam di Masa Lalu
Ada satu hal yang ganjil pada susunan tersebut, dan ketiganya menaruh perhatian khusus padanya. Kilas balik dalam serial ini melimpah, tetapi tak satu pun disertai suara narator. Adegan masa muda Charlotte dibiarkan berjalan hanya dengan dialog para tokohnya, tanpa seorang pun yang menerangkan apa yang sedang terjadi. Suara narator baru muncul pada bagian masa kini, termasuk pada adegan di depan lukisan tadi, dan pada adegan pembuka serialnya. Kilas balik dibiarkan berbicara sendiri, tanpa penuntun.
Baca juga Buku Bergambar Anak dan Gambar yang Membantah Teks
Alasannya bersifat struktural. Narator dalam serial itu, tulis Ichda Nabilatin Nisa dan rekan-rekannya, tidak memiliki akses langsung terhadap peristiwa yang ditampilkan dalam kilas balik, sebab ia hidup di masa kini, yakni di masa tua sang ratu. Ia bernama Lady Whistledown, dikisahkan sebagai penulis di sebuah surat kabar yang mengetahui semua peristiwa dalam cerita namun tidak pernah menampakkan diri di dalamnya. Ia serba tahu, tetapi hanya untuk zamannya sendiri, dan justru keterbatasan itu yang membuat masa muda sang ratu terasa seperti wilayah yang tak seorang pun berhak menerangkan.
Dalam istilah Genette, posisi semacam itu disebut ekstradiegetik-heterodiegetik: narator di tingkat pertama yang bercerita tanpa hadir dalam ceritanya sendiri. Waktu penceritaannya simultan, berjalan seiring peristiwa yang sedang ditampilkan. Pilihan tersebut, menurut ketiga peneliti itu, membuat penonton merasa berada dekat dengan peristiwanya — dalam kajian naratif disebut narasi jarak dekat — sekaligus membuka ruang untuk mempertanyakan kembali kebijakan yang dibuat sang ratu selama masa kepemimpinannya.
Batas kerja mereka dinyatakan sendiri di bagian akhir. Penelitian ini, tulis ketiganya, terbatas oleh objek penceritaannya karena tidak seluruh bagian serial memuat kajian struktur naratif Gerard Genette, sehingga pembahasan yang lebih luas masih perlu dilakukan, baik pada objek yang sama maupun yang berbeda. Datanya pun berasal dari satu serial saja, berupa tangkapan layar adegan dan catatan pengamatan, bukan survei penonton dan bukan pula dokumen sejarah. Ketiganya juga tidak mewawancarai pembuat serialnya.
Batas lain melekat pada objeknya. Queen Charlotte adalah fiksi sejarah — Shonda Rhimes membayangkan ulang masa lalu, bukan merekamnya — sehingga yang dibaca ketiga peneliti tersebut adalah cara sebuah serial menyusun ceritanya, bukan bukti tentang istana Inggris abad ke-18. Satu serial juga tidak mewakili seluruh drama berlatar sejarah, dan kesimpulan mereka memang tidak diajukan sejauh itu, melainkan berhenti pada satu tayangan dan pada cara tayangan itu menyusun waktunya sendiri. Apa yang dikritik serial tersebut adalah kenyataan hari ini, bukan arsip abad kedelapan belas.
Yang tersisa adalah adegan di ruangan tadi. Perempuan tua, lukisan dirinya yang masih muda, dan sebuah suara yang bertanya dari luar cerita. Ia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana sampai adegannya berganti.














