Cekricek.id — Pada 20 Juli 2025, seorang perempuan bernama Hamidah menerima tamu di Aceh Tenggara. Ia diminta menjelaskan sebuah lantunan yang jarang terdengar lagi.
Hamidah adalah pelantun Tangis Dilo di Kutacane. Namanya muncul berulang kali sebagai sumber utama dalam laporan penelitian yang menemuinya hari itu.
Yang menemui Hamidah adalah Rizki Mona Dwi Putra bersama dua rekannya, Elmi Novita dan Abdul Rozak. Ketiganya dari Prodi Seni Karawitan, Institut Seni Budaya Indonesia Aceh.
Selain Hamidah, mereka menyebut satu nama lain di Kutacane, yaitu Sanah. Keduanya disebut sebagai praktisi Tangis Dilo sekaligus seniman Aceh.
Laporan Rizki Mona Dwi Putra dan kedua rekannya berjudul Analisis Musik Tangis Dilo sebagai Media Pelestarian Tradisi Meratap Suku Alas di Aceh Tenggara.
Tulisan itu dimuat Grenek: Jurnal Seni Musik Volume 14 Nomor 2, Desember 2025, halaman 219 sampai 230. Penerbitnya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan.
Naskahnya diterima pada September 2025 dan disetujui pada Oktober tahun yang sama. Terbitnya dua bulan kemudian, dengan nomor identifikasi digital tersendiri.
Kutacane dikenal secara kultural sebagai daerah asal Tangis Dilo. Di kota kecil itulah observasi dan wawancara ketiga peneliti dipusatkan.
Daftar Isi
Hamidah dan Ratapan di Waktu Fajar
Menurut keterangan Hamidah kepada peneliti, Tangis Dilo lekat dengan momen kesedihan, perpisahan, atau duka. Nilai budaya, spiritual, dan sosialnya disebut sangat kuat.
Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya menerjemahkan namanya secara harfiah. Tangis berarti menangis, sedangkan dilo dalam bahasa Gayo atau Alas berarti pagi hari atau waktu fajar.
Mereka menulis, “Tangis Dilo bisa dimaknai sebagai ratapan di waktu pagi.” Lantunannya sering dibawakan menjelang atau sesudah fajar.
Tradisi itu, menurut ketiganya, tumbuh di kalangan masyarakat Alas dan Gayo di Aceh Tenggara. Bahasa yang dipakai pun bahasa lokal keduanya.
Hamidah menerangkan pula fungsi lain yang tidak kasatmata. Syair Tangis Dilo, menurut dia, berisi nasihat dan petuah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Peneliti menambahkan satu ciri yang mereka anggap menarik. Tradisi ini umumnya dibawakan perempuan, terutama yang berusia tua, karena dianggap lebih berpengalaman menghayati kesedihan.
Hamidah menyebut pula sisi sosialnya. Kehadiran dan keikutsertaan warga dalam prosesi itu, menurut dia, menjadi tanda empati kepada keluarga yang ditinggalkan.
Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya memilih Kutacane sebagai lokasi karena pertimbangan historis. Kota itu dinilai masih menyimpan jejak praktik Tangis Dilo dalam kehidupan warganya.
Untuk mengumpulkan bahan, ketiganya memakai empat cara sekaligus. Studi pustaka, observasi langsung, wawancara mendalam, serta dokumentasi berupa rekaman video dan audio.
Mereka juga memasang dua sudut pandang berdampingan. Pendekatan etik dipakai untuk membedah struktur musik, sementara pendekatan emik menggali makna yang hidup di masyarakat pendukungnya.
Baca juga Nyerau Dilantunkan dari Pukul 20.00 sampai Pukul 03.00
Sembilan Bulan di Dalam Syair
Syair yang direkam Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya dibuka dengan seruan panjang. Bunyinya berupa vokal tanpa arti yang dipanjangkan, eee dan eeeh.
Menurut analisis mereka, seruan itu bukan hiasan. Nada panjang tersebut berfungsi sebagai ekspresi duka dan penghayatan batin sang pelantun.
Bagian berikutnya menyebut anak secara langsung. Peneliti mencatat sapaan wahai anakku yang diulang sebagai penanda kedekatan emosional ibu dan anak.
Ada pula bait yang mengenang kehamilan. Elmi Novita dan rekan-rekannya membacanya sebagai ingatan sang ibu atas sembilan bulan mengandung anaknya.
Bagian yang mereka sebut sebagai inti spiritual berisi doa. Isinya harapan agar sang anak kelak tumbuh menjadi orang beriman, berbakti, dan bermoral baik.
Abdul Rozak dan kedua rekannya juga mencatat bagian yang berfungsi menidurkan. Kalimat tidurlah kao tidur mereka samakan perannya dengan nina bobo.
Di luar rumah, syair yang sama dipakai pada urusan lain. Peneliti menyebutnya sebagai media menyampaikan permintaan maaf dan menjaga keharmonisan keluarga.
Satu bait lain merekam kelelahan yang tidak dikeluhkan. Peneliti membacanya sebagai gambaran ibu yang rela tidurnya tidak nyenyak demi anak yang dikandungnya.
Harapan yang disebut Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya cukup konkret. Sang ibu berharap anaknya rajin mengaji dan tidak meninggalkan salat.
Tempo yang Mengikuti Tangis
Bagian paling teknis laporan itu ditulis dengan alat ukur musik Barat. Peneliti mengutip Prier tahun 1996 tentang teknik memotong sebuah karya musik untuk diperhatikan detailnya.
Hasilnya, bentuk Tangis Dilo dinyatakan tidak mengikuti pola konvensional. Ia bukan A-B-A, bukan rondo, dan bukan pula sonata.
Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya menyebut bentuknya melalui istilah through-composed. Setiap bagian berkembang mengikuti narasi dan emosi, tanpa kembali ke bagian sebelumnya.
Struktur itu mereka pecah menjadi lima bagian kecil. Pendahuluan menempati birama satu sampai sembilan, dengan susunan motif a, b, b aksen, b dobel aksen, dan c.
Bagian isi berada pada birama sepuluh sampai dua puluh lima. Di dalamnya ada satu frase tanya dan satu motif jawab yang diulang empat kali dengan lirik berbeda.
Soal tempo, ketiganya mengutip Djohan lewat Kriswanto tahun 2019. Tempo disebut sebagai salah satu pengukur respons emosi pendengar.
Peneliti menemukan tempo Tangis Dilo tidak terikat birama. Panjang nada melar oleh melisma, tempo bergerak rubato, dan jeda napas panjang menyela antarfrasa.
Mereka menulis, “kebebasan tempo ini memberikan ruang bagi penyanyi untuk mengekspresikan kesedihan secara mendalam.” Alunan vokalnya mereka sebut sebagai perpanjangan tangisan itu sendiri.
Bagian penutup lagu dianalisis terpisah sebagai coda. Di sana frase memendek, tempo melambat, dan melodi bergerak menurun sebagai pelepasan emosional terakhir.
Dari seluruh pengukuran itu, ketiganya menyimpulkan satu hal. Kekuatan Tangis Dilo tidak terletak pada kerumitan teknik musiknya, melainkan pada ekspresi dan makna syairnya.
Baca juga Naleung Sambo dan Bu Lekat di Talam Peusijuek
Tiga Nama yang Tinggal Dua
Di sinilah laporan Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya menyisakan sejumlah simpul yang belum terurai. Yang pertama menyangkut jumlah narasumbernya sendiri.
Bagian metode menyebut wawancara mendalam dilakukan kepada tiga praktisi Tangis Dilo. Nama yang dicantumkan hanya dua, yakni Hamidah dan Sanah.
Simpul kedua menyangkut ada atau tidaknya alat musik. Satu bagian laporan menyatakan pertunjukan ini sepenuhnya dilantunkan secara vokal tanpa iringan alat musik.
Bagian lain menyatakan sebaliknya. Peneliti menulis kesenian ini dimainkan oleh satu pemain vokal dan satu pemain bangsi, dan transkrip syairnya pun ditutup keterangan solo bangsi.
Simpul ketiga yang paling besar menyangkut peristiwanya. Abstrak dan simpulan menempatkan Tangis Dilo sebagai nyanyian pengantar tidur seorang ibu.
Bagian hasil menempatkannya di tempat lain. Di sana Tangis Dilo disebut berfungsi pada upacara adat atau kematian, dilantunkan perempuan tua bagi keluarga yang berduka.
Ada pula bagian yang mengaitkannya dengan prosesi pernikahan. Syairnya di sana berperan sebagai ungkapan terima kasih kepada kerabat yang membantu.
Peneliti tidak menjelaskan apakah ketiganya satu tradisi yang sama. Pembaca dibiarkan menduga sendiri hubungan antara nina bobo, ratapan kematian, dan syair perkawinan.
Simpul keempat menyangkut alat ukurnya. Abdul Rozak dan rekan-rekannya memakai teori musik Barat untuk membedah lantunan yang mereka sebut sendiri tidak terikat birama Barat.
Keterbatasan itu tidak dibahas di dalam laporan. Padahal notasi lima garis memaksa nada bebas dituliskan dalam kotak yang tidak dirancang untuknya.
Baca juga Dua Puluh Cerita Rakyat Maluku Menunggu Jadi Bahan Ajar
Yang Diusulkan Sesudah Rekaman
Usulan penutup ketiga peneliti bertumpu pada kesederhanaan bentuk musiknya. Karena monofonik dan repetitif, Tangis Dilo mereka nilai mudah diingat dan mudah diajarkan.
Karena tidak memerlukan instrumen khusus, kata mereka, tradisi ini berpeluang diwariskan tanpa perlengkapan mahal. Alasan itu yang mendasari usul pelestariannya.
Tiga jalur yang disebut Rizki Mona Dwi Putra dan rekan-rekannya adalah dokumentasi, pendidikan, dan pemanfaatan media digital. Ketiganya diusulkan berjalan bersamaan.
Peneliti juga menyarankan melodi, pola ritme, dan struktur syair diarsipkan. Dengan begitu Tangis Dilo dapat diteliti dan dikembangkan di kemudian hari.
Elmi Novita dan kedua rekannya menyebut ancamannya cukup nyata. Arus budaya populer, hiburan digital, dan perubahan pola asuh disebut menggeser tradisi lisan ini dari kehidupan sehari-hari.
Namun kajian mereka berhenti pada satu pertunjukan yang ditranskrip. Tidak ada catatan berapa pelantun yang tersisa, berapa usia mereka, dan siapa yang masih belajar.
Abdul Rozak dan rekan-rekannya juga tidak menyertakan bagian keterbatasan. Padahal seluruh analisis musiknya bersandar pada satu rekaman dan dua nama penutur.
Kembali kepada Hamidah, laporan itu menyebutnya sangat mahir menyampaikan syair dan makna Tangis Dilo. Yang tidak tercatat adalah kepada siapa kemahiran itu akan berpindah.













