Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan

A A

Dua atlet dayung berlatih di perairan tenang. [Foto: Wikimedia Commons/Irhanz (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Atlet yang paling ingin menang biasanya dianggap paling rentan kehabisan tenaga batin. Dorongan yang besar dikira ikut membesarkan bebannya.

Sebuah kajian di Bandung menguji dugaan itu pada atlet dayung. Yang keluar justru arah yang berlawanan dengan dugaan umum tersebut.

Persoalannya, arah itu tidak pernah muncul pada satu pun tabel di dalam laporannya. Yang ditampilkan hanya besaran hubungan, bukan tandanya.

Penelitinya empat orang dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Mereka Salma Putri Bakti, Komarudin Komarudin, Mochammad Yamin Saputra, dan Geraldi Novia.

Tiga nama pertama berasal dari Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Nama terakhir dari Program Studi Kepelatihan Fisik Olahraga, di fakultas yang sama.

Laporan mereka berjudul Does Achievement Motivation Cause Rowers to Burnout? Artikel itu dimuat Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 10 Nomor 1.

Terbitannya Juni 2025, pada halaman 49 sampai 59. Naskahnya diterima 14 April 2025, diperbaiki 20 Mei, dan disetujui terbit pada 5 Juni.

Daftar Isi
  1. Cara Burnout Bekerja pada Atlet
  2. Bagaimana Angkanya Dikumpulkan
  3. Di Mana Penjelasan Itu Berhenti
  4. Dua Angka Persen yang Tidak Diterangkan
  5. Judul yang Menjanjikan Sebab
  6. Kembali ke Dugaan yang Diuji

Cara Burnout Bekerja pada Atlet

Burnout dijelaskan peneliti sebagai kelelahan menahun. Bentuknya fisik, mental, dan emosional sekaligus, akibat tekanan yang menumpuk dalam waktu panjang.

Yang membuatnya berbahaya adalah urutannya. Kelelahan itu menurunkan penampilan, dan penurunan penampilan itu kemudian menggerus motivasi yang tersisa.

Karena itu peneliti menyebut burnout lebih mungkin terjadi pada atlet dengan latihan intensif. Tuntutan penampilan yang tinggi memperbesar peluangnya.

Dayung dipilih karena menumpuk ketiga hal itu sekaligus. Olahraga ini menuntut latihan berintensitas tinggi, disiplin ketat, dan daya tahan menghadapi tekanan kompetisi.

Tekanan pada pedayung, menurut peneliti, datang dari beberapa arah sekaligus. Latihan yang intensif, kompetisi yang keras, serta harapan pelatih dan lingkungan sekitar.

Sumber burnout sendiri dibagi menjadi dua jenis. Yang berasal dari dalam diri seperti kebulatan tekad, dan yang berasal dari luar seperti dukungan sosial dan variasi latihan.

Latihan yang monoton disebut peneliti sebagai pemicu kebosanan. Kurangnya variasi dinilai menurunkan semangat sekaligus produktivitas atlet.

Gejalanya, menurut rujukan yang mereka pakai, perlu dibaca sebagai peringatan dini. Yang menyusul kemudian adalah menurunnya kesungguhan, cedera, bahkan berhenti berolahraga.

Motivasi berprestasi diletakkan peneliti sebagai faktor penting untuk mencapai penampilan terbaik. Sampai di sini kedudukannya positif.

Yang membuatnya rumit adalah sisi sebaliknya. Tekanan berlebih yang lahir dari dorongan berprestasi itu dianggap bisa menaikkan risiko burnout.

Peneliti menyebut kejadian di lapangan sebagai alasan menguji. Banyak atlet mengalami kelelahan fisik dan emosional karena dorongan berprestasi tanpa pengelolaan tekanan yang baik.

Dua kemungkinan itulah yang hendak dipisahkan. Apakah motivasi berprestasi melindungi atlet dari burnout, atau justru mendorongnya ke sana.

Peneliti menyebut dua tujuan memakai sisi kejiwaan dalam latihan. Yang pertama mempelajari pengaruh faktor psikologis terhadap penampilan fisik atlet.

Yang kedua mengembangkan kesehatan dan kematangan psikologis atlet itu sendiri. Keduanya dinilai berdampak positif bila dikerjakan bersamaan.

Baca juga Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak

Bagaimana Angkanya Dikumpulkan

Metodenya kuantitatif deskriptif dengan pendekatan ex post facto. Pendekatan itu dipilih karena motivasi berprestasi sudah terjadi sebelum penelitian, sehingga tidak dimanipulasi peneliti.

Subjeknya 28 atlet dayung Kota Bandung. Pemilihannya memakai teknik purposive sampling berdasarkan pertimbangan tertentu.

Peneliti menjelaskan cara kerja pendekatannya secara berurutan. Variabel bebas yang sudah terjadi diidentifikasi lebih dulu, lalu pengaruhnya terhadap variabel terikat dianalisis.

Teknik analisis yang mereka sebut ada dua. Uji regresi dan analisis korelasi, keduanya dipakai untuk memperoleh hasil yang terukur.

Instrumennya kuesioner tertutup berisi dua skala. Yang pertama mengukur motivasi berprestasi, yang kedua mengukur burnout.

Skor motivasi berprestasi bergerak dari 78 sampai 109. Totalnya 2.532 dengan rata-rata 90,43 dan simpangan baku 6,801.

Skor burnout bergerak dari 46 sampai 90. Totalnya 1.840 dengan rata-rata 65,71 dan simpangan baku 8,339.

Uji normalitas Shapiro-Wilk memberi nilai 0,118 untuk motivasi berprestasi. Untuk burnout nilainya 0,060, keduanya di atas 0,05.

Karena kedua data dinyatakan normal, ujinya berlanjut ke regresi linear. Hasilnya nilai t sebesar 2,857 dengan signifikansi 0,008.

Kuesioner tertutup berarti pilihan jawabannya sudah disediakan. Peneliti tidak mencantumkan berapa butir pernyataan pada masing-masing skala.

Tidak disebutkan pula dari mana kedua skala itu diambil. Uji kesahihan dan keterandalannya juga tidak dilaporkan.

Di Mana Penjelasan Itu Berhenti

Nilai signifikansi 0,008 memang lebih kecil daripada 0,05. Artinya hubungan antara kedua variabel dinyatakan bermakna secara statistik.

Persoalannya, bermakna tidak sama dengan berarah. Nilai t yang ditampilkan positif, sedangkan koefisien regresinya tidak dicantumkan sama sekali.

Tanpa koefisien itu, pembaca tidak bisa memastikan apakah hubungannya searah atau berlawanan. Yang tersedia hanya besarannya.

Kekuatan hubungannya dilaporkan lewat nilai R sebesar 0,489. Peneliti menyebutnya hubungan sedang.

Nilai R kuadrat 0,239 berarti 23,9 persen keragaman burnout dijelaskan motivasi berprestasi. Sisanya, 76,1 persen, ditentukan hal-hal lain yang tidak diukur.

Peneliti menyebut sisa itu sebagai faktor lain tanpa merincinya. Padahal justru di sanalah sebagian besar penjelasan berada.

Untuk menopang arah kesimpulannya, peneliti menyandingkan sejumlah rujukan. Salah satunya kajian tahun 2021 yang menyebut motivasi berprestasi berperan mencegah burnout.

Rujukan tahun 2023 yang mereka pakai menambahkan dua penopang lain. Dukungan sosial dan motivasi dari pelatih disebut ikut menurunkan risiko burnout.

Rujukan tahun 2024 menyebut atlet bermotivasi tinggi lebih mampu mengelola stres. Sebaliknya, motivasi yang rendah dikaitkan dengan risiko burnout dan penurunan penampilan.

Seluruh rujukan itu berasal dari luar data penelitian ini. Yang mereka topang adalah arah kesimpulan, bukan angka yang dilaporkan.

Baca juga Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja

Dua Angka Persen yang Tidak Diterangkan

Ada satu gambar yang memuat dua angka persentase. Motivasi berprestasi tercatat 66 persen dan burnout 59 persen.

Peneliti membacanya sebagai tanda bahwa motivasi atlet lebih tinggi daripada tingkat burnout mereka. Namun angka 59 persen tetap mereka anggap perlu diperhatikan.

Alasannya, angka itu sudah mendekati 60 persen. Menurut peneliti, sebagian besar atlet mengalami tingkat burnout yang cukup tinggi.

Cara menghitung kedua persentase itu tidak dijelaskan. Tidak disebutkan pula terhadap skor maksimal berapa keduanya dihitung.

Yang juga janggal adalah letaknya. Dua angka itu berdiri sendiri, tidak dipakai dalam uji apa pun, dan tidak dihubungkan dengan tabel mana pun.

Satu tabel bahkan salah diberi judul. Tabel yang memuat hasil regresi diberi judul hasil uji normalitas, sama persis dengan tabel sebelumnya.

Peneliti juga menyinggung atlet yang bertahan meski sudah kelelahan. Bertahan karena tekanan dari luar disebut merugikan kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.

Karena itu saran mereka diarahkan kepada pelatih dan tim pendukung. Yang diminta adalah program pemulihan yang memadai dan pendampingan psikologis.

Satu saran lagi menyangkut suasana latihan. Lingkungan latihan diminta dibuat mendukung agar kesejahteraan mental atlet ikut terjaga.

Judul yang Menjanjikan Sebab

Judul laporan itu berbentuk pertanyaan tentang sebab, yakni apakah motivasi berprestasi menyebabkan atlet dayung mengalami burnout. Metodenya tidak dirancang untuk menjawab pertanyaan semacam itu.

Ex post facto bekerja pada hal yang sudah terjadi. Peneliti sendiri menulis bahwa variabel bebasnya tidak dimanipulasi secara langsung.

Karena itu yang bisa disimpulkan hanya keterkaitan. Menaikkan derajatnya menjadi sebab akibat memerlukan rancangan yang berbeda.

Salma Putri Bakti dan ketiga rekannya menutup dengan kalimat yang lebih berhati-hati. Diterjemahkan dari bahasa Inggris, “motivasi berprestasi memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat burnout pada atlet dayung.”

Meski begitu, laporan itu tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Jumlah 28 responden di satu kota dibiarkan tanpa catatan pembatas.

Peneliti juga tidak menyebut apakah atlet yang diukur berasal dari satu klub atau beberapa. Rentang usia dan pengalaman bertandingnya pun tidak dicantumkan.

Ada pula satu kekeliruan penulisan pada abstraknya. Frasa yang seharusnya berbunyi motivasi berprestasi tertulis sebagai motivasi merayakan.

Kekeliruan itu memang kecil dan tidak mengubah angka. Namun ia berada di bagian yang paling banyak dibaca orang.

Baca juga 288 Artikel Kohesi Tim: Puncaknya 2024

Kembali ke Dugaan yang Diuji

Dugaan bahwa atlet paling bersemangat adalah yang paling rentan habis tidak didukung laporan ini. Peneliti justru menyimpulkan sebaliknya.

Menurut mereka, atlet bermotivasi tinggi cenderung punya tingkat burnout lebih rendah. Alasannya, mereka dinilai lebih mampu mengelola tekanan latihan dan pertandingan.

Peneliti menambahkan dua faktor dari luar diri atlet. Pola latihan yang monoton dan tekanan berlebih disebut memperburuk gejala burnout.

Yang belum terjawab tetap satu hal. Arah hubungan yang menjadi inti kesimpulan itu tidak pernah ditunjukkan angkanya di dalam laporan.

Bagikan

Baca Juga

Skor Konsentrasi Anak 2,33 ke 9,47 Setelah Enam Sesi Panahan
Hutan Adat Sungai Utik, dari Tolakan 1979 ke SK 2020
Nagari Sijunjung, Enam Unsur Adat dan Atap yang Berganti
Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat
Sarasehan KAMIL ITB Siapkan Mahasiswa Menapaki Pascasarjana
Badai Guntur Bandara Minangkabau, 52 Kejadian di Januari