Cekricek.id — Sebuah umpan yang salah arah dan sebuah kalimat yang diucapkan dalam hati tampak tidak berhubungan. Sebuah eksperimen di Bandung mencoba menghubungkan keduanya.
Yang diuji bukan teknik menendang dan bukan pula kebugaran. Yang diuji adalah kebiasaan berbicara kepada diri sendiri sebelum dan selama bertanding.
Sasarannya siswa ekstrakurikuler futsal di sebuah sekolah menengah atas negeri. Mereka diukur kemampuannya mengambil keputusan sebelum dan sesudah dilatih selama empat pekan berturut-turut.
Hasilnya naik, tetapi kenaikannya kecil. Selisihnya hanya 3,9 persen, dan angka itulah yang membuat temuannya perlu dibaca dengan hati-hati.
Penelitinya Rendy Fathurochman, Komarudin Komarudin, dan Mochamad Yamin Saputra dari Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia.
Satu peneliti lain adalah Geraldi Novian. Ia berasal dari Program Studi Kepelatihan Fisik Olahraga di fakultas yang sama, yaitu Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.
Laporannya berjudul The Influence of Positive Self-Talk on Decision-Making of Young Futsal Athletes. Artikel itu dimuat Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 10 Nomor 1.
Terbitannya Juni 2025, pada halaman 60 sampai 70. Naskahnya diterima 24 April 2025, diperbaiki 15 Mei, dan disetujui terbit pada 5 Juni tahun yang sama.
Daftar Isi
Umpan Salah dan Kalimat dalam Hati
Futsal disebut peneliti punya watak permainan yang cepat dan dinamis. Pemainnya dituntut bergerak cepat sekaligus membaca situasi yang berubah setiap detik.
Di sisi lain, pemain juga berinteraksi dengan kawan dan lawan secara bersamaan. Pilihan tindakan yang muncul karena itu nyaris tak terhitung jumlahnya.
Keputusan yang salah punya akibat yang sama besarnya dengan kesalahan teknik. Umpan yang meleset atau gagal membaca gerak lawan bisa menentukan hasil pertandingan.
Pada saat yang sama, kondisi kejiwaan pemain ikut berubah di dalam laga. Peneliti menyebut tekanan, pemusatan perhatian, dan ketangguhan mental sebagai pemicunya.
Karena itulah keterampilan mental dianggap perlu dilatih. Salah satu yang dipilih peneliti adalah self-talk, yaitu percakapan yang berlangsung di dalam kepala pemain.
Peneliti menyebut self-talk sebagai salah satu strategi psikologis yang paling banyak dipakai pelatih dan atlet. Fungsinya mengendalikan pengaruh pikiran dan perasaan terhadap sasaran yang ingin dicapai.
Persoalannya, self-talk yang muncul saat tertekan sering tidak terkendali. Peneliti menyebut atlet kerap tidak menyadari kalimat apa yang sebenarnya mereka ucapkan kepada diri sendiri.
Dua Jenis Self-Talk yang Tidak Sama
Istilah self-talk punya banyak sebutan lain dalam literatur yang dikutip peneliti. Di antaranya dialog batin, monolog internal, suara hati, dan bicara dalam hati.
Peneliti membaginya menjadi dua jenis yang berbeda tujuan. Yang pertama disebut self-talk motivasional, yang juga dikenal sebagai self-talk positif.
Bentuknya berupa kata-kata penyemangat tanpa kaitan dengan gerakan tertentu. Contoh yang disebutkan antara lain kalimat aku bisa, aku hebat, dan ayo semangat.
Yang kedua disebut self-talk instruksional. Isinya justru perintah teknis tentang gerakan atau cara tertentu yang harus dikerjakan pemain.
Di sisi lain ada pula bentuk yang merugikan, yaitu self-talk negatif. Peneliti menyebutnya dapat menghilangkan kepercayaan diri sekaligus memunculkan kecemasan.
Latihan yang dijalankan dalam kajian ini bertujuan mengubah keyakinan yang tidak rasional. Keyakinan negatif diarahkan menjadi keyakinan rasional agar pemusatan perhatian meningkat.
Manfaat yang disebut peneliti tidak berhenti pada perhatian. Self-talk positif dikaitkan pula dengan penguatan dari dalam diri, penurunan kecemasan, dan kemampuan bertahan pada tugas yang sedang dikerjakan.
Alasan lain menyangkut watak pertandingan itu sendiri. Menurut peneliti, latihan semacam ini cocok bagi atlet karena di lapangan ia akan menghadapi pertandingan seorang diri.
Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman
Lima Belas Siswa dan Satu Kuesioner
Sampelnya diambil dari siswa ekstrakurikuler futsal SMAN 11 Bandung. Jumlahnya lima belas orang, diambil dengan teknik total sampling.
Teknik itu berarti seluruh anggota populasi dipakai sebagai sampel. Peneliti memilihnya karena jumlah peserta ekstrakurikuler futsal di sekolah tersebut memang terbatas jumlahnya.
Alat ukurnya satu, yaitu Decision Style Questionnaire. Kuesioner itu dipakai untuk menilai kemampuan mengambil keputusan sebelum dan sesudah perlakuan.
Rancangannya disebut satu kelompok dengan pratest dan pascates. Artinya tidak ada kelompok pembanding yang tidak menerima latihan self-talk.
Kuesioner yang sama diberikan dua kali. Yang pertama sebelum latihan dimulai, yang kedua sesudah seluruh rangkaian latihan selesai dijalankan.
Pengolahan datanya memakai perangkat lunak statistik. Hasilnya kemudian disajikan peneliti dalam bentuk tabel dan grafik.
Pendekatannya kuantitatif dengan metode eksperimen. Seluruh tahapannya, dari usulan sampai penarikan kesimpulan, bersandar pada pengukuran, perhitungan, dan kepastian data berupa angka.
Empat Pekan dan Tiga Sesi Sepekan
Perlakuannya berlangsung selama empat pekan. Dalam setiap pekan itu dijalankan tiga sesi latihan bagi seluruh peserta.
Sebelum perlakuan dimulai, seluruh peserta lebih dulu mengisi kuesioner. Nilai jawaban mereka itulah yang kemudian dipakai sebagai titik awal seluruh pengukuran.
Sebaran data pratest diperiksa lebih dulu dengan uji normalitas. Nilainya tercatat 0,200 untuk tahap pratest dan 0,118 untuk tahap pascates.
Keduanya berada di atas ambang 0,05. Karena itu peneliti menyimpulkan seluruh data penelitiannya tersebar secara normal dan layak diuji lebih lanjut.
Pengujian hipotesisnya memakai uji t sampel berpasangan. Cara itu membandingkan nilai satu kelompok yang sama pada dua waktu pengukuran.
Uji normalitasnya sendiri memakai metode Kolmogorov-Smirnov. Hasil kedua tahap pengukuran sama-sama melewati ambang yang disyaratkan sebelum uji hipotesis dijalankan.
Angka Sebelum dan Angka Sesudah
Pada pratest, nilai terendah peserta tercatat 101 dan tertinggi 170. Jumlah seluruh nilainya 2.114 dengan rata-rata 140,93.
Simpangan bakunya pada tahap itu 19,411. Angka tersebut menggambarkan seberapa jauh nilai tiap peserta tersebar dari nilai rata-rata kelompoknya.
Pada pascates, nilai terendah naik menjadi 129 dan tertinggi menjadi 190. Jumlah seluruh nilainya 2.241 dengan rata-rata 149,90.
Simpangan bakunya justru menyempit menjadi 17,775. Artinya jarak antara peserta yang paling rendah dan paling tinggi ikut mengecil.
Uji hipotesisnya menghasilkan nilai t sebesar 3,451. Nilai kemaknaannya 0,004, lebih kecil daripada ambang 0,05 yang dipakai peneliti.
Dari angka itu peneliti menyimpulkan ada pengaruh yang bermakna. Self-talk positif dinilai berpengaruh terhadap kemampuan mengambil keputusan atlet futsal remaja.
Baca juga 84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655
Rata-rata Naik, Selisihnya Tetap Tipis
Dalam bentuk persentase, angkanya lebih mudah dibandingkan. Kemampuan mengambil keputusan pada pratest tercatat 65,6 persen.
Pada pascates, angka itu naik menjadi 69,5 persen. Selisih atau perolehannya karena itu hanya 3,9 persen setelah empat pekan latihan.
Angka itu bermakna secara statistik, tetapi tidak besar secara praktis. Peneliti sendiri menyebutnya sebagai peningkatan sebesar 3,9 persen tanpa melebih-lebihkannya.
Di sisi lain, rancangan penelitiannya membuat angka itu sulit ditafsirkan. Tanpa kelompok pembanding, kenaikan tersebut bisa saja datang dari latihan futsal biasa.
Peneliti tidak menyatakan hal itu secara terbuka. Namun mereka mengakui bahwa jumlah sampelnya perlu diperbesar pada penelitian berikutnya.
Riset yang Mendukung dan Riset yang Berbeda Bidang
Temuan ini disandingkan peneliti dengan beberapa kajian terdahulu. Yang pertama menguji pengaruh self-talk pada ketepatan tembakan futsal siswa sekolah menengah pertama.
Kajian tersebut menemukan kenaikan nilai pada kelompok eksperimen. Kenaikannya disebut lebih besar dibandingkan kelompok pembanding yang tidak diberi perlakuan.
Kajian kedua yang dikutip menyoroti motivasi berprestasi. Self-talk positif di sana disebut efektif meningkatkan fokus dan membentuk pola pikir positif.
Kajian ketiga berasal dari cabang olahraga yang berbeda, yaitu panahan. Latihan self-talk positif di sana dikaitkan dengan kepercayaan diri dan ketepatan membidik.
Di sisi lain, peneliti mengakui ada celah yang belum terisi. Belum ada kajian khusus yang menguji bagaimana mekanisme itu memengaruhi keputusan taktis pemain futsal.
Celah itulah yang mereka klaim diisi kajian ini. Namun klaimnya bersandar pada lima belas peserta di satu sekolah saja.
Peneliti juga mengingatkan pelatih agar tidak berhenti pada aspek fisik. Menurut mereka, sisi kejiwaan atlet perlu mendapat perhatian setara dengan latihan fisik, taktik, dan teknik.
Dua Angka yang Tidak Cocok di Dalam Laporan
Ada dua ketidakcocokan angka yang perlu dicatat pembaca. Yang pertama menyangkut jumlah peserta penelitiannya.
Bagian abstrak laporan itu menyebut sampelnya hanya dua belas siswa. Bagian metode, tabel statistik, dan seluruh perhitungannya memakai angka lima belas.
Yang kedua menyangkut derajat kebebasan pada uji hipotesis. Tabelnya mencantumkan angka 14, sedangkan narasi di bawahnya menyebut angka 13.
Angka 14 yang sesuai dengan lima belas peserta. Angka 12 pada abstrak dan angka 13 pada narasi tidak dijelaskan asalnya oleh peneliti.
Saran penutup peneliti sendiri cukup berhati-hati. Mereka meminta pelatih dan guru olahraga memasukkan latihan mental ke dalam program latihan.
Untuk penelitian berikutnya, sarannya dua hal. Perbesar jumlah dan keragaman peserta menurut usia, jenis kelamin, dan pengalaman bertanding.
Yang kedua, uji pula jenis self-talk yang lain. Self-talk instruksional belum diuji sama sekali dalam kajian ini.
Umpan yang salah arah itu pada akhirnya tetap belum terjawab. Yang diukur kajian ini bukan keputusan di lapangan, melainkan jawaban peserta atas sebuah kuesioner.
Baca juga UNAIR Latih Dosen Wali Kenali Luka Psikologis Mahasiswa














