84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655

A A

Mahasiswa belajar di perpustakaan kampus. Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Cekricek.id — Angka itu 0,655. Nilainya diperoleh dari 84 mahasiswa di Kota Makassar. Empat peneliti mencatatnya: Farah Fadilah Hasyim, Nurul Hidayah Yusran, Novi Hidayat, dan Gilang Ramadhan. Judul artikel mereka Peran Self-Esteem terhadap Academic Resilience pada Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Early Adulthood dalam Budaya Kolektivisme di Kota Makassar.

Artikel itu terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026. Farah Fadilah Hasyim dan Novi Hidayat tercatat di Departemen Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sains Indonesia. Nurul Hidayah Yusran berasal dari Program Profesi Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang. Gilang Ramadhan dari Program Studi Psikologi di kampus yang sama dengan penulis pertama.

Angka 0,655 adalah koefisien korelasi Pearson. Ia mengukur seberapa searah dua hal bergerak. Ia tidak mengukur mana yang menyebabkan mana. Dua hal itu adalah harga diri (self-esteem) dan ketahanan akademik (academic resilience). Nilai p yang menyertainya lebih kecil dari 0,001.

Fase yang disorot bernama early adulthood atau dewasa awal. Rentangnya kerap dipatok pada usia 18 sampai 25 tahun. Di fase itu individu menanggung dua beban sekaligus: tuntutan akademik dan tuntutan menyiapkan karier. Sebanyak 84 partisipan kajian ini seluruhnya berada di rentang usia tersebut.

Daftar Isi
  1. Angka 84 dan Dua Alat Ukur
  2. 71,4 Persen Berhenti di Tengah
  3. 0,655 dan Apa yang Tidak Ia Katakan
  4. 42,9 Persen Berhadapan dengan 33 Persen
  5. 37 dari 320, dan 48 dari 2.809
  6. 67 Persen yang Tidak Diukur

Angka 84 dan Dua Alat Ukur

Seorang mahasiswa menulis di buku catatan sambil belajar
Mahasiswa mengerjakan tugas. Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Jumlah partisipan 84 orang. Semuanya mahasiswa strata satu Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Makassar. Laki-laki 54 orang atau 64 persen. Perempuan 30 orang atau 36 persen. Usia rata-rata 19,76 tahun dengan simpangan baku 0,75.

Angka 84 itu tidak diambil secara acak. Peneliti memakai non-probability sampling, yakni memilih partisipan yang mudah dijangkau dan bersedia terlibat. Alasannya disebut terbuka dalam naskah. Jumlah populasi mahasiswa Fakultas Teknik di kampus itu tidak diketahui secara pasti oleh peneliti.

Alat ukur pertama Rosenberg Self-Esteem Scale, berisi 10 aitem, adaptasi Azwar tahun 2011. Dua dimensi yang diukur adalah penerimaan diri dan penghormatan diri. Pilihan jawabannya lima, model Likert. Koefisien Cronbach Alpha-nya 0,778, di atas ambang 0,7 yang disarankan.

Alat ukur kedua Academic Resilience Scale-30, adaptasi Kumalasari dan Luthfiyanni tahun 2020. Isinya 30 item untuk tiga aspek: ketekunan, pencarian bantuan reflektif, serta respons emosional negatif. Cronbach Alpha-nya 0,891. Ambang yang disebut layak 0,7.

Ada satu angka kecil yang mudah terlewat. Korelasi aitem-total pada skala harga diri berkisar 0,75 sampai 0,88. Pada skala ketahanan akademik rentangnya 0,063 hingga 0,686. Batas bawah 0,063 itu berada jauh di bawah ambang 0,2 yang dipakai peneliti sendiri pada skala pertama.

Baca juga Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak

Ketahanan akademik dalam kajian ini bersandar pada empat aspek. Martin dan Marsh menyebutnya self-belief, control, composure, dan commitment. Empat aspek itu dipakai sebagai kerangka teori. Skala yang dipakai mengukur tiga aspek, bukan empat.

Seluruh data diolah dengan IBM SPSS versi 25. Teknik yang dipakai statistik deskriptif untuk karakteristik partisipan dan korelasi Pearson untuk uji hipotesis. Satu perangkat lunak, dua skala, 84 responden.

71,4 Persen Berhenti di Tengah

Kategorisasi harga diri memberi tiga angka. Rendah 10 orang atau 11,9 persen. Sedang 60 orang atau 71,4 persen. Tinggi 14 orang atau 16,7 persen. Mayoritas berhenti di kategori tengah.

Kategorisasi ketahanan akademik memberi pola serupa. Rendah 6 orang atau 7,1 persen. Sedang 66 orang atau 78,6 persen. Tinggi 12 orang atau 14,3 persen. Kategori tengah kembali menampung hampir empat perlima sampel.

Dua angka mayoritas itu, 71,4 dan 78,6 persen, dibaca peneliti sebagai ketidakstabilan. Harga diri yang sedang, tulis mereka, membuat mahasiswa naik turun dalam menilai kualitas dirinya. Pembacaan itu bersifat tafsir. Skor kategorisasi hanya menyatakan posisi pada satu waktu pengukuran, bukan gerak skor dari bulan ke bulan.

Angka 71,4 persen di kategori tengah itu menahan kesimpulan pada satu titik. Mayoritas partisipan tidak berada di ujung mana pun. Hanya 10 orang di kategori rendah dan 14 orang di kategori tinggi. Total keduanya 24 orang dari 84.

0,655 dan Apa yang Tidak Ia Katakan

Uji korelasi bivariat Pearson atas 84 data menghasilkan 0,655 dengan p kurang dari 0,001. Arahnya positif. Skor harga diri yang tinggi cenderung berpasangan dengan skor ketahanan akademik yang tinggi. Hipotesis nol ditolak.

Analisis regresi sederhana menambah tiga angka lagi. Konstanta 70,556, koefisien B 1,233, dan nilai t 7,844. Nilai p tetap di bawah 0,001. Standar galat estimasinya 9,89671.

Baca juga 288 Artikel Kohesi Tim: Puncaknya 2024, Kiblatnya 2002

Ada satu hal yang tidak bisa dibaca dari 0,655. Desain kajian ini korelasional dan non-eksperimental. Angka sebesar apa pun di sini tidak memisahkan sebab dari akibat. Peneliti sendiri menulis bahwa kedua variabel saling memperkuat dalam satu siklus.

Definisi harga diri di kajian ini diambil dari dua sumber. Baron dan Bryne pada 2000 menyebutnya evaluasi diri yang positif atau negatif. Rosenberg pada 1979, sebagaimana dikutip penulisnya, menyebut harga diri tinggi membuat orang menghormati dirinya sebagai manusia yang bermanfaat. Daftar pustaka artikel yang sama mencantumkan tahun 1965 untuk Rosenberg.

Angka 84 juga membatasi jangkauan kesimpulan. Sampelnya satu fakultas, di satu universitas, di satu kota. Tidak ada 84 mahasiswa dari kampus pembanding. Judulnya menyebut budaya kolektivisme Makassar, tetapi tidak ada satu pun angka pengukuran kolektivisme di dalam datanya.

42,9 Persen Berhadapan dengan 33 Persen

Tabel ringkasan model mencatat R sebesar 0,655 dan R Square 0,429. Angka 0,429 diterjemahkan penulisnya menjadi 42,9 persen. Namun kalimat tepat di bawah tabel itu menulis koefisien determinasi 0,655. Dua angka tersebut tidak dapat benar sekaligus.

Selisih muncul sekali lagi di bagian pembahasan, dan kali ini angkanya berubah. Farah Fadilah Hasyim, dosen Departemen Psikologi Universitas Sains Indonesia, bersama tiga rekannya menulis: “Kajian ini juga menemukan bahwasanya kualitas self-esteem punya dampak sebesar 33% terhadap academic resilience dan hubungannya bersifat positif.”

Angka 33 persen itu tidak muncul di satu pun tabel hasil. Kalimat berikutnya melanjutkan hitungan yang sama dengan menyebut 67 persen faktor lain tidak dikaji. Bila dasarnya 42,9 persen, sisanya semestinya 57,1 persen. Pembaca dihadapkan pada dua pasang angka untuk satu temuan.

Satu keganjilan lain muncul tanpa angka sama sekali. Pembahasan menyatakan ketahanan akademik partisipan masih tergolong rendah. Tabel 3 mencatat hanya 7,1 persen partisipan di kategori rendah. Sebanyak 78,6 persen berada di kategori sedang dan 14,3 persen di kategori tinggi.

37 dari 320, dan 48 dari 2.809

Sebagai latar, peneliti mengutip dua kajian lain. Harahap dan rekan pada 2020 memeriksa 320 mahasiswa. Sebanyak 37 persen di antaranya belum memiliki ketahanan akademik yang tinggi. Angka itu dipakai untuk menunjukkan bahwa persoalannya bukan kasus tunggal.

Baca juga Lama Sekolah dan Kriminalitas Sumatra Bergerak Searah

Latar masalahnya juga bersandar pada satu kajian lain. Sari dan Indrawati pada 2016 memeriksa mahasiswa Fakultas Teknik yang mengulang mata kuliah. Pengulangan tertinggi terjadi pada semester ketiga dan keempat. Sebagian mahasiswa mengulang dua sampai tiga kali. Ada yang mengulang sampai lima kali sebelum lulus.

Kajian kedua berlangsung Juni sampai Juli 2021 dengan 2.809 partisipan berusia 18 hingga 25 tahun. Hasilnya, 48 persen memiliki gejala gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Nyaris separuh. Kedua angka itu berasal dari sampel lain, bukan dari 84 mahasiswa Makassar tadi.

Konteks budaya masuk tanpa satu angka pun. Peneliti menempatkan Makassar sebagai lingkungan kolektivistik dengan dua arah pengaruh. Dukungan keluarga dapat menaikkan daya lenting akademik. Tuntutan keluarga dapat menggerus stabilitas harga diri. Dua kemungkinan itu diajukan sebagai tafsir, tidak diuji pada data 84 partisipan.

67 Persen yang Tidak Diukur

Keterbatasan kajian ini diakui dalam satu kalimat pendek. Ada 67 persen faktor lain yang memengaruhi ketahanan akademik dan tidak dikaji di sini. Peneliti mengutip Grotberg untuk menyebut sebagiannya: kemakmuran, keamanan, rasa percaya diri, kemandirian, keterampilan komunikasi, dan intelegensi. Enam faktor disebut, nol di antaranya diukur.

Batas kedua terletak pada cara memilih 84 orang tadi. Sampel yang dipilih atas dasar kemudahan tidak dirancang untuk digeneralisasi. Batas ketiga terletak pada waktu. Seluruh data diambil pada satu titik pengukuran, bukan diikuti selama beberapa semester.

Satu catatan terakhir soal cakupan. Kajian ini mengukur dua variabel dan hanya dua. Faktor spiritualitas, dukungan sosial, dan emosi positif disebut di pembahasan sebagai penentu lain. Ketiganya tidak masuk ke dalam 84 lembar kuesioner yang diisi.

Rekomendasi penutup papernya tetap bersifat kelembagaan. Penguatan harga diri diusulkan lewat layanan konseling, pendampingan psikologis, dan program pengembangan diri di perguruan tinggi. Usulan itu berdiri di atas satu koefisien dari 84 responden.

Yang tersisa dari seluruh kajian ini satu angka: 0,655.

Bagikan

Baca Juga

Cekricek.id - Hal yang kita sebut harga diri ini sangat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan dunia di sekitar. Ini juga menjadi faktor dalam penyusunan kurikulum sekolah, praktik disiplin, pengembangan olahraga, dan bahkan manajemen kantor.
Hati-hati, Kesalahan Ini Bisa Jadi Kesalahan Besar yang Memengaruhi Harga Diri Kamu
Perahu-perahu nelayan bersandar rapat di perairan pelabuhan.
ABK Teri Krakahan Pulang dengan 75,30 Persen UMK
Pemandangan udara sebuah kota di Sumatra pada waktu senja.
Lama Sekolah dan Kriminalitas Sumatra Bergerak Searah
Seorang perempuan menikmati waktu sendiri di balkon sambil memandang kota.
Makna Me-Time Bergeser pada Pasangan Beda Pulau
Ilustrasi seorang pelari bersiap di garis start lintasan atletik.
Cara Bahasa Kampanye Nike di Instagram Bekerja
Ilustrasi seorang anak dan neneknya mengamati lemari kaca museum sejarah alam
Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan