Guinea-Bissau Referendum Perkuat Kekuasaan Presiden

A A

Meja pemungutan suara di Bissau, Guinea-Bissau. Foto arsip pemilu sebelumnya. (Foto: Álvaro Ludgero Andrade/Wikimedia Commons, domain publik)

Braima Seidy berusia 76 tahun dan pernah ikut perang kemerdekaan. Pada Minggu (30/08/2026), ia berdiri dalam antrean untuk memutuskan bentuk negara yang dulu ia bantu dirikan.

Guinea-Bissau menggelar referendum konstitusi yang akan mengubah sistem semipresidensial menjadi sistem presidensial. Tempat pemungutan suara dibuka pukul 07.00 GMT dan ditutup pukul 17.00 GMT. Hasil sementara pertama dijadwalkan diumumkan Selasa.

“Saya sungguh percaya konstitusi baru ini bisa membawa stabilitas bagi negara ini,” kata Seidy.

Apa yang Berubah

Rancangan konstitusi memberi presiden wewenang mengangkat dan memberhentikan perdana menteri, memimpin Dewan Menteri, serta membentuk dan menghapus kementerian.

Baca juga Bursa Asia Melemah Sepekan, Nikkei Anjlok 4,4 Persen

Jumlah kursi parlemen dipangkas dari 102 menjadi 65, dan daerah pemilihan dari 29 menjadi 12. Calon presiden diwajibkan berdomisili tetap lima tahun di Guinea-Bissau dan menyetor deposit 50 juta franc CFA Afrika Barat, sekitar 90.000 dolar Amerika Serikat. Partai politik harus memiliki lebih dari 5.000 anggota, termasuk lebih dari 300 orang di tiap wilayah. Sebuah Mahkamah Konstitusi akan dibentuk.

Boikot dan Kekhawatiran

Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Tanjung Verde, salah satu partai oposisi terbesar, menyerukan boikot. Para pengkritik menilai pemusatan kekuasaan di tangan presiden akan melemahkan parlemen dan mekanisme pengawasan lain, sementara syarat baru bagi calon dinilai merugikan gerakan politik kecil.

Baca juga Diplomat Guyana Pimpin Bursa Calon Sekjen PBB

Halimatou Traore, pemilik toko di Bissau, menimbang persoalan itu dari meja dagangnya. “Krisis beruntun yang dialami negara ini berdampak sangat buruk pada penghasilan saya. Kalau semuanya berjalan baik, Guinea-Bissau akan menempuh jalan yang baru,” katanya.

Menuju 6 Desember

Referendum ini digelar setelah kudeta militer November 2025 yang menggulingkan Presiden Umaro Sissoco Embalo, dan mendahului pemilihan umum yang dijadwalkan 6 Desember. Jenderal Horta N’Tam ditunjuk junta sebagai presiden transisi.

Baca juga Trump Perintahkan Pemangkasan Besar Latihan Militer AS dan Korea Selatan

Sejak merdeka pada 1974, negara di pesisir barat Afrika itu telah mengalami lima kudeta yang berhasil dan sejumlah percobaan kudeta lain.

Bagikan

Baca Juga

Serangan Lakurawa di Masjid Nigeria, 60 Jemaah Diculik
Serangan Lakurawa di Masjid Nigeria, 60 Jemaah Diculik
Presiden Nigeria Bola Tinubu bersama jajaran pejabat
Kampanye Pemilu Nigeria Dimulai, Reformasi Tinubu Diuji
Suasana jalan di Addis Ababa ibu kota Ethiopia
Jelaga Addis Ababa 9 Kali Lebih Pekat dari Kota AS
Tim medis berpakaian alat pelindung diri menangani penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo
Wabah Ebola Kongo Terparah, 2.325 Orang Meninggal
Presiden Zambia Hakainde Hichilema memasukkan surat suara ke kotak suara
Hichilema Menang Lagi Pilpres Zambia, 60% Suara
Suasana terkait proses pemilihan umum
Zambia Sempat Hentikan Penghitungan Suara Pemilu di Tengah Kekerasan