Zambia Sempat Hentikan Penghitungan Suara Pemilu di Tengah Kekerasan

Suasana terkait proses pemilihan umum

Ilustrasi proses pemilihan umum. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Komisi Pemilihan Umum Zambia (Electoral Commission of Zambia/ECZ) menghentikan sementara penghitungan suara di seluruh negeri pada Jumat (14/8/2026), sehari setelah rakyat memberikan suara dalam pemilihan presiden, anggota parlemen, dan pemerintahan lokal. Langkah itu dipicu laporan kekerasan terhadap petugas pemilu dan dugaan pencurian surat suara yang sudah dicoblos dari sejumlah kotak di beberapa distrik.

Mengutip Africanews, Jumat (14/8/2026), penghitungan kembali dilanjutkan pada malam harinya setelah aparat keamanan diperkuat di pusat-pusat tabulasi. Hasil resmi pertama untuk kursi presiden diperkirakan mulai diumumkan sekitar pukul 20.00 GMT. Zambia memiliki sekitar 8,7 juta pemilih terdaftar dalam pemilu kali ini.

Penghentian atas Alasan Keamanan

Ketua ECZ Mwangala Zaloumis mengumumkan penghentian itu lewat pernyataan resmi. “The Electoral Commission of Zambia has noted with concern reports of violence during the counting and announcement of results in some districts,” kata Zaloumis dalam pernyataan berbahasa Inggris tersebut. Ia menegaskan komisi tidak akan membiarkan proses berlanjut selama ancaman terhadap keselamatan petugas masih ada.

Zaloumis melanjutkan bahwa komisi memutuskan menyetop seluruh tahapan demi keamanan. “In view of the security situation and continued threats of violence, the Commission has with immediate effect suspended the counting and announcement of results throughout the country,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keputusan itu akan ditinjau dalam waktu 24 jam — “The Commission will review the suspension within 24 hours,” tuturnya.

Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera

Menurut laporan Africanews, ketegangan sempat pecah di sejumlah pusat penghitungan, disertai dugaan upaya mengubah formulir Gen 20, yakni dokumen resmi hasil pemungutan suara. Aparat menahan sejumlah orang, termasuk beberapa mantan pejabat senior, yang dituding berupaya mengganggu sistem pemilu. Zaloumis juga mengingatkan bahwa mengklaim kemenangan sebelum hasil resmi diumumkan komisi merupakan pelanggaran hukum pemilu.

Hichilema Berhadapan dengan Mundubile

Pemilihan presiden kali ini diikuti 14 kandidat dari 13 partai serta satu calon independen, dengan dua nama menonjol sebagai unggulan. Petahana Hakainde Hichilema, yang maju lewat partai United Party for National Development (UPND), berupaya meraih masa jabatan lima tahun keduanya. Penantangnya, Brian Mundubile, lebih dulu mengeklaim kemenangan dan menyebut koalisinya unggul baik di kursi presiden maupun di parlemen, meski komisi belum mengumumkan hasil resmi.

Sistem pemilihan presiden Zambia menerapkan ambang mayoritas. Seorang calon harus meraih lebih dari 50 persen suara sah untuk menang; bila tak ada yang mencapainya, putaran kedua digelar dalam 37 hari antara dua peraih suara terbanyak. Ketentuan itu membuat selisih tipis pada hasil awal berpotensi menentukan apakah pemenang lahir dalam satu putaran.

Hasil resmi memang belum keluar. Data awal dari empat dari 226 daerah pemilihan yang dikutip Africanews menunjukkan Hichilema memimpin dengan 22.476 suara, berbanding 14.388 suara untuk Mundubile. Hichilema menyebut angka-angka awal itu sebagai hasil yang menggembirakan dan meminta pendukungnya tetap tenang serta bersabar menunggu pengumuman resmi.

Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Hichilema, seorang pengusaha, dilantik pada Agustus 2021 setelah mengalahkan presiden saat itu, Edgar Lungu, dalam pemilihan yang menandai peralihan kekuasaan secara damai. Zambia, negara kaya tembaga di kawasan Afrika bagian selatan, sejak itu berada di bawah pemerintahannya yang menghadapi tekanan biaya hidup dan beban utang. Pemilu 2026 menjadi ujian apakah ia mampu mempertahankan mandatnya.

Menanti Pengumuman Resmi

Pemilu Zambia tahun ini digelar serentak pada Kamis (13/8/2026) untuk memilih presiden, anggota Majelis Nasional, wali kota, ketua dewan, hingga anggota dewan kelurahan. Dari total 277 kursi Majelis Nasional, sebanyak 226 kursi diperebutkan langsung di daerah pemilihan, sementara 40 kursi lain dialokasikan lewat perwakilan proporsional yang mencadangkan porsi bagi perempuan, anak muda, dan penyandang disabilitas. Pemungutan berlangsung di 13.529 tempat pemungutan suara yang tersebar di 226 daerah pemilihan dan 1.858 kelurahan.

Komisi mencatat 8.786.300 pemilih terdaftar, dengan proporsi perempuan sekitar 53,1 persen. Penghitungan suara sempat terhenti sehari setelah pemungutan sebelum dibuka kembali dengan pengawalan lebih ketat.

Baca juga: Korut Ancam Balasan Berlipat Jelang Latihan Militer Korsel-AS

Dengan adanya jeda peninjauan 24 jam, jadwal pengumuman pemenang presiden yang semula diperkirakan rampung pada awal pekan berikutnya berpotensi mundur. ECZ menegaskan seluruh proses tabulasi berlangsung di bawah pengawasan pengamat dan perwakilan peserta pemilu. Komisi menyatakan akan terus memperbarui informasi seiring masuknya hasil dari tiap daerah pemilihan, sementara jadwal pasti pengumuman akhir belum disampaikan hingga penghitungan tuntas di seluruh negeri.

Baca Juga

Bendera India berkibar
Modi Janji India Jadi Negara Maju 2047, Latih 10 Juta Anak Muda AI
Kepadatan lalu lintas di sebuah ruas jalan di Hanoi
Polisi Hanoi Terjunkan Drone Awasi Pelanggaran dan Kemacetan Lalu Lintas
Perahu terdampar di dasar sungai yang mengering
Sungai-Sungai Besar Eropa Susut ke Rekor Terendah Akibat Kekeringan
Pengungsi di tenda darurat
Uni Eropa Tambah 10,5 Juta Euro Bantuan Kemanusiaan untuk Myanmar
Seseorang mengenakan setelan jas
Presiden Korsel Lee Ajak Korut Akhiri Perang Korea di Hari Kemerdekaan
Menara pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir
IAEA: PLTN Zaporizhzhia Kini Bergantung pada Satu Saluran Listrik