Cekricek.id — Korea Utara memperingatkan akan menjawab ancaman tingkat baru dengan daya gentar tingkat baru pula, menjelang latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat bertajuk Ulchi Freedom Shield yang dimulai Senin (17/8/2026). Peringatan itu disampaikan seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara melalui kantor berita resmi KCNA pada Jumat (14/8/2026).
Mengutip laporan Al Jazeera yang bersumber dari AFP dan Reuters, Jumat (14/8/2026), pernyataan tersebut menuding latihan itu digelar pada saat situasi militer dan politik di Semenanjung Korea justru kian serius. Pyongyang juga menuduh Washington mendorong dunia ke ambang perang nuklir.
Dalam pernyataan berbahasa Inggris yang disiarkan KCNA, juru bicara itu menegaskan prinsip Pyongyang dalam menjaga keamanannya. “It is our consistent principle of ensuring security to respond to a new level of a threat with a new level of a deterrent,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip UPI, Jumat (14/8/2026).
Latihan Sebelas Hari dengan 18.000 Prajurit Korea Selatan
Ulchi Freedom Shield 2026 dijadwalkan berlangsung 17–27 Agustus, atau sebelas hari, dan melibatkan sekitar 18.000 prajurit Korea Selatan. Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 personel militer di Korea Selatan secara permanen. Angka partisipasi prajurit Korea Selatan disampaikan Direktur Hubungan Masyarakat Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Kolonel Jang Do-young, dalam keterangan yang dikutip Associated Press.
Latihan tahun ini menekankan bentuk-bentuk peperangan yang berubah cepat. Materi latihan mencakup penanggulangan serangan pesawat nirawak, pertahanan terhadap gangguan sinyal navigasi satelit GPS, serta penanganan serangan siber. UPI melaporkan rangkaian latihan juga meliputi tembak-menembak gabungan dengan amunisi tajam, penargetan presisi bersama, penyeberangan sungai oleh satuan lapis baja, dan penanganan tawanan sesuai Konvensi Jenewa.
Baca juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang Latihan Gabungan Korea Selatan-AS
Komando Pasukan Gabungan Korea Selatan–Amerika Serikat menegaskan latihan itu bersifat pertahanan dan digelar secara rutin setiap tahun. Wakil Panglima Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa di Korea, Letnan Jenderal Scott Winter, termasuk perwira senior yang mengawasi jalannya latihan, sebagaimana dilaporkan Newsweek, Jumat (14/8/2026).
Pelajaran dari Medan Perang Ukraina
Salah satu pertimbangan baru dalam skenario latihan adalah pengalaman tempur pasukan Korea Utara di Rusia. Pyongyang disebut telah mengirim 12.000 hingga 15.000 tentara untuk mendukung Moskow dalam perang di Ukraina, dan tengah menyiapkan pengiriman 10.000 personel tambahan.
Direktur Hubungan Masyarakat Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komando Pasukan Gabungan, dan Pasukan Amerika Serikat di Korea, Kolonel Ryan Donald, menyatakan pengalaman itu mengubah kemampuan militer Korea Utara. “They’ve taken those lessons they learned there and brought them back to North Korea. Our training accounts for that threat,” kata Donald, dikutip Al Jazeera, Jumat (14/8/2026). Ia menjelaskan bahwa pelajaran dari medan perang itu dibawa pulang ke Korea Utara, dan latihan gabungan sudah memperhitungkan ancaman tersebut.
Baca juga: Korea Selatan dan AS Gelar Ulchi Freedom Shield, 18.000 Tentara Dikerahkan
Kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia menjadi salah satu perhatian utama Seoul dan Washington sepanjang tahun ini. Pengiriman pasukan itu memberi Pyongyang akses pada pengalaman perang modern berskala besar yang tidak dimilikinya selama tujuh dekade terakhir.
Rangkaian Uji Rudal Mendahului Latihan
Peringatan Korea Utara datang setelah rangkaian uji coba senjata. Pyongyang meluncurkan rudal balistik jarak pendek ke arah perairan timur pada Kamis (6/8/2026), peluncuran pertamanya sejak April. Uji coba serupa kembali dilakukan pada Rabu (12/8/2026), beberapa hari sebelum latihan gabungan dimulai.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Korea Utara juga menegaskan sikapnya terhadap tekanan dari luar. “The DPRK remains steadfast in its will to frustrate outsiders’ hostile acts with the most powerful and overwhelming force and absolutely defend the supreme interests of the state security,” demikian pernyataan tersebut, dikutip UPI, Jumat (14/8/2026).
Pyongyang secara konsisten menyebut latihan gabungan tahunan itu sebagai geladi invasi, dan kerap membalasnya dengan uji senjata serta retorika keras. Korea Selatan dan Amerika Serikat membantah tuduhan tersebut dan menyatakan latihan digelar untuk menjaga kesiapan pertahanan.
Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 15 Orang
Korea Utara sebelumnya menilai latihan tahun ini berbeda dari penyelenggaraan lima tahun terakhir dan menyebutnya sebagai persiapan konfrontasi militer yang nyata. Hingga Minggu (16/8/2026), Seoul dan Washington belum mengubah jadwal maupun skala latihan yang telah diumumkan.


















