Baterai BMSense Buatan ITS Laporkan Suhu dan Tegangan Sendiri

A A

Dosen ITS menunjukkan baterai BMSense yang terhubung ke layar pemantau. [Foto: ITS]

  • BMSense memantau tegangan tiap sel, arus, dan suhu secara langsung
  • Tiga sel dirangkai seri dengan tegangan nominal 11,1 volt
  • Dikembangkan ITS bersama PT Jokeen Solusi Teknologi

Cekricek.id — Baterai biasanya baru ketahuan bermasalah setelah menggembung, panas, atau mati mendadak. Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat baterai yang melaporkan keadaannya sendiri: tegangan tiap sel, arus yang mengalir, dan suhunya terkirim secara langsung ke layar pemantau.

Baterai bernama BMSense itu memakai sel LiPo Graphene yang dipasangi sistem manajemen baterai dan disambungkan ke jaringan internet. Pengembangannya dikerjakan bersama PT Jokeen Solusi Teknologi.

“Baterai ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pemantauan, efisiensi energi, serta fleksibilitas sistem penyimpanan,” kata dosen Departemen Kimia ITS Grasianto SPd MSc PhD, dikutip dari keterangan tertulis ITS, Jumat (2/10/2026).

Susunannya terdiri atas tiga sel yang dirangkai seri. Tegangan nominalnya 11,1 volt dan naik menjadi 12,6 volt ketika terisi penuh.

Mengapa Tiap Sel Perlu Diawasi

Pada rangkaian seri, satu sel yang melemah lebih dulu akan menyeret kinerja dua sel lainnya. Angka tegangan total sering kali masih terlihat wajar ketika hal itu terjadi, sehingga kerusakan luput dari perhatian. Karena itu BMSense membaca sel satu per satu, bukan hanya jumlahnya.

“Kemampuan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi baterai, sehingga pemantauan sistem penyimpanan energi dapat dilakukan secara lebih terukur,” ujar Grasianto.

Kebutuhan akan penyimpan energi tumbuh seiring bertambahnya pembangkit surya dan angin, yang listriknya tidak selalu tersedia saat dibutuhkan. Baterai yang kondisinya terbaca dari jauh memudahkan perawatan di lokasi yang jarang didatangi teknisi.

Baca juga: Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru

Baca juga: Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen lewat Proses Hidrotermal

Baca juga: Sensor Gempa Bawah Air Buatan UGM Diuji di Kedalaman 30 Meter

Bagikan

Baca Juga

Karung Jagung di Gudang Demini Kini Punya Nama dan Tanggal
Hidrogen Hijau Indonesia Butuh Sistem Perawatan Elektroliser Baru
Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen Lewat Proses Hidrotermal
Elektrolit Padat LLZO Paling Hantar di Alumina 0,25
Mahasiswa ITPLN Usung Urban Mining di Ajang MINERVA 2026
Pembiayaan Angin Lepas Pantai Afrika Selatan Butuh Dana Publik