- Sensor Prameya diuji semalam di dasar Waduk Saguling pada kedalaman 30 meter
- Versi lama hanya sanggup 10 meter, versi baru ditargetkan 100 meter
- Satu komponen horizontal masih diperbaiki sebelum uji laut November
Cekricek.id — Sensor gempa bawah air buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dibiarkan semalam di dasar Waduk Saguling, Jawa Barat, pada kedalaman 30 meter. Alat bernama Prameya itu diturunkan pada 28–29 September 2026 untuk memastikan satu hal yang paling sulit: tabungnya tetap kedap ketika ditekan air.
Indonesia dikelilingi sumber gempa di dasar laut, tetapi alat perekamnya hampir seluruhnya berdiri di darat. Kekosongan itu yang hendak diisi tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM bersama Pertamina Hulu Energi dan Elnusa.
“Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” kata dosen FMIPA UGM Dr. Wiwit Suryanto, dikutip dari keterangan tertulis UGM, Jumat (2/10/2026).
Versi sebelumnya hanya sanggup bekerja sampai kedalaman 10 meter. Versi baru dirancang untuk perairan dangkal hingga 100 meter, sehingga uji di Saguling baru menempuh kurang dari sepertiga jarak yang dituju. Alat itu juga dibekali kamera dan lampu.
“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” ujar Wiwit.
Satu dari Tiga Komponen Masih Diperbaiki
Tim tidak menutupi kekurangan alatnya. Sensor getar itu membaca gerakan tanah lewat tiga komponen, dan satu di antaranya belum bekerja semestinya.
“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” tutur Wiwit.
Tahap berikutnya adalah uji di laut pada November, di wilayah kerja PHKT. Bila lolos, kegunaannya tidak berhenti pada pencatatan gempa.
“Inovasi ini bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” kata Wiwit.
Baca juga: Pola Arus Selat Sunda Bisa Jadi Peta Pencarian Korban Kapal
Baca juga: Dosen UGM: Erupsi Freatik Sinabung Nyaris Tanpa Tanda Awal
Baca juga: Pakar UNAIR Nilai Mitigasi Bencana Masih Bersifat Reaktif















