- Pemodelan September menunjukkan arus Selat Sunda bergerak kuat ke barat laut menuju Enggano
- Kapal tanpa mesin menjadi objek terapung sehingga posisi terakhirnya tidak pernah tetap
- Pola arus disarankan menjadi acuan menyusun probability search area bagi tim SAR
Cekricek.id — Pola arus Selat Sunda yang menarik benda terapung ke arah Pulau Enggano dinilai dapat dipakai menyusun wilayah pencarian korban kapal.
Saran itu dimuat dalam keterangan tertulis IPB University, Rabu (30/09/2026), merangkum penjelasan Pakar Oseanografi IPB University, Prof Agus Saleh Atmadipoera, dalam wawancara televisi pada Kamis (24/09/2026).
Menurut Prof Agus, kapal yang mesinnya mati berubah menjadi objek terapung yang sepenuhnya mengikuti gelombang, angin, dan arus. “Kapal itu dianggap mesinnya mati, jadi objek yang terapung. Posisi terakhir pasti tidak fixed karena terbawa arus,” ujarnya.
Arah Arus September Menarik ke Barat Laut
Pemodelan dinamika laut pada September menunjukkan arus bergerak kuat ke barat laut menuju perairan Enggano. Dalam sekitar dua hari sejak berlayar dari kawasan Krakatau, objek terapung diperkirakan sudah memasuki Samudra Hindia.
“Begitu keluar Selat Sunda, arus sedang kencang-kencangnya dari arah timur, tertarik sampai ke Enggano. Tanggal 7 sampai 12 itu perkiraannya kapal sudah terbawa arus ke Enggano,” terangnya.
Penemuan jenazah korban pada hari ke-12 memperkuat perkiraan jalur tersebut. Prof Agus menambahkan, posisi awal kapal di transek Selat Sunda ikut menentukan lintasan. Dari sisi utara selat, objek terbawa langsung ke Enggano; dari sisi selatan yang berbatasan dengan kawasan Krakatau, terdapat dua sumbu arus dengan pola berputar.
Ia menyarankan tim gabungan SAR dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan memakai pola pergerakan arus itu sebagai acuan utama menyusun probability search area, sehingga pemetaan wilayah pencarian lebih terfokus. Koordinasi dengan nelayan lokal yang beroperasi dari Selat Sunda hingga Enggano juga dinilai krusial.
Dukungan teknologi ditawarkan dari kampus. “Bisa berkolaborasi dengan IPB, ada fasilitas untuk pemetaan 12 satelit beresolusi tinggi untuk mendeteksi kapal-kapal yang ada di sekitaran Selat Sunda dan Krakatau,” ungkapnya. Pada ekspedisi sebelumnya pemantauan sempat terkendala tutupan awan, tetapi pengamatan berkala akan diteruskan.
Enggano sendiri merupakan pulau terluar dengan kekayaan hayati yang sudah dipetakan peneliti; satu inventarisasi mencatat 64 jenis hewan dengan penyu hijau di urutan teratas.
Riwayat pulau itu pun panjang, termasuk catatan bahwa warganya baru mengenal beras pada zaman pendudukan Jepang.
Pemodelan laut serupa juga dipakai untuk peringatan dini di perairan lain, seperti ketika banjir rob Surabaya diwaspadai saat pasang melewati 2,4 meter.















