Banjir Rob Surabaya Diwaspadai Saat Pasang Lewati 2,4 Meter

A A

Ilustrasi permukiman terendam banjir; puncak pasang di atas 2,4 meter berpotensi menimbulkan rob. [Foto: Pexels]

  • Pakar ITS Umboro Lasminto menyebut puncak pasang di atas 2,4 meter berpotensi menimbulkan banjir rob.
  • Perkiraan pasang di Surabaya mencapai 2,4 meter pada 29 hingga 30 September 2026.
  • Fase bulan purnama bertepatan dengan periode pasang tertinggi bulan ini.
  • Kawasan terbangun mempersempit area resapan, sementara Surabaya sudah memiliki Surabaya Drainage Master Plan.

Cekricek.id — Banjir rob di pesisir Surabaya perlu diwaspadai ketika puncak pasang air laut melewati 2,4 meter, seiring prediksi pasang tinggi pada akhir September.

Prediksi air laut pasang itu dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Tanjung Perak, dan ketinggian pasang menjadi indikator kesiapsiagaan warga, sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jumat (25/09/2026).

Pakar mitigasi bencana banjir ITS, Dr Umboro Lasminto ST MSc, menyebut masyarakat dapat mencermati prediksi pasang dari BMKG atau sumber resmi lainnya.

“Dari hasil pengamatan yang pernah terjadi sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob,” terangnya.

Di bawah angka itu, kemungkinan rob relatif lebih rendah. Meski begitu, dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut mengingatkan kondisi pasang di lapangan tidak selalu sesuai prediksi.

“Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya,” pesannya.

Bulan purnama dan pasang tertinggi berbarengan

Dosen sekaligus peneliti mitigasi bencana banjir Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS, Muhammad Hafiizh Imaaduddiin ST MT, menambahkan pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan. Fase purnama identik dengan periode pasang yang lebih besar.

“Menurut saya, kenapa September ini terjadi potensi pasang tertinggi hanya karena waktunya kebetulan bersamaan, yakni bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob,” terangnya.

Perkiraan pasang air laut di wilayah Surabaya menunjukkan ketinggian mencapai 2,4 meter pada 29 hingga 30 September 2026.

Kota hilir pesisir dan area resapan yang menyusut

Hafiizh menyebut karakter Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir membuat rob menjadi risiko yang tidak dapat dihindari, hanya dapat diantisipasi. Perkembangan kawasan perkotaan turut mempersempit area resapan air.

“Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase,” jelasnya.

Kawasan terbangun seperti perumahan, perkantoran, hingga kawasan stadion Gelora Bung Tomo disebut ikut mengurangi area resapan. Pemerintah Kota Surabaya sendiri telah memiliki Surabaya Drainage Master Plan sebagai acuan penanganan drainase perkotaan.

Di tingkat warga, langkah sederhana yang disarankan adalah mengamankan barang dari lokasi yang berpotensi tergenang dan menyiapkan rute perjalanan alternatif. Kesiapsiagaan tetap penting dilakukan meski rob pada akhirnya tidak terjadi.

“Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob,” pungkasnya. Perangkat pemantauan serupa sudah dipasang kampus lain lewat sistem peringatan dini berbasis IoT di Nagari Malalak, sementara penanganan pascabencana disiapkan lewat pos pantau tanggap darurat tim UNAIR dan tempat pengungsian yang berperspektif gender.

Bagikan

Baca Juga

Guru Besar UNAIR: Anak Disleksia Bukan Anak yang Bodoh
Guru Besar UGM Serukan Diversifikasi Pangan Hadapi El Nino
Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Kedaulatan Keputusan AI, Guru Besar ITB: Jangan Jadi Konsumen
Dokter RSA UGM: Abu Vulkanik Bisa Picu Silikosis Paru