- Mutu hubungan dengan pembimbing berkorelasi negatif dengan kecemasan pada 1.233 mahasiswa pascasarjana Tiongkok, dengan r -0,362.
- Efek tidak langsung lewat efikasi diri umum menyumbang 41,76 persen dari efek total hubungan pembimbing terhadap kecemasan.
- Koefisien kaitan hubungan pembimbing dengan kecemasan -0,33 pada mahasiswa bersikap negatif terhadap bantuan psikologis dan -0,118 pada yang bersikap positif.
- Para penulis menyarankan sistem peringatan dini psikologis dan layanan konseling individu, kelompok, daring, serta telepon.
Daftar Isi
Menurut teori emosi James-Lange yang dirujuk sebuah tim peneliti, mahasiswa pascasarjana dalam suasana bimbingan yang buruk bisa menunjukkan jantung berdebar dan berkeringat ketika menghadapi kritik atau perlakuan yang terasa tidak adil. Gambaran itu menjadi bagian dari landasan teori penelitian mereka tentang hubungan pembimbing dan kecemasan pada 1.233 mahasiswa pascasarjana di Tiongkok.
Penelitian itu ditulis Lan Luo dari School of Education, Jiangxi Normal University, dan Psychological Counseling and Guidance Center, Jiangxi University of Chinese Medicine, bersama rekan. Judulnya Supervisor–student relationship and anxiety among graduate students: a moderated mediation model, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Pertanyaannya: bagaimana mutu hubungan dengan pembimbing berkaitan dengan kecemasan mahasiswanya.
Taruhannya tidak kecil. Lan Luo dan rekan mencatat jumlah mahasiswa pascasarjana di Tiongkok pada 2024 mencapai 4.095.500 orang, naik 121,65 persen dibanding 2014. Mereka juga merujuk laporan perkembangan kesehatan mental nasional Tiongkok 2021–2022, yang menyebut tingkat deteksi risiko kecemasan pada mahasiswa 45,28 persen, sementara risiko gangguan kecemasan pada mahasiswa pascasarjana enam kali lipat populasi umum.
Di Ruang Bimbingan, Pembimbing Memegang Wewenang Luas
Di Tiongkok, menurut para penulis, sistem tanggung jawab tutor memberi pembimbing wewenang luas atas perjalanan akademik dan profesional mahasiswanya. Hubungan itu ditandai ketergantungan akademik yang kuat, otoritas berjenjang, dan keterlibatan pribadi yang panjang. Para penulis juga menyebut hubungan pembimbing dan mahasiswa pascasarjana lebih dekat sekaligus lebih rumit dibanding hubungan guru dan murid di jenjang pendidikan lain.
Hubungan yang suportif, tulis mereka, dapat menumbuhkan motivasi, ketangguhan, dan perkembangan pribadi. Sebaliknya, hubungan yang tegang bisa menjadi sumber tekanan antarpribadi yang serius. Dalam kerangka teori yang dipakai, wujudnya berupa kritik terus-menerus, kontrol berlebihan, sikap merendahkan, atau pengabaian dari pembimbing, yang dapat membuat mahasiswa hidup di bawah tekanan dalam waktu lama.
Untuk mengujinya, tim menyebar kuesioner daring pada Maret hingga April 2025 kepada mahasiswa pascasarjana di 15 perguruan tinggi Tiongkok. Dari 1.350 kuesioner, 1.233 kembali dalam keadaan sah, terdiri atas 782 laki-laki dan 451 perempuan berusia 20 sampai 40 tahun. Sebanyak 1.083 di antaranya mahasiswa magister dan 150 lainnya mahasiswa doktoral.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Makin Baik Hubungan, Makin Rendah Kecemasan
Petunjuk pertama datang dari korelasi. Mutu hubungan dengan pembimbing berkorelasi negatif dengan kecemasan, dengan koefisien r sebesar −0,362. Artinya, makin baik hubungan yang dilaporkan mahasiswa, makin rendah kecemasan yang mereka laporkan. Hubungan itu juga berkorelasi positif dengan efikasi diri umum, yakni keyakinan bahwa diri sanggup menghadapi beragam tantangan, dengan r 0,503.
Efikasi diri umum sendiri berkorelasi negatif dengan kecemasan, dengan r −0,406. Sikap terhadap pencarian bantuan psikologis profesional, misalnya kesediaan menemui konselor, juga berkorelasi negatif dengan kecemasan, dengan r −0,226. Seluruh korelasi itu dihitung setelah jenis kelamin, usia, jenis mahasiswa, jenis gelar, daerah asal, status perkawinan, dan status pengurus mahasiswa dikendalikan.
Dalam model regresi, hubungan dengan pembimbing secara statistik memprediksi kecemasan ke arah negatif dengan koefisien β −0,364, dan memprediksi efikasi diri umum ke arah positif dengan β 0,504. Ketika efikasi diri umum dimasukkan ke model, koefisien hubungan pembimbing terhadap kecemasan menyusut menjadi −0,212 tetapi tetap bermakna. Efikasi diri umum sendiri bernilai −0,302.
Di titik inilah benang merahnya terlihat. Efek total hubungan pembimbing terhadap kecemasan tercatat −0,364, efek langsungnya −0,212, dan efek tidak langsung lewat efikasi diri umum −0,152. Menurut para penulis, efek mediasi itu menyumbang 41,76 persen dari efek total. Karena hubungan pembimbing tetap berkaitan langsung dengan kecemasan, mediasi itu disebut parsial.
Keyakinan Diri sebagai Jalur Penghubung
Lan Luo dan rekan membaca jalur itu dalam dua tahap. Pada tahap pertama, hubungan yang suportif berjalan seiring dengan keyakinan mahasiswa yang lebih kuat akan kemampuannya, sedangkan hubungan yang buruk berjalan seiring dengan keyakinan yang melemah. Para penulis mengaitkannya dengan teori kognitif sosial Bandura, yang menekankan peran umpan balik dari orang penting, termasuk pembimbing.
Pada tahap kedua, efikasi diri umum yang lebih rendah berkaitan dengan kecemasan yang lebih tinggi. Mengutip penelitian terdahulu, para penulis menyebut orang dengan keyakinan diri yang menipis lebih mungkin menganggap tekanan sebagai sesuatu yang melampaui kemampuannya. Dalam teori konservasi sumber daya yang mereka rujuk, hilangnya sumber daya pribadi semacam itu membuat seseorang lebih rentan.
Namun jalan tengah itu hanya sebagian. Hubungan dengan pembimbing tetap berkaitan langsung dengan kecemasan meski efikasi diri sudah diperhitungkan. Para penulis menduga ada jalur lain, seperti pengaturan emosi, dukungan sosial yang dirasakan, atau rasa keadilan dalam bimbingan, yang ikut berperan dalam kaitan tersebut.
Dari sisi tubuh, mereka juga menyebut kemungkinan bahwa hubungan yang tegang mengaktifkan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal dan memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Penjelasan itu diajukan di bagian pembahasan. Untuk penelitian berikutnya, para penulis menyarankan pemakaian penanda objektif, misalnya ukuran fisiologis reaksi stres, agar temuan lebih kokoh.
Baca juga Yang Ditakuti Mahasiswa Saat Maju Presentasi
Sikap Positif pada Bantuan Psikologis Memperlemah Kaitan
Temuan berikutnya menyangkut faktor ketiga, yaitu sikap mahasiswa terhadap pencarian bantuan psikologis profesional. Sikap itu mencakup keterbukaan untuk mencari penanganan atas masalah emosional serta penilaian atas nilai dan kebutuhan penanganan tersebut. Dalam model, interaksi antara hubungan pembimbing dan sikap ini bermakna, baik terhadap efikasi diri umum (β −0,119) maupun terhadap kecemasan (β 0,106).
Tim lalu membandingkan dua keadaan: mahasiswa dengan sikap negatif, yaitu satu simpangan baku di bawah rata-rata, dan mahasiswa dengan sikap positif, satu simpangan baku di atas rata-rata. Pada sikap negatif, koefisien kaitan hubungan pembimbing dengan efikasi diri umum bernilai 0,617. Pada sikap positif, koefisien yang sama hanya 0,379.
Para penulis merumuskan arti angka itu. “Mahasiswa pascasarjana dengan sikap positif terhadap pencarian bantuan psikologis profesional akan mengalami penurunan efikasi diri umum yang lebih lambat ketika menghadapi hubungan pembimbing-mahasiswa yang buruk dibanding mereka yang bersikap negatif terhadap pencarian bantuan psikologis profesional,” tulis Lan Luo dan rekan, dalam terjemahan bebas.
Pola serupa muncul pada kecemasan. Bagi mahasiswa bersikap negatif, koefisien kaitan hubungan pembimbing dengan kecemasan bernilai −0,33, sedangkan bagi yang bersikap positif melemah menjadi −0,118, meski keduanya tetap bermakna. Efek tidak langsung lewat efikasi diri mengikuti arah yang sama: −0,158 pada sikap negatif dan −0,097 pada sikap positif.
Para penulis menafsirkan, mahasiswa yang bersikap negatif lebih mungkin memendam konflik atau pengabaian dari pembimbing sebagai kekurangan pribadi, sehingga rasa mampunya merosot lebih tajam. Sebaliknya, mereka yang terbuka pada bantuan profesional dinilai lebih mungkin memandang kesulitan hubungan sebagai tantangan yang bisa diatasi lewat dukungan dari luar, bukan sebagai tanda ketidakmampuan.
Yang Bisa Dikerjakan Kampus, dan Batas yang Diakui Para Peneliti Sendiri
Dari temuan itu, Lan Luo dan rekan menyusun sejumlah saran. Di tingkat lembaga, otoritas pendidikan disarankan memperkuat sistem pembimbingan, menstandarkan proses pelatihan, dan membuat pedoman yang lebih jelas. Kampus juga dapat membangun sistem peringatan dini psikologis, misalnya survei kesehatan mental rutin, untuk menemukan mahasiswa yang rentan sejak awal.
Sistem itu terutama ditujukan untuk menemukan mahasiswa yang melaporkan hubungan buruk dengan pembimbing sekaligus sikap negatif terhadap bantuan profesional. Upaya mengurangi stigma juga dianggap penting, termasuk pendidikan kesehatan mental dan layanan konseling dalam beragam bentuk, dari konseling individu dan kelompok sampai konseling daring atau lewat telepon. Mahasiswa sendiri didorong berkomunikasi terbuka dengan pembimbing, membingkai ulang cara pandang, berolahraga, dan berlatih kesadaran penuh. Mereka juga diharapkan lebih bersedia mendatangi layanan konseling profesional ketika tekanan mulai menumpuk.
Baca juga Remaja Tiongkok Tenang bila Harapan Sekolah Seirama Orang Tua
Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Rancangan potong lintang membuat mereka tidak dapat menarik kesimpulan sebab-akibat yang kuat, dan seluruh data berasal dari kuesioner laporan diri yang rentan bias, misalnya keinginan tampil baik. Sampelnya pun hanya mahasiswa pascasarjana Tiongkok, sehingga belum jelas apakah pola yang sama berlaku di negara atau sistem pendidikan lain.
Faktor lain seperti ketangguhan, dukungan sosial, dan gaya mengatasi masalah juga belum dimasukkan ke dalam model. “Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa memupuk hubungan pembimbing-mahasiswa yang suportif dan mendorong sikap positif terhadap pencarian bantuan psikologis profesional merupakan jalan utama untuk menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa pascasarjana,” tulis mereka di bagian kesimpulan.
Dalam data 1.233 mahasiswa ini, mereka yang bersikap positif terhadap bantuan psikologis profesional menunjukkan kaitan yang lebih lemah antara hubungan buruk dengan pembimbing dan kecemasan. Para penulis menyebut sikap itu berfungsi sebagai faktor ketangguhan dalam pendidikan pascasarjana.















