Cekricek.id — Selama satu dasawarsa terakhir, kecemasan berbicara di depan kelas diperlakukan terutama sebagai angka yang harus diturunkan. Ia diukur dengan skala, dibandingkan sebelum dan sesudah perlakuan, lalu dilaporkan berkurang sekian poin. Yang berganti-ganti hanya alat penurunnya, dari situs latihan berbasis pengenalan ucapan otomatis sampai perangkat percakapan kecerdasan buatan.
Empat peneliti Universitas Negeri Makassar memilih menutup daftar skala itu dan bertanya hal lain: bagaimana mahasiswa menceritakan rasa cemasnya sendiri. Baharman, Sulastriningsih Djumingin, Suriadi, dan Nur Anita Syamsi Safitri menulis Narratives of Speaking Anxiety under Evaluative Pressure in Students’ Classroom Presentations: A Communication Apprehension Perspective by DeVito di jurnal LITERA Vol. 25 No. 1 terbitan 2026. Datanya bukan skor, melainkan 109 satuan cerita yang ditulis sendiri oleh para mahasiswa.
Daftar Isi
Bashori 2021 dan situs yang mendengarkan suara

Rantai penelitian yang menjadi latar belakang kerja mereka bisa ditarik mundur ke 2021. Tahun itu Bashori bersama Cucchiarini, Van Hout, dan Strik melaporkan di jurnal System bahwa situs pembelajaran berbasis pengenalan ucapan otomatis memperbaiki kosakata pelajar bahasa Inggris, menurunkan kecemasan berbicara, dan menaikkan kenikmatan berbahasa. Temuan itu menjadi tumpuan sejumlah penelitian sesudahnya, dan arah pertanyaannya konsisten: apa yang paling ampuh menurunkan angka kecemasan. Sesudah itu daftar alatnya memanjang cepat. Goodarzi dan Namaziandost melaporkan penilaian dinamis daring menaikkan motivasi dan menolong pengelolaan kecemasan lewat mediasi dialogis. Ebadi dan koleganya menguji tugas berbicara berbantuan kecerdasan buatan. Karagol dan timnya menghubungkan penggunaan ChatGPT dan Yoodli dengan turunnya kecemasan berbicara di depan umum. Gorinelli serta Puri dengan rekan-rekannya menguji pembelajaran lewat gawai dan terapi penerimaan berbasis realitas virtual. Semuanya melaporkan perbaikan.
Baca juga Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk
Latar yang lebih tua lagi menerangkan mengapa alat sebanyak itu dianggap perlu. Alamri dan Qasem serta Amir dengan rekan-rekannya mencatat bahwa pada pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, kecemasan diperkuat oleh takut membuat kesalahan, khawatir dikoreksi, dan antisipasi terhadap penilaian sosial dari dosen maupun teman. Tekanan itu bertaut dengan tradisi kelembagaan yang tidak selalu menyediakan kesempatan berlatih bicara secara bertahap dan aman, sehingga presentasi kerap dirasakan sebagai ujian penentu pengakuan kemampuan. Justru penumpukan hasil positif itu yang membuat celahnya kelihatan. Tim Universitas Negeri Makassar mencatat bahwa penelitian-penelitian tersebut umumnya berhenti pada kecemasan sebagai skor, tingkat, dan hasil perlakuan. Dinamika penilaian di dalam kelas — koreksi, sesi tanya jawab, umpan balik dosen, harapan atas penampilan — jarang diuraikan, padahal justru bagian itu yang menentukan bagaimana mahasiswa memaknai ancaman ketika berdiri di depan.
DeVito 2016: takut yang melekat pada peristiwa bicara
Kerangka yang mereka pakai lebih tua dari semua alat itu. Joseph A. DeVito pada 2016 merumuskan communication apprehension, kecemasan komunikasi, sebagai rasa takut yang melekat pada peristiwa komunikasi itu sendiri, bukan pada sifat bawaan pembicaranya. Dalam kerangka ini presentasi kelas dibaca sebagai peristiwa yang mengandung risiko keliru, risiko dinilai, dan risiko sosial. Kecemasan lalu bukan gejala pribadi, melainkan tafsir atas situasi. Pemilihan kerangka itu memindahkan pertanyaan penelitian. Bukan lagi seberapa tinggi kecemasan seorang mahasiswa, melainkan bagaimana kecemasan itu dijalani, diceritakan, dan dibentuk di dalam ruang kelas yang menilai. Datanya dikumpulkan lewat Google Form berisi pertanyaan terbuka yang sama untuk semua responden, meminta mereka menjelaskan faktor yang membuat mereka cemas atau kurang percaya diri saat berbicara di depan banyak orang, berikut contoh situasinya.
Cara mengolahnya mengikuti model analisis kualitatif Miles, Huberman, dan Saldana terbitan 2020. Jawaban dipadatkan lebih dulu, dipilah menjadi satuan makna, diberi kode, dikelompokkan ke dalam kategori utama atau kategori kedua sesuai makna dominannya, lalu disajikan sebagai tabel sebaran berikut petikan narasi yang mewakili. Konsistensi pengodean dijaga lewat pembacaan berulang, dan setiap tafsir dikembalikan ke konteks cerita responden sebelum dinyatakan sebagai temuan.
Seratus sembilan cerita dan urutan yang muncul
Seluruh jawaban dipilah menjadi delapan kategori kecemasan komunikasi, lalu dihitung mana yang paling sering muncul sebagai kategori utama. Hasilnya berurutan: takut keliru secara verbal atau kognitif muncul pada 30 satuan data, takut dinilai negatif oleh penonton pada 23 satuan, gejala tubuh dan penampilan pada 22 satuan, rasa malu dan kurang percaya diri pada 18 satuan. Empat kategori teratas itu mencakup lebih dari empat perlima seluruh korpus. Sisanya jauh lebih tipis. Konteks peran dan situasi publik muncul pada 7 satuan, kurangnya pengalaman dan persiapan pada 5 satuan, takut pada tatapan yang terpusat pada 4 satuan. Satu kategori sama sekali tidak muncul sebagai kategori utama: jejak pengalaman buruk pada masa lalu, yang justru terus hadir sebagai kategori kedua di beberapa satuan data. Yang paling membekas ternyata paling jarang disebut sebagai sebab utama.
Baca juga Frankenstein yang Dijahit Ulang oleh Remaja Perempuan
Isi ceritanya menerangkan urutan itu. Mahasiswa menulis bahwa yang mereka takuti bukan sekadar salah ucap, melainkan salah isi — menanggapi jawaban teman yang mereka kira keliru, lalu ternyata jawaban itu benar. Ada pula yang menceritakan lupa urutan materi karena perhatiannya terbelah oleh tatapan teman sekelas. Beberapa mencatat gejala tubuh yang muncul sebelum bicara dimulai: tangan dingin, telapak berkeringat, suara bergetar.
Kategori peran dan situasi publik hanya muncul tujuh kali, tetapi isinya menerangkan kapan tekanan itu memuncak. Yang disebut mahasiswa bukan sembarang kesempatan bicara, melainkan peran tertentu: menjadi pemandu acara, menjadi peserta ujian lisan, menjadi penyaji di depan kelas. Satu cerita menuturkan seseorang yang sudah menguasai materi ujian, tetapi mulai gemetar dan kehilangan fokus tepat ketika namanya dipanggil. Yang dipertaruhkan bukan isi, melainkan keberhasilan memainkan peran di bawah pengawasan. Kategori yang nol pun tidak dibuang begitu saja. Beberapa cerita menghubungkan rasa takut hari ini dengan peristiwa lama: salah ucap saat presentasi semasa sekolah menengah lalu ditertawakan sekelas, atau pernah tidak didengarkan ketika menjelaskan sesuatu kepada teman. Satu jawaban menyebut ingatannya sudah kabur dan detailnya tidak lagi terkumpul, tetapi rasa takutnya masih ada. Tim penulis membaca hal itu sebagai memori sosial yang tetap bekerja meski peristiwanya sudah hilang.
Bagian yang paling menarik justru tafsir atas gejala tubuh itu. Menurut tim penulis, mahasiswa tidak membaca tangan berkeringat sebagai reaksi biasa, melainkan sebagai bukti bahwa mereka gagal menguasai keadaan, dan tafsir itulah yang menaikkan kecemasan berikutnya. Hubungan antara kecemasan dan penampilan lisan karena itu mereka sebut “siklis, bukan linear”. Satu getaran suara dibaca sebagai kegagalan, dan pembacaan itu memicu getaran berikutnya.
Kelsen dan Delangle: tubuh yang tidak sepakat dengan laporan
Rantainya bersambung ke sisi lain. Kelsen dan Liang pada 2024 melaporkan indikator neurofisiologis yang memprediksi aspek perilaku dan somatik dari kecemasan berbahasa asing. Caudle dan timnya pada tahun yang sama mencatat perubahan konektivitas jaringan otak sesudah latihan memori kerja yang dipadukan dengan paparan. Delangle bersama koleganya menemukan selisih antara laporan subjektif dan respons fisiologis ketika orang berlatih bicara di hadapan avatar realitas virtual. Selisih terakhir itu penting bagi posisi paper Makassar. Kalau tubuh dan laporan tidak selalu sepakat, maka angka pada skala tidak bisa dianggap mewakili seluruh pengalaman, dan sebaliknya cerita tidak bisa dianggap mewakili seluruh tubuh. Keduanya mengukur hal yang berlainan. Farpour dan timnya menegaskan sisi ketiga, yakni sentralnya keyakinan evaluatif dalam kecemasan berbicara, sementara Kahlon dan rekan-rekannya menunjukkan perfeksionisme memperkuat tuntutan tampil tanpa cela.
Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani
Ada satu temuan yang menurut tim itu memperluas kerangka DeVito. Tatapan yang terpusat dilaporkan sebagai tekanan tersendiri, terpisah dari kesalahan maupun komentar. Mahasiswa merasa dilihat sebagai pusat perhatian dan menjadi tidak nyaman sebelum satu kekeliruan pun terjadi. Ancaman komunikasi, dengan demikian, tidak hanya datang lewat ucapan dan penilaian verbal, tetapi juga lewat dimensi visual interaksi — arah pandang mata di dalam ruangan yang sama. Di titik itu tim Universitas Negeri Makassar menyatakan beda pendapatnya paling jelas. Mereka tidak menolak manfaat kecerdasan buatan, penilaian dinamis, gawai, maupun realitas virtual, tetapi menolak asumsi bahwa kecemasan otomatis turun begitu beban kognitif dikurangi atau latihan diperbanyak. Selama makna bahwa “berbicara berarti mempertaruhkan rasa dipermalukan” tidak tersentuh, tulis Baharman dan tiga rekannya, kecemasan bisa bertahan meski latihan dan teknologi sudah disediakan.
Sesudah 2026: mata rantai yang belum tersambung
Batas penelitian ini diakui sendiri oleh penulisnya. Datanya berhenti pada narasi tertulis. Tidak ada pengamatan atas penampilan lisan yang sebenarnya, tidak ada rekaman sesi tanya jawab, tidak ada data fisiologis, dan tidak ada perbandingan antardisiplin ilmu maupun antarbudaya kelas. Karena itu temuannya menerangkan bagaimana kecemasan diceritakan oleh sekelompok mahasiswa dalam satu korpus, bukan seberapa sering kecemasan itu terjadi di perguruan tinggi Indonesia.
Yang mereka tawarkan untuk mata rantai berikutnya juga bukan alat baru. Saran teknisnya berupa pembiasaan bicara secara bertahap, pengelolaan sesi tanya jawab yang tidak mempermalukan, dan penandaan kesalahan yang tidak menghukum. Teknologi tetap boleh dipakai, tetapi diletakkan di dalam rancangan pengajaran yang peka terhadap pengalaman dinilai. Standar akademik dipertahankan tanpa menganggap kecemasan sebagai akibat yang wajar dan tidak terhindarkan.
Rantai riset kecemasan berbicara dengan demikian tidak putus di 2026; ia hanya bergeser satu mata. Dari mengukur seberapa takut, ke menanyakan apa yang ditakuti. Dari alat yang dipasang di depan pembicara, ke ruangan tempat pembicara itu berdiri. Ada yang tidak berubah sepanjang rantai itu, dan mahasiswa menuliskannya berulang kali: yang paling menakutkan bukan berbicara, melainkan ditertawakan sesudahnya.















