Daftar Isi
Cekricek.id — Subjektivasi terdengar seperti istilah yang hanya hidup di ruang kuliah, padahal terjemahan pendeknya sederhana: proses seseorang berhenti menjadi bahan pembicaraan dan mulai menjadi orang yang menentukan pembicaraan.
Contohnya gampang dicari di luar kampus. Seorang perempuan yang nasibnya dirundingkan di ruang tamu, sementara ia menunggu hasilnya di dapur, sedang diperlakukan sebagai objek. Perempuan yang masuk ke ruang tamu itu, menarik kursi, lalu menyebutkan syaratnya sendiri, sedang mengerjakan apa yang dalam kajian gender disebut subjektivasi. Jaraknya hanya beberapa langkah, tetapi isi percakapan berubah seluruhnya.
Perpindahan kursi semacam itu yang dilacak Wiwien Widyawati Rahayu, Yudha Adistira, dan Saktia Hidayah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dalam Perempuan yang Terbarukan: Analisis Gender terhadap Kidung Tresna Sang Pikatan dan Prau Layar ing Kali Code, yang terbit di jurnal Mozaik Humaniora Vol. 25 No. 1 tahun 2025. Objeknya dua novel berbahasa Jawa era Reformasi, dan yang mereka hitung adalah titik ketika tokoh perempuannya pindah tempat duduk.
Subjektivasi: dari yang dibicarakan jadi yang bicara

Kidung Tresna Sang Pikatan karya Alexandra Indriyanti Dewi adalah satu dari lima naskah yang terpilih diterbitkan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dari 28 pengarang yang ikut kompetisi Penulisan Novel Jawa 2020. Latarnya abad ke-9, masa persaingan wangsa Sanjaya dan Syailendra. Tokoh yang dibedah tim Universitas Gadjah Mada adalah Wulan, perempuan yang di dalam cerita justru mengurus hal-hal yang biasanya diserahkan kepada tokoh laki-laki. Tim penulis menempatkannya dalam garis yang lebih panjang: novel Jawa modern mereka runut sampai Darma Sanyata karya R. Ngt. Kartasiswaja yang terbit pada 1917 dan bertema emansipasi perempuan, sementara Serat Riyanta karya R. B. Soelardi terbitan 1920 yang sering disebut sebagai yang pertama justru pernah dibantah J. Kats pada 1934 karena tidak lahir dari gagasan asli pengarangnya.
Pada halaman 175 novel itu, Wulan tidak menunggu Wulung berbicara lebih dulu. Ia menyebut dua pasangan lain yang sudah akan menikah, lalu bertanya, “Lalu kita kapan?” Kalimat berikutnya lebih tegas lagi, ketika ia menanyakan apakah Wulung memang tidak ingin hidup bersamanya. Dalam bahasa sehari-hari, perempuan itu menembak lebih dulu. Dalam bahasa paper, ia berhenti menjadi tokoh yang menunggu keputusan dan menjadi tokoh yang mengajukannya.
Baca juga Nilai Bahasa Jawa Naik Usai Aplikasi Masuk Kelas
Contoh kedua lebih berupa perkakas daripada perasaan. Halaman 25 mencatat Wulan menjual gelang dan kalung emas miliknya di desa terdekat dari hutan, lalu pulang membawa garam, kendhil, pisau baru pengganti pisau yang sudah rusak, klewang, kapak, dan celurit yang hanyut ketika hujan besar. Wulung, yang seharusnya menjadi pelindung, justru malu sendiri. Daftar belanja itu sepele, tetapi ia menunjukkan siapa yang membiayai pelarian. Perbandingannya perlu dipasang supaya jelas. Dalam pola cerita lama, benda-benda seperti kapak dan klewang lazimnya berpindah dari tangan laki-laki ke tangan perempuan sebagai bentuk perlindungan. Di novel ini arahnya terbalik. Perhiasan perempuan yang dicairkan menjadi bekal, dan laki-laki yang menerima. Tim penulis membaca pembalikan arah itu sebagai bukti bahwa subjektivasi tidak selalu berbentuk pidato; kadang ia berbentuk transaksi kecil di pasar desa.
Cyborg: identitas yang tidak pernah murni
Istilah kedua datang dari Donna Haraway, ahli teori feminis Amerika yang pada 1991 menerbitkan kumpulan esai Simians, Cyborgs, and Women. Cyborg dalam pengertian Haraway bukan robot berpelat baja seperti di film. Ia adalah gambaran tentang makhluk campuran yang identitasnya tidak murni, yang dibentuk oleh sejarah dan pergaulan, dan karena itu tidak bisa dikurung oleh pasangan kata seperti asli dan asing.
Wulan dipakai penulis paper sebagai contoh sosok campuran itu. Ayahnya orang Syailendra, ibunya orang Sanjaya. Karena garis ayahnya, ia dan ibunya dibenci orang-orang Sanjaya; ketika ayahnya meninggal, hanya orang Syailendra yang mau merengkuh keluarganya. Pengakuan itu ada di halaman 41, diucapkan sambil ia menyatakan tidak takut dibunuh oleh laki-laki yang dicintainya. Posisi Wulan tidak bisa dijelaskan dengan satu label wangsa. Kutipan yang paling mengoreksi salah paham umum ada di halaman 43. Di adegan itu Wulan menyerahkan pedang ke tangan Wulung, mengarahkan ujungnya ke dadanya sendiri, lalu berkata, “Perang antara Sanjaya dan Syailendra itu hanya perang untuk merebut kekuasaan, Kakang. Tidak ada hubungannya dengan keturunan, kepercayaan, atau wangsa.” Perang dua wangsa selama ini kerap dibayangkan sebagai bentrokan dua keyakinan. Tokoh perempuan itu menolak pembacaan tersebut dan menyebut kekuasaan sebagai satu-satunya sebab.
Argumennya diteruskan dengan cara membalik pertanyaan. Saudara Wulung sendiri, Mahesa Seta, beribu perempuan dari Bengal; ibu Wulung berasal dari tanah Pasundan. Kalau kemurnian dijadikan ukuran, tidak ada yang lolos. Di sinilah kata cyborg berguna sebagai alat baca: yang dipersoalkan bukan darah, melainkan kursi kekuasaan. Wulan memakai pengetahuan tentang silsilah lawan bicaranya untuk mengubah arah percakapan, bukan untuk memenangkan pertengkaran.
Andum tresna: berbagi cinta yang dihentikan
Novel kedua, Prau Layar ing Kali Code karya Budi Sardjono, masuk nominasi kompetisi Penulisan Novel Jawa 2017 dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tokoh yang dibedah adalah Nyi Gandawati, nama lain Kanjeng Ratu Kidul. Istilah Jawa yang perlu diterjemahkan lebih dulu adalah andum tresna, yang secara harfiah berarti membagi cinta, dan dalam cerita itu berarti hubungan Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram.
Baca juga 160 Ujaran Kebencian di Kolom Komentar Bobby Nasution
Halaman 64 memuat penghentian hubungan itu, dan tanggalnya disebut persis: 13 Februari 1755, hari Perjanjian Giyanti ditandatangani. Sejak hari itu, tulis novel tersebut, Gandawati tidak mau lagi membagi cinta kepada raja-raja Mataram dan memilih menganggap semua penguasa sebagai anak cucunya sendiri. Kalimat penutupnya berupa pertanyaan retoris tentang mungkinkah satu perempuan melayani empat laki-laki, setelah Pakualaman dan Mangkunegaran ikut berdiri.
Penulis paper membaca pertanyaan itu sebagai dua hal sekaligus. Pertama, penolakan seorang tokoh perempuan untuk terus diperlakukan sebagai alat pengesah kekuasaan. Kedua, sindiran tentang pembagian wilayah yang justru melemahkan persatuan. Perbandingannya jelas: dalam versi yang lebih tua, Ratu Kidul sering ditakuti dan digambarkan pernah nyaris membunuh permaisuri Panembahan Senopati. Dalam novel ini, ia digambarkan mengayomi.
Pergeseran itu sudah terlihat di halaman pertama. Pasar Kranggan gempar sebelum pukul delapan pagi karena seorang perempuan cantik berbelanja sendirian: terong, buncis, kluwih, lombok ijo, dan bayam. Sebelum meninggalkan kios, ia berpesan supaya orang-orang memasak sayur lodeh dengan bahan itu, sebagai penolak bala menghadapi lahar Merapi. Identitasnya baru terbuka di pertengahan cerita. Sosok yang biasanya menakutkan diperkenalkan lewat lima jenis sayur.
Sastra sebagai cermin: novel yang mencatat zamannya
Istilah terakhir dipinjam dari sosiologi sastra Ian Watt, sebagaimana dirumuskan Sapardi Djoko Damono pada 1978. Sastra sebagai cermin berarti karya dibaca sebagai dokumen sosial: bukan hanya cerita, melainkan juga catatan tentang apa yang dianggap wajar oleh masyarakat pada zaman karya itu ditulis. Cermin di sini bukan kiasan yang manis, melainkan alat kerja untuk membaca isi.
Baca juga Gurabesi dan Empat Abad Arsip yang Berlubang
Dari cermin itu tim penulis mengambil beberapa hal. Adegan Wulan menjual perhiasan dibaca sebagai jejak barter, kegiatan tukar barang yang sudah berlangsung sejak masa prasejarah. Halaman 52 mencatat Dyah Ayu Manohara dibantu Wulan menenun jarit dan membuat batik Kalayuga yang laku mahal dan disukai para putri keraton Dharmapala. Ekonomi rumah tangga di dalam cerita ternyata ditopang pekerjaan tangan perempuan. Novel kedua menyimpan catatan yang lebih dekat ke masa kini. Halaman 78 memuat bantahan seorang istri terhadap suaminya yang dicurigai mencari pesugihan, cara cepat menjadi kaya lewat perjanjian dengan makhluk halus. Ia menyatakan tidak malu hidup miskin asal rezekinya halal. Kalimat itu, menurut penulis paper, adalah tempat pengarang menitipkan ajarannya, dan sekaligus tanda bahwa novel Jawa era Reformasi masih mengurus soal moral sehari-hari.
Nilai yang mereka tarik dari tokoh Wulan ada tiga: toleransi, karena ia tidak memilah orang berdasar asal wangsa; integritas, karena ia bertahan pada pendiriannya sampai bersedia mati; dan sikap tidak diskriminatif, karena ia tetap menolong orang Syailendra meski ibunya orang Sanjaya. Ketiganya dibaca sebagai pesan pengarang, bukan sebagai sifat perempuan Jawa pada umumnya. Jarak antara kedua hal itu sengaja dijaga.
Batas penelitiannya juga dipasang sendiri oleh penulisnya. Objek materialnya hanya dua novel, analisisnya ditekankan pada dua tokoh, dan datanya dikumpulkan lewat studi pustaka dengan teknik baca mendalam serta mencatat — tanpa wawancara dengan kedua pengarang. Karena itu temuannya berlaku untuk Wulan dan Gandawati di dalam dua buku, bukan untuk perempuan dalam sastra Jawa modern secara keseluruhan, apalagi untuk perempuan Jawa di luar buku.
Di situlah contoh ruang tamu tadi meleset. Dalam hidup, perempuan yang menarik kursi menanggung akibatnya sendiri. Dalam novel, kursi itu ditarikkan oleh pengarang, dan akibatnya diatur oleh alur. Subjektivasi yang dicatat paper ini adalah keputusan dua orang penulis tentang bagaimana perempuan sebaiknya diceritakan. Istilah itu menerangkan apa yang terjadi di dalam halaman. Ia berhenti di sampul.















