Cekricek.id — Nilai rata-rata siswa naik hampir tiga puluh poin. Angka rata-ratanya bergerak dari 57,50 pada prates menjadi 86,43 pada pascates. Yang berubah di antara dua ujian itu hanya satu hal, yakni sebuah aplikasi Android yang dipakai di kelas bahasa Jawa.
Aplikasinya bernama Sinau Pawarta Basa Jawa dan berjalan di telepon Android. Isinya materi keterampilan menulis pawarta, yaitu berita berbahasa Jawa yang diajarkan di jenjang sekolah menengah pertama. Pemakainya dalam uji coba itu 28 siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Temanggung, Jawa Tengah.
Windi Yusnita dan Suwarna Dwijonagoro dari Universitas Negeri Yogyakarta yang membuat sekaligus mengujinya. Laporan lengkapnya terbit sebagai Development of Android-based Javanese Language “Pawarta” Learning Media Using Adobe Animate Software di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025. Perangkat lunak pembuatnya Adobe Animate.
Kenaikan 28,9 poin itu besar untuk satu kali perlakuan di satu mata pelajaran. Angka sebesar itu justru menuntut pemeriksaan atas asal-usulnya, mulai dari keadaan kelas sebelum aplikasinya ada sampai cara nilainya diuji. Keduanya tercatat cukup rinci di dalam laporannya.
Kelas yang Monoton

Pangkal masalahnya ada di cara mengajar. Pengajaran bahasa Jawa di sekolah itu masih didominasi metode ceramah dan bergantung pada buku teks. Media buatan guru biasanya hanya salindia PowerPoint, dan bentuk itu pun tidak banyak berubah dari tahun ke tahun.
Media yang tersedia dinilai kurang bervariasi dan tertinggal dari perkembangan teknologi terbaru. Akibatnya tercatat dalam analisis kebutuhan yang dikerjakan di tahap pertama. Siswa merasa pelajarannya monoton, kurang interaktif, dan karena itu kurang menarik untuk diikuti sampai jam pelajaran berakhir.
Padahal siswa di sekolah itu punya gaya belajar yang cenderung membutuhkan visualisasi. Temuan tersebut diperoleh lewat observasi, wawancara, dan telaah pustaka pada tahap analisis kebutuhan. Ada jarak yang cukup lebar antara cara siswa menyerap materi dan cara materi itu selama ini disampaikan di depan kelas.
Ada satu catatan lain yang keluar dari wawancara dengan guru mata pelajaran. Guru bahasa Jawa di sana belum pernah memakai perangkat lunak Adobe Animate untuk membuat media ajar. Guru itu juga belum pernah sekali pun memakai media berbasis Android dalam proses mengajarnya.
Bahasa Jawa sendiri sudah lama dikeluhkan sebagai mata pelajaran yang sulit, meski diajarkan sejak sekolah dasar. Pelajarannya bahkan kerap disampaikan dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Kurangnya media yang kreatif dan inovatif disebut penulisnya sebagai salah satu penyebab kesulitan tersebut bertahan begitu lama.
Baca juga Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut
Android dipilih atas dasar pengamatan yang sederhana. Sistem operasi itu paling banyak dipakai kalangan siswa dan paling murah dibandingkan pilihan lain. Medianya pun bisa dibawa ke mana-mana, dibuka kapan saja, dan diulang siswa tanpa perlu jadwal khusus dari guru.
Isi Aplikasi
Materinya dipusatkan pada satu keterampilan saja, yaitu keterampilan menulis pawarta. Submaterinya delapan buah dan disusun berurutan supaya siswa punya alur yang jelas ketika mengikuti tiap sesi. Urutan yang tertata itu pula yang kemudian dinilai baik oleh para validator karena dianggap membantu siswa mengikuti alur belajar.
Delapan submateri itu mencakup konsep dasar berita, ciri berita, struktur atau bagian berita, serta unsur penting di dalam berita. Sisanya teknik penulisan berita, jenis berita, dan contoh berita yang disajikan dalam dua bentuk sekaligus, yaitu tulisan dan video.
Contoh berbentuk video itulah yang paling membedakannya dari buku teks. Siswa tidak berhenti pada teori menulis berita di atas kertas. Siswa juga melihat bagaimana struktur dan pilihan bahasa berita bekerja ketika benar-benar dibawakan di hadapan kamera.
Pembuatannya memakai empat perangkat lunak yang berbeda tugas. Adobe Animate 2020 dipakai untuk membangun medianya, termasuk interaksi sentuh dan seret di layar. Adobe Premiere Pro dipakai untuk menyunting contoh berita yang berbentuk video.
Adobe Photoshop dan Canva dipakai untuk membuat animasi dan desain yang dibutuhkan media itu. Perangkat kerasnya satu komputer bersistem Windows 11 Pro, dengan cakram keras 440 gigabita dan RAM 16 gigabita. Spesifikasi perangkat itu dicatat penulisnya sebagai bagian dari analisis kebutuhan perangkat lunak dan perangkat keras.
Sebelum diprogram, rancangannya dituangkan lebih dulu ke dalam diagram alir dan papan cerita. Diagram alir dibuat untuk memetakan tahap pembuatan agar langkahnya ringkas, jelas, dan tidak berputar-putar. Papan cerita disusun berbentuk tabel yang memuat rancangan tampilan untuk tiap halaman aplikasinya.
Tiga Putaran Validasi
Metode yang dipakai adalah penelitian dan pengembangan dengan model ADDIE. Lima tahapnya berurutan, yaitu analisis, desain, pengembangan, penerapan, dan evaluasi. Evaluasi tidak ditaruh di ujung, melainkan dijalankan pada tiap tahap untuk menentukan bagian mana dari produknya yang masih perlu direvisi.
Sebelum sampai ke tangan siswa, produknya dinilai dua dosen validator. Satu orang ahli materi, satu orang ahli media, dengan lembar penilaian masing-masing. Penilaian oleh kedua ahli itu diulang tiga kali sampai produknya dinyatakan valid dan layak dibawa ke uji lapangan.
Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman
Ahli materi menilai empat aspek dari media tersebut. Empat aspek itu adalah relevansi materi, pengorganisasian materi, evaluasi atau soal latihan, dan kebahasaan. Setiap masukan dan saran validator dipakai untuk merevisi produknya sebelum masuk ke putaran penilaian berikutnya.
Guru mata pelajaran bahasa Jawa ikut menilai dengan daftar yang lebih panjang. Tujuh aspek diperiksa, dari relevansi dan pengorganisasian materi sampai pengaruh strategi pasinaon, rekayasa perangkat lunak, dan tampilan visual. Tujuan penilaian oleh guru itu menakar kelayakan medianya dari sisi tampilan sekaligus kesesuaiannya dengan bahan ajar di kelas.
Hasil rata-rata seluruh aspeknya masuk kategori sangat valid. Indikator kelengkapan materi, keaktualan materi, dan keterpahaman materi disebut memuaskan oleh para penilai. Aspek bahasanya dinilai sudah sesuai dengan tingkat berpikir siswa kelas VIII sehingga materinya dianggap nyaman diikuti.
Tampilan visualnya juga mendapat penilaian sangat baik. Yang disorot terutama daya tarik desain serta pilihan warna dan huruf yang dipakai di tiap halaman. Perlu dicatat, seluruh penilaian ini datang dari dua validator dan seorang guru, bukan dari pengukuran perilaku siswa di kelas.
Angka Uji
Uji lapangannya dilakukan satu kali saja. Pesertanya 28 siswa kelas VIII di sekolah yang sama. Mereka mengerjakan prates lebih dulu, memakai aplikasinya di kelas, lalu mengerjakan pascates dan mengisi angket untuk mengukur minat terhadap medianya.
Datanya diperiksa normalitasnya lebih dulu sebelum diuji beda. Uji Shapiro-Wilk memberi nilai signifikansi 0,204 untuk prates dan 0,142 untuk pascates. Keduanya di atas ambang 0,05, sehingga datanya dinyatakan berdistribusi normal dan boleh diuji dengan statistik parametrik.
Setelah syarat itu terpenuhi, barulah uji t sampel berpasangan dijalankan. Rata-rata prates tercatat 57,50 dengan simpangan baku 7,391 dan galat baku 1,397. Rata-rata pascates naik ke 86,43 dengan simpangan baku 6,362 dan galat baku 1,202.
Selisih rata-rata kedua ujian itu 28,929 poin. Simpangan baku selisihnya 6,434 dengan galat baku 1,216 poin. Selang kepercayaan 95 persennya bergerak dari 26,434 sampai 31,424 poin, sehingga seluruh rentang itu berada di sisi kenaikan.
Baca juga Dua Nama Sasana dalam Novel Pasung Jiwa
Nilai t yang diperoleh 23,790 dengan derajat bebas 27. Signifikansi dua arahnya 0,001, jauh lebih kecil daripada ambang 0,05 yang dipakai. Hipotesis nol karena itu ditolak, dan hipotesis kerja tentang adanya pengaruh media itu terhadap pengetahuan siswa diterima.
Penulisnya sendiri menahan diri ketika menafsirkan angka tersebut. “Secara deskriptif terdapat perbedaan nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan,” tulis Yusnita dan Dwijonagoro dalam simpulan laporannya. Kata deskriptif di kalimat tersebut bukan hiasan, melainkan pembatas atas seberapa jauh angka itu boleh dibaca.
Batas Temuan
Uji itu hanya membandingkan satu kelompok dengan dirinya sendiri. Tidak ada kelas pembanding yang mempelajari materi yang sama tanpa memakai aplikasi tersebut. Kenaikan yang datang dari pengulangan materi dan dari sudah terbiasanya siswa pada bentuk soal karena itu tidak bisa dipisahkan dari pengaruh medianya.
Jumlah pesertanya juga kecil dan terpusat di satu tempat. Dua puluh delapan siswa, satu kelas, satu sekolah negeri di Temanggung. Hasil sebesar apa pun dari sampel seperti itu belum bisa dipakai menyimpulkan keadaan pelajaran bahasa Jawa di kabupaten lain, apalagi se-Jawa.
Pengukurannya pun dilakukan sekali, tepat setelah aplikasinya dipakai di kelas. Tidak ada pengukuran ulang beberapa pekan atau beberapa bulan sesudahnya. Karena itu belum diketahui apakah pemahaman yang naik tadi bertahan atau surut ketika aplikasinya tak lagi dibuka.
Penilaian kelayakan medianya datang dari dua dosen validator dan satu guru mata pelajaran. Jumlah penilainya tergolong sedikit untuk ukuran sebuah uji kelayakan produk. Predikat sangat valid berarti produknya dianggap layak dipakai, bukan jaminan bahwa hasil belajar akan naik serupa di sekolah lain.
Penulisnya menyarankan penelitian lanjutan yang mengintegrasikan teknologi aplikasi untuk menambah keterlibatan siswa pada era Society 5.0. Saran semacam itu sekaligus mengakui bahwa pengujiannya belum tuntas. Yang sudah terbukti baru satu hal, yaitu produknya bekerja pada satu kelas tempat ia diuji satu kali.
Yang tersisa dari seluruh laporan itu satu angka dan satu keterangan kecil di sebelahnya. Dua puluh delapan anak di Temanggung mengerjakan soal pawarta lebih baik setelah materinya berpindah dari buku ke telepon yang setiap hari mereka pegang.















