- Registri Tianjin mencatat 34.940 serangan jantung selama 1.461 hari pada 2020 sampai 2023.
- Pada suhu -3,4 derajat, risiko relatif serangan jantung kumulatif tujuh hari mencapai 1,53 dibanding suhu median 15,4 derajat.
- Kenaikan risiko tidak bermakna pada hari dingin itu sendiri, tetapi bermakna mulai hari pertama dan memuncak pada hari kedua.
- Risiko STEMI 1,62 dan NSTEMI 1,38, tetapi selisih keduanya tidak bermakna secara statistik.
Daftar Isi
Tingting Li, dokter di Departemen Kardiologi Rumah Sakit Dada Tianjin, dan rekan menyusun jumlah serangan jantung harian di kotanya dari registri Pusat Nyeri Dada Tianjin, dari 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2023. Hasilnya 1.461 hari tanpa satu hari pun kosong. Setiap hari ada setidaknya satu serangan jantung yang tercatat, dan totalnya mencapai 34.940 kejadian.
Dari tumpukan angka itu, Li dan rekan menemukan satu pola yang jelas. Pada hari dengan suhu rata-rata −3,4 derajat Celsius, batas persentil ke-5 suhu harian Tianjin yang mereka sebut dingin ekstrem, risiko relatif serangan jantung kumulatif selama tujuh hari mencapai 1,53 dibanding hari bersuhu median 15,4 derajat. Puncaknya bukan pada hari dingin itu, melainkan dua hari sesudahnya.
Tingting Li menulis laporan ini bersama Hongliang Cong dari departemen yang sama, Lin Wang dari Departemen Geriatri Rumah Sakit Kedua Universitas Kedokteran Tianjin, dan Yixuan Yin dari bagian Penyakit Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, Universitas Pengobatan Tradisional Tiongkok Tianjin. Laporan berjudul Ambient cold exposure and myocardial infarction risk in Tianjin, China: a distributed lag non-linear analysis itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
Gagasan penelitian ini, menurut catatan kontribusi penulis, datang dari Lin Wang. Li dan rekan menulis bahwa bukti tentang dingin dan serangan jantung di Tiongkok utara masih terbatas, padahal beban penyakit jantung iskemik dan kejadian koroner akut di kawasan itu termasuk yang tertinggi di negeri tersebut. Tianjin, kota pesisir berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa, punya musim dingin yang dingin dan suhu yang naik turun dari hari ke hari.
Yixuan Yin Menghimpun Catatan dari Jaringan Nyeri Dada
Yixuan Yin, bersama Li, memegang kurasi data. Catatan yang dihimpun berasal dari registri Pusat Nyeri Dada Tianjin, jaringan yang menghubungkan 32 rumah sakit bersertifikat dengan sekitar 270 unit di tingkat kecamatan dan komunitas serta 468 titik di desa dan klinik. Li dan rekan mencocokkan jumlah kasus harian itu dengan data cuaca harian dari satu stasiun meteorologi nasional di Tianjin.
Tabel deskriptif dalam laporan Li dan rekan menunjukkan rata-rata 23,92 serangan jantung per hari, dengan paling sedikit 6 dan paling banyak 44 kasus dalam sehari. Dari 34.940 kejadian, mereka mencatat 21.814 kasus atau 62,4 persen berjenis STEMI, yakni infark miokard dengan elevasi segmen ST. Sisanya, 13.126 kasus atau 37,6 persen, berjenis NSTEMI, yaitu infark tanpa elevasi segmen ST.
Cuaca Tianjin selama empat tahun itu juga tercatat rinci dalam tabel yang sama. Rata-rata suhu harian 14,2 derajat Celsius dengan median 15,4 derajat, sementara suhu minimum harian pernah jatuh ke −19,9 derajat dan suhu maksimum harian pernah menyentuh 41,0 derajat. Kelembapan relatif rata-rata sebesar 52,10 persen.
Dilihat sekilas, hubungan antara jumlah kasus harian dan suhu tampak lemah. Li dan rekan mencatat korelasi antara total serangan jantung dan suhu rata-rata hanya −0,04. Untuk analisis utamanya, Tingting Li memakai model yang bisa menangkap pengaruh suhu yang tidak lurus dan tertunda beberapa hari, sambil memperhitungkan musim, kelembapan, hari dalam sepekan, dan hari libur.
Tingting Li Menemukan Suhu dengan Risiko Paling Rendah
Langkah pertama Tingting Li adalah mencari suhu ketika risiko serangan jantung berada di titik terendah. Model utamanya menunjuk 24,5 derajat Celsius, kira-kira persentil ke-75 dari sebaran suhu Tianjin. Uji ulang dengan 500 kali pengambilan sampel menghasilkan angka serupa, 24,1 derajat dengan rentang kepercayaan 22,6 sampai 26,2 derajat, sehingga Li dan rekan menilai perkiraan itu stabil.
Dibanding suhu 24,5 derajat itu, Li menemukan risiko yang lebih tinggi pada suhu yang lebih rendah. Pada −3,4 derajat, risiko relatif kumulatif mencapai 1,66. Pada 3,4 derajat, yang setara persentil ke-25, angkanya 1,32. Bahkan pada suhu median 15,4 derajat, risikonya masih 1,09. Menurut Li dan rekan, dingin sedang dan dingin ekstrem masing-masing berkaitan dengan kelebihan risiko 32 persen dan 66 persen.
Sisi panas kurva tidak sejelas itu bagi Li dan rekan. Pada suhu 31,2 derajat, persentil ke-95, risiko relatifnya 1,17, tetapi tidak bermakna secara statistik. Li dan rekan menduga hal ini karena hari panas ekstrem di kota beriklim muson sedang itu relatif jarang dan berlangsung singkat.
Li dan rekan juga mengingatkan agar angka 24,5 derajat tidak dibaca sebagai suhu ideal bagi semua orang. “Suhu morbiditas minimum dalam penelitian ini sebaiknya dipandang sebagai titik rujukan empiris khusus wilayah, bukan ambang fisiologis yang universal,” tulis Li dan rekan (terjemahan Cekricek.id).
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Li dan Rekan Melacak Risiko Hari demi Hari
Li dan rekan, dengan Hongliang Cong sebagai penulis korespondensi yang mengawasi penelitian ini, lalu memeriksa kapan risiko itu muncul. Dibanding suhu median, hari dingin ekstrem tidak langsung diikuti lonjakan pada hari yang sama. Risiko relatif pada hari itu 1,04, tidak bermakna secara statistik. Kenaikan yang bermakna baru terlihat mulai hari pertama sesudah paparan.
Puncaknya, menurut tabel dalam laporan itu, jatuh pada hari kedua dengan risiko relatif 1,11. Hari ketiga mencatat 1,10, lalu hari keempat 1,08. Sesudah hari keempat, kaitan itu tidak lagi bermakna, dan pada hari ketujuh angkanya tinggal 1,01, nyaris tanpa kenaikan. Secara kumulatif selama tujuh hari, risikonya mencapai 1,53.
Li dan rekan mencatat pola tertunda ini mirip dengan laporan sebelumnya. Penelitian di 323 kota Tiongkok menemukan pengaruh gelombang dingin terhadap infark miokard akut memuncak sekitar hari ketiga lalu menghilang dalam beberapa hari. Di Swedia, penurunan suhu jangka pendek juga diikuti kenaikan rawat inap serangan jantung yang tertunda, demikian pula temuan di Xuzhou.
Dari pola itu Li dan rekan menyimpulkan kaitan dingin dengan serangan jantung tidak sepenuhnya seketika. Namun, mereka juga menjaga batas tafsirnya. “Temuan ini mendukung adanya hubungan jangka pendek antara paparan dingin dan kedatangan pasien serangan jantung di Tiongkok utara, tetapi tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti efek sebab-akibat langsung,” tulis Li dan rekan (terjemahan Cekricek.id).
Li dan Rekan Memilah Dua Jenis Serangan Jantung
Data itu juga dipilah menurut dua jenis serangan jantung. Li dan rekan mendapati risiko kumulatif tujuh hari pada suhu −3,4 derajat sebesar 1,62 untuk STEMI dan 1,38 untuk NSTEMI, keduanya dibanding suhu median. Perkiraan untuk STEMI tampak lebih tinggi, dengan pola waktu yang sedikit lebih awal dan lebih tajam dibanding NSTEMI.
Pada STEMI, Li mencatat kaitan yang bermakna dari hari pertama sampai hari keempat, dengan angka tertinggi 1,12 pada hari kedua. Pada NSTEMI, kaitan bermakna baru muncul pada hari kedua sampai keempat, dengan risiko relatif 1,08, 1,09, dan 1,07. Hari paparan, hari pertama, serta hari kelima sampai ketujuh tidak bermakna untuk NSTEMI.
Meski begitu, Li dan rekan menguji apakah selisih kedua jenis itu nyata, dan hasilnya tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,367. “Karena itu, perbedaan antarsubkelompok ini sebaiknya ditafsirkan sebagai pola deskriptif, bukan bukti kerentanan yang berbeda,” tulis Li dan rekan (terjemahan Cekricek.id).
Li dan rekan menyebut penelitian terdahulu memang mengaitkan paparan dingin mendadak dengan aktifnya saraf simpatis, menyempitnya pembuluh darah tepi, dan naiknya tekanan darah sesaat. Namun, mereka menegaskan desain penelitian mereka tidak memakai data klinis perorangan, sehingga tafsir sebab-akibat maupun mekanisme tidak bisa dipastikan.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Tingting Li Memperpanjang Pengamatan hingga Dua Pekan
Tingting Li kemudian menguji apakah temuan itu bertahan bila jendela pengamatan diperpanjang dari tujuh menjadi empat belas hari. Hasilnya, menurut Li dan rekan, tetap sejalan dengan model utama. Kaitan yang bermakna tetap muncul pada hari pertama sampai keempat, dengan angka tertinggi pada hari kedua.
Pada hari kedelapan sampai keempat belas, Li mencatat risiko relatif hanya berkisar 0,99 sampai 1,01 dan tidak ada yang bermakna. Risiko kumulatif empat belas hari tetap bermakna: 1,51 untuk seluruh serangan jantung, 1,58 untuk STEMI, dan 1,35 untuk NSTEMI. Li dan rekan menilai jendela yang lebih panjang tidak banyak mengubah perkiraan risiko kumulatif.
Li dan rekan juga membandingkan besar risiko di Tianjin dengan tempat lain yang dibahas dalam laporan mereka. Di Houston, dingin berkaitan lebih kuat dengan serangan jantung dibanding panas, sementara di Lituania kenaikan risiko saat gelombang dingin musim dingin lebih kecil. Menurut Li dan rekan, perbedaan itu kemungkinan terkait iklim dasar, standar insulasi bangunan, struktur usia penduduk, dan cara adaptasi seperti pemanas sentral.
Dari temuan itu, Li dan rekan melihat peluang bagi sistem peringatan dini cuaca dingin dan komunikasi risiko yang lebih terarah. Menurut mereka, saat suhu turun cepat, kewaspadaan yang lebih tinggi bisa membantu pengelolaan risiko jantung pada kelompok rentan, terutama orang yang sudah menderita penyakit arteri koroner.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Batas yang Dicatat Tingting Li dan Rekan
Tingting Li dan rekan menuliskan sederet keterbatasan. Data harian yang dijumlahkan hanya menggambarkan hubungan di tingkat penduduk dan tidak bisa menjadi dasar sebab-akibat bagi perorangan. Usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, kebiasaan merokok, obat, dan kondisi sosial ekonomi pasien tidak tersedia, sehingga kelompok mana yang paling rentan tidak bisa ditentukan.
Polusi udara seperti PM2.5, NO2, dan O3 juga tidak dimasukkan ke dalam perhitungan Li dan rekan karena datanya tidak tersedia untuk seluruh periode. Registri pun hanya memuat pasien yang ditangani rumah sakit jaringan Pusat Nyeri Dada, tanpa kematian di luar rumah sakit, sehingga menurut mereka beban total di tengah penduduk bisa terhitung lebih rendah dari sebenarnya.
Li dan rekan juga mencatat suhu hanya diukur dari satu stasiun, dan masa penelitian beririsan dengan pandemi COVID-19 ketika pola kunjungan ke layanan kesehatan bisa berubah. Soal hari panas yang tidak bermakna, Li dan rekan memberi peringatan tegas. “Ketiadaan efek panas tidak boleh ditafsirkan sebagai tidak ada risiko,” tulis mereka dalam simpulan (terjemahan Cekricek.id).
Li dan rekan menyarankan penelitian berikutnya memakai data klinis perorangan, ukuran paparan lingkungan yang lebih rinci, dan analisis menurut kelompok umur serta waktu. Dalam simpulannya, Tingting Li dan rekan menulis bahwa paparan dingin di Tianjin berkaitan dengan kenaikan sesaat risiko serangan jantung, dengan kaitan terkuat sekitar dua hari sesudah paparan.














