- Tim Ekspedisi Patriot UNAIR bangun dua pos pantau di Udapi Hilir pada 6-12 September.
- Pos berisi papan status, HT, dan kentongan sebagai early alarm banjir dan gempa.
- Kepemilikan diserahkan ke warga dan desa dengan sistem keberlanjutan berbasis kader.
Cekricek.id — Tim UNAIR bangun pos pantau tanggap darurat di Desa Udapi Hilir, Manokwari, dengan membangun dua pos yang dilengkapi papan status, HT, dan kentongan sebagai alarm dini bencana.
Mengutip keterangan tertulis Universitas Airlangga, Minggu (21/09/2026), Tim Ekspedisi Patriot UNAIR membangun pos pada Minggu–Sabtu (6–12/9/2026) di depan Balai Desa Udapi Hilir dan di Halaman Puskesmas SP4 Prafi, Manokwari.
Ketua tim, Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes., menjelaskan pos tidak hanya untuk pemantauan tetapi juga titik koordinasi awal saat banjir atau gempa. “Edukasi warga kami lakukan melalui sosialisasi mengenai potensi dan tanda-tanda awal bencana alam, jalur, dan prosedur evakuasi,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Universitas Airlangga, Minggu (21/09/2026).
Simulasi gempa di SMPN 7 Prafi diikuti lebih dari 200 peserta sebagai bagian edukasi. Ia menambahkan indikator keberlanjutan dipantau dari pengelola aktif, jadwal piket, dan logbook. “Indikator keberlanjutan kami pantau dari adanya pengelola aktif, tersedianya jadwal piket, kondisi sarana yang terawat,” katanya.
Neffrety menegaskan kepemilikan pos diserahkan ke masyarakat. “Dalam jangka panjang, kami tetap dapat berperan sebagai mitra pendamping dan knowledge partner. Sedangkan, kepemilikan dan operasional sehari-hari sepenuhnya berada pada masyarakat dan pemerintah desa,” ujarnya.
Pos Dilengkapi HT dan Kentongan Early Alarm
Setiap pos berisi papan status kondisi darurat beserta nomor yang dapat dihubungi, sarana komunikasi HT, dan kentongan sebagai early alarm system sederhana. Warga Udapi Hilir terlibat langsung dalam pembangunan bersama tim.
Pos di Balai Desa dan Puskesmas dipilih agar mudah dijangkau warga dari dua dusun utama. Penempatan di halaman Puskesmas memudahkan koordinasi dengan tenaga kesehatan saat evakuasi.
Baca juga Pakar UNAIR: Tempat pengungsian harus berperspektif gender
Warisan Sistem, Bukan Sekadar Bangunan
Tim menekankan warisan terbesar bukan bangunan, melainkan sistem yang berjalan tanpa mereka. “Kami tidak ingin sekedar meninggalkan bangunan, tetapi meninggalkan sistem yang bisa berjalan tanpa kami,” ujar Neffrety, dan menutup, “Itulah keberhasilan dan warisan terbesar yang ingin kami tinggalkan melalui program ini.”
Model pos pantau diharapkan dapat direplikasi di desa pesisir lain yang rawan banjir dan gempa, dengan melibatkan kader lokal yang mampu mengaktifkan pos saat kondisi darurat tanpa menunggu bantuan luar.















