Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh

A A

Ilustrasi laptop terbuka dan pita ukur di atas meja putih, tampak dari atas [Foto: Shixart1985 (Nenad Stojkovic)/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Sebagian besar ahli gizi menyebut keterbatasan pemeriksaan fisik dan kendala teknis sebagai hambatan utama konsultasi gizi jarak jauh.
  • Lewat telenutrisi, ahli gizi bisa menjangkau pasien di luar kota, di luar provinsi, bahkan di luar negeri.
  • Ahli gizi harus bergantung pada ukuran tubuh yang dilaporkan pasien, padahal keabsahannya kadang diragukan.
  • Lembaran digital berisi rencana diet dan rencana makan khusus tiap pasien dinilai sebagai alat paling efektif.
Daftar Isi
  1. Sebelas Ahli Gizi yang Melayani Pasien dari Balik Layar
  2. Pasien di Luar Kota, Luar Provinsi, bahkan Luar Negeri Bisa Disapa
  3. Ketika Ukuran Tubuh Pasien Diukur dan Dilaporkan Sendiri
  4. Sinyal Putus, Rumah yang Bising, dan Empati yang Tertahan di Layar
  5. Lembar Menu Digital, Formulir yang Teliti, dan Aplikasi yang Masih Ditunggu

Layar menyala, pasien sudah tersambung, dan ahli gizi di seberang sana menunggu angka yang tidak bisa ia ukur sendiri. Ukuran-ukuran tubuh yang biasanya diambil langsung di ruang konsultasi kini dilaporkan oleh pasien sendiri. Tidak ada pengukuran langsung di antara mereka. Yang ada hanya data yang dilaporkan pasien, yang cara pengukurannya belum tentu sesuai standar.

Momen kecil itu ternyata menjadi salah satu ganjalan terbesar dalam konsultasi gizi jarak jauh di Indonesia. Sebagian besar dari sebelas ahli gizi yang diwawancarai menyebut keterbatasan pemeriksaan fisik dan kendala teknis sebagai hambatan utama. Mereka juga menyebut layanan ini lebih leluasa soal waktu, tempat, dan biaya, sehingga pasien yang terjangkau menjadi lebih luas.

Gambaran itu datang dari penelitian Rizna Notarianti dari Program Studi Dietetika, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada serta Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, bersama rekan dari UGM dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Laporan berjudul Telenutrition in Indonesia: a qualitative study exploring dietitians’ perspectives on barriers, benefits, and tools itu terbit di Jurnal Gizi Klinik Indonesia Volume 23 Nomor 1 tahun 2026.

Wawancara mendalam dilakukan pada Januari sampai Februari 2024 lewat konferensi video, masing-masing sekitar 20 sampai 40 menit dan dalam bahasa Indonesia. Para informan adalah ahli gizi teregistrasi yang pernah memberi layanan telenutrisi, yakni layanan gizi jarak jauh, setidaknya dua bulan dan menangani lebih dari sepuluh kasus.

Sebelas Ahli Gizi yang Melayani Pasien dari Balik Layar

Lama pengalaman telenutrisi para informanKurang dari 2 tahun 8; 3-5 tahun 2; Lebih dari 5 tahun 1.Lama pengalaman telenutrisi para informanJumlah ahli gizi (dietisien), total 11 orang0246810Kurang dari 2 tahun83-5 tahun2Lebih dari 5 tahun1Wawancara Januari-Februari 2024
Sumber: Rizna Notarianti dan rekan, Telenutrition in Indonesia: a qualitative study exploring dietitians’ perspectives on barriers, benefits, and tools, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Semua informan perempuan, berusia 23 sampai 38 tahun. Enam di antaranya masih aktif memberi layanan telenutrisi ketika penelitian berlangsung. Sebagian besar baru menekuni layanan ini kurang dari dua tahun, yakni delapan orang. Dua orang berpengalaman tiga sampai lima tahun, dan hanya satu yang sudah lebih dari lima tahun.

Tempat kerja mereka beragam. Enam berpraktik mandiri, dua di klinik swasta, dan tiga di rumah sakit. Tujuh orang berbasis di Yogyakarta, tiga di Jawa Timur, dan satu di Bali. Di antara mereka ada ahli gizi lepas, ahli gizi rumah sakit, mahasiswa pascasarjana, dosen, hingga pendiri perusahaan telenutrisi.

Menurut para informan, telenutrisi mulai tumbuh pada masa pandemi COVID-19. Mereka melihat layanan ini punya peluang besar untuk terus berkembang. Peluang itu dikaitkan dengan pengakuan resmi atas kewenangan ahli gizi membuka praktik mandiri, makin tingginya kesadaran masyarakat soal kesehatan, dan kemajuan teknologi yang terus berjalan.

Kualifikasi profesi yang membaik dan sumber daya manusia yang terus berkembang juga disebut ikut menopang. Seorang informan menuturkan bahwa ke depan ahli gizi akan berwenang membuka layanan gizi mandiri. Informan lain yakin layanan ini makin mungkin dijalankan seiring kemajuan teknologi, dan menurutnya peluangnya akan terus bertambah. Dari percakapan itu para peneliti menyusun tiga tema besar. Pertama, hambatan yang dirasakan ahli gizi. Kedua, manfaat yang mereka rasakan. Ketiga, alat atau instrumen yang dianggap paling efektif untuk menjalankan layanan gizi jarak jauh.

Pasien di Luar Kota, Luar Provinsi, bahkan Luar Negeri Bisa Disapa

Bagi para ahli gizi, keunggulan pertama telenutrisi dibanding konseling tatap muka adalah keleluasaan. Layanan ini tidak dibatasi ruang, waktu, atau biaya, sehingga bisa menjangkau pasien yang lebih beragam. Konsultasi dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja, tanpa pasien harus datang ke fasilitas kesehatan, sehingga ongkos perjalanan pun berkurang.

Seorang informan dari Jawa Timur menggambarkan jangkauan itu dengan lugas. Tatap muka hanya melayani wilayah tertentu, katanya, sedangkan lewat telenutrisi ia bisa menyapa orang di luar kota, di luar provinsi, bahkan di luar negeri. Informan lain menyebut hemat waktu bagi kedua pihak karena tak perlu bepergian ke layanan kesehatan, dan klien bisa tetap nyaman di rumah.

Antrean dan waktu menunggu pun bisa dipangkas. Seorang informan di Yogyakarta menyebut proses konsultasi menjadi lebih sederhana dan lebih cepat karena waktu tunggu, seperti antrean, bisa dikurangi. Tindak lanjut pasien juga disebut lebih mudah, sebab urusan perjalanan seperti kemacetan dan ongkos berkurang.

Baca juga Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar

Hitungan biaya ternyata berlaku juga di sisi ahli gizi. Mereka tidak perlu menyediakan ruang konseling fisik, sehingga pengeluaran untuk sewa kantor atau ruang konsultasi berkurang. Materi edukasi pun lebih praktis, karena satu berkas digital bisa memuat semuanya dan dapat disimpan serta dibuka pasien dalam waktu lebih lama.

Keunggulan lain terasa sebelum layar menyala. Ahli gizi bisa mengirim formulir asesmen lebih dulu untuk diisi pasien, lalu menyiapkan rencana diet berdasarkan data yang sudah terkumpul. Karena itu, menurut para informan, intervensi gizi bisa lebih personal dan rencana makan yang diberikan lebih menyeluruh.

Ketika Ukuran Tubuh Pasien Diukur dan Dilaporkan Sendiri

Di titik inilah ganjalan terbesar muncul. Konseling lewat platform daring membuat ahli gizi tidak bisa mengukur antropometri, yaitu ukuran-ukuran tubuh, secara langsung. Mereka harus bergantung pada data yang dilaporkan pasien, padahal keabsahannya kadang diragukan karena cara pengukurannya mungkin tidak sesuai prosedur baku.

Seorang ahli gizi rumah sakit di Jawa Timur mengakui bahwa dengan cara daring ia hanya bisa meminta pasien memberikan datanya sendiri. Prosedurnya kadang tidak dijalankan dengan benar atau tidak sesuai standar, sehingga hasilnya bisa jadi tidak sahih. Padahal, menurut para penulis, pengukuran ukuran tubuh berperan penting dalam asesmen gizi karena murah, baku, minim invasif, dan bisa dipakai untuk semua kelompok usia.

“Temuan ini menyoroti ketegangan penting antara kemudahan konsultasi jarak jauh dan ketelitian klinis yang dibutuhkan dalam asesmen gizi yang menyeluruh, terutama untuk pasien berisiko tinggi,” tulis Rizna Notarianti dan rekan dalam pembahasan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Asesmen gizi, menurut mereka, adalah langkah pertama dalam proses asuhan gizi.

Para penulis juga merujuk studi mereka yang lain, ketika ahli gizi menilai pemeriksaan fisik jarak jauh pada umumnya sulit. Sebagian peserta menyarankan sesi tatap muka terpisah khusus untuk mengambil data fisik. Pemeriksaan fisik berfokus gizi dianjurkan diutamakan bagi pasien berisiko tinggi kekurangan gizi, misalnya penderita kanker atau kondisi katabolik.

Dari situ para penulis menilai model hibrida mungkin diperlukan, yakni konsultasi jarak jauh yang dipadukan dengan asesmen tatap muka secara selektif. Tujuannya menjaga ketepatan klinis dan keselamatan pasien. Ahli gizi juga dapat membekali pasien dengan panduan dan pelatihan teknik pengukuran yang benar agar datanya lebih akurat.

Baca juga Imigran India di Jepang: Makin Melek Kesehatan, Makin Jarang Puas

Sinyal Putus, Rumah yang Bising, dan Empati yang Tertahan di Layar

Hambatan kedua datang dari jaringan. Seorang informan di Bali menyebut sinyal yang tidak stabil sangat mengganggu jalannya konsultasi. Ia juga menuturkan bahwa bila lingkungan pasien bising atau kacau, komunikasi menjadi sulit. Kedua hal ini disebut memengaruhi seberapa baik informasi tersampaikan selama sesi berlangsung.

Para penulis mencatat bahwa pada 2023 pengguna internet di Indonesia mencapai 213 juta orang, sekitar 77 persen penduduk. Meski begitu, temuan mereka menunjukkan koneksi yang tidak stabil dan bandwidth terbatas masih menjadi hambatan nyata bagi banyak pasien dan ahli gizi, terutama di wilayah tertentu dan pada kelompok dengan literasi digital rendah.

Untuk urusan lingkungan, para penulis menyarankan agar pasien memahami peran dan tanggung jawabnya, serta menyiapkan tempat yang sesuai sebelum konsultasi dimulai. Langkah sederhana itu, menurut mereka, dapat membantu telenutrisi berjalan lebih efektif. Kebisingan atau kurangnya privasi, menurut sudut pandang ahli gizi, dapat memengaruhi konsentrasi dan keterlibatan pasien selama sesi telenutrisi.

Hambatan ketiga lebih sunyi. Seorang informan yang berprofesi dosen di Yogyakarta mengaku sulit mengungkapkan empati dan simpati terhadap kondisi pasien dalam konsultasi jarak jauh. Para ahli gizi merasa kesulitan membangun hubungan personal karena kemampuan mereka mengamati isyarat nonverbal terbatas, seperti gerak tubuh dan bahasa tubuh pasien.

Para penulis membaca keluhan itu sebagai tanda bahwa gaya komunikasi dan harapan budaya mungkin berperan dalam penerimaan telenutrisi di Indonesia. Tatap muka kerap dipandang sebagai unsur kunci untuk membangun kepercayaan dalam pertemuan klinis. Keterbatasan komunikasi jarak jauh, tulis mereka, bisa memengaruhi keterlibatan pasien dan kepatuhannya pada anjuran gizi.

Baca juga Calon Dokter India Rajin Cek Kedaluwarsa, Jarang Baca Label Gizi

Lembar Menu Digital, Formulir yang Teliti, dan Aplikasi yang Masih Ditunggu

Ketika ditanya alat apa yang paling membantu, jawaban para ahli gizi mengerucut pada lembaran digital berisi rencana diet dan rencana makan yang disusun khusus untuk tiap pasien. Visualisasi komposisi bahan makanan dan daftar bahan makanan penukar ikut dilampirkan. Gambar-gambar itu membantu menyamakan persepsi antara ahli gizi dan pasien.

Formulir asesmen yang lengkap dan informatif juga disebut alat yang penting. Seorang informan menekankan bahwa formulir itu harus selengkap mungkin agar tidak ada yang terlewat dan intervensi tepat untuk pasien. Ia juga mengusulkan panduan pengukuran ukuran tubuh berupa video atau gambar, supaya pasien lebih mudah mengukur sendiri.

Yang masih diharapkan adalah aplikasi telenutrisi terpadu. Pendiri perusahaan telenutrisi di antara para informan membayangkan aplikasi konseling khusus yang memungkinkan komunikasi langsung dengan pasien dan menyimpan basis data pasien. Aplikasi semacam itu diharapkan mencakup seluruh proses asuhan gizi, dari asesmen dan intervensi sampai pemantauan dan evaluasi.

Para penulis menilai Indonesia memerlukan pedoman nasional agar ahli gizi bisa memberi asuhan gizi yang baku dan konsisten lewat telenutrisi. Aspek hukum dan regulasi, terutama keamanan data medis dan akses terbatas oleh petugas berwenang, juga dinilai penting untuk menjaga kerahasiaan pasien. Kompetensi digital ahli gizi pun perlu terus ditingkatkan.

Wilayah praktik sebelas informanYogyakarta: Jumlah ahli gizi 7; Jawa Timur: Jumlah ahli gizi 3; Bali: Jumlah ahli gizi 1.Wilayah praktik sebelas informanJumlah ahli gizi (dietisien) menurut wilayah praktik24680Yogyakarta7Jawa Timur3Bali1Sebagian besar informan berpraktik di Jawa
Sumber: Rizna Notarianti dan rekan, Telenutrition in Indonesia: a qualitative study exploring dietitians’ perspectives on barriers, benefits, and tools, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Penelitian ini disebut sebagai kajian kualitatif pertama tentang pengalaman ahli gizi menjalankan telenutrisi di Indonesia. Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Jumlah informannya kecil, seluruhnya perempuan, dan direkrut lewat jejaring profesi, sehingga mungkin condong pada orang yang lebih akrab dengan telenutrisi. Sebagian besar informan juga berbasis di Jawa dan di kawasan perkotaan atau semi-perkotaan. Pengalaman ahli gizi di pedesaan, daerah terpencil, atau wilayah dengan sumber daya terbatas mungkin belum terwakili. Penelitian berikutnya disarankan melibatkan lebih banyak ahli gizi dari beragam wilayah serta mendengar sudut pandang pasien.

“Secara keseluruhan, telenutrisi merupakan pelengkap yang layak dan berharga bagi konseling gizi konvensional, dengan potensi kuat untuk diterapkan lebih luas di Indonesia,” tulis para penulis dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Agar manfaatnya maksimal, menurut mereka, alat yang efektif harus tersedia. Di layar itu, angka ukuran tubuh masih dilaporkan pasien sendiri, dan ahli gizi di seberang sana masih menunggunya. Formulir yang lengkap, panduan ukur berupa video atau gambar, dan sesi tatap muka terpisah adalah cara yang diusulkan agar angka itu lebih bisa dipegang.

Bagikan

Baca Juga

Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu
Fasilitas Kesehatan Desa Kenya Wajib Tunggu Izin untuk Beli Obat
Diabetes di Rwanda Lebih Sering Ditemukan di Kota daripada Desa
Malaria Balita di Kota Tambang Ghana Banyak tapi Jarang Mematikan
Penurunan Perokok Chile Terbesar Seiring Aturan Rokok Ketat 2013
Tenaga Kesehatan Maroko Selatan Lebih Jarang Merokok dari Warga