Imigran India di Jepang: Makin Melek Kesehatan, Makin Jarang Puas

A A

Ruang tunggu rumah sakit yang lengang dengan deretan sofa hijau di Shibuya, Tokyo [Foto: Tristo/Pexels]

  • Pada Juni 2024 Jepang sudah menampung 51.345 orang India.
  • Sebanyak 83 persen mengikuti pemeriksaan kesehatan tahunan, jauh di atas layanan lain.
  • Angkanya turun menjadi 40 persen pada literasi marginal dan tinggal 28 persen pada kelompok berliterasi memadai.
  • Faktor yang paling tegas membedakan adalah lama tinggal.
Daftar Isi
  1. Dari Undang-Undang 1952 ke Revisi 1990
  2. Temuan Wadhwa, Higuchi, dan Shakya tentang Hambatan
  3. Survei Akhir 2023: Pemeriksaan Tahunan Paling Ramai
  4. Pendatang Baru dan Jejak Lebrun di Kanada
  5. Paradoks yang Membalik Temuan Örsal
  6. Pekerja Tetap, Bahasa Jepang, dan Harapan yang Naik
  7. Catatan di Naskah Mittal dan Rekan

Selama puluhan tahun, pintu Jepang bagi pekerja asing terbuka sempit. Undang-Undang Kontrol Imigrasi 1952 yang ketat justru memperparah kekurangan tenaga kerja ketika ekonomi negeri itu sedang melesat dan permintaan buruh murah naik. Titik balik datang pada 1982, saat ratifikasi sebuah konvensi membuka akses orang asing ke pensiun nasional dan layanan kesehatan, lalu revisi undang-undang yang sama pada 1990 memudahkan arus imigrasi dalam jumlah besar.

Salah satu komunitas yang tumbuh dari perubahan itu adalah orang India, dan pengalaman mereka di ruang periksa Jepang kini dipetakan oleh Swati Mittal, Yoshimitsu Takahashi, Ryota Sakamoto, Yoshitaka Nishikawa, Hiroshi Okada, Toyama Mayumi, dan Takeo Nakayama dalam Healthcare Utilization and Satisfaction: A Cross-Sectional Study among Indian Immigrants in Japan, yang terbit di BMC Public Health volume 26, artikel 475, tahun 2026. Para penulis bernaung di Kyoto University.

Dari Undang-Undang 1952 ke Revisi 1990

Naskah mencatat populasi India di Jepang tumbuh 18 persen per tahun sejak 1990, ketika jumlahnya baru sekitar 3.000 orang. Pada Juni 2024 Jepang sudah menampung 51.345 orang India. Tokyo menjadi tempat tinggal terbanyak dengan 17.876 orang pada 2023, disusul Kanagawa dengan 8.161, lalu Chiba, Saitama, dan Ibaraki yang masing-masing dihuni lebih dari dua ribu orang India.

Banyak di antara mereka anak muda yang mencari pekerjaan dan mutu hidup yang lebih baik, sehingga para penulis menyebut Jepang telah menjadi simpul baru bagi imigran India. Menurut mereka, pertumbuhan secepat itu menuntut sistem kesehatan yang lebih ramah migran. Sebagai gambaran, naskah mengutip laporan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang tahun 2018 yang mencatat 45,3 persen imigran memakai layanan rawat jalan dan 15,8 persen memakai rumah sakit.

Temuan Wadhwa, Higuchi, dan Shakya tentang Hambatan

Sebelum riset ini, gambaran tentang imigran di Jepang lebih banyak berupa daftar hambatan. Higuchi dan rekan, lewat catatan kegiatan sebuah lembaga swadaya di Prefektur Aichi, menemukan akses warga asing ke layanan kesehatan formal masih tidak memadai. Wadhwa, dalam wawancara dengan perempuan India yang hamil di Jepang, menemukan masalah komunikasi dan minimnya interaksi dengan dokter selama masa kehamilan hingga persalinan.

Kajian atas migran Nepal menambah daftar itu. Shakya dan rekan menyebut kemampuan bahasa, kesulitan membayar premi asuransi, dan langkanya tenaga kesehatan perempuan sebagai penghalang penting, sementara Khatiwada dan rekan mendapati keluarga dan teman membantu menekan tekanan psikologis serta menaikkan kepuasan hidup migran Nepal di Jepang. Dari rangkaian itu, dukungan sosial dan kemampuan bahasa lazim dianggap kunci akses layanan kesehatan bagi pendatang.

Di luar Jepang, rantai riset yang dirujuk naskah bergerak ke arah serupa. Sentell dan Braun mencatat literasi kesehatan rendah dan bahasa Inggris yang terbatas memperburuk kondisi kesehatan kelompok Asia dan Latin di California. Sarkar dan rekan menemukan literasi kesehatan memprediksi luaran kesehatan warga Hispanik, apa pun kemampuan bahasa Inggrisnya, sementara Örsal dan rekan melaporkan hubungan positif antara literasi kesehatan dan kepuasan pasien.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Survei Akhir 2023: Pemeriksaan Tahunan Paling Ramai

Mittal dan rekan kemudian menanyai 501 imigran India di enam prefektur pada Oktober hingga Desember 2023, sebagian besar berpendidikan tinggi dan bekerja penuh waktu. Hasil pertama menyangkut layanan yang paling sering didatangi. Sebanyak 83 persen mengikuti pemeriksaan kesehatan tahunan, jauh di atas layanan lain, sedangkan 38 persen datang ke klinik rawat jalan beberapa kali dalam setahun.

Layanan lain lebih sepi. Hanya 19 persen berkunjung ke dokter gigi beberapa kali setahun, dan 39 persen sama sekali tidak pernah ke sana. Skrining kanker diikuti 25 persen, sementara 22 persen pernah memakai layanan persalinan di Jepang. Para penulis menduga tingginya angka pemeriksaan tahunan terkait kewajiban pemeriksaan di tempat kerja yang berlaku di Jepang.

Perbedaan laki-laki dan perempuan cukup mencolok. Sebanyak 90 persen laki-laki mengikuti pemeriksaan tahunan, dibanding 74 persen perempuan, tetapi perempuan jauh lebih rajin menjalani skrining kanker, 33 persen berbanding 19 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, rasio odds perempuan untuk skrining kanker 3,39 kali laki-laki, yang oleh penulis dikaitkan dengan program skrining gratis bagi perempuan.

Laki-laki dan perempuan di depan layananLaki-laki dan perempuan di depan layananLaki-laki dan perempuan di depan layanan280 laki-laki dan 221 perempuan imigran India di JepangLaki-lakiPerempuan90%74%Cek kesehatantahunan19%33%Skrining kanker41%36%Tak pernah kedokter gigi58%43%Puas pada layananmedisSetelah faktor lain diperhitungkan, rasio odds skrining kankerperempuan 3,39 dibanding laki-laki.
Sumber: Swati Mittal, Yoshimitsu Takahashi, Ryota Sakamoto, Yoshitaka Nishikawa, Hiroshi Okada, Toyama Mayumi, dan Takeo Nakayama, Healthcare Utilization and Satisfaction: A Cross-Sectional Study among Indian Immigrants in Japan, BMC Public Health, 26(475), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang tidak muncul justru sama pentingnya. Kemampuan bahasa Jepang, kemampuan bahasa Inggris, status asuransi, tingkat literasi kesehatan, dan dukungan sosial tidak berkaitan dengan pemakaian satu pun dari lima layanan yang diperiksa. Para penulis membaca hasil ini sebagai tanda bahwa cakupan kesehatan universal dan pemeriksaan wajib di Jepang berlaku terlepas dari kemampuan bahasa pendatangnya.

Temuan tentang dukungan sosial berseberangan dengan sebagian mata rantai sebelumnya. Dahlan dan rekan dalam tinjauan sistematisnya menyebut dukungan sosial dapat memperbaiki kesehatan mulut imigran dan kelompok minoritas, tetapi dalam riset ini dukungan sosial tidak berhubungan dengan kunjungan ke dokter gigi. Hasilnya juga berbeda dengan studi Wadhwa soal layanan persalinan, karena di sini dukungan sosial tidak berkaitan dengan pemakaiannya.

Pendatang Baru dan Jejak Lebrun di Kanada

Faktor yang paling tegas membedakan adalah lama tinggal. Dibanding imigran yang sudah menetap sebelas tahun atau lebih, pendatang yang baru satu sampai tiga tahun lebih jarang mengikuti pemeriksaan tahunan, dengan rasio odds 0,41, dan lebih jarang menjalani skrining kanker, dengan rasio odds 0,29. Untuk layanan persalinan jaraknya paling lebar, dengan rasio odds hanya 0,03.

Pekerjaan ikut menentukan. Pekerja penuh waktu dan kontrak punya rasio odds 3,05 untuk mengikuti pemeriksaan tahunan dibanding pekerja paruh waktu, sejalan dengan aturan Jepang yang mewajibkan pemeriksaan tahunan bagi karyawan. Para penulis merangkumnya dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris: “Imigran yang baru datang dan penduduk yang bekerja tidak tetap di Jepang menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan dalam pemakaian layanan kesehatan.”

Di titik ini naskah menempatkan dirinya di samping riset Amerika Utara. Lebrun menemukan imigran baru di Kanada dan Amerika Serikat kurang memakai layanan kesehatan, sedangkan dalam riset ini lama tinggal tidak berkaitan dengan kunjungan rawat jalan. McDonald dan Kennedy mencatat efek imigran sehat di Kanada, dan para penulis memakai gagasan itu untuk menjelaskan rendahnya kunjungan gigi dan rawat jalan, karena 88 persen peserta tidak punya penyakit penyerta.

Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik

Paradoks yang Membalik Temuan Örsal

Kepuasan secara umum tinggi, dengan 16 persen menyatakan sangat puas dan 35 persen puas. Namun pola kepuasan menurut literasi kesehatan berjalan terbalik dari dugaan rantai riset sebelumnya. Di antara peserta berliterasi kesehatan terbatas, 57 persen puas pada layanan medis di Jepang. Angkanya turun menjadi 40 persen pada literasi marginal dan tinggal 28 persen pada kelompok berliterasi memadai.

Makin melek kesehatan, makin jarang puasLiterasi terbatas: Persen puas +57%; Literasi marginal: Persen puas +40%; Literasi memadai: Persen puas +28%.Makin melek kesehatan, makin jarang puasPersen imigran India yang puas pada layanan medis di Jepang20%40%60%0Literasi terbatas57%Literasi marginal40%Literasi memadai28%Terbatas 353 orang, marginal 123, memadai 25. Yang tidak puas: 16%,33%, dan 40%.
Sumber: Swati Mittal, Yoshimitsu Takahashi, Ryota Sakamoto, Yoshitaka Nishikawa, Hiroshi Okada, Toyama Mayumi, dan Takeo Nakayama, Healthcare Utilization and Satisfaction: A Cross-Sectional Study among Indian Immigrants in Japan, BMC Public Health, 26(475), 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah faktor lain diperhitungkan, peserta berliterasi terbatas punya rasio odds 2,55 untuk melaporkan kepuasan lebih tinggi dibanding yang berliterasi memadai, dan kelompok marginal 2,18. Mittal dan rekan menamainya paradoks literasi kesehatan. “Paradoks literasi kesehatan muncul, dengan individu berliterasi kesehatan terbatas menunjukkan tingkat kepuasan yang secara signifikan lebih tinggi,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Penjelasan mereka menyangkut harapan, bukan mutu layanan itu sendiri. “Hasil kami mengisyaratkan bahwa pengetahuan yang lebih besar dapat menaikkan harapan dan meningkatkan kepekaan terhadap kekurangan dalam layanan, sehingga menurunkan kepuasan yang dirasakan,” tulis para penulis. Dengan begitu, temuan ini berdiri berseberangan dengan Örsal dan rekan, yang sebelumnya menemukan literasi kesehatan dan kepuasan pasien bergerak searah.

Pekerja Tetap, Bahasa Jepang, dan Harapan yang Naik

Pola serupa muncul pada pekerjaan. Dalam hitungan kasar, pekerja penuh waktu dan kontrak tampak lebih puas, 55 persen berbanding 43 persen pada peserta yang tidak bekerja atau bekerja paruh waktu. Setelah faktor lain diperhitungkan, arahnya berbalik: rasio odds mereka untuk kepuasan lebih tinggi hanya 0,49 dibanding pekerja paruh waktu. Para penulis menduga fasilitas dari tempat kerja mempermudah akses sekaligus menaikkan harapan.

Hitungan kasar juga menunjukkan laki-laki lebih puas daripada perempuan, 58 persen berbanding 43 persen, dan pemegang asuransi lebih puas daripada yang tidak, 56 persen berbanding 29 persen. Imigran yang berbahasa Jepang tingkat menengah atau mahir lebih puas, 57 persen dibanding 46 persen. Dalam model yang memperhitungkan semua faktor sekaligus, hanya pekerjaan dan literasi kesehatan yang tetap berkaitan dengan kepuasan.

Kesimpulan kebijakan para penulis mengikuti temuan itu. “Temuan ini mengisyaratkan sistem Jepang meminimalkan hambatan akses, dan fokus kebijakan semestinya bergeser ke pengelolaan harapan,” tulis mereka. Naskah mengusulkan program orientasi kesehatan bagi imigran seperti model ACHIEVE di Kanada, program navigator komunitas seperti Promotoras di Amerika Serikat, serta sesi orientasi atau konseling untuk menyelaraskan harapan imigran dengan kenyataan sistem kesehatan Jepang.

Batas riset ini perlu dibaca jelas. Peserta direkrut di acara komunitas India sehingga yang terjaring cenderung aktif secara sosial dan berpendidikan tinggi, dan survei hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Alat ukur literasi yang dipakai hanya menangkap literasi fungsional dan divalidasi di Amerika Serikat, tidak ada pembanding penduduk Jepang, dan rancangan potong lintang tidak memungkinkan tafsir sebab-akibat.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Catatan di Naskah Mittal dan Rekan

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak saling cocok. Bagian hasil menyebut usia rata-rata peserta 38,3 tahun, padahal rata-rata laki-laki 38,9 dan perempuan 36,0 dengan jumlah 280 dan 221 orang menghasilkan sekitar 37,6 tahun. Bagian yang sama menulis 29 persen atau 144 orang memakai layanan persalinan, sedangkan tabel mencatat 22 persen atau 109 orang.

Angka 144 itu dalam tabel sebenarnya jumlah peserta yang memilih bersalin di Jepang. Dalam tabel regresi, kelompok pekerja paruh waktu tertulis 139 orang, padahal tabel karakteristik menyebut 47 orang, sementara 139 adalah jumlah imigran lama. Rincian kepuasan peserta tanpa asuransi berjumlah 86 orang, padahal totalnya 22, dan bagian keterbatasan menyebut perekrutan di Tokyo meski metodenya mencakup enam prefektur.

Riset ini menjadi satu mata rantai baru dalam kajian kesehatan imigran di Jepang, yang sebelumnya lebih banyak bicara tentang bahasa dan dukungan sosial sebagai penghalang. Pada 501 imigran India, dua faktor itu tidak berkaitan dengan pemakaian layanan, sementara lama tinggal, pekerjaan, dan jenis kelamin justru membedakan. Yang paling ganjil tercatat di ujungnya: mereka yang paling paham urusan kesehatan justru paling sedikit merasa puas.

Bagikan

Baca Juga

Tanah Tambang Timbal Guizhou Lebih Mengancam Anak daripada Dewasa
Pemutih Gigi dari Lemon dan Soda Kue Masih Dipercaya di Istanbul
Empat Juta Kelambu Dibagikan, Malaria Kinshasa Tak Kunjung Surut
Pelatih Pribadi di Gym China Kini Lebih Sibuk Menjual Kelas
Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik
Separuh Peziarah Arbain Iran Pakai Layanan Kesehatan di Jalan