Sistem Peringatan Dini Berbasis IoT Dipasang di Nagari Malalak

A A

Kegiatan penguatan ketangguhan masyarakat berbasis IoT dan geospasial di Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam. [Foto: Humas USK]

  • Tim USK, UNP, dan Universitas Brawijaya memasang sistem peringatan dini berbasis IoT di Nagari Malalak Timur.
  • Perangkatnya berupa Automatic Water Level Recorder dan dasbor kebencanaan berbasis Web-GIS.
  • Nagari Malalak rawan banjir bandang, longsor, galodo, dan cuaca ekstrem setelah bencana hidrometeorologi 2025.
  • Warga dibekali pemahaman status peringatan, jalur informasi, dan langkah penyelamatan keluarga.

Cekricek.id — Sistem peringatan dini berbasis Internet of Things dan geospasial dipasang di Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, wilayah yang rawan banjir bandang dan longsor.

Program itu dijalankan tim pengabdian kepada masyarakat LPPM Universitas Negeri Padang bersama Universitas Syiah Kuala dan Universitas Brawijaya pada Senin (14/09/2026), sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Universitas Syiah Kuala, Rabu (16/09/2026).

Kegiatan berjalan melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia 2026 Skema B yang berfokus pada pemulihan pascabencana Sumatera lewat penguatan kapasitas mitigasi, penerapan inovasi, dan transformasi digital di tingkat nagari.

Dua perangkat inti sistem peringatan dini

Teknologi yang dikembangkan berupa Automatic Water Level Recorder dan dasbor kebencanaan berbasis Web Geographic Information System. Perubahan tinggi muka air sungai serta curah hujan dipantau secara berkala, lalu datanya ditampilkan pada dasbor digital.

Data ketinggian muka air di hulu sungai itu menjadi informasi awal yang dapat dipakai pemerintah nagari dan warga untuk mengambil keputusan lebih cepat ketika risiko meningkat.

Nagari Malalak berada di kawasan daerah aliran sungai berlereng curam dan rentan terhadap banjir bandang, longsor, galodo, serta cuaca ekstrem. Setelah bencana hidrometeorologi 2025, wilayah tersebut membutuhkan pemantauan lokal yang cepat, terpadu, dan mudah dipahami.

Ir Freddy Sapta Wirandha, ST, MEng, dari tim Universitas Syiah Kuala menyatakan teknologi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan geografis wilayah yang rentan bencana hidrometeorologi.

“Melalui sistem pemantauan yang terintegrasi ini, kita berupaya menghadirkan solusi nyata di tingkat lokal. Kehadiran teknologi seperti Automatic Water Level Recorder dan Web-GIS diharapkan mampu memberikan data yang cepat dan akurat, sehingga pemerintah nagari bersama masyarakat dapat mengenali potensi ancaman bencana secara lebih dini,” ujar Freddy.

Perangkat tidak berarti tanpa warga yang paham

Tim juga memberikan edukasi mengenai tanda ancaman hidrometeorologi, tingkatan status peringatan, jalur penyebaran informasi, dan langkah penyelamatan keluarga. Warga didorong tidak sekadar membaca angka pada perangkat, tetapi memahami tindakan yang harus diambil ketika status bahaya naik.

“Teknologi canggih apa pun yang kita hadirkan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya keterlibatan aktif dari masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif melalui edukasi dan diskusi bersama warga ini menjadi kunci agar sistem yang dibangun dapat dikelola secara mandiri, berkelanjutan, dan benar-benar melindungi keselamatan warga Nagari Malalak Timur,” tambahnya.

Kegiatan dihadiri perangkat Nagari Malalak Timur, Penggerak Peduli Bencana, perwakilan PKK, pemuda, Paga Nagari, Kerapatan Adat Nagari, Badan Musyawarah Nagari, serta unsur ninik mamak dan cadiak pandai. Pertemuan ditutup dengan dialog dan tanya jawab antara tim pengabdi dan peserta.

Tim pelaksana dari UNP dipimpin Dr Nofi Yendri Sudiar, MSi, dengan anggota Dedy Fitriawan, SPd, MSi, dan Iip Permana, ST, MT. Dari Universitas Syiah Kuala terlibat Freddy Sapta Wirandha, Prof Dr Ir Farid Maulana, ST, MEng, dan Prof Dr Ir Syamsidik, ST, MSc.

Universitas Brawijaya diwakili Dr Ns Mukhamad Fathoni, SKep, MNS, Prof Dr Eng Fadly Usman, ST, MT, Prof Dr Ir Qomaratus Sholihah, dan Dr dr Sri Soenarti, SpPD K-Ger. Kerja lintas kampus untuk persoalan lapangan juga tampak pada kajian pakar ITS tentang alih fungsi lahan dan pengembangan drone mahasiswa Unsoed.

Pengakuan atas capaian belajar di luar kelas seperti ini kini juga dibuka lewat panduan kredensial mikro yang diterbitkan Kemdiktisaintek.

Bagikan

Baca Juga

Pakar IPB: Kelangkaan Beras Kemasan 5 Kg Picu Panic Buying
BINUS Business School Teratas di QS Global MBA Rankings 2027
Konferensi Pendidikan Informatika UTM Bahas Generative AI
Pakar ITS Soroti Alih Fungsi Lahan di Pinggiran Surabaya
Unila Bekali Dosen Muda Hadapi Kecerdasan Buatan di Kampus
UIN Antasari Buka BIAF 2026, 378 Makalah Lolos Dipresentasikan