- Tim AAA ITB menjuarai ANTAM Hackathon 2026 lewat platform kecerdasan buatan bernama KUWERA.
- KUWERA mengintegrasikan data eksplorasi dan menandai wilayah yang berpotensi menyimpan mineral.
- Platform memakai data geobotani sehingga tutupan hutan lebat menjadi sumber informasi, bukan penghalang.
- Tim mengembangkan dasbor web untuk analis kantor dan aplikasi mobile untuk geolog di lapangan.
Cekricek.id — Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung memenangi ANTAM Hackathon 2026 lewat KUWERA, platform kecerdasan buatan yang dirancang mempercepat analisis dalam eksplorasi mineral.
Melansir keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Kamis (17/09/2026), Tim AAA dinyatakan sebagai juara pertama pada Kamis (03/09/2026) dalam kompetisi yang digelar bersamaan dengan Konvensi Mutu ANTAM di Malang. Tim beranggotakan Muhamad Hasbullah Faris dari Sistem dan Teknologi Informasi, Guntara Hambali dan Muh. Rusmin Nurwadin dari Teknik Informatika, serta Putri Natasya Sabrina dari Teknik Geologi.
KUWERA adalah singkatan dari Knowledge-driven Unified Workbench for Evidence-based Risk-aware Analytics. Platform itu mengintegrasikan beragam data eksplorasi lalu memakai kecerdasan buatan untuk membantu menandai wilayah yang berpotensi menyimpan mineral.
Tiga hambatan eksplorasi mineral yang disasar
Dalam praktiknya, geolog mengolah data lapangan, penginderaan jauh, hingga hasil laboratorium yang tersebar di sumber berbeda. Pengumpulan dan penyatuan data itu memakan waktu sebelum analisis dimulai.
Hambatan kedua datang dari kondisi geografis Indonesia. Tutupan hutan hujan tropis yang lebat membatasi pengamatan langsung terhadap geologi permukaan, sementara volume data yang besar membuat penyaringan wilayah prospektif menjadi pekerjaan yang rumit.
KUWERA menjawab ketiganya dalam satu platform: mengotomasi penyatuan data geologi, memanfaatkan data geobotani berupa pola tumbuhan yang dapat menjadi indikator alterasi mineral di bawah permukaan, dan memakai model kecerdasan buatan untuk memprediksi prospektivitas mineral.
Lewat pendekatan geobotani itu, vegetasi tidak lagi hanya dipandang sebagai penghalang pengamatan, tetapi menjadi sumber informasi tambahan. Pemanfaatan data untuk memangkas pekerjaan manual juga dikembangkan kampus lain, seperti UNS Meter yang memangkas waktu pendataan UMKM lintas provinsi.
Aplikasinya sudah bisa didemonstrasikan
Tim membawa KUWERA bukan sekadar sebagai gagasan. Mereka mengembangkan dua antarmuka, yakni dasbor berbasis web untuk analis di kantor dan aplikasi mobile untuk geolog di lapangan, serta menguji modelnya dengan data yang beragam.
“Aplikasi yang kita buat itu selesai dan bisa didemokan ke dewan juri,” ujar Guntara Hambali.
Guntara menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci. Keahlian mengolah data dan membangun model kecerdasan buatan, menurutnya, tidak cukup tanpa pemahaman atas persoalan nyata di lapangan.
“Sebagai orang yang bisa mengolah data dan membuat AI, saya tidak tahu use case-nya untuk apa dan datanya apa. Pada akhirnya itu butuh orang dari domain lain yang tahu use case-nya,” ungkapnya. Perpaduan lintas bidang serupa terlihat pada NeumaScope, alat skrining pneumonia balita buatan mahasiswa UGM.
Kompetisi berlangsung bertahap, dari seleksi proposal, penyisihan sepuluh tim yang wajib menyertakan purwarupa perangkat lunak, hingga final tiga tim di Malang. Tim AAA berharap KUWERA tidak berhenti sebagai purwarupa kompetisi dan dapat diuji dengan data eksplorasi sesungguhnya. Prestasi mahasiswa di ajang teknologi juga dicatat kampus lain, antara lain robot humanoid UGM yang meraih tiga penghargaan di Jepang.














