- Tim Robot Humanoid Elins Research Club UGM meraih tiga penghargaan di Humanoid Virtual Athletics Challenge 2026 Jepang.
- Tim menyabet Juara 1 Athletics serta Juara 3 pada kategori Sprint jarak pendek dan Dance.
- Robot ESR V2 UGM mencatat waktu 10,60 detik pada kategori Sprint jarak pendek.
- Koreografi robot pada kategori dance terinspirasi tari Kecak Bali.
Cekricek.id — Tim Robot Humanoid Elins Research Club Universitas Gadjah Mada meraih tiga penghargaan sekaligus pada Humanoid Virtual Athletics Challenge 2026 yang digelar di Jepang.
Tim menyabet Juara 1 kategori Athletics, Juara 3 kategori Sprint jarak pendek, dan Juara 3 kategori Dance pada ajang yang berlangsung Selasa (1/9), menurut keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (17/09/2026). Tim berasal dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.
Tim beranggotakan 12 mahasiswa jenjang sarjana hingga doktor, dengan bimbingan empat dosen pembimbing, yakni Andi Dharmawan, Aufaclav Zatu Kusuma Frisky, Oskar Natan, dan M. Ridho Fuadin.
Simulasi berbahasa Jepang dan tarian Kecak
Kapten tim, Hizkia Imanuel Prasetya, menjelaskan kompetisi memakai platform simulasi Choreonoid dengan dua robot hasil riset tim, yaitu Robot UGM ESR dan Robot ESR V2 UGM. Platform asal Jepang itu memiliki informasi dan tutorial terbatas serta mayoritas berbahasa Jepang, sehingga tim cukup sulit memahaminya.
“Meski dengan keterbatasan tersebut, tim robot humanoid UGM berhasil memenangkan beberapa kategori perlombaan,” katanya.
Pada kategori dance, Hizkia menjalankan robot simulasi dengan koreografi yang terinspirasi tari Kecak Bali, ditutup gerakan tutting dan parodi. Penilaian difokuskan pada gerakan kaki, poin keterampilan, ekspresi, koreografi, dan sinkronisasi. Robot yang ia jalankan sempat terjatuh sehingga poinnya berkurang.
“Saat simulasi, robot sempat terjatuh sehingga mengurangi point. Gerakan tambahan juga simpel banget dan nggak pakai gerakan kaki,” ucapnya. Karya mahasiswa UGM di bidang lain juga tengah menonjol, seperti sandal pintar pendeteksi luka kaki diabetes.
Model matematika yang membuat langkah robot menyerupai manusia
Anggota tim, Adi Sucipto, menyampaikan keunggulan robot ESR V2 UGM terletak pada model matematika yang dibangun tim atas masukan dosen pembimbing. Berbagai model diuji hingga diperoleh model paling efektif untuk menggerakkan robot.
Robot itu meraih Juara 3 kategori Sprint jarak pendek dengan catatan waktu 10,60 detik. “Model matematika yang tepat dapat menghasilkan simulasi robot yang semakin mirip manusia. Robot ini tampak kakinya melayang seperti orang berlari,” katanya.
Pada kategori Athletics, robot tim UGM menjadi satu-satunya yang berhasil melintasi dua sektor rintangan. “Pada kategori ini, kami mendapatkan point yang lebih unggul setelah berhasil menyelesaikan dua rintangan dibanding tim lain hanya menyelesaikan satu rintangan,” ungkap Adi.
Perancang robot, Bernardinus Farel Radhitya P., memaparkan desain tiga dimensi rampung dalam dua bulan, lalu melewati serangkaian uji coba selama kurang lebih tiga bulan hingga menjadi robot final. Kegiatan mahasiswa yang berujung pada produk terapan juga terlihat di kampus lain, misalnya nugget ikan rucah buatan mahasiswa UTU.
Hizkia berharap UGM terus memberikan dukungan bagi mahasiswa yang terlibat dalam riset robotika, baik dari sisi mental maupun finansial. “Inovasi yang kita lakukan melalui ajang perlombaan ini dapat berkontribusi dalam memajukan teknologi robotika di Indonesia,” ujarnya. Dukungan kampus pada ekosistem kegiatan mahasiswa juga tampak pada program seperti Gerakan Kampus Hijau UGM.
Anggota tim lainnya, Mohamad Nur Hidayat, mengharapkan tim kembali berpartisipasi jika lomba digelar tahun depan. “Karena ini pertama kali kami mengikuti lomba simulasi, harapannya tahun depan bisa ikut lagi,” pungkasnya.















