Mahasiswa ITPLN Usung Urban Mining di Ajang MINERVA 2026

A A

Mahasiswa Institut Teknologi PLN Septia Maqrifah penggagas kerangka PRISMA [Foto: Institut Teknologi PLN]

  • Septia Maqrifah dan Rintan Nimas Mutiara meraih juara 3 MINERVA 2026 yang digelar HIMATA Universitas Jember.
  • Gagasan PRISMA memadukan mineral primer hasil tambang dengan mineral sekunder dari limbah elektronik.
  • Konsep urban mining memandang kawasan perkotaan sebagai sumber material baru bagi teknologi transisi energi.

Cekricek.id — Septia Maqrifah dan Rintan Nimas Mutiara, mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN), meraih juara 3 lomba gagasan pertambangan nasional lewat konsep urban mining.

Keduanya mengusung gagasan bernama PRISMA pada Mining Innovation Research and Academic Competition (MINERVA) 2026. Mengutip keterangan tertulis Institut Teknologi PLN, Rabu (16/09/2026), kompetisi itu digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HIMATA) Universitas Jember. Seluruh rangkaian lomba dijalankan secara daring.

PRISMA merupakan singkatan dari Primary & Secondary Mineral Integration Framework. Kerangka itu tidak lagi menempatkan pertambangan semata sebagai kegiatan ekstraksi komoditas. Pertambangan diposisikan sebagai bagian dari sistem penyediaan material untuk transisi energi. Septia menyusun gagasan tersebut selama kurang lebih satu bulan.

Ketergantungan yang Berpindah

Septia berangkat dari satu persoalan. Peralihan dari energi fosil menuju energi bersih tidak menghapus ketergantungan pada sumber daya alam. Ketergantungan itu hanya berpindah ke mineral. Panel surya membutuhkan material berbasis silikon. Baterai kendaraan listrik membutuhkan litium.

“Transisi energi ternyata membawa perpindahan ketergantungan, dari energi fosil menjadi energi mineral. Teknologi-teknologi transisi energi membutuhkan berbagai mineral,” kata Septia, sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Institut Teknologi PLN, Rabu (16/09/2026).

Baca juga Glucowrap, sandal pintar mahasiswa UGM untuk luka kaki diabetes

Urban Mining, Kota sebagai Lahan Tambang

Dari titik itu, PRISMA menawarkan penggabungan mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer diperoleh lewat kegiatan pertambangan. Mineral sekunder berasal dari limbah elektronik atau e-waste. Pendekatan tersebut memandang kawasan perkotaan sebagai sumber material yang dapat dipakai ulang.

“PRISMA menggabungkan pemanfaatan mineral primer yang ditambang dari dalam bumi dengan mineral sekunder yang berasal dari e-waste. Jadi, kami tidak hanya melihat bumi sebagai sumber mineral, tetapi juga perkotaan sebagai ‘lahan tambang’ baru melalui konsep urban mining,” ujar Septia.

Menurut Septia, pendekatan itu membuat kebutuhan material teknologi bersih dapat dipenuhi dari lebih dari satu sumber. Pemanfaatan mineral sekunder sekaligus menekan ketergantungan pada penambangan primer. Limbah elektronik yang selama ini dianggap persoalan lingkungan pun memperoleh nilai tambah.

Baca juga Biogas kotoran sapi ITS jadi energi dapur warga Papua Barat

Lima Besar dan Presentasi Daring

MINERVA 2026 berlangsung beberapa tahap. Peserta lebih dulu mengirim esai ilmiah lengkap beserta berkas administrasi. Panitia kemudian memilih lima besar finalis. Finalis wajib menyusun poster dan menyiapkan materi presentasi. Poster dinilai lewat unggahan di media sosial panitia.

Septia sempat ragu karena latar belakangnya Teknik Sistem Energi, bukan pertambangan. Keraguan itu hilang setelah ia membaca subtema kompetisi yang membahas energi terbarukan.

“Saya merasa tertantang dan ingin mencobanya. Ketika pertama mengetahui kompetisi ini, saya merasa ini merupakan kesempatan yang bagus,” ucapnya.

Peluang Penerapan di Indonesia

Septia menilai PRISMA punya ruang untuk dikembangkan di Indonesia. Negara ini memiliki kekayaan mineral primer sekaligus timbunan limbah elektronik yang terus bertambah. Penerapannya dapat berjalan bertahap lewat kerja sama perusahaan tambang, industri pengolahan, industri daur ulang, pemerintah, dan masyarakat.

Baca juga Esai child grooming mahasiswa UNAIR juara 1 di EDUFEST 2026

Rintan Nimas Mutiara mendampingi proses penyusunan gagasan hingga kompetisi. Menurut Rintan, capaian itu memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan gagasan mahasiswa. Hasil akhir lomba bukan satu-satunya yang berharga, melainkan juga proses mengolah persoalan energi dan pertambangan menjadi gagasan yang relevan.

Limbah elektronik merupakan salah satu aliran sampah yang tumbuh paling cepat di dunia. Perangkat bekas seperti ponsel, laptop, dan baterai menyimpan logam bernilai tinggi, termasuk tembaga, emas, dan litium. Di situlah urban mining menemukan bahan bakunya.

Bagikan

Baca Juga

Nugget Ikan Rucah UTU Ramaikan Festival Nipah Aceh Barat
Pembiayaan Angin Lepas Pantai Afrika Selatan Butuh Dana Publik
Jaringan Listrik Jadi Hambatan Angin Lepas Pantai Afrika Selatan
Lapangan Kerja Angin Lepas Pantai Setara 300.000 Tahun Kerja
Potensi Angin Lepas Pantai Afrika Selatan Capai 95 GW
Biaya Hidrogen Hijau Afrika Selatan Masih di Atas Target Global