Jamur Akar Pisang Tunda Layu Fusarium sampai Hari ke-47

A A

Ilustrasi rumpun pohon pisang yang tumbuh rapat di tepi petak sawah. [Foto: Pexels]

  • Gejala layu fusarium pada tanaman berperlakuan Fusarium sp. 2 baru tampak pada hari ke-47,33 setelah inokulasi Foc.
  • Kontrol tanpa jamur akar pisang sudah menunjukkan gejala pada hari ke-30,44.
  • Intensitas penyakit terendah tercatat pada Fusarium sp. 2 dengan 33,65 persen, sedangkan kontrol mencapai 79,05 persen.
  • Kejadian penyakit mencapai 100 persen pada hampir semua perlakuan, sehingga penularan tidak tercegah.
  • Kolonisasi akar, metabolit sekunder, ketahanan terimbas, dan pembentukan papila tidak diukur langsung dalam penelitian ini.
Daftar Isi
  1. Layu fusarium bermula dari jamur yang bertahan lama di dalam tanah
  2. Lima jamur akar pisang diambil dari kebun petani di Nagari Aripan
  3. Milet steril menjadi rumah jamur sebelum propagulnya masuk ke polibag
  4. Foc baru dimasukkan empat minggu setelah bibit pisang ditanam di polibag
  5. Gejala pada perlakuan Fusarium sp. 2 baru muncul pada hari ke-47
  6. Intensitas penyakit turun ke 33,65 persen tanpa menghentikan penularan
  7. Tinggi dan lingkar batang tidak berubah, dan mekanismenya belum diuji

Cekricek.id — Penyakit layu fusarium disebabkan jamur bermarga Fusarium, dan jamur akar pisang yang paling lama menunda gejalanya dalam satu percobaan di Solok juga bermarga Fusarium. Isolat itu diambil dari akar pisang kepok tanjung milik petani di Nagari Aripan. Trichoderma sp., jamur yang paling sering disebut sebagai agens hayati, justru berada di barisan paling bawah.

Percobaan itu dikerjakan Firly Licardo, Chrisnawati, dan Aulia Meyuliana dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammad Yamin, Kota Solok, bersama Jumjunidang dan Riska dari Pusat Riset Hortikultura, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bogor. Laporan mereka berjudul Biocontrol Potential of Indigenous Root-Associated Fungi against Fusarium Wilt (Fusarium oxysporum f. sp. cubense) in Banana (Musa sp.) dan terbit di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 15–26.

Naskahnya diterima 20 Januari 2026, direvisi 25 Februari 2026, disetujui 29 Mei 2026, dan terbit 15 Juni 2026. Lawan yang dihadapi di dalamnya adalah Fusarium oxysporum f. sp. cubense, yang dalam paper disingkat Foc. Jamur inilah penyebab layu fusarium pada pisang, hidup di dalam tanah, dan disebut para peneliti sebagai salah satu kendala terberat produksi pisang di dunia.

Layu fusarium bermula dari jamur yang bertahan lama di dalam tanah

Paper menerangkan penyakit ini lewat cara patogennya bekerja. Tanaman pisang yang terinfeksi mula-mula menguning dari tepi daun ke arah tulang tengah, lalu layu. Di dalam batang semu, jaringan pembuluhnya berubah warna menjadi cokelat kemerahan. Patogen itu, menurut paper, dapat mengacaukan mekanisme pertahanan tanaman dan pada akhirnya mematikan jaringan. Foc sendiri digolongkan ke dalam ras 1, 2, 3, dan 4 berdasarkan kultivar pisang yang diinfeksinya.

Persoalannya ada pada tanah. Pengelolaan layu fusarium tetap sulit karena Foc bertahan lama di tanah dan susah dikendalikan begitu mapan di kebun pisang. Di Indonesia, Foc pertama kali dilaporkan pada 1997. Ledakan berat tercatat di Halmahera pada sekitar 3.000 hektare, disusul 1.700 hektare di Lampung dan 300 hektare di Riau, sebelum penyakitnya menyebar ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jambi.

Fungisida sintetis sudah dipakai di sebagian praktik pengendalian. Menurut paper, pemakaian yang intensif dan terus-menerus dapat menimbulkan penumpukan residu, pencemaran lingkungan, keberlanjutan tanaman yang menurun, risiko racun bagi manusia dan hewan, serta jamur yang berkembang menjadi resisten. Dari situ para peneliti berbelok ke jamur akar pisang, yang menurut mereka sudah lebih dulu beradaptasi pada habitat tanaman inangnya.

Lima jamur akar pisang diambil dari kebun petani di Nagari Aripan

Bahan percobaan tidak diambil langsung dari lapangan. Lima isolat jamur lokal dan satu isolat Foc TR4 berasal dari koleksi Pusat Riset Hortikultura BRIN dan disimpan pada kertas saring. Semuanya semula dikumpulkan dari akar sehat tanaman pisang kepok tanjung milik petani di Nagari Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Solok, Sumatera Barat.

Pencirian morfologi menempatkan empat isolat lokal itu di marga Fusarium dan satu di luar Fusarium. Isolat non-Fusarium bercirikan koloni ungu, permukaan halus berkapas, dan tepi koloni rapat, dengan hifa bersekat dan hialin serta konidia bulat yang melimpah di medium PDA. Isolat Foc yang dipakai bernomor 01010208, berasal dari pisang kultivar Barangan, dan sebelumnya dikelompokkan sebagai VCG 01213/16.

Enam perlakuan disusun dari jamur akar pisang itu. A tanpa jamur lokal sebagai kontrol, B Fusarium sp. 1 dari empulur pisang kepok tanjung, C Fusarium sp. 2 dari korteks pisang yang sama, D Fusarium sp. 3 dari empulur, E Trichoderma sp. dari empulur, dan F jamur yang tidak teridentifikasi dari korteks. Tiap perlakuan diulang empat kali dengan lima tanaman per unit percobaan.

Baca juga Jamur Penjerat Nematoda Kutalimbaru Matikan 98 Persen Larva

Milet steril menjadi rumah jamur sebelum propagulnya masuk ke polibag

Sebelum masuk ke polibag, jamurnya harus diperbanyak dulu. Milet dipakai sebagai substrat. Sebanyak 3,2 kilogram milet dibersihkan dan direndam air bersih selama 24 jam, ditiriskan, lalu dimasukkan ke kantong polietilena satu kilogram sebanyak 150 gram per kantong dan diikat karet. Substrat itu disterilkan dua kali dalam autoklaf pada suhu 121 derajat Celsius selama 20 menit.

Tiga potongan koloni berdiameter 5 milimeter kemudian dipindahkan ke milet steril dan diaduk rata di dalam laminar air flow. Milet yang sudah diinokulasi diinkubasi pada suhu 25 sampai 30 derajat Celsius selama 7 hingga 14 hari, dan diaduk perlahan setiap hari agar kolonisasi jamur akar pisang itu merata ke seluruh butir.

Satu ukuran yang lazim diambil pada tahap ini justru dilewati. “Kerapatan inokulum, termasuk konsentrasi konidia, CFU per gram, kerapatan propagul, atau persentase viabilitas, tidak dikuantifikasi dalam penelitian ini,” tulis Firly Licardo dan rekan-rekannya di bagian metode halaman 17. Sebagai gantinya, penyiapan inokulum dibakukan lewat jumlah potongan koloni, bobot milet, lama inkubasi, dan banyaknya milet terkolonisasi yang diberikan ke tiap unit percobaan.

Medium tanamnya tanah Andosol hitam dari kawasan sayuran tanpa budidaya pisang di Alahan Panjang, Sumatera Barat, dicampur pupuk kandang sapi dengan nisbah 3:1. Tanah itu diayak, dimasukkan ke polibag 4 kilogram, dan dibiarkan tiga hari sebelum dipakai. Tanaman ujinya bibit pisang Barangan Merah berumur dua bulan hasil kultur jaringan, berdaun sekitar lima helai dan setinggi kurang lebih 10 sentimeter.

Sehari sebelum perlakuan, medium disiram sampai kapasitas lapang. Propagul berumur dua minggu diaduk rata, lalu 15 mililiter di antaranya dimasukkan ke lubang di tengah medium sedalam kira-kira 10 sentimeter. Bibit ditanam tepat di atas inokulum, ditimbun tanah sampai leher akar, dan dipadatkan perlahan. Selama tiga hari berikutnya tanaman sengaja tidak disiram agar jamurnya lebih leluasa mengolonisasi akar.

Foc baru dimasukkan empat minggu setelah bibit pisang ditanam di polibag

Patogennya menyusul belakangan. Foc TR4 diinokulasikan empat minggu setelah pisang ditanam, dan sehari sebelumnya tanaman disiram sampai kapasitas lapang. Tiga lubang sedalam sekitar 3 sentimeter dibuat pada jarak 3 sampai 5 sentimeter dari pangkal batang, masing-masing diisi 15 mililiter propagul Foc, lalu ditutup tanah. Rancangannya acak kelompok dengan enam perlakuan, empat ulangan, dan lima tanaman per unit.

Satu pembanding sengaja tidak disediakan. Kontrol sehat yang tidak diinokulasi Foc tidak dimasukkan ke dalam percobaan ini. “Karena semua tanaman ditantang dengan Foc, parameter pertumbuhan harus ditafsirkan dalam kondisi tekanan penyakit,” tulis Licardo, Chrisnawati, Meyuliana, Jumjunidang, dan Riska di bagian metode halaman 16.

Tiga hal dicatat sesudah itu untuk menakar kerja jamur akar pisang. Masa inkubasi dihitung dari sehari sesudah inokulasi Foc sampai gejala pertama muncul, yaitu menguningnya tepi daun tua yang disusul gejala pada daun muda. Kejadian penyakit dihitung mingguan sampai tujuh minggu sesudah inokulasi, sebagai jumlah tanaman sakit dibagi jumlah tanaman yang diamati. Intensitas penyakit dihitung dari jumlah daun yang layu atau menguning dibagi total daun yang diamati.

Tandan pisang hijau menggantung pada batang semu yang pelepah tuanya sudah mengering
Tandan pisang hijau menggantung pada batang semu yang pelepah tuanya sudah mengering. [Foto: Plant pests and diseases/Wikimedia Commons (CC0)]

Intensitas itu lalu dimasukkan ke empat kategori. Nol persen berarti tidak ada penyakit, 1 sampai 25 persen ringan, 26 sampai 50 persen sedang, dan di atas 50 persen sampai tanaman mati tergolong berat. Tinggi tanaman diukur dari 1 sentimeter di atas permukaan tanah sampai titik temu dua daun termuda, dengan ajir penanda supaya pengukurannya konsisten. Lingkar batang diukur di ketinggian yang sama, dan datanya diuji dengan analisis ragam lalu uji Tukey pada taraf 5 persen memakai Minitab 20.0.

Gejala pada perlakuan Fusarium sp. 2 baru muncul pada hari ke-47

Perbedaan pertama muncul pada waktu. Pada tanaman yang diberi Fusarium sp. 2, gejala layu fusarium baru tampak pada hari ke-47,33 setelah inokulasi Foc. Kontrol tanpa jamur akar pisang sudah menunjukkan gejala pada hari ke-30,44. Fusarium sp. 3 berada di tengah dengan 38,92 hari, sedangkan Fusarium sp. 1 hanya sampai 32,58 hari.

Dua perlakuan lain praktis tidak menunda apa pun. Trichoderma sp. mencatat 30,58 hari dan jamur tak teridentifikasi 30,92 hari. Dalam uji Tukey, hanya Fusarium sp. 2 yang menyandang huruf a dan Fusarium sp. 3 huruf b, sedangkan kontrol, Trichoderma sp., serta jamur tak teridentifikasi sama-sama berhuruf c.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Yang membuatnya rumit, penundaan itu tidak berarti tanamannya selamat. Kejadian penyakit mencapai 100 persen pada hampir semua perlakuan. Fusarium sp. 2 mencatat angka terendah, 83,33 persen, tetapi simpangan bakunya 30,91 dan nilainya tidak berbeda nyata dari perlakuan lain. Menurut paper, jamur akar pisang memang tidak menurunkan proporsi tanaman yang tertular.

Intensitas penyakit turun ke 33,65 persen tanpa menghentikan penularan

Perbedaan kedua muncul pada seberapa parah daunnya. Intensitas penyakit terendah tercatat pada Fusarium sp. 2 dengan 33,65 persen, tidak berbeda nyata dari Fusarium sp. 3 yang 48,95 persen, tetapi nyata lebih rendah daripada perlakuan lain. Kontrol mencapai 79,05 persen, Fusarium sp. 1 69,07 persen, jamur tak teridentifikasi 79,83 persen, dan Trichoderma sp. justru tertinggi dengan 83,66 persen.

Dengan kategori keparahan yang dipakai paper, Fusarium sp. 2 dan Fusarium sp. 3 masuk golongan sedang, sedangkan tiga perlakuan sisanya tergolong berat. Kurva perkembangan penyakit memperlihatkan pola yang sama. Pada Fusarium sp. 2, gejala layu baru muncul lebih dari empat minggu sesudah inokulasi dan perkembangannya bertahan di bawah 40 persen sampai minggu ketujuh.

Jamur akar pisang lain hanya menahan gejala sampai sekitar minggu keempat, sesudah itu penyakitnya naik tajam. Ketiga parameter itu menunjuk ke arah yang sama, dan para peneliti menutup penjelasannya dengan satu batas. “Dengan demikian, Fusarium sp. 2 terutama menekan perkembangan penyakit pada tahap awal, bukan sepenuhnya mencegah infeksi,” tulis mereka di bagian pembahasan halaman 21.

Tinggi dan lingkar batang tidak berubah, dan mekanismenya belum diuji

Ukuran tanaman tidak ikut bergerak. Pertambahan tinggi berkisar 17,96 sampai 23,38 sentimeter, pertambahan lingkar batang 7,28 sampai 9,93 sentimeter, dan pertambahan jumlah daun 9,42 sampai 10,67 helai. Tidak satu pun perbedaan itu nyata pada tujuh minggu sesudah inokulasi. Menurut paper, tidak adanya pengaruh buruk menandakan jamur akar pisang tersebut tidak mengganggu pertumbuhan awal pisang Barangan Merah di bawah tekanan Foc.

Paper menyebut beberapa kemungkinan penyebab pertumbuhan yang tidak berbeda itu, yakni masa pengamatan yang pendek, umur bibit, tekanan penyakit dari inokulasi Foc, atau isolat yang memang lebih memengaruhi perkembangan penyakit ketimbang pertumbuhan vegetatif. Faktor lingkungan seperti kelembapan, suhu, curah hujan, dan pH tanah juga disebut dapat memengaruhi kolonisasi serta kinerja jamur.

Soal mengapa justru Fusarium sp. 2 yang unggul, paper berhenti pada dugaan. Isolat itu berasal dari korteks pisang kepok tanjung, sementara tanaman ujinya pisang Barangan Merah, sehingga jamur akar pisang tersebut diduga lebih terbiasa pada relung akar inangnya. Kolonisasi akar, produksi metabolit sekunder, ketahanan terimbas, dan pembentukan papila tidak diukur langsung dalam penelitian ini.

Isolat Fusarium yang bukan patogen memang pernah dilaporkan menekan penyakit. Khamidi dan rekan-rekannya (2022) mencatat Fusarium sp. endofit pada bawang merah menunda masa inkubasi penyakit busuk pangkal sampai 23 hari. “Karena itu, penjelasan-penjelasan tersebut harus dipahami sebagai kemungkinan mekanisme atau hipotesis yang memerlukan konfirmasi lebih lanjut,” tulis Licardo dan rekan-rekannya di bagian pembahasan halaman 22.

Daftar pekerjaan yang belum dilakukan ditulis sendiri oleh para peneliti, mulai dari identifikasi molekuler, pemastian patogenisitas dan keamanan, pembakuan inokulum, penilaian kolonisasi akar, sampai validasi lapangan. “Kajian tambahan itu penting karena pemakaian isolat Fusarium sebagai agen pengendali hayati menuntut pemastian yang cermat atas sifat nonpatogeniknya, keamanannya bagi inang, dan kestabilannya dalam kondisi lapangan,” tulis mereka di bagian pembahasan halaman 23.

Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun

Beberapa bagian naskah tidak saling cocok. Paragraf hasil menyebut masa inkubasi terpendek terjadi pada Trichoderma sp., jamur tak teridentifikasi, dan Fusarium sp. 1 dengan 30,58, 30,92, serta 32,58 hari. Padahal tabel yang sama mencatat kontrol tanpa perlakuan pada 30,44 hari, lebih pendek daripada ketiganya, dan kalimat sebelumnya justru menempatkan Fusarium sp. 1 sebagai yang sedikit lebih panjang daripada kontrol.

Kalimat lain di bagian hasil merujuk kategori keparahan Foc ke Tabel 4, sedangkan kategori itu berada di Tabel 3, dan kalimat yang sama ditutup dengan rujukan ke Tabel 3. Bagian metode menyebut empat isolat lokal tergolong marga Fusarium, sementara daftar perlakuan hanya memuat tiga isolat Fusarium ditambah Trichoderma sp. dan satu jamur tak teridentifikasi.

Pendahuluan menulis TR4 telah dilaporkan sebagai spesies tersendiri bernama Fusarium odoratissimum, tetapi judul dan seluruh naskah tetap menyebut patogennya Fusarium oxysporum f. sp. cubense. Sumbu mendatar grafik perkembangan penyakit diberi label hari, padahal pengamatannya dilakukan mingguan. Bagian metode juga menyebut tanah diayak dengan saringan kawat bermata 50 milimeter untuk menyingkirkan akar dan bahan kasar.

Kejanggalan di awal tadi, jamur Fusarium dipakai melawan penyakit yang disebabkan Fusarium, berakhir dengan jawaban yang belum utuh. Jamur akar pisang bernama Fusarium sp. 2 itu memang menunda gejala paling lama di antara enam perlakuan dan menyisakan daun paling sedikit rusak. Namun dugaan bahwa asal-usulnya dari akar pisang yang membuatnya unggul belum diuji, dan ia sendiri masih menunggu pemastian bahwa ia bukan patogen.

Bagikan

Baca Juga

Jamur Penjerat Nematoda Kutalimbaru Matikan 98 Persen Larva
Jamur yang Membunuh Larva Kumbang Badak dari Dalam
Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak
Kuota Pisang ke Jepang Tambah 4.000 Ton, Tarif Nol Persen
Mengungkap Potensi Tersembunyi: Transformasi Nagari Saniangbaka Menjadi Destinasi Wisata Hijau
Pesona Danau Kembar: Permata Tersembunyi Sumatera Barat yang Memikat Jiwa