- CITIES International Conference di ITS membahas ekspansi kota dan wilayah penyangganya, Kamis.
- Pakar ITS menyebut alih fungsi lahan pertanian di Sidoarjo dan Gresik kerap terjadi karena celah regulasi.
- Pakar University of Liverpool menilai perluasan kota tak terkendali mengancam keanekaragaman hayati dan memicu banjir.
Cekricek.id — Alih fungsi lahan pertanian produktif di pinggiran Surabaya menjadi sorotan dalam CITIES International Conference yang digelar Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS di Gedung Research Center, Kamis (17/09/2026).
Melansir keterangan tertulis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kamis (17/09/2026), konferensi itu mengusung tema “Beyond Urban Boundaries: Reconnecting Cities and Regions”.
Dosen ahli perencanaan regional dan perkotaan ITS, Belinda Ulfa Aulia, S.T., M.Sc., Ph.D., memaparkan ekspansi sub-urban di koridor metropolitan Surabaya, yakni Sidoarjo dan Gresik. Menurutnya, alih fungsi lahan pertanian kerap terjadi karena ada celah dalam regulasi.
Ia menyebut ada kekosongan komunikasi antara perencana kabupaten dan jaringan kultural di desa. Akibatnya, perangkat desa menanggung beban infrastruktur jangka panjang, seperti drainase yang terputus dan jalan lingkungan yang terbengkalai.
“Untuk itu, perlu penegakan aturan yang nyata, serta merangkul kelembagaan lokal sebagai aktor di tingkat tapak secara kolaboratif,” ungkap Belinda.
Baca juga Pakar UGM: RUU Reforma Agraria sangat mendesak bagi Indonesia
Ahli perencanaan spasial dari University of Liverpool, Dr. Sebastian Dembski, menyebut alih fungsi lahan pertanian dan ruang alami menjadi kawasan terbangun bisa langsung menghilangkan keanekaragaman hayati. Risiko lain adalah kenaikan suhu dan banjir.
Dembski membandingkan praktik di Jerman, Swiss, dan Belanda dengan kota-kota di Indonesia. Di Eropa, pertumbuhan kota dikendalikan lewat berbagai instrumen tata ruang.
“Beberapa diantaranya yakni pembatasan zona bangunan, sabuk hijau, hingga kerangka tata kelola multi-tingkat,” paparnya.
Ia juga menyoroti keselarasan rencana tata ruang provinsi dengan kabupaten dan kota di Indonesia.
Baca juga Biogas kotoran sapi ITS jadi energi dapur warga Papua Barat
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., menilai sebuah kota tidak pernah berdiri sendiri. Pertumbuhannya terikat pada wilayah penyangga, infrastruktur, dan sistem lingkungan di sekitarnya.
“Dengan demikian, berbagai tantangan modern seperti perubahan iklim dan urbanisasi tidak dapat diselesaikan secara terisolasi,” ungkap Bambang.
Pembicara lain, Prof. Dr. Walter Timo de Vries dari Technical University Munich, membahas dilema pertanian perkotaan dan ancaman kelangkaan lahan.
Baca juga ITS wajibkan sertifikat halal kantin per 18 Oktober 2026
Alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, industri, atau fasilitas lain menjadi salah satu tantangan ketahanan pangan di kawasan metropolitan yang terus meluas.















