UIN Antasari Buka BIAF 2026, 378 Makalah Lolos Dipresentasikan

A A

Foto bersama peserta Borneo International Academic Forum 2026 di UIN Antasari Banjarmasin [Foto: UIN Antasari]

  • UIN Antasari membuka Borneo International Academic Forum 2026 di Banjarmasin, Kamis.
  • Sebanyak 378 makalah lolos dipresentasikan, dengan 244 presenter hadir langsung dan 134 daring.
  • Forum yang dirintis sejak 2016 itu kini terbuka bagi mahasiswa sarjana, magister, dan doktor.

Cekricek.id — UIN Antasari Banjarmasin membuka Borneo International Academic Forum atau BIAF 2026 di Auditorium Mastur Jahri, Kampus 1, Kamis (17/09/2026). Sebanyak 378 abstrak makalah lolos untuk dipresentasikan.

Mengutip keterangan tertulis UIN Antasari, Kamis (17/09/2026), konferensi hibrida itu berlangsung hingga 19 September. Sebanyak 244 presenter hadir langsung di Banjarmasin, sedangkan 134 lainnya mengikuti secara daring.

BIAF 2026 dibuka Rektor UIN Antasari, Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. Temanya “Continuity and Change: Islam, Science, and Society in the Digital Age”.

Forum ini berawal dari Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) yang dirintis pada 2016. Penggagasnya empat perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Kalimantan, yakni UIN Antasari, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, UIN Palangka Raya, dan IAIN Pontianak.

Tahun ini forum itu berganti nama. Pesertanya tidak lagi terbatas mahasiswa sarjana, tetapi juga mahasiswa magister dan doktor.

“Transformasi dari BUAF menjadi BIAF bukan sekadar pergantian nama. Hal ini mencerminkan aspirasi kami untuk membangun komunitas akademik yang lebih inklusif, saling terhubung, dan terlibat secara internasional,” ujar Nida.

Menurut panitia, pendaftar kluster sarjana berjumlah 280 orang dari 19 kampus. Kluster magister diikuti 168 pendaftar dari 20 kampus, dan kluster doktor 37 pendaftar dari 11 kampus.

Baca juga UIN Antasari buka masa sanggah seleksi KIP Kuliah 2026

Tema BIAF 2026 menyoroti perubahan cara belajar, meneliti, dan beragama akibat teknologi digital, kecerdasan buatan, dan media sosial. Nida menegaskan perguruan tinggi harus bersikap kritis terhadap perkembangan itu.

“Di tengah perubahan teknologi yang cepat, universitas tidak bisa sekadar menjadi pengguna atau konsumen teknologi. Universitas harus tetap menjadi ruang di mana perkembangan teknologi diuji secara kritis, etis, dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Baca juga Literasi digital tak cukup untuk esai akademik

Sesi pleno menghadirkan Dr. Awang Hambali bin Awang Jaili dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, Haji Alwi bin Haji Morshidi dari HIKMAH Sarawak, Malaysia, Dr. Jumana Hazem ElSamna dari Universitas Islam Internasional Indonesia, serta Dr. Shanty Komalasari, M.Psi., Psikolog dari UIN Antasari.

Delegasi perguruan tinggi Kalimantan juga dijadwalkan mengikuti agenda “Experience Banua!” pada hari terakhir konferensi.

Baca juga 35 mahasiswa asing dari 10 negara kuliah di Unib Bengkulu

“Semoga forum ini mengingatkan kita bahwa keilmuan bukan hanya tentang memproduksi pengetahuan, tetapi juga tentang membangun komunitas pengetahuan,” kata Nida menutup sambutannya.

Bagikan

Baca Juga

Gajah Zidan Dirantai Tiga Tahun, Pakar UGM Soroti Kesejahteraan
UIN Walisongo Lepas 9 Mahasiswa Dual Degree ke Taiwan
14.915 Peminat, Unismuh Makassar Kukuhkan 5.031 Mahasiswa Baru
NeumaScope, Alat Skrining Pneumonia Balita Buatan Mahasiswa UGM
UNJ Gandeng Wikimedia Latih Sivitas Akademika Mengisi Wikidata
UIN FAS Bengkulu Siapkan Kampus Hadapi Standar Dikti 2026