Gajah Zidan Dirantai Tiga Tahun, Pakar UGM Soroti Kesejahteraan

A A

Ilustrasi gajah sumatera berendam di sungai [Foto: Wikimedia Commons]

  • Gajah sumatera jantan Zidan di TMSBK Bukittinggi diketahui dirantai sekitar tiga tahun.
  • Guru Besar FKH UGM menilai rantai pendek tidak semestinya menjadi penanganan jangka panjang.
  • Agresivitas gajah jantan disebut tidak hanya dipicu birahi, tetapi juga rasa sakit dan lingkungan yang tidak nyaman.

Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, menilai perantaian gajah Zidan di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi tidak semestinya dilakukan dengan ruang gerak yang sangat terbatas.

Mengutip keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (17/09/2026), gajah sumatera jantan itu diketahui telah dirantai sekitar tiga tahun. Perantaian gajah Zidan dilakukan karena ia berubah agresif hingga beberapa kali mencederai mahout atau pawangnya.

“Rantainya sebenarnya enggak boleh pendek. Ada masanya dia harus dilepas, dibiarkan jalan-jalan tapi terkontrol, teramati,” ujar Wisnu.

Menurut Wisnu, kesejahteraan satwa tidak berhenti pada pakan dan kesehatan. Gajah membutuhkan lingkungan yang sesuai, ruang bergerak, kesempatan mandi atau berkubang, dan interaksi dengan gajah lain.

“Welfare itu bukan hanya cukup makan, tidak sakit. Dia juga harus punya ruang, bisa jalan, bisa mandi, bisa berkubang, bisa berinteraksi dengan yang lain,” jelasnya.

Wisnu menjelaskan gajah jantan memang bisa agresif saat memasuki masa musth atau birahi yang dapat berlangsung beberapa bulan. Namun, agresivitas juga dipicu rasa sakit akibat luka, ruang gerak yang sempit karena rantai, kebosanan, serta lingkungan yang tidak nyaman.

“Jadi sebetulnya faktornya ya tidak hanya birahi, tapi juga rasa tersakiti. Lingkungan yang membuat dia enggak nyaman,” katanya.

Baca juga Pakar UGM: RUU Reforma Agraria sangat mendesak bagi Indonesia

Wisnu menilai pembatasan gerak boleh dilakukan dalam kondisi tertentu demi keselamatan manusia dan satwa. Tetapi cara itu tidak semestinya menjadi penanganan jangka panjang bagi gajah Zidan.

Ia juga menekankan peran mahout. Pawang tidak cukup hanya menjaga dan memberi makan, tetapi harus memahami karakter gajah yang ditanganinya. Bila tidak sanggup, pengelola dapat mendatangkan pawang senior dari tempat lain.

“Mahout itu harus mengerti karakter gajahnya. Kalau memang tidak bisa menangani, bisa didatangkan senior elephant handler dari tempat lain,” ungkapnya.

Baca juga UGM luncurkan gerakan kampus hijau, terapkan UGM Gate bertahap

Menurut Wisnu, pengelolaan gajah perlu bertumpu pada catatan individual satwa, mulai dari kesehatan, perilaku, reproduksi, nutrisi, hingga riwayat penanganan. Keputusan mempertahankan gajah Zidan di lembaga konservasi atau memindahkannya juga harus menimbang kemampuan fasilitas dan pengelola.

Baca juga Hilirisasi kemenyan, Guru Besar UGM: nilai minyak 20 kali lipat

Gajah sumatera berstatus kritis dalam Daftar Merah IUCN. Populasinya di alam terus tertekan oleh hilangnya habitat dan konflik dengan manusia. TMSBK Bukittinggi merupakan kebun binatang tertua di Sumatera Barat yang berada di pusat Kota Bukittinggi.

Bagikan

Baca Juga

UIN Walisongo Lepas 9 Mahasiswa Dual Degree ke Taiwan
14.915 Peminat, Unismuh Makassar Kukuhkan 5.031 Mahasiswa Baru
NeumaScope, Alat Skrining Pneumonia Balita Buatan Mahasiswa UGM
UNJ Gandeng Wikimedia Latih Sivitas Akademika Mengisi Wikidata
UIN FAS Bengkulu Siapkan Kampus Hadapi Standar Dikti 2026
UIN STS Jambi Bekali 45 Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja