Tepung Daun Sirih Menambah Bobot Ayam Broiler yang Stres

A A

Daun sirih Piper betle berwarna hijau mengilap tumbuh rimbun di Padang, Indonesia. [Foto: Undeka 11/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Percobaan di Universitas Kirkuk memakai 150 anak ayam broiler Ross 308 yang dibagi ke lima perlakuan.
  • Ketiga kelompok bersirih menghabiskan pakan lebih sedikit daripada kontrol, tetapi tercatat lebih berat.
  • Rasio konversi pakan kumulatif turun dari 1,44 pada kontrol menjadi 1,32 pada takaran 1 gram per kilogram.
  • Teks naskah menyebut ayam bersirih makan lebih banyak, berlawanan dengan angka tabel konsumsi pakan.
  • Naskah tidak melaporkan pengukuran antioksidan, radikal bebas, enzim pencernaan, atau mikroba usus.
Daftar Isi
  1. Cara Peneliti Menimbulkan Stres Lewat Air Minum
  2. Takaran Tepung Daun Sirih yang Dicampur ke Pakan
  3. Bobot Badan Mulai Berpisah pada Pekan Kedua
  4. Cara Pakan Diubah Menjadi Bobot
  5. Senyawa Daun Sirih yang Diduga Meredam Radikal Bebas
  6. Angka Tabel yang Tidak Saling Mengunci
  7. Yang Tidak Ditimbang di Kandang Kirkuk

Cekricek.id — Ayam broiler yang pakannya dicampur tepung daun sirih menghabiskan pakan lebih sedikit, tetapi tumbuh lebih berat daripada ayam yang tidak mendapat campuran itu. Begitulah yang tercatat dalam tabel sebuah percobaan di kandang Universitas Kirkuk, Irak. Persoalannya, teks naskah yang sama menulis bahwa ayam bersirih justru makan lebih banyak. Dua keterangan itu berlawanan arah.

Percobaan itu dilaporkan Hayfaa Mohammed Salih dan Sara Hatem Abdullah dari Departemen Ilmu Pangan, Fakultas Tanaman Obat dan Industri, Universitas Kirkuk, bersama Ammar Qahtan Shanoon dari Departemen Sumber Daya Hewan, Fakultas Pertanian, Universitas Kirkuk. Artikel mereka berjudul Effect of Piper betle Leaf Powder Supplementation on Improving the Productive Performance of Broiler Chickens (Ross 308) Exposed to Oxidative Stress Induced by Hydrogen Peroxide. Naskah itu terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences Volume 7 Nomor 1 tahun 2026, halaman 16–23.

Naskah diterima jurnal pada 7 Februari 2026 dan tersedia daring sejak 23 Maret 2026. Tujuannya menguji apakah tepung daun sirih dalam pakan dapat memperbaiki performa produktif ayam broiler galur Ross 308 yang dipapar stres oksidatif akibat hidrogen peroksida. Para penulis menyebut Piper betle sebagai tanaman menahun dari famili Piperaceae yang tersebar di Asia tropis dan Afrika Timur, dengan daun yang dipakai secara tradisional dalam pengobatan.

Cara Peneliti Menimbulkan Stres Lewat Air Minum

Untuk menguji daun sirih, para peneliti lebih dulu harus membuat ayamnya tertekan. Alatnya hidrogen peroksida, senyawa yang tersusun dari dua atom hidrogen dan dua atom oksigen. Naskah menyebut senyawa ini dikenal sebagai pembangkit alami spesies oksigen reaktif, yakni oksidator kuat di dalam sel hidup. Tubuh sebenarnya menghasilkannya sendiri sebagai hasil samping metabolisme. Dalam jumlah tinggi, senyawa itu memicu stres oksidatif yang merusak lipid, asam nukleat, dan protein.

Karena itu, empat dari lima kelompok ayam menerima hidrogen peroksida sebanyak 0,4 mililiter per liter air minum. Rantai sebab yang dibayangkan para penulis berjalan begini. Antioksidan adalah molekul yang menghambat reaksi oksidasi dan melindungi sel dari kerusakan oleh radikal bebas. Bila antioksidan kurang dan radikal bebas menumpuk di dalam sel, keadaan itu dapat berujung pada stres oksidatif. Tanaman obat, menurut naskah, tergolong antioksidan alami.

Takaran Tepung Daun Sirih yang Dicampur ke Pakan

Bahan percobaannya 150 ekor anak ayam broiler Ross 308 berumur sehari. Anak-anak ayam itu ditimbang, lalu dibagi secara acak ke lima perlakuan dengan tiga ulangan untuk tiap perlakuan. Kelompok T1 menjadi kontrol tanpa tambahan apa pun. Kelompok T2 hanya menerima hidrogen peroksida. Tiga kelompok sisanya menerima hidrogen peroksida ditambah tepung daun sirih dengan takaran berbeda, yaitu 0,75 gram per kilogram pakan untuk T3, 1 gram untuk T4, dan 2 gram untuk T5.

Percobaan berlangsung di peternakan ayam broiler Unit Produksi Ternak, Fakultas Tanaman Obat dan Industri, Universitas Kirkuk, dari 4 September sampai 8 Oktober 2025. Pakannya dibagi tiga jenis: pakan pemula untuk umur 1–10 hari, pakan pertumbuhan untuk umur 11–24 hari, dan pakan akhir untuk umur 25–35 hari. Bahan pakan berasal dari Noor Poultry Feed Factory di Kirkuk, dengan gandum, jagung kuning, dan bungkil kedelai sebagai tiga bahan terbesar.

Baca juga USU-UPM Modernisasi Pakan Ternak Peternak Simalungun Lewat Aplikasi Digital

Pakan dan air diberikan tanpa batas sepanjang percobaan. Air disediakan lewat tempat minum terbalik berkapasitas 4 liter, sedangkan pakan mula-mula diletakkan di nampan plastik lalu dipindah ke tempat pakan silinder setinggi punggung ayam. Suhu di bawah pemanas dijaga 33°C dan diturunkan bertahap hingga 23°C. Yang dicatat setiap pekan hanya empat hal, yaitu bobot badan, konsumsi pakan, pertambahan bobot mingguan, dan rasio konversi pakan. Datanya diuji dengan rancangan acak lengkap dan uji jarak berganda Duncan.

Bobot Badan Mulai Berpisah pada Pekan Kedua

Pada akhir pekan pertama, uji statistik tidak menemukan perbedaan nyata antarkelompok. Bobot rata-rata semua kelompok masih berkisar 157–161 gram. Perbedaan baru muncul sesudahnya. Ayam T3 berbobot 543,66 gram dan ayam T4 544,16 gram. Keduanya nyata lebih berat daripada T1 yang 532,33 gram dan T2 yang 539,16 gram. Ayam T5, dengan 542,33 gram, tidak berbeda nyata dari T3 dan T4.

Jarak itu kemudian melebar. Pada pekan ketiga, T4 mencapai 1.057,67 gram dan T5 1.054,83 gram, keduanya nyata di atas T1, T2, dan T3. Kelompok T3 sendiri, dengan 1.045,33 gram, masih nyata lebih berat daripada T1 dan T2. Pada pekan keempat urutannya mengikuti takaran: T5 paling berat dengan 1.582,83 gram, disusul T4 dengan 1.575,67 gram dan T3 dengan 1.560,50 gram. Ayam T1 dan T2 tertinggal di 1.544,67 dan 1.547,83 gram.

Ratusan ayam broiler putih di kandang beratap dengan tempat pakan dan minum merah
Ilustrasi ratusan ayam broiler putih di kandang beratap dengan tempat pakan dan minum merah. [Foto: Pexels]

Pada pekan kelima, tabel mencatat ayam T4 seberat 2.517,50 gram dan ayam T3 2.496,83 gram, nyata di atas T1 yang 2.464,67 gram dan T2 yang 2.474,83 gram. Teks naskah menyebut T5 sebagai kelompok paling berat pada pekan itu. Para penulis menyimpulkan bahwa tepung daun sirih memperbaiki bobot badan secara nyata, terutama pada takaran 1 dan 2 gram per kilogram pakan, dan bobot itu naik bertahap seiring bertambahnya umur.

Cara Pakan Diubah Menjadi Bobot

Bobot saja belum menceritakan seluruh proses. Para penulis menyebut konsumsi pakan sebagai salah satu faktor ekonomi utama dalam menghitung biaya produksi ayam broiler, karena pakan menanggung lebih dari dua pertiga total biaya. Rasio konversi pakan dipengaruhi konsumsi pakan dan pertambahan bobot, dan menurut naskah menjadi salah satu ukuran ekonomi paling penting tentang efisiensi ayam mengubah pakan menjadi massa tubuh. Satuannya gram pakan per gram pertambahan bobot.

Di sinilah kejanggalan pembuka berakar. Selama 35 hari, ayam T1 menghabiskan 4.198,33 gram pakan dan ayam T2 4.219,17 gram. Ketiga kelompok yang menerima tepung daun sirih makan lebih sedikit, yakni T3 sebanyak 4.070,67 gram, T5 sebanyak 3.978,67 gram, dan T4 paling sedikit dengan 3.951,00 gram. Kelompok yang makan paling irit itu justru tercatat paling berat di antara angka bobot pekan kelima yang tersedia di tabel.

Akibatnya terlihat pada rasio konversi pakan kumulatif. Ayam T1 dan T2 sama-sama berada di angka 1,44. Ayam T3 turun ke 1,37, sedangkan T5 ke 1,34 dan T4 ke 1,32. Naskah menyatakan T4 dan T5 nyata lebih baik daripada kelompok lain, dan T3 nyata lebih baik daripada T1 dan T2. Pola serupa sudah tampak pada pekan kedua. Rasio T3 tercatat 1,10 dan T4 1,11, nyata lebih baik daripada T1 yang 1,32 dan T2 yang 1,27.

Senyawa Daun Sirih yang Diduga Meredam Radikal Bebas

Mengapa takaran sekecil satu atau dua gram per kilogram pakan bisa menggeser angka-angka itu? Pendahuluan naskah menyebut daun Piper betle mengandung banyak senyawa fenolik, alkaloid, terpena, dan flavonoid. Senyawa bioaktif terpentingnya adalah minyak atsiri, yaitu eugenol dan hidroksikavikol, yang menunjukkan aktivitas antimikroba kuat. Tanaman ini juga disebut memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antelmintik yang kuat.

Dari kandungan itu, para penulis menyusun penjelasan bertingkat. Senyawa fenolik, flavonoid, dan minyak atsiri dalam tepung daun sirih bersifat antioksidan. Sifat itu menekan radikal bebas yang dipicu hidrogen peroksida, sehingga metabolisme tubuh ayam berjalan lebih baik. “Sifat antioksidan senyawa bioaktif tanaman ini mengurangi produksi radikal bebas yang dihasilkan hidrogen peroksida, yang berujung pada peningkatan proses metabolisme tubuh dan perbaikan bobot badan ayam broiler,” tulis Hayfaa Mohammed Salih dan rekan-rekannya.

Jalur kedua melewati usus. Menurut para penulis, senyawa bioaktif dalam tepung daun sirih memperbaiki kesehatan saluran cerna. Efisiensi penyerapan zat gizi dari pakan pun ikut membaik. Untuk pertambahan bobot, mereka menambahkan satu mata rantai lagi. “Peningkatan pertambahan bobot mingguan dan kumulatif ini mungkin disebabkan oleh senyawa bioaktif dalam Piper betle yang merangsang aktivitas enzim pencernaan, sehingga meningkatkan laju metabolisme protein dan energi, yang berujung pada konversi zat gizi yang dimakan menjadi massa otot secara efisien,” tulis mereka.

Rasio konversi pakan yang membaik dijelaskan dengan cara serupa. Para penulis menduga ada efek sinergis antioksidan dalam penyerapan zat gizi, kerusakan sel akibat stres oksidatif, dan efisiensi metabolisme protein serta energi. Kalimat itu tidak menyebut apa yang dilakukan antioksidan terhadap kerusakan sel tersebut. Semua penjelasan mekanisme ditulis dengan kata “dapat dikaitkan” atau “mungkin”, dan tidak satu pun diukur langsung di dalam tubuh ayam percobaan.

Baca juga Tanaman Obat Keluarga: Kenal Belum Tentu Paham

Angka Tabel yang Tidak Saling Mengunci

Yang membuat penjelasan itu rumit adalah bagian konsumsi pakan. Teks naskah menulis bahwa pada pekan pertama T4 menunjukkan perbaikan konsumsi pakan dibanding T1 dan T2, padahal tabel mencatat T4 makan 143,50 gram, lebih sedikit daripada T1 yang 156,00 gram. Pada pekan kedua, teks menyebut T3 dan T4 makan lebih banyak, sementara tabel mencatat keduanya paling sedikit, 425,83 dan 430,50 gram, dibanding T1 yang 490,83 gram.

Untuk konsumsi kumulatif, teks menyebut T4 nyata lebih tinggi daripada semua kelompok lain. Tabel justru menempatkan T4 di urutan terbawah dengan 3.951,00 gram. Penjelasan para penulis pun mengikuti arah teks. Tepung daun sirih diduga membuat pakan lebih disukai, merangsang nafsu makan, dan memperbaiki keseimbangan mikroba usus. Naskah tidak menjelaskan mengapa arah teks dan arah tabel berbeda.

Tabel pertambahan bobot juga tidak menutup dengan tabel bobot badan. Pada pekan kedua sampai keempat, selisih bobot ayam T1 cocok dengan angka pertambahannya, misalnya 515,66 gram pada pekan keempat. Pada pekan kelima, bobot T1 naik dari 1.544,67 menjadi 2.464,67 gram atau 920 gram, tetapi tabel pertambahan mencatat 1.496,50 gram. Kolom pertambahan bobot kumulatif pun berisi angka yang persis sama dengan bobot akhir, yakni 2.464,67 gram untuk T1.

Ada pula sel yang tidak lengkap. Pada tabel bobot badan, baris T5 pekan kelima hanya berisi “0.72 a” tanpa angka rata-rata, sehingga klaim T5 paling berat pada pekan itu tidak bisa dicocokkan. Kalimat tentang pertambahan bobot pekan keempat terpotong di tengah. Komposisi gizi pakan juga berbeda tipis antara teks dan tabel, misalnya protein kasar pakan pemula ditulis 23,59 persen di teks dan 23,67 persen di tabel.

Yang Tidak Ditimbang di Kandang Kirkuk

Satu hal lagi tidak dibahas naskah. Kelompok T2, yang hanya menerima hidrogen peroksida tanpa sirih, tidak lebih ringan daripada kontrol. Pada pekan kelima bobotnya 2.474,83 gram, nyata di atas T1 yang 2.464,67 gram, dan pada pekan kedua pun T2 nyata lebih berat. Dalam tabel bobot badan, perlakuan stres itu tidak tampak menekan pertumbuhan dibandingkan kelompok yang tidak menerima apa pun.

Naskah juga tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Dari bagian metode, percobaan tepung daun sirih ini memakai satu galur, Ross 308, di satu peternakan kampus selama 35 hari, dengan 150 ekor ayam. Parameter yang dicatat hanya bobot badan, konsumsi pakan, pertambahan bobot, dan rasio konversi pakan. Naskah tidak melaporkan pengukuran kadar antioksidan, radikal bebas, enzim pencernaan, atau mikroba usus, padahal seluruh penjelasan mekanismenya merujuk ke hal-hal itu.

Baca juga Guru Besar UGM: Ayam Bebas Sangkar Tak Bebas Penyakit

Kesimpulan para penulis memakai kata “dapat”. Takaran 1 dan 2 gram per kilogram pakan disebut memberi perbaikan paling menonjol pada bobot badan, pertambahan bobot, dan rasio konversi pakan. “Temuan ini menunjukkan bahwa Piper betle dapat berfungsi sebagai bahan tambahan pakan fitogenik alami yang menjanjikan untuk meningkatkan produktivitas broiler dalam kondisi stres oksidatif,” tulis Hayfaa Mohammed Salih, Sara Hatem Abdullah, dan Ammar Qahtan Shanoon.

Jadi, ayam yang makan lebih sedikit tetapi tumbuh lebih berat itu bukan keajaiban tabel. Dalam angka para peneliti, kelompok tepung daun sirih tidak makan lebih banyak. Ayam bersirih justru membutuhkan lebih sedikit pakan untuk setiap gram bobot, sehingga rasio konversinya turun dari 1,44 ke 1,32. Yang tidak cocok adalah kalimat naskah yang menyebut mereka makan lebih banyak, bukan tabelnya.

Bagikan

Baca Juga

Titik Kuantum Grafena Geser Pendar Seng Oksida ke Hijau
Asam Glutamat Angkat Hasil Biji Rosela Red Heet di Irak
Pupuk Nano-NPK dan Asam Humat Tinggikan Bibit Jeruk di Irak
Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan
Deforestasi Sanggau Dipetakan ke Lima Klaster Kecamatan
Program Indonesia Pintar Tak Terbukti Tekan Putus Sekolah SMA