Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan

A A

Ilustrasi siswa sekolah dasar berseragam batik mengerjakan soal ujian di Jambi. [Foto: Muhamad Izzul Fiqih/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Skor kemiskinan rumah tangga ibu tunggal karena perceraian 0,466 poin di atas keluarga menikah.
  • Koefisien jalur ditinggal mati 0,145, kurang dari sepertiga jalur cerai dan tidak signifikan secara statistik.
  • Setiap kenaikan satu poin skor kemiskinan menurunkan skor kognitif total anak 0,568 poin.
  • Dalam uji ulang, koefisien perceraian terhadap skor kognitif tetap negatif dan signifikan pada jalur cerai maupun ditinggal mati.

Cekricek.id — Rumah tangga ibu tunggal karena perceraian mencatat skor kemiskinan 0,466 poin di atas keluarga menikah, sedangkan karena ditinggal mati 0,145. Angka kedua tidak signifikan secara statistik.

Kedua angka itu lahir dari satu model yang sama. Keduanya lalu disambungkan ke skor kognitif anak lewat satu perantara, yakni kemiskinan rumah tangga.

Temuan ini dimuat dalam artikel The economic consequences of single motherhood on children’s cognitive outcomes in Indonesia. Artikel itu terbit pada 2026.

Wadahnya Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1, halaman 119–133. Naskahnya diterima 22 Januari 2026 dan terbit 30 April 2026.

Penulisnya empat orang. Wisnu Setiadi Nugroho dan Evi Noor Afifah berasal dari Departemen Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Andika Ridha Ayu Perdana berasal dari Departemen Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Zahra Amalia Syarifah berasal dari Departemen Sosiologi University of California, San Diego, Amerika Serikat.

Para penulis membandingkan dua jalan menuju status ibu tunggal, yakni perceraian dan kematian pasangan. Keduanya diuji terhadap kemiskinan rumah tangga dan skor kognitif anak.

Daftar Isi
  1. Perkara Perceraian dari Tahun ke Tahun
  2. Kepala Rumah Tangga Perempuan dari Tahun ke Tahun
  3. Jalur Cerai dan Skor Kemiskinan Ibu Tunggal
  4. Jalur Ditinggal Mati dan Skor Kemiskinan Keluarga
  5. Kemiskinan sebagai Perantara Nilai Kognitif Anak
  6. Keretakan Keluarga di Luar Jalur Kemiskinan

Perkara Perceraian dari Tahun ke Tahun

Paper membuka dengan data perkara perceraian berdasarkan putusan pengadilan. Pada 2014 tercatat 344.237 perkara, sedangkan pada 2022 jumlahnya 516.344 perkara.

Garisnya tidak naik lurus. Tahun 2019 mencatat 439.002 perkara, lalu 2020 turun ke 291.677 perkara, sebelum 2021 kembali ke 447.743 perkara.

Tahun terakhir dalam tabel, 2023, mencatat 463.654 perkara. Angka itu lebih rendah daripada 2022, tetapi masih di atas angka 2014.

Perkara cerai 516.344 pada 2022, turun ke 291.677 pada 2020Perkara perceraian: 2014 344.237; 2015 347.256; 2016 365.633; 2017 374.516; 2018 408.202; 2019 439.002; 2020 291.677; 2021 447.743; 2022 516.344; 2023 463.654.Perkara cerai 516.344 pada 2022, turun ke291.677 pada 2020Jumlah perkara perceraian berdasarkan putusanpengadilan, 2014–20230200.000400.000600.0002014344.2372015347.2562016365.6332017374.5162018408.2022019439.0022020291.6772021447.7432022516.3442023463.654Tahun 2020 diberi warna berbeda karena merupakan angka terendahdalam tabel.cekricek.id
Sumber: Nugroho dkk. (2026), Economic Journal of Emerging Markets 18(1): 119–133. Grafik: Cekricek.id

Sumber tabel itu Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung serta laporan statistik Indonesia. Para penulis menyebut angka perceraian Indonesia relatif tinggi dibanding negara Asia lain.

Paper juga menulis bahwa banyak perceraian didorong faktor ekonomi. Perceraian itu, tulis mereka, kerap disertai lemahnya penegakan kewajiban nafkah anak, sehingga kerentanan anak bertambah.

Kepala Rumah Tangga Perempuan dari Tahun ke Tahun

Data kepala rumah tangga perempuan dari Badan Pusat Statistik bergerak dengan pola lain. Porsinya 14,42 persen pada 2012 dan mencapai 15,82 persen pada 2020.

Setelah itu porsinya turun menjadi 14,38 persen pada 2021 dan 12,72 persen pada 2022. Angka 2022 itu lebih rendah daripada angka 2012.

Di sini ada kejanggalan naskah. Teks paper menyebut porsi kepala rumah tangga perempuan meningkat dari waktu ke waktu, padahal dua tahun terakhir tabelnya menurun.

Data Susenas 2016 memuat sebaran usia kepala rumah tangga. Sebanyak 39,09 persen kepala rumah tangga perempuan berusia di atas 60 tahun, sedangkan pada laki-laki 14,96 persen.

Baca juga Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta

Pada kelompok 18–25 tahun, porsinya 4,65 persen untuk perempuan dan 2,89 persen untuk laki-laki. Paper mengaitkan pola usia muda dan tua itu dengan perceraian dan kematian pasangan.

Kelompok 26–40 tahun berbalik arah. Porsinya 34,16 persen pada kepala rumah tangga laki-laki, tetapi 11,89 persen pada kepala rumah tangga perempuan.

Jalur Cerai dan Skor Kemiskinan Ibu Tunggal

Untuk menimbang kedua jalur, para penulis memakai Indonesia Family Life Survey gelombang 3 dan gelombang 5. Data itu memuat 2.454 amatan.

Skor kognitif anak diambil dari tes IFLS5 berisi 17 soal. Soal-soalnya menguji kemampuan dasar, seperti mengenali pola dan berhitung.

Skor kemiskinan disusun dari sembilan indikator kemiskinan multidimensi Badan Pusat Statistik. Rentangnya 0 untuk tidak miskin sampai 9 untuk sangat miskin.

Indikatornya antara lain luas rumah, jenis lantai, jenis dinding, dan akses listrik. Ada pula akses air bersih, akses jamban, jenis dapur, serta kepemilikan aset.

Rata-rata skor kognitif sampel 8,51 dari rentang 0 sampai 17. Rata-rata skor kemiskinannya 2,15, dengan nilai tertinggi 8 dalam data.

Rumah tangga dalam sampel rata-rata beranggota 6,33 orang. Pengeluaran per kapitanya rata-rata Rp412.874, dengan rentang Rp54.666,67 sampai Rp3.824.833.

Perceraian tergolong jarang, hanya 3,87 persen sampel. Rata-rata usia anak 8,73 tahun, dan remaja berusia 12 tahun ke atas mencakup 30,32 persen amatan.

Metodenya pemodelan persamaan struktural. Model ini menghitung dua jalan sekaligus, yakni jalan dari status perkawinan ke kemiskinan dan jalan dari kemiskinan ke skor anak.

Pada kasus pertama, jalur cerai, koefisiennya 0,466. Rumah tangga yang dikepalai orang bercerai mencatat skor kemiskinan lebih tinggi daripada rumah tangga menikah.

Koefisien itu signifikan pada taraf 10 persen, dengan galat baku 0,248. Versi terstandardisasinya 0,036.

“Hal ini terutama menonjol pada keibuan tunggal melalui perceraian, karena hal itu kerap diikuti hilangnya jaringan sosial,” tulis Wisnu Setiadi Nugroho dan rekan-rekannya dalam kesimpulan.

Namun, jaringan sosial tidak tercantum dalam daftar variabel model. Daftar itu memuat antara lain status perkawinan, ukuran rumah tangga, jarak, pendidikan kepala rumah tangga, dan pengeluaran.

Faktor lain dalam model yang sama ikut bergerak. Ukuran rumah tangga menaikkan skor kemiskinan dengan koefisien 0,043, sedangkan pendidikan kepala rumah tangga menurunkannya dengan koefisien −0,373.

Jarak ke ibu kota kecamatan dan ke pusat usaha juga menaikkan skor kemiskinan. Koefisiennya berturut-turut 0,006 dan 0,034 pada model jalur cerai.

Jalur Ditinggal Mati dan Skor Kemiskinan Keluarga

Pada kasus kedua, jalur ditinggal mati, koefisiennya 0,145. Angka itu kurang dari sepertiga koefisien jalur cerai dan tidak signifikan secara statistik.

Galat baku jalur ini 0,150, sedikit lebih besar daripada koefisiennya. Versi terstandardisasinya 0,018, separuh dari angka 0,036 pada jalur cerai.

“Rumah tangga yang dikepalai individu bercerai menunjukkan kemiskinan yang lebih tinggi, sementara efek status menjanda lebih kecil dan tidak signifikan secara statistik,” tulis para penulis dalam abstrak.

Kedua jalur juga diuji bersama sebagai satu kelompok. Gabungan ibu tunggal karena cerai dan karena ditinggal mati menghasilkan koefisien 0,235, signifikan pada taraf 10 persen.

Angka gabungan itu berada di antara 0,466 dan 0,145. Porsi perceraian dalam sampel 3,87 persen, sedangkan porsi ditinggal mati tidak dilaporkan dalam tabel deskriptif.

Anak-anak berseragam sekolah berangkat menyeberangi sungai dengan perahu kayu
Ilustrasi anak-anak berseragam sekolah berangkat menyeberangi sungai dengan perahu kayu. [Foto: Ryan Dhika Nugraha/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Yang sama dari kedua jalur ibu tunggal adalah faktor penyertanya. Koefisien ukuran rumah tangga, jarak, pendidikan, dan pengeluaran nyaris tidak berubah ketika jalur cerai diganti jalur ditinggal mati.

Pendidikan kepala rumah tangga, misalnya, bernilai −0,373 pada jalur cerai dan −0,372 pada jalur ditinggal mati. Ukuran rumah tangga bernilai 0,043 dan 0,042.

Jalur cerai menaikkan skor kemiskinan paling tinggiKoefisien terhadap skor kemiskinan: cerai dan ditinggal mati 0,235 (signifikan 10 persen); cerai 0,466 (signifikan 10 persen); ditinggal mati 0,145 (tidak signifikan). Galat baku 0,129; 0,248; 0,150. Amatan 2.285.Jalur cerai menaikkan skor kemiskinan palingtinggiKoefisien status perkawinan terhadap skor kemiskinanrumah tangga, model persamaan struktural takterstandardisasi0,00,10,20,30,40,5Cerai dan ditinggal mati (signifikan 10%)0,235Cerai (signifikan 10%)0,466Ditinggal mati (tidak signifikan)0,145Pembanding: rumah tangga menikah. Galat baku 0,129 (gabungan),0,248 (cerai), dan 0,150 (ditinggal mati). Jumlah amatan 2.285.cekricek.id
Sumber: Nugroho dkk. (2026), Economic Journal of Emerging Markets 18(1): 119–133. Grafik: Cekricek.id

Daya jelas modelnya pun hampir sama. Model kemiskinan menjelaskan 17,6 persen variasi pada jalur cerai dan 17,5 persen pada jalur ditinggal mati.

Pengeluaran per kapita menurunkan skor kemiskinan pada kedua jalur. Baik pada ibu tunggal karena cerai maupun karena ditinggal mati, koefisien itu signifikan pada taraf 1 persen.

Baca juga Program Keluarga Harapan Tak Menaikkan Nilai Kognitif Anak

Satu-satunya baris yang berbeda jauh di antara kedua model ibu tunggal adalah status perkawinan. Faktor rumah tangga lainnya bernilai hampir sama di kedua sisi.

Kemiskinan sebagai Perantara Nilai Kognitif Anak

Tahap berikutnya menghubungkan kemiskinan ke skor anak. Setiap kenaikan satu poin skor kemiskinan menurunkan skor kognitif total 0,568 poin, dari rentang 0 sampai 17.

Dalam skala logaritma, koefisiennya −0,085, sama pada model jalur cerai maupun jalur ditinggal mati. Keduanya signifikan pada taraf 1 persen.

Status perkawinan tidak tercantum dalam tabel model skor kognitif. Koefisien pada kolom jalur cerai dan kolom jalur ditinggal mati pun nyaris kembar.

Usia anak ikut menekan skor, dengan koefisien −0,016. Anak adopsi mencatat −0,158, dan remaja −0,099 dibanding anak yang lebih muda.

Para penulis menyebut jenis kelamin dan jumlah anak tidak signifikan dalam model ini. Koefisien jenis kelamin 0,002 dan jumlah anak −0,003.

Tabel lanjutan justru berbeda. Dengan skor total, anak laki-laki bernilai −0,344 dan signifikan pada taraf 5 persen, padahal teks menyebut beda gender tidak signifikan.

Para penulis merangkumnya sebagai mekanisme kunci. Struktur keluarga memengaruhi kemiskinan, dan kemiskinan pada gilirannya berdampak negatif pada perkembangan kognitif anak.

Dalam abstrak, anak dari rumah tangga ibu tunggal disebut memiliki skor kognitif lebih rendah. Menurut mereka, hal itu terutama berlaku bagi anak yang mengalami perceraian.

Di sisi lain, jalur ditinggal mati tidak menaikkan skor kemiskinan secara signifikan dalam model dasar. Paper tidak melaporkan angka efek tidak langsung terpisah untuk jalur mana pun.

Keretakan Keluarga di Luar Jalur Kemiskinan

Para penulis mengakui skor kemiskinan dan status cerai berpotensi endogen. Karena itu, mereka menguji ulang hasilnya dengan regresi variabel instrumen.

Instrumennya porsi perceraian di komunitas, rata-rata 4,30 persen. Menurut mereka, porsi itu memengaruhi status perkawinan individu, tetapi tidak langsung memengaruhi skor kognitif anak.

Pada kasus pertama, jalur cerai, koefisien terhadap skor kognitif total mencapai −41,96. Angka itu lebih besar daripada seluruh rentang skornya, 0 sampai 17.

Pada kasus kedua, jalur ditinggal mati, koefisiennya −16,57 dan signifikan pada taraf 1 persen. Gabungan kedua jalur menghasilkan −12,38.

Hasil jalur ditinggal mati ini tidak dibahas dalam teks. Teks hanya menyebut efek perceraian lebih kuat ketika perceraian dipisahkan dari status menjanda.

Uji ulang terhadap skor kemiskinan mengubah temuan dasar. Koefisien perceraian menjadi 0,703 untuk gabungan, 3,535 untuk jalur cerai, dan 0,782 untuk jalur ditinggal mati, semuanya tidak signifikan.

“Hal ini menunjukkan bahwa perceraian memengaruhi kemiskinan secara tidak langsung melalui karakteristik rumah tangga,” tulis mereka. Jumlah amatan uji ini 3.140, berbeda dari 2.454 pada uji lain.

Uji terakhir memasukkan kemiskinan dan perceraian sekaligus. Skor kemiskinan menurunkan skor kognitif sekitar empat poin, yakni −4,044 untuk gabungan dan −3,962 untuk jalur cerai.

Pada jalur ditinggal mati, koefisien kemiskinannya −4,113. Koefisien perceraiannya −15,57, sedangkan pada jalur cerai −34,44 dan pada gabungan −11,37, semuanya signifikan.

Koefisien perceraian melampaui koefisien kemiskinan di tiga jalurKoefisien terhadap skor kognitif total. Cerai dan ditinggal mati: skor kemiskinan −4,044, status cerai −11,37. Cerai: −3,962 dan −34,44. Ditinggal mati: −4,113 dan −15,57. Semua signifikan 1 persen. Amatan 2.454.Koefisien perceraian melampaui koefisienkemiskinan di tiga jalurKoefisien terhadap skor kognitif total anak, regresivariabel instrumenSkor kemiskinanStatus perkawinan (=1)−40−30−20−100Cerai dan ditinggal mati−4,044−11,37Cerai−3,962−34,44Ditinggal mati−4,113−15,57Semua koefisien signifikan pada taraf 1 persen. Rentang skorkognitif 0 sampai 17. Jumlah amatan 2.454.cekricek.id
Sumber: Nugroho dkk. (2026), Economic Journal of Emerging Markets 18(1): 119–133. Grafik: Cekricek.id

Pada tabel yang sama, pendidikan kepala rumah tangga berbalik negatif, −0,585 pada gabungan. Pada uji sebelumnya, koefisien pendidikan positif 1,052 dan disebut konsisten memperbaiki skor.

“Meskipun kemiskinan merupakan saluran penting, keretakan keluarga memberikan efek yang independen dan lebih besar, yang menunjukkan kendala ekonomi maupun nonekonomi,” tulis para penulis. Kalimat itu ada dalam kesimpulan.

Para penulis menilai hasil uji instrumen memperkuat temuan dasar dan mendukung tafsir kausal. Menurut mereka, keretakan keluarga dan kondisi ekonomi bersama-sama membentuk skor kognitif anak.

Baca juga Dana Desa Menaikkan Harapan Hidup, Bukan Lama Sekolah

Paper tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Selain soal endogenitas, model dasarnya menjelaskan 17,6 persen variasi kemiskinan dan 12,3 persen variasi skor kognitif.

Pada ibu tunggal karena cerai, skor kemiskinan naik signifikan dalam model dasar. Koefisien skor anaknya juga yang terbesar dalam uji ulang, yakni −41,96.

Pada ibu tunggal karena ditinggal mati, skor kemiskinan tidak naik signifikan dalam model dasar. Namun, koefisien skor anaknya tetap negatif dan signifikan dalam uji ulang, yakni −16,57.

Rekomendasi para penulis tidak dipisah per jalur. Mereka menyarankan bantuan pendapatan, pendidikan anak usia dini, akses layanan di daerah terpencil, dan penegakan nafkah anak berjalan bersama.

Bagikan

Baca Juga

Deforestasi Sanggau Dipetakan ke Lima Klaster Kecamatan
Program Indonesia Pintar Tak Terbukti Tekan Putus Sekolah SMA
Ekonom UGM Urai Selisih Angka Kemiskinan Bank Dunia dan BPS
Pekerja Migran Justru Sedikit dari Provinsi Paling Miskin
Nilai Tukar Rupiah Bergerak Ikut Uang Beredar, Bukan Bunga
Fintech Lending Syariah dan Lama Menarik Lebih Banyak Investor