- Platform fintech lending berumur sembilan tahun ke atas menarik rata-rata 73.604 investor.
- Umur platform, nilai pinjaman beredar, dan label syariah terbukti nyata menarik investor.
- Platform menengah beraset Rp1.410 miliar hanya menarik 544 investor, lebih sedikit daripada platform kecil.
- Dua tabel dalam naskah yang sama memberi ukuran aset yang berbeda seratus kali lipat.
- Tidak satu pun ukuran keuangan platform terbaca nyata di dalam model.
Cekricek.id — Fintech lending yang berumur sembilan tahun ke atas menarik rata-rata 73.604 investor, sedangkan yang berumur lima sampai tujuh tahun menarik 2.331.
Dua angka itu berasal dari satu tabel yang sama, pada 85 platform yang sama, dan dikumpulkan pada bulan yang sama.
Temuan itu ditulis Ali Rama, peneliti Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Naskahnya berjudul What Drives Investors in Fintech Lending? Firm-Level Evidence from Indonesian Platforms, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 531 sampai 542.
Datanya dikumpulkan sendiri dari laman resmi tiap platform pada Agustus 2025.
Daftar Isi
Delapan Puluh Lima Platform Fintech Lending yang Dibedah
Yang diperiksa bukan pinjamannya, melainkan penyedia pinjamannya.
Seluruh angka itu dikumpulkan dengan tangan, satu per satu dari laman resmi tiap platform.
Penulisnya memilih cara itu karena ciri seperti kepatuhan syariah dan cakupan wilayah tidak tersedia di pangkalan data keuangan baku.
Kerangka yang dipakainya adalah teori pemberian sinyal, yang menempatkan ciri perusahaan sebagai penanda bagi pihak luar yang informasinya lebih sedikit.
Dalam kerangka itu, umur dan besar pinjaman dibaca sebagai tanda kestabilan, sedangkan label syariah dibaca sebagai tanda keberpihakan nilai.
Yang membedakan kajian ini dari kebanyakan kajian sebelumnya adalah satuan amatannya: perusahaan penyedia, bukan pinjaman per pinjaman.
Sampelnya 85 platform dari 95 yang berizin Otoritas Jasa Keuangan, dipilih berdasarkan kelengkapan datanya.
Jumlah investor tiap platform terentang dari 2 orang sampai 886.000 orang, dengan rata-rata 20.450.
Simpangan bakunya 106.276, jauh melampaui rata-rata 20.450 itu sendiri, yang berarti sebagian kecil platform menguasai hampir seluruh minat investor.
Nilai pinjaman beredar juga terbelah lebar, dari Rp1,02 juta pada yang terkecil sampai Rp15,2 triliun pada yang terbesar.
Umur platform justru merata: rata-rata 7,87 tahun, dengan yang termuda lima tahun dan yang tertua 25 tahun.
Hanya 7 persen platform berlabel syariah, dan 96 persen beroperasi dalam lingkup nasional.
Bagi pembaca, angka-angka itu berarti pasar pinjaman daring Indonesia sudah tidak lagi berisi pemain baru.
Naskahnya mencatat pinjaman daring beredar naik dari Rp72,03 triliun pada Agustus 2024 menjadi Rp87,49 triliun pada Agustus 2025.
Pertumbuhan 21,5 persen itu berjalan di samping pertumbuhan kredit perbankan yang hanya 6,9 persen.
Angka-angka keuangannya juga jauh dari seragam. Aset rata-rata Rp54.500 juta, sedangkan imbal hasil aset rata-rata minus 0,10.
Artinya sebagian besar platform pada Agustus 2025 masih berada di fase tumbuh atau masih merugi.
Imbal hasil ekuitas rata-rata positif 0,42, tetapi terentang dari minus 35,66 sampai 4,13, sehingga rata-rata itu hampir tidak berarti.
Ukuran risiko gagal bayarnya rata-rata 0,95, dengan nilai terendah 0,14 dan tertinggi 1.
Naskahnya menyebut ambang yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan berada di angka lima persen.
Aturan mainnya sendiri sudah dua kali disusun, lewat POJK Nomor 77 Tahun 2016 yang diperbarui POJK Nomor 10 Tahun 2022.
Umur dan Skala, Dua Sinyal yang Terbaca Investor
Model yang dipakai membandingkan sembilan ciri platform terhadap jumlah investornya, dengan galat baku yang tahan terhadap keragaman antarperusahaan.
Sebelum model dijalankan, hubungan antarpeubah diperiksa lebih dulu, dan tidak satu pun saling menutupi.
Korelasi jumlah investor dengan umur platform 0,463, dan dengan nilai pinjaman beredar 0,279; keduanya nyata.
Korelasi dengan label syariah hanya 0,169 dan dengan cakupan wilayah minus 0,136; keduanya tidak nyata.
Ukuran saling-jelas antarpeubah rata-rata 1,21, jauh di bawah ambang lima yang dipakai penulisnya.
Model dijalankan lima kali: empat kali dengan satu peubah utama, sekali dengan keempatnya sekaligus.
Sendirian, umur platform memperoleh 0,543, pinjaman beredar 0,289, label syariah 2,750, dan cakupan wilayah minus 1,682.
Ketika keempatnya dimasukkan bersama, ketiga angka pertama menyusut sedikit dan yang keempat tetap tidak nyata.
Dari empat ciri utama yang diuji, tiga terbukti nyata dan satu tidak.
Umur platform memperoleh koefisien 0,515 dengan galat baku 0,103, nyata pada taraf satu persen.
Nilai pinjaman beredar memperoleh 0,234 dengan galat baku 0,120, nyata pada taraf sepuluh persen.
Label syariah memperoleh 2,578 dengan galat baku 0,995, nyata pada taraf lima persen.
Cakupan wilayah memperoleh minus 1,751 dan tidak nyata, sehingga beroperasi nasional atau lintas negara tidak membedakan minat investor.
Empat peubah kendali tidak satu pun nyata: besar aset, imbal hasil aset, imbal hasil ekuitas, dan risiko gagal bayar.
Daya jelas model penuh 0,259, sedangkan model yang hanya memakai umur platform sudah mencapai 0,170.
Tiga model tunggal lainnya jauh lebih rendah: 0,063 untuk pinjaman beredar, 0,040 untuk label syariah, dan 0,050 untuk cakupan wilayah.
Artinya umur platform adalah satu-satunya ciri yang sendirian sudah menjelaskan sebagian besar sebaran investor.
Baca juga Uang Elektronik Menaikkan PDRB per Kapita, Dana BPR Tidak
Platform Menengah yang Justru Ditinggalkan
Tangga umur platform naik rapi, tetapi tangga ukuran aset tidak.
Platform kelompok awal berumur rata-rata enam tahun dan menarik 2.331 investor.
Kelompok tumbuh berumur delapan tahun dan menarik 10.417 investor.
Kelompok matang berumur sembilan sampai 25 tahun dan menarik 73.604 investor.
Susunan menurut aset berjalan lain. Platform kecil beraset rata-rata Rp2,55 miliar menarik 1.275 investor.
Platform menengah beraset rata-rata Rp1.410 miliar hanya menarik 544 investor, lebih sedikit daripada platform kecil.
Platform besar beraset rata-rata Rp4.900 miliar menarik 60.216 investor.
Penulisnya membaca pola itu sebagai hubungan tak lurus, dengan ambang tertentu yang harus dilewati sebelum investor berdatangan.
Kejanggalannya tetap tinggal: aset kelompok menengah Rp1.410 miliar berbanding Rp2,55 miliar, sedangkan investornya 544 berbanding 1.275.
Naskahnya tidak menjelaskan dari mana pembalikan itu datang.

Label Syariah pada Enam Platform
Koefisien terbesar di seluruh model justru dipegang peubah yang paling jarang muncul.
Label syariah memperoleh 2,578, sedangkan umur platform 0,515 dan pinjaman beredar 0,234.
Namun label itu hanya melekat pada 7 persen sampel, atau sekitar enam platform dari 85.
Penulisnya membacanya sebagai tanda naiknya permintaan terhadap instrumen investasi yang bernilai etis dan berbasis keyakinan.
Cakupan wilayah bernasib sebaliknya, dan alasannya mirip: 96 persen platform berada pada satu kategori yang sama.
Dengan sebaran seperti itu, perbedaan antara nasional dan lintas negara hanya diwakili segelintir platform.
Angka minus 1,751 pada cakupan wilayah karena itu dibaca dengan hati-hati, dan penulisnya sendiri tidak menonjolkannya.
Angka yang Bertabrakan di Dalam Naskahnya
Empat hal perlu dipegang pembaca sebelum angka-angka itu dibawa ke luar naskahnya.
Pertama, dua tabel memberi ukuran aset yang berbeda seratus kali lipat.
Tabel ringkasan mencatat aset terbesar Rp733.000 juta, yaitu Rp733 miliar.
Tabel golongan aset mencatat batas atas kelompok besar Rp73.300 miliar, yaitu Rp73,3 triliun.
Naskahnya tidak menyebut satu pun keterangan yang mendamaikan kedua angka itu.
Kedua, ukuran risiko gagal bayar dijelaskan dua kali dengan arti yang berlawanan.
Tabel definisi menulis peubah itu sebagai persentase pinjaman yang menunggak lebih dari 90 hari.
Badan naskah membaca nilai rata-ratanya, 0,95, sebagai 95 persen kewajiban yang dibayar tepat waktu.
Kedua bacaan itu tidak bisa benar bersamaan, dan selisihnya bukan hal kecil bagi pembaca yang menaruh uang.
Ketiga, jumlah platform berizin ditulis 96 di bagian pendahuluan dan 95 di bagian metode.
Selisih satu memang kecil, tetapi keduanya berada di naskah yang sama tanpa keterangan.
Keempat, dua peubah kendali berpindah status ketika susunan modelnya berubah.
Imbal hasil ekuitas nyata pada tiga dari empat model tunggal, tetapi berhenti nyata pada model penuh.
Risiko gagal bayar bahkan nyata dan bertanda minus pada dua model tunggal, dengan koefisien minus 3,039 dan minus 3,982.
Pada model penuh angkanya menyusut menjadi minus 0,116 dan kehilangan kenyataannya.
Naskahnya membahas keempat peubah utama satu per satu, tetapi tidak menyinggung perpindahan status kedua peubah kendali itu.
Baca juga Intensitas AI Generatif Tak Menaikkan Produktivitas UMKM
Dua Sisi yang Belum Selesai Dijelaskan
Dari sisi platform, temuan ini mudah dipakai. Umur, skala pinjaman, dan label syariah terbukti mendatangkan investor.
Dari sisi investor, temuan yang sama justru menimbulkan pertanyaan.
Tidak satu pun ukuran keuangan yang biasa dipakai menilai perusahaan terbaca nyata di dalam model.
Imbal hasil aset memperoleh minus 0,391, imbal hasil ekuitas 0,026, dan risiko gagal bayar minus 0,116.
Ketiganya tidak nyata, sehingga sebaran investor tidak terbaca mengikuti untung rugi maupun risiko platformnya.
Penulisnya menyarankan pengelola platform memperkuat kredibilitas, memperbesar skala penyaluran, dan memanfaatkan posisi syariah.
Kepada Otoritas Jasa Keuangan, ia menyarankan penguatan keterbukaan dan kestabilan industri.
Yang belum terjawab adalah apakah investor memang tidak menimbang risiko, atau angka risikonya yang belum terbaca dengan benar.
Baca juga UMKM Sasirangan Banjarmasin dan Panah Regresi yang Terbalik















