- Empat kerapatan bolus diuji pada rencana radioterapi lima pasien kanker payudara di RS Unand.
- Campuran lilin lebah dan petroleum jelly mencatat conformity index tertinggi sekaligus sebaran dosis paling merata.
- Pasien berinisial M menerima 12 persen volume jantung pada 2.500 cGy, melewati ambang QUANTEC.
- Seluruh pekerjaannya berupa simulasi, sehingga bolus tidak pernah benar-benar ditaruh di atas kulit pasien.
- Bagian hasil menyebut conformity index 0,93 sampai 0,98, sedangkan simpulannya menulis rentang 0 sampai 1.
Cekricek.id — Berkas elektron yang dipakai menyinari kanker payudara justru melewatkan permukaan kulit. Dosis terbesarnya jatuh di bawah permukaan, bukan di atasnya.
Sifat itu punya nama, yaitu efek hemat kulit. Untuk kanker di permukaan, sifat itu justru menjadi persoalan.
Cara mengakalinya dengan menaruh bahan tambahan di atas kulit. Bahan itu disebut bolus, dan tugasnya menipu berkas agar dosisnya naik ke permukaan.
Empat kerapatan bolus diuji pada rencana radioterapi lima pasien kanker payudara. Pengujiannya dikerjakan tiga peneliti di Padang.
Mereka Dini Asetiyo dan Dian Milvita dari Departemen Fisika Universitas Andalas. Satu lagi Muhammad Ilyas dari Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Universitas Andalas.
Milvita penulis korespondensinya. Tulisan mereka berjudul Analysis of Breast Cancer Radiation Dose Distribution Using Bolus Density in 3DCRT Technique Radiotherapy Planning at Andalas University Hospital.
Naskahnya terbit di Jurnal Ilmu Fisika Volume 18 Nomor 1 edisi Maret 2026, halaman 45 sampai 54. Diterima 19 September 2025 dan tayang daring 11 Februari 2026.
Daftar Isi
Mengapa Berkas Elektron Melewatkan Kulit
Radioterapi bekerja dengan mengantarkan dosis terkendali ke daerah yang sakit. Pada saat yang sama paparan pada jaringan sehat di sekitarnya ditekan.
Untuk kanker permukaan seperti kanker payudara, berkas elektron sering dipakai. Alasannya berkas itu sanggup memberi dosis yang merata di permukaan.
Persoalannya ada pada batas bawaan berkas itu. Efek hemat kulit membuat dosis di permukaan sering kurang dari yang dibutuhkan.
Karena itu bolus diperlukan. Bahan itu ditaruh di kulit untuk menaikkan dosis permukaan sekaligus meratakan sebarannya.
Cara kerjanya menyerupai jaringan tubuh. Bolus yang sifatnya mendekati jaringan membuat berkas berperilaku seolah sudah masuk ke tubuh sebelum menyentuh kulit.
Yang membuatnya rumit, permukaan tubuh tidak rata. Bolus juga bertugas menutup ketidakrataan itu agar dosisnya tidak timpang.
Kanker payudara sendiri penyumbang kematian akibat kanker terbesar di Indonesia. Naskah ini mencatat 70.219 kasus dari total 433.966 kasus kanker.
Cara menanganinya bermacam-macam. Ada pembedahan, kemoterapi, terapi penghambat hormon, dan radioterapi.
Radioterapi menonjol karena sasarannya terarah. Ia dinilai efektif menahan perkembangan kanker tanpa menyentuh terlalu banyak jaringan sehat.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Empat Bahan yang Dicoba di Atas Kulit
Bahan bolus yang dipakai empat macam. Nilai kerapatan keempatnya diambil dari hasil penelitian terdahulu, bukan diukur ulang.
Yang pertama campuran lilin lebah dan petroleum jelly. Yang kedua playdough, adonan mainan anak yang di Indonesia mudah didapat.
Yang ketiga silicone rubber, karet silikon. Yang keempat asam polilaktat cetak tiga dimensi, bahan yang lazim dipakai pada pencetakan 3D.
Bahan bolus yang pernah diuji orang sebenarnya panjang daftarnya. Naskah ini menyebut plastisin, play-doh, alginat, superflab, karet alam, dan bolus maya.
Sifat fisik tiap bahan menentukan hasilnya. Bahan yang kerapatannya mendekati air dan jaringan otot dinilai paling pas untuk sebaran dosis.
Pencetakan tiga dimensi menambah satu kemungkinan. Bentuk dan kerapatan bolus bisa disesuaikan dengan anatomi tiap pasien.
Nilai kerapatan yang dimasukkan ke perangkat lunak berbeda-beda. Campuran lilin lebah dan petroleum jelly minus 103, silicone rubber minus 169, dan asam polilaktat minus 10.
Playdough berdiri sendiri dengan 1.200. Naskah ini tidak menyebut satuan keempat angka tersebut.
Tebal keempatnya disamakan, yaitu 1 sentimeter. Penyamaan itu dimaksudkan agar sebaran dosisnya bisa dibandingkan.
Di Indonesia, bolus plastisin paling banyak dipakai karena murah dan mudah didapat. Naskah ini menyebut hasilnya belum tentu yang terbaik.
Pembandingnya bolus maya dan bolus cetak tiga dimensi. Keduanya disebut memberi nilai kerataan dan cakupan dosis yang lebih baik.
Bolus dipakai terutama setelah mastektomi. Dosis pada kulit dan dinding dada bergantung pada seberapa sering bolus itu dipasang.
Cara Sebuah Rencana Dinilai
Citra kelima pasien diambil lewat CT-Simulator. Volume sasaran dan organ berisiko lalu digambar mengikuti pedoman ICRU Report 62.
Perencanaannya memakai perangkat lunak Eclipse dengan teknik 3DCRT. Dosis yang diresepkan 200 cGy per fraksi selama 25 fraksi, total 5.000 cGy.
Penataan lapangan penyinarannya lima konfigurasi. Sudutnya disesuaikan dengan letak dan arah volume sasaran.
Perencanaannya memakai cara terbalik. Dosis, jumlah fraksi, lapangan penyinaran, dan sudut gantri disetel lewat proses optimasi berulang.
Parameternya tidak ditentukan sepihak. Naskah ini menyebut penentuannya melibatkan tim peneliti, fisikawan medis, dan dokter onkologi radiasi di rumah sakit tersebut.
Hasilnya dibaca lewat kurva histogram dosis-volume. Kurva itu memperlihatkan berapa dosis yang diterima sasaran dan organ sehat pada tiap bagian volumenya.
Dari kurva itu ditarik dua angka. Conformity index mengukur seberapa tepat dosis resep menyelimuti volume sasaran.
Nilai idealnya 1. Makin dekat ke satu, makin rapat dosis itu mengikuti bentuk sasarannya.
Hitungannya perbandingan dua volume. Volume sasaran yang menerima 95 persen dosis resep dibagi seluruh volume sasaran.
Angka kedua homogeneity index, yang mengukur kemerataan dosis di dalam sasaran. Nilai idealnya justru 0.
Hitungannya memakai tiga titik pada kurva. Dosis yang menutupi 2 persen volume dikurangi dosis yang menutupi 98 persen, lalu dibagi dosis pada 50 persen volume.
Pada kurva itu, garis biru menandai volume sasaran. Garis hijau dan ungu menandai organ berisiko, yaitu paru dan jantung.
Keduanya bukan ukuran yang sama. Yang satu soal bentuk, yang lain soal rata atau tidaknya.
Ketika Jantung Berada Terlalu Dekat
Nilai conformity index kelima pasien berkisar 0,93 sampai 0,98. Seluruhnya dinilai memenuhi standar ICRU Report 62.
Yang terendah pada pasien berinisial S. Sebabnya sasaran kankernya dekat dengan organ berisiko, sehingga dosisnya harus ditahan.
Di antara empat bahan, campuran lilin lebah dan petroleum jelly mencatat conformity index tertinggi. Silicone rubber dan asam polilaktat mengungguli playdough.
Alasannya dikaitkan dengan kedekatan sifat bahan pada jaringan tubuh. Bahan yang menyerupai jaringan membuat dosis lebih tepat sampai ke sasaran.
Nilai homogeneity index kelima pasien mendekati nol. Campuran lilin lebah dan petroleum jelly kembali yang paling merata.
Organ berisiko yang dinilai dua, yaitu jantung dan paru. Ambangnya memakai standar QUANTEC.
Untuk jantung, batasnya hanya 10 persen volume yang boleh menerima 2.500 cGy. Empat pasien aman, tiga di antaranya bahkan nol persen.
Satu pasien melewati ambang itu. Pasien berinisial M menerima 12 persen, dan pasien berinisial WMF 5 persen.
Penyebabnya letak. Sasaran kanker pasien M berada dekat jantung, sehingga paparan sulit ditekan.
Pemakaian bolus sendiri disebut ikut menolong jantung. Dosis yang menempel di sasaran menjadi lebih rapat, sehingga paparan ke organ sekitarnya bisa ditekan.
Untuk paru, batasnya 30 sampai 35 persen volume yang boleh menerima 2.000 cGy. Tidak ada pasien yang melewatinya.
Angkanya 27 persen pada dua pasien, 29 persen pada satu pasien, dan 33 persen pada dua pasien. Seluruhnya masih di bawah ambang.
Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit
Yang Belum Dijawab Empat Kerapatan
Simpulan naskah ini menyatakan keempat kerapatan bolus dapat dipakai pada pasien kanker payudara. Sebaran dosisnya dinilai optimal pada sasaran.
Ada satu ganjalan di bagian itu. Bagian hasil menyebut rentang conformity index 0,93 sampai 0,98, sedangkan simpulannya menulis rentang 0 sampai 1.
Ganjalan kedua ada di tabel paru. Kepala kolom ambangnya masih tertulis sebagai ambang dosis jantung, bukan paru.
Batas kajiannya sendiri disebut apa adanya. Yang diolah lima rekam medis, dan seluruh pekerjaannya berupa simulasi di perangkat lunak perencanaan.
Artinya bolus itu tidak pernah benar-benar ditaruh di atas kulit pasien. Yang dibandingkan nilai kerapatannya di dalam rencana.
Frekuensi pemakaian bolus juga tidak diuji di sini. Naskah ini hanya mencatat bahwa memasang bolus sepanjang perencanaan bisa membuat dosis permukaan berlebihan.
Baca juga Salah Paham Gizi Ibu Hamil: Protein Saja Tak Cukup
Kembali ke soal awal. Efek hemat kulit memang bisa ditambal dengan bolus, dan keempat bahan sama-sama sanggup melakukannya di atas kertas.
Yang belum terjawab adalah bahan mana yang bertahan di ruang penyinaran sungguhan. Naskah ini berhenti pada rencana, bukan pada 25 kali penyinaran yang dijalani pasien.















