- Satu pohon aren di Talamau mengalirkan 37 liter nira sehari, pohon lain hanya 6 liter.
- Empat belas pohon yang diukur seluruhnya tumbuh liar, bukan hasil budi daya.
- TLM8 yang niranya paling sedikit justru mencatat kadar gula tertinggi, 14,1 derajat Brix.
- Analisis klaster memisahkan 14 aksesi menjadi dua kelompok berdasarkan permukaan dan warna ijuk.
- Badan naskah menyebut lingkar 231 sentimeter milik TLM4, sedangkan tabelnya mencatatnya pada TLM3.
Cekricek.id — Satu pohon aren di Talamau mengalirkan 37 liter nira sehari. Pohon lain di kecamatan yang sama hanya 6 liter.
Selisih itu terukur pada 14 pohon. Semuanya tumbuh liar, bukan hasil budi daya.
Yang mengukurnya tiga peneliti Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Mereka Exel Valentino Zebua, Aswaldi Anwar, dan Armansyah.
Anwar penulis korespondensinya. Tulisan mereka berjudul Karakterisasi Morfologis Pohon Aren (Arenga pinnata Merr.) di Kecamatan Talamau, Pasaman Barat.
Naskahnya terbit di Jagur: Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 2 edisi Oktober 2025, halaman 104 sampai 111. Penerbitnya Universitas Andalas.
Riwayatnya pendek. Diterima 20 Mei 2025, disetujui 28 Agustus 2025, terbit 5 Oktober 2025.
Aren tergolong hasil hutan bukan kayu. Hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan.
Produk utamanya nira. Cairan itu diambil dengan menyadap tandan bunga jantan.
Olahannya banyak. Gula cetak, gula semut, gula cair, sirup, palm wine, sampai bioetanol.
Meski begitu, aren belum dibudidayakan besar-besaran. Sebabnya masa sampai berbunga terlalu lama.
Pemuliaannya dimulai dari pencarian plasma nutfah unggul. Cirinya tandan jantan banyak, tandan panjang, nira tinggi, dan kandungan gula tinggi.
Daftar Isi
Empat Belas Pohon
Penelitiannya berlangsung Mei sampai Juli 2024. Lokasinya Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.
Talamau penghasil aren tertinggi di Pasaman Barat. Produksinya 117 ton pada 2023 di lahan seluas 77 hektare.
Petani di sana masih memanfaatkan aren liar di hutan. Potensi produksinya karena itu tidak menentu.
Metodenya survei dengan penyajian deskriptif. Contohnya diambil secara sengaja, lalu dilanjutkan secara berantai karena data populasi pohon tidak ada.
Syaratnya dua. Pohon sudah masuk fase generatif dan sedang disadap petani.
Yang teridentifikasi 14 pohon, seluruhnya aren tipe dalam. Sebarannya di lima nagari: Talu, Sinuruik, Tabek Sirah, Sungai Janiah, dan Kajai Selatan.
Alatnya sederhana. Penggaris, meteran, timbangan digital, GPS, jangka sorong, dan hand refractometer.
Karakter yang diamati 24 macam. Mulai dari permukaan batang sampai kadar gula terlarut pada nira.
Koordinat tiap pohon dicatat dengan GPS. Karakternya diamati, diukur, lalu didokumentasikan.
Pasaman Barat sendiri sudah menghasilkan olahan aren. Produknya gula cetak, gula semut, dan kolang-kaling.
Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Tinggi dan Lingkar
Tinggi rata-ratanya 20 meter. Yang tertinggi TLM4 dengan 36 meter, yang terendah TLM3 dengan 14,3 meter.
Lingkar batang terbesar 231 sentimeter. Yang terkecil TLM12 dengan 122 sentimeter.
Ada satu ganjalan di sini. Badan naskah menyebut lingkar 231 sentimeter itu milik TLM4, sedangkan tabelnya mencatatnya pada TLM3.
Tinggi bukan sekadar angka. Pada aren tipe dalam, makin tinggi pohonnya makin banyak tandan jantan yang berpotensi muncul.
Masa produktifnya ikut memanjang. Potensi nira yang dihasilkan pohon itu pun ikut naik.
Sebaran tingginya sendiri lebar. Selisih pohon tertinggi dan terendah lebih dari 21 meter.
Lingkar batangnya juga begitu. Selisih terbesar dan terkecil mencapai 109 sentimeter.
Daun dan Tandan
Panjang pelepah daunnya 8 sampai 9,2 meter. Panjang tangkainya 1,3 sampai 1,7 meter, panjang rachisnya 6,4 sampai 7,8 meter.
Jumlah anak daun terbanyak pada TLM4, yaitu 355 helai. Rata-rata seluruh aksesi 314,71 helai.
Jumlah anak daun menandai potensi fotosintesis. Makin banyak anak daun, makin luas permukaan yang menangkap cahaya matahari.
Anak daun terpanjang dan terlebar juga di TLM4. Panjangnya 166 sentimeter dan lebarnya 11,5 sentimeter.
Tandan bunga jantan berkisar 2 sampai 11 per pohon. Tandan bunga betinanya 3 sampai 7 per pohon.
TLM1 punya tandan jantan terbanyak, 11 tandan. Tandan betinanya hanya 5, lebih sedikit daripada TLM2, TLM3, dan TLM9 yang punya 7.
TLM2, TLM13, dan TLM14 paling sedikit, masing-masing 2 tandan jantan. Namun jarak antartandan TLM13 dan TLM14 kecil, yaitu 47 dan 49 sentimeter.
Jarak antartandan terbesar di TLM1, yaitu 97 sentimeter. Jarak itu dipakai memperkirakan berapa tandan lagi yang akan muncul sampai pohon berhenti berproduksi.
Jumlah tandan menandai potensi produksi sepanjang hidup pohon. Makin banyak tandan jantan, makin banyak nira yang bisa dihasilkan.
Hitungannya dimulai sejak pohon pertama kali berbunga. Tandan jantan yang sudah habis disadap ikut dihitung.
Buah dan Biji
Lima pohon tidak ikut diamati buahnya. TLM4, TLM5, TLM6, TLM12, dan TLM13 buahnya masih terlalu muda atau baru dipanen.
Buah terbesar di TLM11. Diameternya 50,3 milimeter dengan bobot 74,69 gram.
Bijinya juga terbesar, yaitu 1,9 sentimeter. Buah terkecil di TLM8 dengan diameter 38,6 milimeter dan bobot 38,29 gram.
Ukuran bijinya seragam dalam rentang sempit, 1,4 sampai 1,9 sentimeter. Jumlah bijinya sama di semua aksesi, yaitu 3 biji per buah.
Selain gen, umur ikut menentukan. Makin tua pohonnya, makin besar volume, diameter, dan bobot kering bijinya.
Warna biji ditentukan endospermnya. Endosperm muda berwarna putih agak bening, yang matang putih pucat.
Artinya satu hal. Bobot buah aren lebih ditentukan daging buahnya daripada bijinya.
Baca juga Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan
Nira dan Gula
Hasil nira tertinggi di TLM1, TLM3, dan TLM2. Berturut-turut 37, 31, dan 23 liter per hari.
Terendah di TLM8 dan TLM9. Masing-masing 6 dan 9 liter per hari.
Rata-rata seluruh aksesi 17,14 liter per hari. Jaraknya ke pohon tertinggi lebih dari dua kali lipat.
Kadar gula terlarutnya berbalik arah. TLM8, yang niranya paling sedikit, justru tertinggi dengan 14,1 derajat Brix.
Di bawahnya TLM11 dengan 13,7 dan TLM4 dengan 13 derajat Brix. Rata-ratanya 12,41 derajat Brix.
Kadar gula tinggi berarti rendemen gulanya lebih tinggi. Nira itu menghasilkan lebih banyak gula ketika diproses.
Delapan karakter dinyatakan beragam luas. Tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah anak daun, panjang anak daun, jarak tandan jantan, diameter buah, bobot buah, dan hasil nira.
Keragaman luas berarti variasinya banyak dan keseragamannya rendah. Justru di situ seleksi tanaman lebih mudah dilakukan.
Tujuh karakter lain beragam sempit. Di antaranya panjang pelepah, jumlah tandan betina, jumlah biji, dan kadar gula terlarut.
Karakter beragam sempit tidak efektif dipakai menyeleksi. Variasinya kecil dan keseragamannya tinggi.
Dua Klaster Ijuk
Karakter kualitatifnya diamati terpisah. Yang dilihat permukaan batang, warna kulit batang, warna biji, bentuk biji, warna ijuk, dan permukaan ijuk.
Permukaan batangnya seragam, semuanya berbekas pelepah daun. Bentuk pelepahnya juga sama, bersegi dengan warna hijau kecokelatan.
Warna kulit batangnya berbeda-beda. Ada abu-abu, cokelat keabuan, dan cokelat gelap.
Warna bijinya hampir seragam. Hanya TLM1 dan TLM9 yang berbiji putih bening, sisanya putih.
Ijuknya yang membelah. Permukaannya terbagi kasar dan halus, warnanya terbagi hitam, hitam kecokelatan, dan cokelat kehitaman.
Analisis klasternya sengaja hanya memakai karakter kualitatif. Alasannya karakter itu lebih dikendalikan gen daripada lingkungan.
Analisis klaster memisahkan 14 aksesi menjadi dua kelompok. Tingkat ketidakmiripannya 0 sampai 35 persen.
Klaster pertama berisi 11 aksesi berijuk kasar. Klaster kedua berisi tiga aksesi berijuk halus, yaitu TLM1, TLM2, dan TLM10.
TLM4 dan TLM5 identik secara morfologi. Ketidakmiripannya nol persen pada seluruh karakter yang dipakai.
TLM11 masuk klaster yang sama dengan ketidakmiripan sekitar 17 persen. Pembedanya warna kulit batang.
TLM12, TLM13, dan TLM14 juga satu kelompok. Selain morfologi, kemiripan lingkungan tumbuhnya ikut berperan.
Koefisien ketidakmiripan yang tinggi menandai kekerabatan yang jauh. Kekerabatan jauh berarti jarak genetiknya tinggi.
Kualitas ijuk menurun ketika pohon masuk usia berbunga. Karena itu warna dan permukaan ijuk bisa dipakai memperkirakan usia pohon.
Calon pohon induk unggulnya tiga. TLM1, TLM2, dan TLM3, dipilih berdasarkan karakter produksi nira.
Keragaman luas itu, kata penulisnya, bisa dipakai sebagai pedoman. Pedomannya untuk memilih calon pohon induk unggul.
Batas kajiannya jelas. Satu kecamatan, 14 pohon, satu musim pengamatan, dan tidak ada uji genetik.
Keragaman luas juga lebih dipengaruhi lingkungan. Naskah ini tidak memisahkan mana pengaruh gen dan mana pengaruh tempat tumbuh.
Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat
Yang belum dijawab naskah ini: berapa banyak dari 37 liter itu yang bertahan setelah pohonnya dipindahkan ke kebun.















