Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit

A A

Daun jagung yang berlubang dan sobek akibat serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda. [Foto: Wee Hong/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Telur ulat grayak di jagung Suwawa diparasit 92,54 persen pada dua minggu setelah tanam.
  • Angkanya turun ke 83,82 persen pada empat minggu, lalu naik lagi ke 92,43 persen.
  • Telenomus sp. selalu lebih banyak daripada Trichogramma sp. di seluruh periode pengamatan.
  • Pemilik ketiga lahan mengaku tidak pernah menyemprot insektisida sama sekali.
  • Kedua tawon hanya dikenali sampai tingkat marga, bukan sampai tingkat jenis.

Cekricek.id — Parasitoid telur adalah tawon sangat kecil yang menaruh telurnya di dalam telur serangga lain. Telur yang ditumpangi itu tidak jadi ulat.

Yang keluar kemudian justru tawon baru. Di lahan jagung Gorontalo, cara kerja itu menyingkirkan sampai 92,54 persen telur ulat grayak.

Angkanya dikumpulkan tiga peneliti Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo. Mereka Angry Pratama Solihin, Silvany Suwatan, dan Indriati Husain.

Solihin penulis utama sekaligus penulis korespondensinya. Dua nama lain tercatat sebagai penulis pendamping.

Tulisannya berjudul High Parasitism of Telenomus and Trichogramma Species on Spodoptera frugiperda Eggs During Maize Vegetative Stage in Gorontalo, Indonesia.

Naskahnya terbit di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman Volume 9 Nomor 1 tahun 2025, halaman 38 sampai 47. Penerbitnya Universitas Andalas.

Riwayatnya rapat. Diterima 24 Januari 2025, direvisi 15 Maret, lalu disetujui dan terbit pada 30 Juni 2025.

Daftar Isi
  1. Parasitoid Telur, Tawon yang Menumpang Bertelur
  2. Tingkat Parasitisasi, Hitungan Telur yang Gagal Menetas
  3. Telenomus dan Trichogramma, Dua Nama yang Tak Sebanding
  4. Fase Vegetatif, Umur Jagung yang Jadi Penentu

Parasitoid Telur, Tawon yang Menumpang Bertelur

Istilah parasitoid sering tertukar dengan parasit. Bedanya begini: parasit membiarkan inangnya tetap hidup, parasitoid menghabiskannya.

Ulat grayak yang dimaksud bernama ilmiah Spodoptera frugiperda. Serangga itu pendatang, bukan asli Indonesia, dan berasal dari daerah tropis benua Amerika.

Catatan pertamanya di Indonesia muncul pada 2019 di Pasaman Barat, Sumatera Barat. Sesudah itu ia menyebar cepat ke banyak daerah lain.

Daya makannya luas sekali. Naskah ini mencatat lebih dari 353 jenis tumbuhan dari 76 famili pernah diserangnya.

Jagung yang paling sering kena, terutama pada fase vegetatif. Produksi jagung nasional di daerah terserang dilaporkan turun.

Kerugiannya juga terhitung di tempat lain. Di Afrika, serangannya diperkirakan menimbulkan kerugian 2,5 sampai 6,3 miliar dolar Amerika sepanjang 2017 saja.

Pengendalian yang lazim memakai insektisida kimia. Akibatnya, ulat grayak kini masuk 15 besar artropoda hama paling kebal di dunia.

Pemakaian berlebihnya berakibat lain lagi. Pencemaran lingkungan, residu pada bahan pangan, matinya makhluk bukan sasaran, dan rusaknya populasi musuh alami.

Karena itu pengendalian hayati mulai dilirik. Cara itu memakai musuh alami berupa pemangsa, parasitoid, atau patogen, dan menjadi tulang punggung pengendalian hama terpadu.

Ada kekhawatiran yang mengiringi hama pendatang. Musuh alami setempat dianggap belum tentu sanggup menekan serangga yang bukan berasal dari sana.

Pengetahuan tentang parasitoid telur di daerah penghasil jagung juga masih tipis. Gorontalo termasuk daerah yang belum banyak diperiksa.

Banyak penelitian sebelumnya berhenti pada pengenalan jenis. Angka parasitisasinya jarang dihitung, apalagi pada fase pertumbuhan yang menentukan.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Tingkat Parasitisasi, Hitungan Telur yang Gagal Menetas

Lokasinya di Desa Huluduotamo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Pengambilan contoh berlangsung Februari sampai April 2021.

Lahan jagung yang dipakai ada tiga dan letaknya berbeda. Ketiganya berada pada ketinggian 78 sampai 105 meter di atas permukaan laut.

Titik koordinat ketiganya dicatat satu per satu di naskah. Metodenya survei dengan pendekatan kualitatif.

Di tiap lahan diambil sepuluh kelompok telur. Tanamannya dipilih acak dalam petak seluas 200 meter persegi, tanpa pola dan tanpa penjenjangan wilayah.

Daun yang memuat kelompok telur digunting seluas sekitar 5 sentimeter persegi. Guntingnya steril, dan potongan daun itu dibawa dalam wadah plastik steril.

Kelompok telur lalu dipindahkan ke botol kaca. Ukurannya berdiameter 1,5 sentimeter dan setinggi 8 sentimeter.

Alasnya tisu yang dibasahi 1 mililiter air steril, supaya kelembapannya terjaga. Mulut botol ditutup kain sifon, diikat karet, lalu diberi label lokasi.

Pengeraman berlangsung sekitar sepekan pada suhu ruang. Tempatnya Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan di fakultas yang sama.

Pembedaannya kasatmata. Telur yang tidak diparasit tetap putih lalu menetas jadi ulat, sedangkan telur yang diparasit menghitam lalu mengeluarkan tawon.

Pengamatan dilakukan setiap hari sampai seluruh telur selesai. Tawon dewasa yang keluar disimpan 24 jam, lalu diawetkan dalam etanol 70 persen.

Jumlah telur per kelompok dihitung dulu di bawah mikroskop binokuler Leica DM1000. Perbesarannya sepuluh kali.

Tingkat parasitisasi dihitung sebagai persentase. Pembilangnya telur yang mengeluarkan tawon dewasa, penyebutnya seluruh telur yang diamati.

Telur Ulat Grayak yang Diparasit di Tiga Umur Jagung2 minggu setelah tanam: Tingkat parasitisasi +92,54%; 4 minggu setelah tanam: Tingkat parasitisasi +83,82%; 6 minggu setelah tanam: Tingkat parasitisasi +92,43%.Telur Ulat Grayak yang Diparasit di Tiga UmurJagungPersentase telur yang menetas menjadi parasitoid, bukan ulat25%50%75%100%02 minggu setelah tanam92,54%4 minggu setelah tanam83,82%6 minggu setelah tanam92,43%Sepuluh kelompok telur diambil di tiap lokasi, dari tiga lahan jagung diKecamatan Suwawa.cekricek.id
Sumber: Solihin, Suwatan & Husain (2025), Jurnal Proteksi Tanaman 9(1): 38–47. Grafik: Cekricek.id

Hasilnya tinggi di ketiga waktu pengamatan. 92,54 persen pada 2 minggu setelah tanam, 83,82 persen pada 4 minggu, dan 92,43 persen pada 6 minggu.

Penulisnya mengaitkan angka setinggi itu dengan satu keadaan lapangan. Pemilik ketiga lahan mengaku tidak pernah menyemprot insektisida sama sekali.

Tawon parasitoid telur dari marga Telenomus dilihat dari dekat dengan sayap terbentang
Tawon parasitoid telur dari marga Telenomus dilihat dari dekat. [Foto: Benjamin Smith/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Telenomus dan Trichogramma, Dua Nama yang Tak Sebanding

Dua jenis tawon keluar dari kelompok telur yang dieramkan. Keduanya hanya dikenali sampai tingkat marga, memakai kunci identifikasi serangga baku.

Ciri yang dipakai empat macam. Warna tubuh, rangka sayap, susunan sungut, dan ukuran badan.

Yang pertama Telenomus sp., anggota suku Platygastridae. Tubuhnya hitam metalik dengan panjang satu sampai dua milimeter.

Sungutnya bersiku dan menggantung ke bawah. Ujungnya menggada dengan sembilan sampai sepuluh ruas cambuk.

Sayapnya dua pasang, dan sayap depannya bening serta lebih besar daripada sayap belakang. Tungkainya berduri sepasang di bagian ujung.

Yang kedua Trichogramma sp., anggota suku Trichogrammatidae. Tubuhnya lunak, berwarna kuning oranye, dan panjangnya kurang dari satu milimeter.

Sungutnya lebih pendek daripada gabungan kepala dan mesosoma. Tarsusnya hanya tiga ruas, sedangkan kedua pasang sayapnya berbulu lebat.

Dua Parasitoid yang Keluar dari Satu Kelompok Telur2 minggu setelah tanam: Telenomus sp. +62,2, Trichogramma sp. +5,7; 4 minggu setelah tanam: Telenomus sp. +51,9, Trichogramma sp. +4,3; 6 minggu setelah tanam: Telenomus sp. +36,1, Trichogramma sp. +6,5.Dua Parasitoid yang Keluar dari Satu KelompokTelurRata-rata jumlah individu per kelompok telurTelenomus sp.Trichogramma sp.20406002 minggu setelah tanam62,25,74 minggu setelah tanam51,94,36 minggu setelah tanam36,16,5Telenomus sp. lebih banyak pada seluruh periode pengamatan.cekricek.id
Sumber: Solihin, Suwatan & Husain (2025), Jurnal Proteksi Tanaman 9(1): 38–47. Grafik: Cekricek.id

Jumlah individu yang keluar jauh berbeda. Pada 2 minggu setelah tanam, rata-rata 62,2 ekor Telenomus berbanding 5,7 ekor Trichogramma.

Pada 4 minggu angkanya 51,9 berbanding 4,3. Pada 6 minggu turun lagi menjadi 36,1 berbanding 6,5.

Telenomus menurun terus di sepanjang pengamatan. Trichogramma naik sedikit di pengamatan terakhir, tetapi urutannya tidak pernah berbalik.

Sebagian besar kelompok telur hanya diparasit Telenomus. Hanya sebagian kecil yang diparasit jenis lain.

Penulisnya menyebut dua alasan dominasi itu. Telenomus lebih cepat menemukan dan menusuk telur, sehingga sekali jalan ia mendapat lebih banyak.

Alasan kedua soal ukuran badan. Kelompok telur ulat grayak bersusun dan berselimut sisik, dan Trichogramma yang lebih kecil hanya sampai di tepinya.

Telenomus disebut peka terhadap sisik penutup kelompok telur itu. Kepekaan tersebut memudahkannya menemukan sasaran lebih dulu.

Kedua marga itu sendiri bukan nama asing di Indonesia. Naskah ini menyebut keduanya lazim ditemukan memarasit telur ulat grayak di berbagai daerah.

Baca juga Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan

Fase Vegetatif, Umur Jagung yang Jadi Penentu

Seluruh pengambilan contoh sengaja dibatasi pada fase vegetatif. Waktunya 2, 4, dan 6 minggu setelah tanam, yaitu masa sebelum jagung berbunga.

Alasannya soal urutan kerusakan. Telur menetas menjadi ulat, dan ulat itulah yang memakan daun.

Kalau telur sudah habis diparasit lebih dulu, ledakan ulat tidak sempat terjadi. Kerusakan berhenti sebelum sempat dimulai.

Karena itu penulisnya menyimpulkan satu hal. Penyemprotan insektisida pada awal pertumbuhan jagung tidak diperlukan di lokasi tersebut.

Bedanya begini dengan anjuran umum. Yang dijaga bukan tanamannya, melainkan tawon yang sedang bekerja di atasnya.

Parasitoid telur ditempatkan sebagai agen hayati yang paling menentukan. Ia bekerja sebelum hama masuk ke fase yang benar-benar merusak.

Naskah ini juga mencatat naik turunnya angka parasitisasi. Kepadatan populasi inang, ketersediaan telur, dan cara bertani disebut sebagai penyebabnya.

Kepadatan kelompok telur di ketiga lokasi tergolong tinggi selama penelitian. Keadaan itu dinilai ikut menopang angka parasitisasi yang besar.

Batas temuannya perlu disebut. Lokasinya satu kecamatan, tiga lahan, dan satu musim tanam pada Februari sampai April 2021.

Kedua tawon juga hanya dikenali sampai marga, bukan sampai jenis. Nama pastinya belum ditetapkan dalam naskah ini.

Penyemprotan sendiri dicatat menurunkan dua hal sekaligus. Angka parasitisasinya turun, dan daya hidup tawon yang memarasit telur ikut turun.

Kesimpulan akhirnya satu kalimat. Parasitoid telur setempat sudah bekerja sendiri di lapangan dan perlu dijaga lewat pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Angka setinggi itu pun terukur di lahan tanpa insektisida. Di lahan yang rutin disemprot, naskah ini tidak menguji apa pun.

Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam

Yang belum tercakup istilah parasitisasi adalah hasil panennya. Naskah ini menghitung telur yang gagal menetas, bukan tongkol jagung yang selamat.

Bagikan

Baca Juga

Subsidi Pupuk Menaikkan Produksi Padi, Bukan Laba Petani
Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
24 Isolat Jamur Endofit Nanas Riau, Tujuh yang Mematikan
Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun
Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas
Kesesuaian Lahan Alpukat Taeh Bukik dan Kelas N yang Janggal