Cekricek.id — Buah cabai yang mulus di luar belum tentu utuh di dalam. Larva lalat buah makan dari dalam, dan kerusakannya baru ketahuan ketika buahnya dibelah.
Kerugiannya sama sekali tidak kecil. Kajian terdahulu yang dikutip peneliti menyebut produktivitas cabai bisa turun 30 sampai 90,1 persen karena serangan itu.
Sebuah survei lapangan mencoba memetakan persoalan itu di Sumatera Barat. Yang dihitung bukan hanya jenis lalatnya, melainkan juga varietas cabai mana yang paling sering diserang.
Hasilnya cukup tegas dan mudah dibaca. Satu spesies menguasai hampir seluruh tangkapan, dan satu varietas lokal konsisten paling jarang terserang.
Penelitinya Nguyen Phuoc Sang bersama Novri Nelly, Reflinaldon, dan Hidrayani. Ketiga nama terakhir berasal dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang.
Penulis pertamanya berasal dari An Giang University di Vietnam. Ia sedang menempuh program doktor ilmu pertanian di Universitas Andalas, Padang.
Laporannya berjudul Host Susceptibility Patterns of Local Chili Varieties to Bactrocera spp. in West Sumatra. Naskahnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Artikel itu dimuat Jurnal Proteksi Tanaman Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 27 sampai 41. Penerbitnya Universitas Andalas.
Naskahnya diterima pada 7 Januari 2026 dan direvisi pada 24 Januari. Persetujuannya baru keluar 29 Mei, lalu terbit pada 15 Juni 2026.
Daftar Isi
Tiga Puluh Tiga Lahan di Empat Kabupaten
Surveinya berlangsung sejak Juli 2024 sampai Maret 2025. Lokasinya empat kabupaten yang menjadi sentra cabai merah di Sumatera Barat.
Keempatnya Agam, Solok, Tanah Datar, dan Padang Pariaman. Seluruhnya mencakup 33 lahan cabai yang ditanami varietas lokal.
Sebaran lahannya tidak sama rata antarkabupaten. Agam menyumbang 12 lahan, Tanah Datar 9 lahan, Padang Pariaman 7 lahan, dan Solok 5 lahan.
Ketinggian lahannya sangat beragam, dari pesisir sampai dataran tinggi. Rentangnya 15 sampai 1.571 meter di atas permukaan laut.
Pemilihan lahannya memakai tiga syarat yang tegas. Satu lahan hanya boleh ditanami satu varietas, luasnya lebih dari 400 meter persegi, dan tanamannya sudah berbuah.
Alasan syarat terakhir cukup praktis di lapangan. Serangan lalat buah paling terlihat justru pada masa buah sedang berkembang.
Botol Bekas dan Umpan Metil Eugenol
Perangkap yang dipakai bernama Lynfield modifikasi. Bahannya botol plastik daur ulang, bukan alat pabrikan yang harganya mahal.
Tiap perangkap dilubangi di empat sisi sebagai pintu masuk. Diameter lubangnya enam sampai delapan milimeter, cukup untuk dilewati lalat.
Perangkapnya digantung sekitar satu setengah meter di atas permukaan tanah. Letaknya tepat di tengah petak pengamatan tiap lahan.
Umpannya metil eugenol sebanyak 1,5 mililiter, diteteskan pada sumbu kapas. Perangkapnya dioperasikan pada siang hari saja, yakni pukul 07.00 sampai 19.00.
Lalat yang tertangkap diawetkan dalam etanol berkadar 70 persen. Identifikasinya memakai kunci taksonomi baku berdasarkan ciri dada, sayap, dan perutnya.
Ketiga spesies dibedakan dari tanda tubuhnya. Bactrocera dorsalis bersayap bening dengan pita tepi yang tegas, sedangkan Bactrocera umbrosa bersayap dengan pita gelap melintang yang lebar.
Bactrocera carambolae bentuknya mirip dengan Bactrocera dorsalis. Pembedanya terletak pada corak perut dan tanda pada sayapnya.
Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun
Sepuluh Tanaman, Seratus Buah, Tiap Lahan
Serangan diukur langsung di lapangan, bukan di laboratorium. Peneliti memilih sepuluh tanaman dan seratus buah secara acak di tiap lahan.
Pengambilannya memakai pola diagonal berbentuk persegi panjang. Cara itu dipakai agar titik amatannya tersebar merata di seluruh petak.
Buahnya dinilai dari gejala di permukaan lebih dulu. Sesudah itu tiap buah dibelah untuk memastikan ada tidaknya larva di dalamnya.
Jumlah totalnya cukup besar untuk survei semacam ini. Seluruhnya 330 tanaman dan 3.330 buah yang diperiksa satu per satu.
Keragaman jenisnya dihitung dengan tiga indeks sekaligus. Yakni indeks keragaman Shannon-Wiener, indeks dominansi Simpson, dan indeks kemerataan Pielou.
Perbedaan antarvarietas diuji dengan cara nonparametrik. Pilihannya uji Kruskal-Wallis, lalu dilanjutkan dengan uji pembanding ganda Dunn.
Pola serangannya juga dipetakan secara peubah ganda. Peneliti memakai analisis komponen utama dan pengelompokan, diolah dengan perangkat lunak R versi 4.4.3.
Pemakaian uji nonparametrik itu ada sebabnya sendiri. Data serangannya tidak memenuhi syarat kenormalan dan kehomogenan ragam ketika diuji lebih dulu.
Satu Spesies Menguasai 98,9 Persen
Tiga spesies lalat buah tercatat di lahan-lahan cabai itu. Ketiganya adalah Bactrocera dorsalis, Bactrocera carambolae, dan Bactrocera umbrosa.
Perbandingan jumlahnya sangat timpang. Dari 2.448 ekor yang tertangkap sepanjang survei, sebanyak 2.417 ekor adalah Bactrocera dorsalis.
Angka itu setara 98,9 persen dari seluruh tangkapan. Sisanya Bactrocera carambolae sebanyak 22 ekor dan Bactrocera umbrosa hanya 9 ekor.
Sebaran tangkapannya juga berbeda antarkabupaten. Solok terbanyak dengan 1.090 ekor, disusul Tanah Datar 678 ekor, Agam 469 ekor, dan Padang Pariaman 211 ekor.
Ada pula titik yang jauh di atas rata-rata. Beberapa lokasi di Solok mencatat lebih dari 452 ekor hanya dalam satu perangkap.
Menurut peneliti, perbedaan jumlah tangkapan antarwilayah itu lazim di daerah tropis. Ketinggian, suhu, curah hujan, dan ketersediaan tanaman inang sama-sama ikut menentukan.
Dominasi sebesar itu menekan angka keragaman jenisnya. Nilai indeks Shannon di keempat kabupaten seluruhnya berada di bawah 0,10.
Menurut peneliti, keragaman serendah itu lazim pada ekosistem pertanian yang sederhana. Beberapa jenis hama yang paling kompetitif akhirnya menguasai relung yang tersedia.
Agam paling beragam dengan indeks 0,095, disusul Tanah Datar dengan 0,077. Padang Pariaman 0,054 dan Solok 0,052 berada di urutan bawah.
Indeks kemerataannya mengikuti pola yang sama persis. Agam tertinggi pada angka 0,137, sedangkan Solok terendah pada angka 0,075.
Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Kuhay Paling Jarang Terserang
Lima varietas cabai lokal dibandingkan dalam survei ini. Kelimanya bernama Aka, Kuhay, Keriting Bukittinggi, Kopay, dan Rawit.
Perbedaannya nyata pada ketiga ukuran serangan yang dipakai. Serangan pada tingkat tanaman berbeda nyata dengan nilai p 0,005.
Serangan pada tingkat buah juga berbeda nyata, dengan nilai p 0,030. Intensitas serangannya menyusul dengan nilai p sebesar 0,032.
Kuhay konsisten berada di posisi paling rendah pada ketiganya. Serangan tanamannya 21,7 persen, jauh di bawah varietas lainnya.
Serangan buahnya hanya 0,5 persen dengan simpangan 0,2 persen. Intensitas serangannya pun paling rendah, yaitu 0,005 dengan simpangan 0,002.
Keriting Bukittinggi, Aka, dan Rawit berada di kelompok yang lebih tinggi. Kopay juga tercatat tinggi, terutama pada angka serangan buahnya.
Rawit menempati posisi di tengah-tengah. Ia tidak berbeda nyata dari kelompok tertinggi maupun dari kelompok terendah.
Intensitas serangan dihitung sebagai perbandingan buah terserang terhadap seluruh buah yang diamati. Ukuran itu dipakai agar perbandingan antarvarietas tidak bias oleh jumlah buah.
Analisis komponen utama memperkuat gambaran tersebut. Komponen pertamanya menjelaskan 86,65 persen keragaman, sedangkan komponen keduanya 13,35 persen.
Pengelompokannya membentuk tiga kumpulan. Aka, Keriting Bukittinggi, dan Rawit satu kelompok, sedangkan Kuhay dan Kopay berdiri sendiri-sendiri.
Letak Kuhay pada peta pengelompokan itu pun konsisten. Ia berada di sisi negatif kedua komponen, sejalan dengan angka serangannya yang paling rendah.
Solok Paling Parah, Padang Pariaman Paling Ringan
Serangan juga berbeda tajam antarwilayah. Solok mencatat angka tertinggi, yakni 88,00 persen tanaman dan 6,64 persen buah terserang.
Padang Pariaman tercatat paling ringan di antara keempatnya. Angkanya 41,43 persen tanaman dan 1,83 persen buah terserang.
Agam dan Tanah Datar berada di antara keduanya. Polanya sama di seluruh kabupaten, yaitu serangan tanaman selalu lebih tinggi daripada serangan buahnya.
Menurut peneliti, pola itu punya arti tersendiri di lapangan. Aktivitas lalat buah terdeteksi luas di kebun, tetapi buah yang benar-benar bergejala tetap lebih sedikit.
Penyebab tingginya angka di Solok belum dapat dipastikan. Peneliti menduga kondisi agroekologi setempat berperan, tetapi peubah lingkungannya memang tidak diukur langsung.
Baca juga Tiga Puluh Tahun Kekeringan Ekstrem Indonesia dalam Satu Peta
Catatan Hati-Hati dari Penulisnya
Peneliti menuliskan sendiri beberapa batas kajiannya secara terbuka. Yang pertama menyangkut umpan yang dipakai pada perangkap.
Metil eugenol adalah penarik yang kuat bagi lalat jantan jenis tertentu. Karena itu tangkapannya bisa melebih-lebihkan jenis yang responsif dan mengecilkan jenis lainnya.
Batas kedua menyangkut jumlah sampel varietas Kopay. Varietas itu hanya terwakili beberapa lahan, sehingga perbandingannya perlu dibaca dengan hati-hati.
Batas ketiga yang paling penting menyangkut soal istilah. Rendahnya serangan pada Kuhay disebut peneliti sebagai kerentanan lapangan yang rendah, bukan ketahanan yang sudah terbukti.
Alasannya jelas dan disebutkan sendiri. Kajian ini tidak menguji mekanisme ketahanannya, seperti bentuk buah, kandungan biokimia, senyawa mudah menguap, atau perilaku bertelur lalat.
Karena itu Kuhay belum bisa langsung direkomendasikan sebagai sumber ketahanan. Peneliti menyarankan varietas berserangan rendah itu diuji lebih lanjut sebelum dipakai dalam pemuliaan.
Meski begitu, hasilnya tetap berguna bagi petani pada hari ini. Ada perbedaan nyata antarvarietas lokal, dan perbedaan itu bisa dijadikan pertimbangan saat memilih benih.
Peneliti juga mencatat kemungkinan lain soal Bactrocera umbrosa. Jenis itu lebih menyukai tanaman suku labu-labuan, sehingga kehadirannya di kebun cabai mungkin berasal dari tanaman inang di dekatnya.














