Cekricek.id — Perbanyakan tanaman di dalam botol sudah lama dipakai untuk menghasilkan bibit bebas penyakit. Yang diperdebatkan bukan metodenya, melainkan takaran hormon yang dipakai.
Perdebatan itu berulang tiap kali menemui varietas baru. Takaran yang tepat untuk satu kultivar belum tentu tepat untuk kultivar lain.
Kentang Cingkariang dari Sumatera Barat termasuk yang belum punya angkanya. Sampai penelitian ini dikerjakan, belum ada informasi konsentrasi BAP dan NAA yang optimal untuknya.
Yang mengujinya Rahma Salvina Hirza dari Program Studi Agronomi Universitas Andalas. Ia bekerja bersama Irfan Suliansyah dan Warnita dari Departemen Agronomi kampus yang sama.
Penelitiannya dikerjakan pada Juli 2024 di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Andalas.
Tulisannya dimuat Jagur, Jurnal Agroteknologi terbitan Universitas Andalas, Volume 8 Nomor 1, April 2026, halaman 24 sampai 30.
Permintaan kentang di Indonesia disebut terus naik. Pendorongnya pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan, dan berkembangnya industri pengolahan.
Angka produksinya dikutip dari dua sumber. Produksi nasional 2022 tercatat sekitar 1,50 juta ton, naik 10,5 persen dari tahun sebelumnya.
Produksi dunia jauh lebih besar. Pada 2021 sampai 2022 angkanya 376 sampai 383 juta ton, menempatkan kentang setelah padi dan gandum.
Daftar Isi
Sebelum 2012: Angka Cingkariang yang Tertinggal
Alasan penelitian ini bermula dari selisih hasil panen. Yulimasni dan Hayani pada 2012 mencatat produktivitas Cingkariang hanya 8,58 ton per hektare.
Varietas lain jauh di atasnya. Granola tercatat 19,16 ton, Pink-06 tercatat 13,20, dan Cipanas tercatat 12,21 ton per hektare.
Keunggulan Cingkariang bukan pada jumlah. Kadar airnya rendah dan kandungan patinya tinggi, sehingga cocok untuk industri makanan cepat saji.
Penurunan hasilnya diduga berasal dari benih. Banyak umbi benih terinfeksi virus, ditandai daun menggulung, bercak kuning, dan pucuk menghitam.
Di situlah kultur jaringan masuk hitungan. Long dan rekan pada 2022 menyebut teknik itu memungkinkan perbanyakan massal, tidak bergantung musim, dan menghasilkan bibit steril.
Baca juga Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan
Dari Rao 2021 sampai Lestari 2018: Takaran yang Berbeda-beda
Dua hormon menjadi kuncinya. BAP merangsang induksi dan multiplikasi tunas, sedangkan NAA mendukung pembentukan akar.
Takaran yang dilaporkan peneliti terdahulu tidak seragam. Rao dan rekan pada 2021 menyebut BAP 0,5 dengan NAA 1,0 miligram per liter efektif pada sebagian varietas.
Varietas lain menuntut takaran lebih tinggi. Pada laporan yang sama, BAP 1,5 sampai 3,0 dengan NAA 2,0 sampai 3,0 miligram per liter lebih sesuai.
Lestari dan rekan pada 2018 memberi angka lain lagi. BAP 1 miligram per liter disebut efektif untuk induksi tunas pada kultivar Atlantik.
Rancangan Rahma Salvina Hirza mengikuti pola faktorial. NAA diuji pada 0,1, 0,2, dan 0,3 ppm, sedangkan BAP diuji pada 2, 3, dan 4 ppm.
Sembilan kombinasi itu diulang tiga kali. Hasilnya 27 satuan percobaan, masing-masing sepuluh botol, sehingga seluruhnya 270 botol kultur.
Tiap botol berisi satu eksplan. Yang dipakai satu nodus dari bagian tengah planlet Cingkariang bebas virus.
Pilihan eksplannya juga bersandar pada penelitian terdahulu. Azad dan rekan pada 2022 melaporkan eksplan nodal menghasilkan tunas lebih banyak dibanding eksplan pucuk.
Media dasarnya memakai Murashige dan Skoog. Long dan rekan menyebut media itu tetap jadi pilihan utama karena hara makro dan mikronya lengkap.
Sterilisasinya memakai bahan baku standar laboratorium. Di antaranya natrium hipoklorit 1,05 persen, alkohol 96 persen, dan akuades steril.
Empat Minggu: Nodus Turun Seiring BAP Naik
Pengamatan dilakukan pada umur empat minggu setelah tanam. Yang dihitung persentase hidup, jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar primer, dan tinggi planlet.
Hasil pertamanya seragam sempurna. Seluruh perlakuan menghasilkan planlet hidup seratus persen, tanpa beda nyata antarperlakuan.
Jumlah nodus bergerak jelas ke satu arah. Makin tinggi BAP, makin sedikit nodusnya, dan pola itu berlaku pada seluruh taraf NAA.
Angkanya cukup tajam. Pada BAP 2 ppm jumlah nodus 28,60 sampai 28,93, sedangkan pada BAP 4 ppm turun menjadi 8,00 sampai 13,00.
Penjelasannya diambil dari penelitian terdahulu. Elhiti dan rekan pada 2023 menyebut BAP tinggi dapat menghambat pertumbuhan akibat toksisitas atau dominansi apikal.
Tinggi planletnya mengikuti pola serupa. Tertinggi 7,30 sentimeter pada BAP 2 ppm dengan NAA 0,3 ppm, terendah 3,17 sentimeter pada BAP 4 ppm dengan NAA 0,1 ppm.
Seluruh planlet disebut membentuk kalus. Long dan rekan menyebut kombinasi auksin dan sitokinin memang berperan dalam dediferensiasi sel dan pembentukan kalus.
Pasternak pada 2024 menambahkan peran auksin sintetis. NAA disebut mempercepat proliferasi kalus lewat pembelahan dan perpanjangan sel.
Penurunan akar dijelaskan lewat jalur yang sama. Sitokinin yang dominan mendorong kalus, dan kalus itu menyerap hara serta hormon yang seharusnya menumbuhkan akar.
Baca juga Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun
Akar yang Menyusut dan Abstrak yang Menyebut Sebaliknya
Bagian akarnya memberi hasil yang paling patut dicermati. Jumlah akar primer tertinggi 13,30 pada NAA 0,1 ppm dengan BAP 2 ppm.
Menaikkan NAA justru menurunkan angka itu. Pada NAA 0,2 dan 0,3 ppm, jumlah akarnya berkisar 4,83 sampai 6,90.
Artinya akar menyusut sekitar separuh. Penurunan itu terjadi pada seluruh taraf BAP yang diuji.
Abstraknya menyebut hal yang berlawanan. Di sana tertulis NAA 0,3 ppm meningkatkan nodus, tunas, dan tinggi planlet tanpa menekan pertumbuhan akar.
Tabel keempat menunjukkan penekanan itu justru terjadi. Tidak ada kalimat yang mempertemukan keduanya di bagian mana pun.
Bagian tunas juga berselisih dengan kesimpulannya. Badan tulisan menyebut pada NAA 0,3 ppm terjadi penurunan jumlah tunas di semua konsentrasi BAP.
Kesimpulannya menyebut kebalikannya. Di sana NAA 0,3 ppm disebut paling efektif meningkatkan jumlah nodus, tunas, dan tinggi planlet.
Satu paragraf bahkan berselisih dengan dirinya sendiri. Kalimatnya menyatakan rata-rata jumlah tunas pada BAP 2, 3, dan 4 ppm tidak berbeda nyata.
Kalimat berikutnya merinci perbedaan yang nyata. Disebutkan perbedaan signifikan antara BAP 3 dan 4 ppm pada NAA 0,2 ppm.
Gambar 1 yang Disebut Gambar 5
Kejanggalan berikutnya ada pada penomoran. Keterangan gambarnya tertulis Gambar 1, memuat tiga panel kalus pada akar.
Pembahasannya menyebut nomor lain. Lima kali berturut-turut tertulis Gambar 5 dengan panel a, b, dan c.
Tidak ada Gambar 2, 3, maupun 4 di dalam artikel. Penomoran itu melompat tanpa keterangan.
Isi keterangannya juga berselisih dengan pembacaannya. Keterangan menyebut gambar itu menampilkan kalus yang terbentuk pada akar.
Pembahasan panel pertama menyebut sebaliknya. Di sana tertulis tidak tampak kalus yang dominan pada panel tersebut.
Tabel pertama memuat salah ketik pada taraf perlakuan. Barisnya tertulis 0,1, lalu 0,12, lalu 0,3 ppm, padahal metodenya menyebut 0,2 ppm.
Kepala halamannya memuat DOI yang tidak cocok. Tertulis nomor 6.1 halaman 29 sampai 38 tahun 2024, padahal artikel ini halaman 24 sampai 30 tahun 2026.
DOI yang sama muncul pada artikel lain di nomor yang sama. Artinya kekeliruan itu bukan salah ketik satu artikel, melainkan berulang di terbitan tersebut.
Baca juga Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Daftar Pustaka dan Rantai yang Terputus
Daftar pustakanya memuat dua entri Lestari bertahun 2018. Keduanya tentang BAP pada kentang kultivar Atlantik, dengan susunan penulis dan jurnal berbeda.
Badan tulisan hanya menyebut Lestari dan rekan 2018. Pembaca tidak bisa memastikan entri mana yang dimaksud.
Beberapa entri tidak pernah dikutip di dalam teks. Di antaranya Lee dan rekan 2023, Marlina 2004, Sakya dan rekan 2002, Yuliana dan rekan 2022, serta Zhang dan Wang 2021.
Ada pula entri yang judulnya berpindah bahasa. Artikel gizi kentang berbahasa Inggris ditulis dengan judul dan nama jurnal berbahasa Indonesia.
Hal serupa terjadi pada dua sumber data. Helgi Library menjadi Perpustakaan Helgi dan Statista menjadi Statistik di daftar pustaka.
Kutipan di dalam teks tetap memakai nama aslinya. Keduanya ditulis Helgi Library 2022 dan Statista 2023.
Tiga tautan di bagian akhir berkas memuat parameter yang sama. Alamatnya diakhiri utm_source sama dengan chatgpt.com.
Bagian ucapan terima kasih menyebut naskah ini tesis. Penulisnya berterima kasih kepada Program Pascasarjana Agronomi, sejalan dengan jenjang yang ditempuhnya.
Artikel ini tidak memuat bagian keterbatasan. Tidak ada keterangan tentang batas keberlakuan temuan dari satu kali percobaan pada satu bulan.
Yang bisa dipastikan tetap satu angka. Pada umur empat minggu, seluruh planlet Cingkariang hidup, berapa pun takaran hormonnya.















