Uang Elektronik Menaikkan PDRB per Kapita, Dana BPR Tidak

A A

Beberapa orang berdiri di depan bilik ATM sebuah bank di tepi jalan. [Foto: SATELIT BM9/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Nilai t uang elektronik 6,44, tertinggi di antara empat peubah dalam model efek tetap 38 provinsi.
  • Dana pihak ketiga BPR bernilai t 0,93 dengan nilai p 0,353, sehingga tidak nyata pada taraf mana pun.
  • Adjusted R kuadrat modelnya 0,867 dengan statistik F 42,79 atas 190 pengamatan.
  • Konstanta 111.906,400 juta rupiah per kapita tidak sejalan dengan satuan pada tabel definisi peubah.

Cekricek.id — Uang elektronik menaikkan PDRB per kapita. Dana pihak ketiga BPR tidak.

Dua temuan itu berasal dari satu model panel 38 provinsi. Rentang waktunya 2020 sampai 2024.

Penelitinya dua orang. Maylawati Arum Puspita dan Shanty Oktavilia, keduanya dari Departemen Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang.

Puspita penulis korespondensinya. Tulisan mereka berjudul Digital Financial Instruments, Financial Inclusion, and Regional Economic Performance in Indonesia.

Naskahnya terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 1 tahun 2026. Halamannya 283 sampai 296.

Riwayat naskahnya pendek. Diterima 19 Januari 2026, direvisi 26 Februari, dan disetujui 1 Maret 2026.

Daftar Isi
  1. Empat Peubah, Satu Model
  2. Uang Elektronik Terkuat
  3. BPR Tidak Nyata
  4. Satuan yang Bertabrakan
  5. Sebab yang Diklaim
  6. Sisa Pertanyaan

Empat Peubah, Satu Model

Peubah terikatnya PDRB per kapita atas harga berlaku. Sumbernya Badan Pusat Statistik.

Peubah bebasnya empat. Nilai transaksi uang elektronik, dana pihak ketiga BPR konvensional, nilai transaksi kartu kredit, dan persentase rumah tangga berakses internet.

Datanya dari tiga lembaga. Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan.

Panelnya seimbang. Tiga puluh delapan provinsi selama lima tahun menghasilkan 190 pengamatan.

Tiga bentuk model diuji. Common effects, fixed effects, dan random effects.

Uji Chow dan uji Hausman memilih model efek tetap. Keduanya bernilai p 0,000.

Uji multikolinearitas lolos. Nilai VIF tertinggi 3,59 pada uang elektronik, dengan rata-rata 2,37.

Uji heteroskedastisitas juga lolos. Statistik Glejser 2,54 dengan nilai p 0,111.

Periode yang dipilih bukan kebetulan. Penulisnya menyebut 2020 sampai 2024 sebagai fase percepatan digital pascapandemi.

Panel dipakai dengan alasan teknis. Jumlah pengamatan dan derajat kebebasan bertambah, multikolinearitas tertekan, dan keragaman antarprovinsi yang tak terukur ikut dikendalikan.

Ocharive dan Iworiso pada 2024 dikutip untuk alasan itu. Pengumpulan datanya sendiri lewat telaah dokumen statistik provinsi tahunan.

Seluruh hitungannya memakai Stata versi 17. Uji F dipakai untuk pengaruh serentak, uji t untuk pengaruh masing-masing peubah.

Taraf nyatanya tiga. Satu persen, lima persen, dan sepuluh persen.

Bank Indonesia menempatkan uang elektronik sebagai salah satu pilar. QRIS dan alat pembayaran nontunai lain disebut ikut menjadi tiang arsitektur ekonomi digital nasional.

Nilai t Empat Peubah terhadap PDRB per KapitaUang elektronik: Nilai t +6,44; Kartu kredit: Nilai t +3,95; Akses internet rumah tangga: Nilai t +3,37; Dana pihak ketiga BPR: Nilai t +0,93.Nilai t Empat Peubah terhadap PDRB per KapitaModel efek tetap, 38 provinsi, 2020 sampai 20242460Uang elektronik+6,44Kartu kredit+3,95Akses internet rumah tangga+3,37Dana pihak ketiga BPR+0,93Nilai p 0,000 untuk uang elektronik dan kartu kredit, 0,001 untuk aksesinternet, dan 0,353 untuk dana pihak ketiga BPR.cekricek.id
Sumber: Puspita & Oktavilia (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(1): 283–296. Grafik: Cekricek.id

Uang Elektronik Terkuat

Nilai t uang elektronik 6,44. Tertinggi di antara empat peubah.

Kartu kredit menyusul di 3,95. Akses internet rumah tangga di 3,37.

Ketiganya nyata pada taraf 1 persen. Nilai p uang elektronik dan kartu kredit 0,000, akses internet 0,001.

Mesin pembayaran nontunai di dalam bus kota dengan layar tarif dan panel tempel kartu
Mesin pembayaran nontunai di dalam bus kota, dengan layar tarif dan panel tempel kartu. [Foto: NFarras/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Koefisiennya jauh berbeda. Uang elektronik 2.852,449 dan kartu kredit 337.688,100.

Akses internet berkoefisien 2.320,131. Konstantanya 111.906,400 dengan nilai p 0,085.

Uang elektronik dibaca sebagai penurun biaya transaksi. Perputaran uang disebut ikut lebih cepat.

Wasiaturrahma dan Kurniasari pada 2021 dikutip sebagai pendukung. Chen dan Xiao pada 2025 dikutip untuk penyatuan sektor formal dan informal.

Kartu kredit dibaca berbeda. Perannya disebut penopang permintaan, bukan pengubah struktur produksi.

Kredina dan kawan-kawan pada 2022 dikutip untuk jalur konsumsi itu. Luo dan Zhu pada 2025 dikutip untuk daerah berliterasi keuangan lebih tinggi.

Akses internet disebut memperpendek jarak geografis. Pencocokan di pasar kerja disebut ikut membaik.

Trinugroho dan kawan-kawan pada 2022 dikutip untuk Indonesia. Briglauer dan kawan-kawan pada 2025 dikutip untuk negara OECD.

Gambar pertama naskahnya memuat gerak sejajar. Pertumbuhan ekonomi bergerak searah dengan kenaikan transaksi uang elektronik dan akses internet rumah tangga.

Penulisnya menyebut gerak sejajar itu petunjuk keterkaitan struktural. Sifatnya diakui masih deskriptif.

Uang elektronik disebut menekan kesenjangan informasi. Pasar efektifnya disebut melebar ke penduduk yang sebelumnya tak terjangkau bank.

Dari sudut teori pertumbuhan endogen, perbaikan teknologi pembayaran disebut melahirkan limpahan. Penyebaran inovasi dan penyatuan pasar antardaerah disebut ikut terdorong.

Kartu kredit dibaca lewat jalur Keynesian. Akses kredit konsumen yang meluas disebut menaikkan kecenderungan mengonsumsi dan memperbesar efek pengganda jangka pendek.

Eichengreen dan kawan-kawan pada 2024 dikutip untuk pemulihan ekonomi. Yang dan Zhang pada 2020 dikutip untuk kendala likuiditas rumah tangga dan perusahaan.

Akses internet dibaca lewat geografi ekonomi baru. Sambungan digital yang membaik disebut menekan ketimpangan ruang dengan menarik daerah pinggiran ke jaringan yang lebih luas.

Zhang dan kawan-kawan pada 2021 dikutip untuk kinerja ekonomi daerah. De Clercq dan kawan-kawan pada 2023 serta Okolo dan kawan-kawan pada 2025 dikutip untuk perdagangan elektronik.

Koomson dan kawan-kawan pada 2020 dikutip untuk pendapatan rumah tangga. Djahini-Afawoubo dan kawan-kawan pada 2023 dikutip untuk kemiskinan berdimensi jamak.

Baca juga Wirausaha Pemuda Berinternet Berpendapatan 55 Persen Lebih

BPR Tidak Nyata

Dana pihak ketiga BPR bernilai t 0,93. Nilai p-nya 0,353.

Koefisiennya 228,040 dan bertanda positif. Daya jelasnya tidak cukup pada taraf mana pun.

Penulisnya menduga dua sebab. Kredit BPR disebut terpusat di sektor berproduktivitas rendah.

Sebab kedua soal ukuran. Aset BPR disebut terlalu kecil untuk membiayai investasi yang menaikkan produktivitas.

Konstantakopoulou pada 2023 dikutip untuk mutu penyaluran kredit. Sirag dan kawan-kawan pada 2025 dikutip untuk hubungan taklinear keuangan dan pertumbuhan.

Ada temuan yang berlawanan. Putra dan kawan-kawan pada 2026 disebut menemukan sumbangan positif dana BPR.

Bedanya pada wilayah. Sumbangan itu muncul di daerah berekosistem UMKM kuat dan berkebijakan daerah yang mendukung.

Asante dan kawan-kawan pada 2023 menambahkan satu syarat. Lembaga keuangan kecil disebut bisa mendorong pertumbuhan bila mutu kelembagaannya kuat.

Penulisnya menutup bagian itu dengan satu bacaan. Inklusi keuangan disebut lebih berdaya bila tertanam di dalam ekosistem keuangan digital.

Daya Jelas Model terhadap PDRB per Kapita0,867 dari 1,000 , atau 86,7%.Daya Jelas Model terhadap PDRB per KapitaAdjusted R kuadrat, model efek tetap0,133 tidak dijelaskan0,867 dijelaskan model (86,7%)Total 1,000 Statistik F 42,79 dengan peluang 0,000 atas 190 pengamatan.cekricek.id
Sumber: Puspita & Oktavilia (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(1): 283–296. Grafik: Cekricek.id

Satuan yang Bertabrakan

Tabel definisi peubahnya menyebut PDRB per kapita dalam juta rupiah. Uang elektronik dalam miliar rupiah.

Kartu kredit dalam juta rupiah. Akses internet dalam persen.

Dengan satuan itu koefisiennya sulit dibaca. Konstanta 111.906,400 juta rupiah per kapita bukan besaran yang mungkin.

Koefisien kartu kredit menimbulkan soal serupa. Tambahan satu juta rupiah transaksi mustahil menaikkan PDRB per kapita ratusan ribu juta rupiah.

Angkanya baru masuk akal bila peubah terikatnya dinyatakan dalam rupiah. Naskahnya tidak menerangkan hal itu.

Ada pula selisih istilah. Judul dan abstraknya memakai PDRB, badan hasilnya berulang kali memakai PDB.

Penamaan peubahnya juga berselisih. Tabel VIF menyebut TPF, sedangkan tabel definisi dan tabel hasil menyebut BPR.

Baca juga Underground Economy Indonesia Setara 5,36 Persen dari PDB

Sebab yang Diklaim

Bagian metodenya menyebut rancangan itu menguji hubungan sebab akibat. Alatnya regresi panel statis.

Tidak ada peubah instrumen di dalamnya. Tidak ada beda kala maupun penanganan endogenitas.

Naskahnya sendiri berhati-hati di satu tempat. Gambar pertamanya disebut masih bersifat deskriptif.

Klaim sebab itu tetap bertahan di bagian metode. Kata kausal dipakai beberapa kali tanpa alat yang menopangnya.

Daya jelas modelnya tinggi. Adjusted R kuadratnya 0,867 dengan statistik F 42,79.

Angka setinggi itu lazim pada model efek tetap. Perbedaan tetap antarprovinsi ikut terserap ke dalamnya.

Penulisnya memang menyebut heterogenitas itu. Ciri struktural, kapasitas kelembagaan, dan kondisi sosial ekonomi provinsi disebut menyumbang sistematis.

Bacaan pustakanya sendiri tidak sepakat. Rossi dan Scalise pada 2022, Azmeh dan Al-Raeei pada 2024, serta Sant’Anna dan Figueiredo pada 2024 disebut menemukan pengaruh positif.

Kelompok kedua menahan diri. Liu dan kawan-kawan pada 2021, Xi dan Wang pada 2023, Chinoda dan Kapingura pada 2024, serta Meniago pada 2025 menggantungkan hasilnya pada mutu kelembagaan.

Omar dan Inaba pada 2020 serta Menyelim dan kawan-kawan pada 2021 dikutip untuk sisi ketimpangan. Hasan dan kawan-kawan pada 2021 dikutip untuk pengelolaan risiko rumah tangga.

Penentu inklusi keuangan disebut sudah bergeser. Bukan lagi hanya keberadaan lembaga keuangan formal, tetapi juga infrastruktur digital dan literasi keuangan digital.

Kass-Hanna dan kawan-kawan pada 2022 serta Choung dan kawan-kawan pada 2023 dikutip untuk pergeseran itu. Keduanya menyoroti sisi kemampuan pemakai.

Sisa Pertanyaan

Keterbatasannya ditulis terbuka. Datanya makro, sehingga mutu layanan dan kedalaman pemakaian tidak tertangkap.

Dua peubah lain tidak dimasukkan. Mutu kelembagaan dan literasi keuangan digital disebut berpotensi mengubah besaran hubungan.

Saran lanjutannya tiga. Indikator kelembagaan, model taklinear, dan pendekatan ekonometrika spasial.

Penelitian Indonesia sebelumnya disebut bertumpu di aras mikro. Nugraha dan kawan-kawan pada 2022, Setiawan dan kawan-kawan pada 2021, serta Muchtar dan kawan-kawan pada 2024 dikutip sebagai contohnya.

Tay dan kawan-kawan pada 2022 menyebut celah yang sama di aras global. Penelitian keuangan digital disebut jarang turun ke aras subnasional dalam satu negara berkembang.

Sarannya untuk kebijakan lebih tegas. Infrastruktur digital diminta diratakan lebih dulu ke provinsi berpenetrasi internet rendah.

Sarannya untuk BPR satu. Lembaga keuangan daerah diminta diintegrasikan ke platform digital supaya jangkauan layanannya melebar.

Program literasi keuangan digital diminta diperbesar. Tujuannya supaya akses yang bertambah berubah menjadi kegiatan produktif, bukan berhenti sebagai transaksi.

Koordinasi antarlembaga disebut syarat lain. Otoritas moneter, pengawas keuangan, dan pemerintah daerah diminta bergerak bersama.

Insentif untuk UMKM ikut diusulkan. Pembayaran digital diminta dimasukkan ke rantai nilai daerah.

Baca juga Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta

Satu hal tidak dijawab naskah ini: berapa bagian dari kenaikan PDRB per kapita itu yang sampai ke provinsi dengan akses internet paling rendah.

Bagikan

Baca Juga

Program Keluarga Harapan Tak Menaikkan Nilai Kognitif Anak
Pekerja Informal 80,24 Juta, Terlindungi Hanya 6,5 Juta
Wirausaha Pemuda Berinternet Berpendapatan 55 Persen Lebih
Underground Economy Indonesia Setara 5,36 Persen dari PDB
UMKM Sasirangan Banjarmasin dan Panah Regresi yang Terbalik
Brent Tembus 100 Dolar, Bursa Global Melemah Serentak