- Kurs rupiah sepanjang 2010 sampai 2024 bergerak antara Rp8.508 dan Rp16.421 per dolar Amerika Serikat.
- Pada jangka pendek hanya uang beredar yang ditandai nyata menggerakkan kurs.
- Pada jangka panjang uang beredar, neraca perdagangan, dan cadangan devisa sama-sama nyata.
- Model LSTM mencatat galat mutlak rata-rata terkecil, yaitu 254,44.
- Akar galat kuadrat rata-rata LSTM tercatat lebih kecil daripada galat mutlak rata-ratanya sendiri.
Cekricek.id — Selama 180 bulan sejak Januari 2010, nilai tukar rupiah tidak pernah berhenti bergerak.
Titik terendahnya Rp8.508 per dolar Amerika Serikat. Titik tertingginya Rp16.421.
Rata-ratanya sepanjang periode itu Rp12.887,48, dengan simpangan baku Rp2.324,42.
Angka-angka itu dihitung Aldi Fauzan Akbar, statistisi Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur.
Naskahnya berjudul What Drives the Indonesian Rupiah? Evidence from VECM and Machine Learning, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 571 sampai 584.
Daftar Isi
Lima Belas Tahun Data Bulanan Nilai Tukar Rupiah
Kurs disebut naskahnya sebagai penanda kesehatan ekonomi sebuah negara.
Ia menyentuh daya saing dagang, laju harga di dalam negeri, dan kestabilan keuangan sekaligus.
Untuk Indonesia, yang disebut penulisnya sebagai ekonomi terbuka kecil, gerakannya banyak ditentukan keadaan pasar dunia.
Naskahnya membuka dengan pembagian dua babak. Sepanjang 2001 sampai 2010 kurs disebut relatif lentur, selalu kembali ke tingkat jangka panjangnya.
Mulai 2010, gerakannya berubah menjadi pelemahan yang bertahan.
Tiga peristiwa disebut ikut membentuknya: pengumuman pengurangan pembelian obligasi bank sentral Amerika Serikat pada 2013, pandemi Covid-19 pada 2020, dan ketegangan geopolitik sesudahnya.
Lima hal diuji sebagai penggerak kurs: inflasi, suku bunga, uang beredar, neraca perdagangan, dan cadangan devisa.
Semuanya diamati bulanan sepanjang 2010 sampai 2024, seluruhnya 180 amatan.
Inflasi bergerak antara 1,32 dan 8,79 persen, dengan rata-rata 4,13 persen.
Suku bunga bergerak antara 3,50 dan 7,75 persen, dengan rata-rata 5,69 persen.
Uang beredar naik dari Rp2,07 kuadriliun ke Rp9,21 kuadriliun, dengan rata-rata Rp5,33 kuadriliun.
Neraca perdagangan pernah menyentuh minus 2.331,1 dan pernah mencapai 7.558,8.
Cadangan devisa bergerak dari 69.562 ke 155.719, dengan rata-rata 119.610,3.
Tabel ringkasan itu tidak mencantumkan satuan untuk uang beredar, neraca perdagangan, maupun cadangan devisa.
Alat yang dipakai bernama model koreksi galat vektor, yang memisahkan gerak sebulan berikutnya dari gerak jangka panjang.
Model itu bekerja dengan dua lapis sekaligus.
Lapis pertama mencatat gerak sebulan berikutnya, yaitu reaksi cepat kurs terhadap perubahan bulan sebelumnya.
Lapis kedua mencatat tarikan ke tingkat keseimbangan jangka panjang yang dibentuk kelima peubah tadi.
Suku koreksi galat adalah kecepatan tarikan itu bekerja setiap bulan.
Pada tingkat aslinya, tidak satu pun dari keenam deret itu diam.
Peluang uji akar unitnya 0,7419 untuk kurs, 0,9973 untuk uang beredar, dan 0,1253 untuk neraca perdagangan.
Sesudah diselisihkan satu kali, keenamnya berpeluang 0,0000, artinya sudah diam.
Panjang jeda yang dipilih satu bulan, karena pada jeda itu keempat ukuran pemilihan sama-sama menunjuk angka terbaiknya.
Uji kointegrasi menemukan tepat satu persamaan jangka panjang di antara keenam peubah.
Statistik jejaknya 108,0584 melawan nilai kritis 95,75366, dengan peluang 0,0054.
Statistik nilai eigen maksimumnya 46,93893 melawan nilai kritis 40,07757, dengan peluang 0,0073.
Hipotesis berikutnya, yang menduga ada dua persamaan atau lebih, tidak satu pun ditolak.
Sebulan Berikutnya, Hanya Uang Beredar yang Terbaca
Pada jangka pendek, hanya satu peubah yang ditandai nyata oleh penulisnya.
Uang beredar memperoleh koefisien minus 0,001 dengan galat baku 0,000.
Tandanya negatif, dan pada kurs rupiah per dolar tanda negatif berarti rupiah menguat.
Kurs bulan sebelumnya memperoleh minus 0,332 dengan galat baku 0,082, juga nyata.
Suku koreksi galat memperoleh minus 0,233 dengan galat baku 0,064.
Angka terakhir itu berarti 23,3 persen simpangan dari keseimbangan jangka panjang terkoreksi dalam satu bulan.
Inflasi memperoleh 27,624 dengan galat baku 49,924, dan suku bunga minus 20,370 dengan galat baku 166,214.
Keduanya tidak nyata, dan galat bakunya jauh lebih besar daripada koefisiennya sendiri.
Tanda negatif pada kurs bulan sebelumnya dibaca penulisnya sebagai mekanisme yang mengoreksi diri sendiri.
Guncangan pada satu bulan tidak diteruskan penuh ke bulan berikutnya, melainkan meredam sebagian.
Bagi orang yang menukar uang, itu berarti lonjakan satu bulan tidak otomatis menjadi tingkat baru pada bulan sesudahnya.
Penulisnya menyimpulkan gerak jangka pendek kurs lebih ditentukan keadaan likuiditas daripada tekanan harga atau sektor luar.
Daya jelas persamaan jangka pendek 0,311, dengan nilai F 10,9062.
Baca juga Underground Economy Indonesia Setara 5,36 Persen dari PDB
Jangka Panjang, Neraca Dagang Ikut Masuk
Pada jangka panjang, jumlah peubah yang terbaca bertambah dari satu menjadi tiga.
Uang beredar memperoleh minus 0,002 dengan galat baku 0,001.
Neraca perdagangan memperoleh minus 0,645 dengan galat baku 0,047.
Cadangan devisa memperoleh 0,061 dengan galat baku 0,014.
Ketiganya ditandai nyata pada taraf lima persen oleh penulisnya.
Inflasi dan suku bunga tetap tidak terbaca, masing-masing 29,139 dan minus 373,460.
Tanda pada neraca perdagangan berarti surplus dagang berjalan bersama menguatnya rupiah.
Tanda pada cadangan devisa berjalan sebaliknya: cadangan yang lebih besar berjalan bersama kurs yang lebih tinggi.
Bagi pemegang rupiah, ketiga angka jangka panjang itu berarti hal yang berbeda-beda.
Surplus dagang menambah pasokan valuta asing yang masuk ke dalam negeri.
Uang beredar menyentuh harga dan aliran modal lewat jalur yang lebih panjang.
Suku bunga, yang biasanya paling sering disebut orang saat membicarakan kurs, justru tidak terbaca di kedua jangka waktu.
Penulisnya menulis cadangan devisa menjaga kepercayaan pasar dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan luar.
Kalimat itu tidak sejalan dengan tanda positif yang dilaporkan tabelnya sendiri, dan naskahnya tidak mendamaikan keduanya.

Empat Model Diadu Meramal Kurs
Sesudah penjelasan, giliran peramalan. Empat model diadu pada data yang sama.
Yang pertama model koreksi galat vektor tadi, alat baku ekonometrika.
Tiga lainnya alat pembelajaran mesin: regresi vektor pendukung, hutan acak, dan jaringan ingatan jangka pendek panjang.
Yang terakhir itu, yang dikenal dengan singkatan LSTM, dirancang untuk menangkap pola yang berulang lintas waktu.
Ukuran yang dipakai tiga: galat mutlak rata-rata, galat persentase mutlak rata-rata, dan akar galat kuadrat rata-rata.
LSTM mencatat galat mutlak rata-rata 254,44, terkecil di antara keempatnya.
Model koreksi galat vektor menyusul dengan 273,77, hutan acak 445,92, dan regresi vektor pendukung 1.769,92.
Regresi vektor pendukung mencatat galat terbesar dan menempati urutan terakhir.
Penulisnya menduga penyebabnya perubahan susunan dan hubungan tak lurus sepanjang periode amatan, yang tidak tertangkap bentuk model itu.
Hutan acak berada di tengah, sedangkan model ekonometrikanya justru mengungguli keduanya.
Menurut penulisnya, itu menunjukkan dasar ekonomi makro masih memberi keterangan yang berguna untuk meramal kurs.
Penulisnya menyimpulkan pembelajaran mendalam lebih sanggup menangkap perilaku kurs yang rumit dan tidak lurus.
Ia juga mencatat model ekonometrikanya tetap berguna karena hubungan antarpeubahnya bisa dibaca sebagai penjelasan.
Baca juga Insentif PPN Tiket Pesawat Menambah PDB 0,27 Persen
Angka yang Tidak Mungkin di Tabel Terakhir
Lima hal perlu dipegang pembaca sebelum peringkat model itu dipakai.
Pertama, akar galat kuadrat rata-rata LSTM tercatat 174,27, lebih kecil daripada galat mutlak rata-ratanya sendiri, 254,44.
Secara perhitungan, ukuran yang pertama tidak pernah bisa lebih kecil daripada yang kedua.
Pada tiga model lainnya urutannya normal: 403,37 berbanding 273,77, 1.912,77 berbanding 1.769,92, dan 572,13 berbanding 445,92.
Kedua, galat persentase mutlak rata-rata tercatat 322,29 untuk LSTM dan 4.137,00 untuk regresi vektor pendukung.
Bila dibaca sebagai persen, angka itu berarti galat ramalan berkali-kali lipat dari nilai yang diramal.
Keterangan gambarnya menyebut yang diramal adalah selisih kurs, bukan tingkat kursnya.
Naskahnya tidak menyambungkan kedua keterangan itu, dan tidak menjelaskan satuan angka persentasenya.
Ketiga, cadangan devisa jangka pendek memperoleh koefisien 0,015 dengan galat baku 0,001.
Perbandingan kedua angka itu jauh melampaui ambang yang biasa dipakai, tetapi peubahnya tidak diberi tanda nyata.
Badan naskah malah menyebut cadangan devisa tidak berpengaruh nyata pada jangka pendek.
Keempat, gambar pertama naskahnya memuat kurs Januari 2001 sampai Desember 2024, sedangkan analisisnya mulai 2010.
Kelima, tabel uji kointegrasi kedua memakai judul kolom milik tabel pertama, yaitu statistik jejak, padahal isinya nilai eigen maksimum.
Baca juga Brent Tembus 100 Dolar, Bursa Global Melemah Serentak
Titik Terakhir yang Datanya Diketahui
Data terakhir yang dipakai berhenti pada Desember 2024, pada kurs tertinggi sepanjang periode itu.
Sesudah bulan itu, penelitian ini tidak lagi punya angka untuk dibicarakan.
Yang tersisa adalah saran kebijakannya: menjaga kondisi moneter, menjaga kinerja dagang, dan menumpuk cadangan devisa.
Penulisnya juga menyarankan pembuat kebijakan memakai alat pembelajaran mesin sebagai pelengkap model ekonometrika.
Saran terakhir itu bertumpu pada tabel peringkat model, tabel yang salah satu angkanya belum bisa dijelaskan.
Untuk pembaca yang menabung, mengirim uang, atau membayar cicilan berdenominasi dolar, kesimpulan naskah ini sederhana.
Yang terbaca menggerakkan kurs sepanjang lima belas tahun itu adalah likuiditas, kinerja dagang, dan cadangan devisa.
Suku bunga dan inflasi, dua angka yang paling sering diumumkan, tidak termasuk di dalamnya.















