Enggano, Pulau yang Baru Mengenal Beras pada Zaman Jepang

A A

Ilustrasi hutan hujan tropis dengan aliran sungai berbatu di Kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten yang juga menaungi Pulau Enggano. [Foto: RahmadHimawan Photography/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Sebatang kayu bayur ditebang, lalu dibiarkan beberapa hari di hutan sebelum diangkut. Di tempat pembuatan perahu, batang itu dilubangi dengan kapak dan isi dalamnya dibuang.

Rangka dari kayu ketaping atau waru dimasukkan ke lubang tadi. Seluruhnya lalu diasap supaya kayunya bisa dibentuk menjadi perahu.

Cadiknya memakai kayu bakau, disambung bambu dan diikat rotan. Cara itu masih dipakai di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Catatan tentang perahu itu ada di sebuah laporan etnobotani. Penulisnya Dhanang Puspita dari Teknologi Pangan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dan Sigit E. Prasetyo dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan.

Judulnya Studi Etnobotani Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Tulisan itu dimuat Jurnal Biologi Papua Volume 15 Nomor 1, April 2023, halaman 19 sampai 27.

Lapangannya dikerjakan 19 April sampai 6 Mei 2020. Lokasinya dibagi menjadi pesisir pantai, hutan pantai, rawa, perkebunan, permukiman, dan hutan hujan dataran rendah.

Daftar Isi
  1. Pulau yang Tak Pernah Menyatu dengan Sumatera
  2. Beras yang Datang Bersama Tentara Jepang
  3. Kayu Apua, Dinding Bambu, dan Rumah Tahan Gempa
  4. Rumah Bulat di Meok dan Tiang yang Melebihi Tombak
  5. Empat Puluh Empat Tumbuhan, Tanpa Satu Nama Narasumber
  6. Nama Latin yang Tidak Konsisten
  7. Pisang Kepok yang Belum Mengubah Apa-apa

Pulau yang Tak Pernah Menyatu dengan Sumatera

Luas Enggano 39.586,74 hektare, satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara. Jarak terdekatnya 133 kilometer dari Bintuhan.

Yang membuatnya khas bukan jaraknya, melainkan riwayat geologinya. Enggano adalah pulau samudra yang menurut catatan sejarahnya tidak pernah bergabung dengan daratan Sumatera.

Karena itu pulau ini dipisahkan Samudra Hindia sejak awal. Flora dan faunanya berkembang sendiri, dan sebagian tercatat endemik.

Sejak kapan manusia pertama mendiaminya belum diketahui pasti. Yang tercatat adalah kedatangan Datuk Sidin pada 1883 yang bermukim di pesisir.

Keluarga yang mengikutinya ikut pindah ke pesisir. Pemerintah Belanda kemudian memaksa warga yang tinggal di pedalaman turun ke pesisir juga.

Perpindahan itu mengubah cara makan mereka. Orientasi pangannya bergeser ke laut dan pesisir, dan pemanfaatan tumbuhan bergerak ke arah budidaya serta ladang.

Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat

Beras yang Datang Bersama Tentara Jepang

Makanan pokok warga Enggano dahulu bukan nasi. Yang disebut laporan adalah konyah atau bagu, keladi, dan ganyong, diolah dengan direbus atau dibakar.

Beras baru dikenal pada masa pendudukan Jepang, 1942 sampai 1945. Jepang membawanya sebagai bahan makanan utama lalu memberikan sebagian kepada warga.

Sejak itu padi menggantikan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat. Statusnya di dalam laporan disebut tanaman pangan hasil introduksi.

Padi itu kemudian beradaptasi dengan tanah berkadar garam. Sampai 2017 ditemukan sebelas varietas padi lokal Enggano, tiga di antaranya tahan salinitas tinggi.

Sumber karbohidrat lain tetap dipakai sampai sekarang. Yang disebut jagung, keladi, gadung, kikoh hiyaku, sagu, sukun, ubi kayu, kluwih, dan ubi jalar.

Protein hewaninya dari ikan laut, ikan tawar, dan ternak. Ikan air tawarnya melimpah, dengan 28 jenis yang tercatat di pulau itu.

Protein nabatinya dari biji bagu, direbus atau dijadikan emping. Lemaknya dari kelapa yang diolah menjadi minyak.

Sayurnya pakis, daun singkong, daun pepaya, dan daun melinjo. Buahnya salak hutan, durian, mangga, jambu, cokelat, jeruk, pisang, sirsak, dan selasih.

Kayu Apua, Dinding Bambu, dan Rumah Tahan Gempa

Untuk bangunan, kayu apua yang paling dominan. Sifatnya keras, kuat, tahan air, dan berat jenisnya dicatat 0,31.

Kayu itu dipakai sebagai tiang dan blandar. Harganya di pasaran lokal 2,5 juta rupiah per meter kubik karena makin sulit diperoleh.

Merbau menjadi gantinya bila apua tidak tersedia. Sifatnya mirip tetapi tidak tahan air, dan harganya 2 juta rupiah per meter kubik.

Ketaping, kasai, ehei, dan bintangor masih mudah ditemukan. Harganya 1 sampai 1,5 juta rupiah per meter kubik untuk papan, kusen, reng, dan mebel.

Bambu dipakai menggantikan batu bata, dan alasannya menarik. Enggano rawan gempa bumi, sehingga warga membangun rumah berdinding ringan.

Bambu dibilah lalu dianyam menjadi lembaran. Kedua sisi lembaran itu dilapisi adukan pasir dan semen, menjadi tembok yang tahan guncangan.

Nibung dipakai untuk yang berhubungan dengan air. Kayu itu tidak mudah lapuk, jadi ditancapkan sebagai tiang di laut atau rawa dan dibilah menjadi lantai kamar mandi.

Nehek dipakai sebagai tiang dan pagar hidup. Batangnya tumbuh tegak lurus dan mudah hidup bila ditancapkan, sehingga jadi pagar rumah, kebun, atau ladang.

Baca juga Hutan Adat Sungai Utik, dari Tolakan 1979 ke SK 2020

Rumah Bulat di Meok dan Tiang yang Melebihi Tombak

Di Desa Meok tercatat ada yup kakadie, rumah adat Enggano yang berbentuk bulat. Tiang pancang dan lantainya dari kayu keras.

Tingginya ditentukan oleh perhitungan pertahanan. Tiang rumah dirancang melebihi panjang tombak yang diacungkan ke atas, agar lantainya tidak mudah ditembus.

Maksudnya menghindari serangan hewan liar dan musuh. Tiang dan lantainya dari merbau, dinding serta atapnya dari daun nipah.

Rumah yang sekarang disebut yup kelopi. Bahannya kayu apua, merbau, dan nehek.

Serat alaminya pun masih dipakai meski banyak tergeser. Daun pandan laut dipetik, dihilangkan durinya, dijemur, lalu dianyam menjadi tikar.

Kulit kayu waru dan terap dipilin menjadi tali. Untuk jaring ikan dipakai tali dari serat kayu bagu, yang kini banyak digantikan tali plastik pabrik.

Rotan dipakai paling beragam. Batang lurusnya jadi tombak, batang kecilnya jadi tali, dan batang keringnya jadi bahan anyaman pemukul kasur serta perkakas dapur.

Empat Puluh Empat Tumbuhan, Tanpa Satu Nama Narasumber

Ada beberapa hal yang tidak disediakan laporan ini. Yang pertama menyangkut metodenya sendiri.

Metodenya menyebut wawancara dengan kepala suku, petani, nelayan, pembuat perahu, dan pemburu. Tidak satu pun dari mereka disebut namanya di dalam laporan.

Jumlahnya juga tidak dicantumkan. Tidak ada keterangan berapa orang yang diwawancarai selama sekitar delapan belas hari di lapangan.

Tidak ada pula satu kalimat pun yang dikutip dari wawancara itu. Seluruh keterangan disajikan sebagai narasi tanpa penutur.

Yang kedua menyangkut asal datanya. Tabel kedua yang memuat daftar jenis kayu diberi keterangan sumber dari Regen 2011 dan Amin dan rekan 2017.

Artinya daftar kayu itu bukan temuan lapangan penelitian ini. Tabel pertama yang memuat 44 tumbuhan tidak diberi keterangan sumber sama sekali.

Sebagian besar keterangan lain pun bersandar pada pustaka. Royyani dan rekan, Astuti dan rekan, Sinaga dan rekan, serta Amran dan rekan dari 1979 muncul berulang sebagai rujukan.

Baca juga KKN UAD Salurkan Hibah Buku di Taman Nasional Siberut

Nama Latin yang Tidak Konsisten

Kejanggalan berikutnya ada pada penamaan. Satu kalimat di bagian konstruksi menyebut tiga jenis kayu utama, lalu menyebutkan empat nama.

Yang ditulis merbau, apua, ehei, dan bintangor. Jumlah yang disebut dan jumlah yang didaftar tidak cocok.

Nama ilmiahnya juga berbeda antara dua tabel. Betangor di tabel pertama ditulis Calophyllum inophyllum, sedangkan bintangor di tabel kedua ditulis Calophyllum soulattri.

Ejaan beberapa nama pun berubah antartabel. Rhizopora di tabel pertama menjadi Rhizophora di tabel kedua, dan Terminalia catapa menjadi Terminalia catappa.

Melinjo mengalami hal serupa. Tabel pertama menulis bagu sebagai Gnemon gnemon, sedangkan badan tulisan menyebutnya Gnetum gnemon.

Ada pula rujukan yang tidak berpasangan. Badan tulisan mengutip LIPI 2007 dan LIPI 2011, sementara daftar pustaka hanya memuat LIPI 2017.

Laporan ini juga tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Tidak ada keterangan tentang batas keberlakuan temuan dari delapan belas hari pengamatan.

Pisang Kepok yang Belum Mengubah Apa-apa

Bagian penutupnya menyoroti satu komoditas. Enggano kini terkenal sebagai penghasil pisang kepok untuk pasar Sumatera dan Jawa.

Banyak hutan baru dibuka menjadi ladang pisang. Dhanang Puspita dan Sigit Prasetyo menyebut hal itu merusak ekosistem hutan sekaligus mendorong pertanian monokultur.

Rata-rata tiap keluarga memiliki ladang pisang seluas 2,46 hektare. Angka itu dikutip dari penelitian Sinaga dan rekan pada 2019.

Yang menarik, pisang itu belum mengubah etnobotani warga. Produk olahan pisang kepok nyaris tidak ditemukan di sana.

Pengolahan menjadi keripik baru diperkenalkan pada 2021. Hasilnya disebut belum optimal dan pemasarannya sulit, sehingga warga memilih menjual pisang mentah.

Yang tetap diolah justru melinjo. Warga mengubahnya menjadi emping atau sekadar menjual biji keringnya.

Ada pula kawasan yang tidak berani disentuh warga. Laporan menyebut hutan adat, dan menambahkan bahwa masyarakat di sana sangat taat pada aturan adat.

Sektor kehutanannya pun masih menopang warga. Hutan lindung dan hutan adat disebut mampu mendukung lingkungan sekitarnya selama luasannya utuh dan vegetasinya baik.

Di tempat pembuatan perahu itu, kayu bayur masih diasap sampai bisa dibentuk. Yang berubah justru talinya, dari serat bagu menjadi plastik buatan pabrik.

Bagikan

Baca Juga

Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas
Stres Kerja Pegawai Pertanian Kirkuk dan Butir yang Hilang
Batin Sembilan, 399 Hektare yang Dipetakan tapi Masih Terbuka
Rambu Solo, Dua Pemimpin Ritual yang Nyaris Tak Dibedakan
Carok Madura, dari Tanah Kapur sampai Pemilihan Kepala Desa
Kesesuaian Lahan Alpukat Taeh Bukik dan Kelas N yang Janggal