- Suku Enggano memanfaatkan 64 spesies hewan dalam sepuluh kategori, dari obat tradisional sampai alat.
- Penyu hijau meraih indeks kepentingan budaya tertinggi, 1,071, dan disebut oleh seluruh informan.
- Ayam kampung unggul pada indeks kepentingan relatif dan nilai budaya karena punya enam kategori pemakaian.
- Adat Enggano membatasi penyu untuk upacara, paling banyak tiga ekor, dan melarang penjualannya ke luar pulau.
- Rata-rata terkoreksi literasi spesies kelas yang memakai buku Enggano 71,87, sedangkan kelas kontrol 63,91.
Cekricek.id — Indeks kepentingan budaya pada dasarnya adalah rata-rata jumlah pemakaian seekor hewan yang dilaporkan tiap orang yang diwawancarai. Di Pulau Enggano, Bengkulu, hewan dengan indeks tertinggi adalah penyu hijau, Chelonia mydas, dengan nilai 1,071. Hitungan itu berasal dari 28 informan kunci suku Enggano, yang menyebut 64 spesies hewan dalam sepuluh kategori pemakaian.
Penyu hijau juga paling sering disebut. Indeks frekuensi sebutan relatifnya 1,000, artinya seluruh informan menyebut hewan itu. Di urutan kedua indeks kepentingan budaya ada ayam kampung, Gallus gallus domesticus, dengan nilai 1,036. Urutan ketiga ditempati babi, Sus scrofa, dengan nilai 0,964.
Riset itu ditulis Alif Yanuar Zukmadini, Fatchur Rohman, Agus Dharmawan, Murni Sapta Sari, Syaiful Rochman, dan Sarah Abdul Razak. Zukmadini, Rohman, Dharmawan, dan Sari berasal dari Departemen Biologi Universitas Negeri Malang, dan Zukmadini juga dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu. Rochman dari Program Studi Pendidikan IPA Universitas Pendidikan Indonesia, sedangkan Razak dari Institute of Biological Sciences, Universiti Malaya.
Judulnya Potential Biodiversity from Ethnozoology of Enggano Island: Utilization, Quantitative Analysis, List of Animals Conserved by Local People, and Application of Research Findings Empowering Species Literacy in Biology Student Teachers. Artikel itu terbit di Indonesian Journal of Science & Technology Volume 9 Nomor 2, September 2024, halaman 463–496. Naskah diterima 2 Maret 2024 dan disetujui 26 Juni 2024. Naskah juga mencatat Agus Dharmawan meninggal dunia pada 18 Maret 2024.
Daftar Isi
Etnozoologi: Pengetahuan Warga tentang Hewan
Etnozoologi, menurut naskah, mempelajari pemakaian hewan, keragaman spesies, cara warga menggolongkan hewan, serta konservasi hewan oleh masyarakat lokal. Maksudnya, yang dicatat bukan hanya hewan apa yang hidup di Pulau Enggano. Yang dicatat juga apa arti hewan itu bagi orang yang tinggal di sana, dan aturan apa yang mereka pakai untuk mengambilnya.
Pulau Enggano berada di Samudra Hindia dan masuk Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Luasnya 400,6 kilometer persegi, sekitar 100 mil laut dari Pelabuhan Pulau Bai, Kota Bengkulu. Sekitar 35,89 persen wilayahnya berupa hutan, sedangkan 64,11 persen berupa permukiman, pertanian, dan perkebunan. Pulau itu punya enam desa dan lima tipe ekosistem, dari mangrove sampai rawa air tawar.
Penduduk aslinya suku Enggano, yang terbagi dalam enam subsuku: Kaahoao, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba, Kauno, dan Kaamay. Subsuku Kaamay diperuntukkan bagi pendatang dari luar pulau. Tiap subsuku dipimpin kepala yang disebut Ekap’u. Urusan adat dan pemerintahan difasilitasi seorang koordinator yang disebut Pa’abuki.
Data dikumpulkan lewat wawancara semiterstruktur, pengamatan, dan pengamatan terlibat. Informan dipilih secara purposif dan bola salju, dengan mempertimbangkan keahlian mereka soal hewan. Mereka antara lain kepala suku, pemburu, nelayan, penyembuh tradisional, ahli obat tradisional, pedagang ikan, dan peternak. Jumlahnya 28 informan kunci, terdiri atas enam perempuan dan 22 laki-laki berusia 35–75 tahun.
Sepuluh Kategori: dari Obat sampai Alat
Ke-64 spesies itu tersebar di 13 kelas hewan, dari Anthozoa, kelompok yang mencakup akar bahar, sampai burung dan mamalia. Pemakaiannya dibagi sepuluh kategori: obat tradisional, konsumsi, upacara adat, hiasan, ternak, hewan peliharaan, perdagangan, perburuan, mitologi, dan alat. Kategori yang paling umum adalah konsumsi, dengan ikan laut, krustasea, siput, dan kerang sebagai sumber makanan utama.
Akar bahar, Euplexaura spp., paling populer sebagai obat tradisional. Suku Enggano membaginya menjadi dua jenis. Akar bahar putih dipakai mengobati keracunan akibat makan ikan atau hewan laut. Akar bahar hitam dijadikan gelang untuk mengatasi rematik, asam urat, dan berbagai rasa nyeri. Empedu, hati, testis, telur, darah, daging, dan madu juga dipakai sebagai obat.
Untuk hiasan, yang terkenal adalah hiasan kepala dari bulu ayam kampung. Jumlah bulunya melambangkan jumlah subsuku di Pulau Enggano, dan hiasan itu hanya dipakai kepala suku dalam upacara adat. Cangkang triton terompet, Charonia tritonis, dijadikan alat tiup bernama kemiu. Bunyinya terdengar lebih dari 1 kilometer, dan hanya tokoh adat tertentu yang boleh meniupnya.
Mitologi punya tempatnya sendiri. Kokok ayam kampung pada malam hari dibaca sebagai tanda ada gadis hamil di luar nikah. Bangau yang terbang melintasi kampung dibaca sebagai tanda akan ada yang meninggal. Buaya putih dipercaya menjaga Danau Bak Blaw, dan orang yang mencemari danau atau berbuat tidak senonoh di sekitarnya diyakini jatuh sakit bila melihat buaya itu.
Baca juga Enggano, pulau yang baru mengenal beras pada zaman Jepang
Indeks Kepentingan Budaya: Rata-rata Sebutan per Informan
Bagian kuantitatif memakai empat indeks. Indeks kepentingan budaya menjumlahkan seluruh laporan pemakaian suatu spesies, lalu membaginya dengan jumlah informan. Indeks frekuensi sebutan relatif membagi jumlah informan yang menyebut spesies itu dengan jumlah seluruh informan. Bedanya begini: indeks pertama menghitung banyaknya pemakaian, sedangkan indeks kedua menghitung banyaknya orang yang menyebut.
Dua indeks lain menimbang keragaman pemakaian. Indeks kepentingan relatif merata-ratakan frekuensi sebutan dan jumlah kategori pemakaian, masing-masing dibandingkan dengan spesies tertinggi. Indeks nilai budaya mengalikan porsi kategori pemakaian, porsi informan yang menyebut, dan rata-rata laporan pemakaian. Pada kedua indeks ini, ayam kampung berada di puncak dengan nilai 0,821 dan 0,399.
Ayam kampung unggul karena punya enam kategori pemakaian: obat tradisional, konsumsi, hiasan, ternak, peliharaan, dan mitologi. Penyu hijau di urutan kedua pada kedua indeks itu, dengan 0,667 dan 0,214, disusul akar bahar dengan 0,607 dan 0,176. Nilai terendah ada pada ikan betok, Anabas testudineus. Menurut informan, ikan air tawar terasa dan beraroma tanah sehingga kurang disukai.
Menurut Tabel 4 naskah, indeks kepentingan budaya berkorelasi sangat kuat dengan frekuensi sebutan relatif, dengan koefisien Pearson 0,930 untuk 64 spesies. Maksudnya, hewan yang pemakaiannya banyak dilaporkan di Pulau Enggano juga cenderung disebut oleh banyak orang.
Penyu Hijau Pulau Enggano: Hidangan Wajib Upacara Adat
Penyu hijau disajikan sebagai hidangan dalam dua upacara adat. Yang pertama Buka Pantang, masa berkabung atas meninggalnya kepala suku, dan yang kedua upacara perkawinan adat. Warga Pulau Enggano percaya upacara tidak akan berjalan baik tanpa penyu. Angka yang dikutip naskah dari penelitian lain menyebut rata-rata 16 ekor penyu dipakai untuk perkawinan adat selama enam bulan, dengan kebutuhan daging 11,2 ton setahun.
Aturan adatnya ketat. Penyu hijau hanya boleh ditangkap untuk upacara adat, paling banyak tiga ekor, dengan panjang minimal 60–80 sentimeter. Penyu tidak boleh diperjualbelikan ke luar Pulau Enggano. Pelanggar dikenai denda adat disertai permintaan maaf kepada seluruh kepala suku. Penangkapan dilakukan dengan jaring dan tombak dari kayu dan besi pada masa bulan purnama.
Dalam Daftar Merah IUCN, penyu hijau berstatus genting dengan populasi yang menurun. Para peneliti menilainya sebagai spesies paling penting untuk dikonservasi di pulau itu. Kekhawatiran utama suku Enggano pun menyangkut penyu. “Mereka tidak ingin hewan ini punah karena itu akan menyebabkan punahnya tradisi mereka,” tulis Alif Yanuar Zukmadini dan rekan-rekannya.
Kutipan itu datang bersama sebuah catatan. Sejumlah informan mengira penyu hijau selalu bertelur dalam jumlah besar sepanjang musim kawin, dan mereka mengaku tidak mengambil telur maupun tukik. Menurut para peneliti, pengetahuan dan sikap itu membentuk anggapan bahwa populasi penyu tidak akan menurun di alam. Karena itu, pengetahuan warga tentang penyu hijau disebut perlu ditingkatkan.
Baca juga Rejang terancam, Enggano justru lebih terjaga
Denda Adat: Aturan Tangkap untuk Hewan Lain
Aturan serupa berlaku untuk hewan lain. Babi hutan diburu dengan anjing dan tombak, tetapi anak babi dan babi bunting tidak ditangkap. Ikan laut hanya diambil yang berukuran sedang sampai besar, tanpa racun atau bom, dan pemakai racun atau bom kena denda adat. Ikan air tawar seperti gabus ditangkap dengan pancing dan setrum listrik. Menangkap buaya muara, sapi liar, dan kerbau liar juga dikenai denda adat.
Burung endemik diatur lebih rinci. Beo Enggano, Gracula religiosa enganensis, hanya boleh ditangkap pada tahun ganjil, dan burung dewasa tidak boleh diambil. Tiap warga hanya boleh memelihara satu ekor beo atau Psittacula longicauda, dan keduanya tidak boleh dibawa ke luar pulau. Zosterops salvadorii ditangkap dengan getah kayu bendo, dan hanya warga Pulau Enggano yang boleh memeliharanya.
Literasi Spesies: Mengenali dan Memahami Hewan
Temuan lapangan itu kemudian dijadikan buku ajar etnozoologi Pulau Enggano berisi lima bab. Literasi spesies, menurut naskah, mencakup pengetahuan luas berupa kemampuan mengenali spesies, dan pengetahuan mendalam seperti habitat, makanan, posisi dalam piramida makanan, status konservasi, pemangsa, perilaku, serta manfaat. Tiap spesies diuji dengan delapan pertanyaan pendek, untuk 13 spesies.
Buku itu dinilai empat validator, dengan skor 98,82 persen dari ahli pembelajaran, 87,64 persen dari praktisi, serta 100 persen dari ahli media dan ahli materi. Uji kelas melibatkan mahasiswa calon guru biologi semester lima pada mata kuliah etnobiologi. Kelas eksperimen berisi 24 mahasiswa dan memakai buku Enggano, sedangkan kelas kontrol berisi 21 mahasiswa dan memakai buku etnozoologi umum.
Kedua kelas belajar dengan model pembelajaran berbasis masalah. Rata-rata pretes kelas kontrol 45,40 lalu naik ke 65,12 pada postes, sedangkan kelas eksperimen naik dari 41,33 ke 70,81. Uji ANCOVA satu arah, yang memperhitungkan skor awal mahasiswa, menghasilkan rata-rata terkoreksi 71,87 untuk kelas eksperimen dan 63,91 untuk kelas kontrol. Selisih itu dinyatakan signifikan dengan p = 0,005.
Para peneliti mengakui sejumlah hewan hanya diidentifikasi sampai tingkat genus, ditandai sp. atau spp. Penamaan seperti itu menghambat penilaian status konservasi dan tren populasinya di Daftar Merah IUCN. Mereka juga berencana melibatkan lebih banyak mahasiswa dan metode belajar lain dalam uji literasi spesies berikutnya.
Baca juga Ular suku Arfak di Manokwari, pangan dan obat dari hutan
Redaksi menemukan beberapa kejanggalan. Skor validitas dari ahli pembelajaran dan praktisi, 98,82 dan 87,64 persen, persis sama dengan skor kepraktisan dari dosen dan mahasiswa di Tabel 10. Naskah juga menyebut nilai indeks terendah berasal dari Tabel 2, padahal indeks disajikan di Tabel 3. Kampus tempat kelas uji berlangsung tidak disebutkan.
Batas indeks kepentingan budaya perlu dicatat. Nilai 1,071 untuk penyu hijau mengukur banyaknya pemakaian yang dilaporkan 28 informan, bukan jumlah penyu di perairan Pulau Enggano. Angka itu juga tidak menyatakan berapa ekor penyu yang benar-benar ditangkap dalam setahun.














