Orang Rimba Lari ke Hutan Saat Pandemi, Ubi Kayu Tetap Cukup

A A

Ilustrasi tumpukan ubi kayu segar yang baru dipanen. [Foto: Pexels]

  • Penelitian lapangan pada Juni 2020 melibatkan kelompok Njalo, sepuluh keluarga Orang Rimba di selatan Taman Nasional Bukit Duabelas.
  • Saat pandemi, kelompok Njalo lari ke hutan dan menjalankan besesanding untuk menjauhkan penyakit.
  • Kelompok Njalo tidak kekurangan makanan pokok, tetapi rasa aman dan pemasukan untuk kebutuhan dari pasar terganggu.
  • Pengeluaran terbesar keluarga justru rokok dan jajan anak, bukan makanan.
  • Rokok beli dicampur tembakau tradisional, sementara minyak goreng diganti lemak hewan.

Cekricek.id — Kabar dari orang desa menyebut ada penyakit yang telah membunuh orang-orang di dunia. Njalo dan kelompoknya, sepuluh keluarga Orang Rimba di Sungai Sakoselengsing, Jambi, lalu meninggalkan kebun yang belum jadi. Mereka lari ke dalam hutan Taman Nasional Bukit Duabelas.

“Kami sangat ketakutan ketika mendengar mengenai penyakit ini… bisa musnah kami,” kata Njalo kepada peneliti. Kelompoknya menjalankan besesanding, tradisi memisahkan orang yang sakit atau baru bepergian dari kelompok. Menurut para peneliti, Orang Rimba belum pernah mendengar ada penyakit yang menyebar ke seluruh dunia dan menimbulkan banyak kematian.

Di hutan, mereka berburu, membuka ladang ubi, dan kembali menyadap kebun karet lama yang sempat ditinggalkan. Kelompok Njalo tidak kekurangan makanan pokok. Yang terganggu, tulis para peneliti, adalah rasa aman dan uang untuk kebutuhan yang harus dibeli dari pasar, seperti rokok dan jajan anak.

Temuan itu ditulis Kristiawan dan Dwi Sutiningsih dari Magister Epidemiologi Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, bersama Adi Prasetijo dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya universitas yang sama. Judulnya Ketahanan Pangan Keluarga Orang Rimba Selatan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi: Studi Mikroetnografi Keluarga Njalo dalam Menghadapi Pandemik. Artikel itu terbit di Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Volume 23 Nomor 1, Juni 2021, halaman 83–92.

Daftar Isi
  1. Sepuluh Keluarga Orang Rimba di Tepi Taman Nasional
  2. Getah Karet, Madu, dan Rokok yang Harus Dibeli
  3. Ubi Kayu, Pantang’on, dan Makanan Orang Terang
  4. Besesandingon, Cara Lama Menjauhkan Penyakit
  5. Tembakau Hutan Menggantikan Sebagian Rokok Warung

Sepuluh Keluarga Orang Rimba di Tepi Taman Nasional

Penelitian lapangan tentang Orang Rimba ini dilakukan pada Juni 2020 di wilayah selatan Taman Nasional Bukit Duabelas. Lokasinya masuk Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Kristiawan memakai pendekatan mikroetnografi, dengan survei, wawancara, diskusi kelompok terfokus, dan pengamatan. Daftar pustaka naskah mencatat wawancara berlangsung pada 3–7 Juni 2020.

Kelompok Njalo dipilih karena kedekatan peneliti dengan informan. Menurut catatan kaki naskah, Kristiawan bekerja sebagai pendamping Orang Rimba sejak 2008. Alasan lainnya, kelompok ini sudah menggabungkan intensifikasi pertanian dengan berburu dan meramu. Mereka berada di wilayah kepemimpinan Tumenggung Ngrip, dan menyebut diri kelompok Njalo karena membuka kebun bersama-sama.

Selama sekitar tiga bulan, Maret sampai Mei, sebagian besar anggota kelompok menyebar di dalam hutan taman nasional untuk menghindari penyakit. Ketika suasana mulai tenang, mereka bergeser ke pinggir hutan. Kebun dibuka sekitar 1 kilometer, atau 20 menit berjalan kaki, dari permukiman. “Lokasi kami membuka dekat dengan desa agar dekat untuk menjual hasil kebun kami,” kata Njalo.

Hutan tempat mereka menyingkir terus menyusut. Menurut analisis citra satelit yang dikutip naskah dari KKI Warsi, tutupan hutan Jambi pada 2019 hanya sekitar 900 ribu hektare, atau 17 persen dari luas provinsi, turun 20 ribu hektare dibandingkan 2017. Para peneliti mencatat sebagian besar kelompok Orang Rimba kini hidup di luar hutan akibat pembalakan liar, pertambangan, serta kebakaran hutan dan lahan.

Getah Karet, Madu, dan Rokok yang Harus Dibeli

Menurut Grafis 1 dalam naskah, 80 persen Orang Rimba kelompok Njalo menggantungkan hidup pada intensifikasi pertanian. Namun, mereka masih berburu dan meramu, baik untuk makan maupun untuk mencari hasil hutan bernilai jual. Hasil itu antara lain getah jernang, damar, madu, dan durian hutan. Gemambun menyebut uang dari hasil hutan dipakai membeli gula, kopi, minyak goreng, dan rokok.

Hasil hutan makin sulit dikumpulkan. Menurut Gemambun dan Njalo, hutan makin sempit dan pencarinya makin banyak, sementara musim tak menentu. “Beberapa barang kayak damar dari dulu, sudah sekitar 15 tahun kemi mencari, harganya masih sekitar 2000/kilo,” tutur mereka. Harga itu, kata keduanya, tidak sebanding dengan jauhnya mencari dan membawa damar ke pinggir desa.

Rata-rata pendapatan keluarga Orang Rimba kelompok Njalo satu juta sampai satu setengah juta rupiah per bulan. Bedingen bercerita, dua minggu sekali getah karet mereka bisa 60 sampai 80 kilogram, dengan harga sekitar Rp6.000 per kilogram. Madu hutan dijual Rp80.000 per kilogram, kadang sampai Rp100.000, karena menurut Bedingen asli dari hutan dan tidak dicampur. Semuanya bergantung pada musim hujan dan musim buah.

Pengeluaran terbesar justru bukan makanan. Menurut Induk Bebungo, suaminya menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok sehari, seharga Rp12.000 sampai Rp25.000 per bungkus. Induk Nyerat dan Induk Bepuncak menyebut jajan anak menghabiskan Rp10.000 sampai Rp12.000 per anak per hari. “Jika untuk makan, kami tidak pusing selama masih ada ubi kayu dan garam,” kata mereka.

Baca juga Batin Sembilan, 399 hektare yang dipetakan tapi masih terbuka

Ubi Kayu, Pantang’on, dan Makanan Orang Terang

Makanan pokok kelompok Njalo adalah ubi kayu, karena mengenyangkan dalam waktu lama. Menurut para induk, ubi kayu mudah tumbuh, mudah ditanam, tahan disimpan, dan bisa dijual ke desa. Umbi hutan seperti benor dan gadung masih dimakan Orang Rimba, tetapi makin jarang karena sulit didapat dan pengolahannya lebih rumit.

“Kami juga kadang masih makan umbi-umbian dari hutan kayak benor dan gadung, tapi pengolahannya agak payah kini,” kata Induk Matut dan Induk Nentu. Dari penjualan ubi kayu, mereka membeli garam, gula, kopi, dan teh. Karena itu, Kristiawan dan rekan-rekannya menilai kelompok Njalo sudah dapat memproduksi pangan pokok secara mandiri.

Orang Rimba juga menjalankan pantang’on, pantangan memakan hewan peliharaan Orang Melayu, seperti ayam, telur, kambing, sapi, dan susu. Makanan itu, menurut naskah, mewakili kehidupan Orang Terang. Pantangan tersebut kini mulai berubah, karena sebagian kelompok mulai makan makanan dari luar, dari bantuan maupun membeli. Selera lama tetap terbawa: daging babi dinilai lebih enak daripada sapi, dan ayam terasa hambar dibandingkan burung kuo atau ayam hutan.

Besesandingon, Cara Lama Menjauhkan Penyakit

Besesandingon adalah tradisi Orang Rimba untuk mencegah penularan penyakit. Menurut catatan kaki naskah, orang yang baru bepergian dan berjumpa orang luar dipisahkan dari kelompok selama tiga sampai empat hari, atau sampai terbukti tidak membawa penyakit. Saat pandemi, anggota yang batuk, pilek, atau demam juga dipisahkan dari yang sehat.

Njalo menggambarkan hari-hari itu. “Kami melarang orang lain masuk, kalo ada yang baru keluar kami pisahkan. Jika ada yang muncul tanda saki-sakit, kami pisahkan,” katanya. Selama berdiam di hutan, sebagian membuka hutan untuk kebun ubi dan sebagian berburu. Ada pula yang menyadap kebun karet yang lama ditinggalkan karena jauh untuk menjual getahnya.

Bungo, anggota kelompok yang paling sering berburu, merasakan dampaknya di pasar. Ia jarang berburu jauh karena takut bertemu orang dan tertular dari orang desa. Toke, pengumpul daging buruan yang menyalurkannya ke Jawa dan Sumatra Utara, membatasi pembelian. “Kata pengumpul dagingnya pengiriman daging lagi macet pada masa pandemik ini… jadi kami payah untuk membeli rokok sekarang,” kata Bungo.

Baca juga Bak’ba, pantun bernyanyi dari Simpang Parit

Tembakau Hutan Menggantikan Sebagian Rokok Warung

Tabel 1 dalam naskah membandingkan kebutuhan Orang Rimba sebelum dan semasa pandemi. Beras yang biasanya dibeli kini datang dari bantuan. Ikan dicari di sungai dalam kawasan hutan, dan gula sebagian diganti madu hutan serta air tebu. Minyak goreng diganti lemak hewan, terutama babi hutan, sedangkan bumbu dapur tinggal garam dan penyedap masako.

Rokok tetap menjadi kebutuhan tinggi. Karena takut berinteraksi dengan orang luar dan pemasukan menurun, kelompok Njalo mencampur rokok beli dengan tembakau tradisional yang lama ditinggalkan. Kebutuhan jajan anak, bahan bakar, servis motor, dan pakaian anak turun ke tingkat rendah. Menurut tabel itu, anak-anak lebih banyak bermain di hutan, dan kain panjang adat kembali sering dipakai.

Menurut Kristiawan, Prasetijo, dan Sutiningsih, ketahanan pangan Orang Rimba punya daya lentur sosial. Pandemi mendorong mereka menghidupkan kembali pengetahuan lama tentang membuka hutan untuk pertanian. Selama isolasi di hutan, mereka memperluas kebun ubi dan mulai menata skala prioritas pengeluaran keluarga.

Temuan itu bersandar pada satu kelompok berisi 10 keluarga dan kerja lapangan pada Juni 2020. Naskah tidak menyebut jumlah responden di balik angka 80 persen pada Grafis 1. Kristiawan telah mendampingi Orang Rimba sejak 2008, dan kedekatan itu disebut sebagai alasan memilih kelompok Njalo. Naskah tidak menguraikan pengaruh kedekatan tersebut pada data yang dikumpulkan.

Baca juga Lalapan Cireundeu tercatat 38 jenis, kebun jadi sumber utama

Redaksi menemukan beberapa kejanggalan dalam naskah Kristiawan dan rekan-rekannya. Undang-undang pangan disebut UU No 8 Tahun 2012 di badan naskah, tetapi di daftar pustaka tertulis Nomor 18 Tahun 2012 dengan pengarang Peraturan Presiden. Pengeluaran rumah tangga dirujuk sebagai Tabel 1, padahal yang disajikan Chart Histogram 1. Nama sungai juga berganti antara Sakoselengsing dan Selingsing. Wawancara Kristiawan dengan Orang Rimba dicantumkan sebagai rujukan di daftar pustaka. Dua rujukan lain berupa berita portal daring, dan salah satunya dikutip di pembuka naskah untuk menggambarkan dampak pandemi pada pasokan pangan dunia.

Ucapan terima kasih naskah ditujukan kepada Orang Rimba kelompok Njalo, yang bersedia menjadi narasumber meskipun masih dalam suasana besesanding. Kebun yang sempat mereka tinggalkan saat lari ke hutan berada di Sungai Sakoselengsing, sekitar 20 menit berjalan kaki dari desa.

Bagikan

Baca Juga

Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol
Pisang Balai Panjang dan BUMNag yang Berhenti Bergerak
Lalapan Cireundeu Tercatat 38 Jenis, Kebun Jadi Sumber Utama
Jabatan Puun Kanekes Berakhir Ketika Istrinya Meninggal
Dukun Pandita Tengger dan Tiga Ujian di Gunung Bromo
Baboi Mentawai, Ibu Adat yang Tak Satu Pun Disebut Namanya