Pisang Balai Panjang dan BUMNag yang Berhenti Bergerak

A A

Ilustrasi keripik pisang dalam bakul anyaman. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Cookies pisang itu baru diangkat dari oven listrik mini delapan ratus watt ketika penilaiannya dimulai. Peserta diminta menyebut apa yang mereka dapati pada teksturnya, rasanya, dan tampilannya. Bukan penilaian juri. Penilaian itu bagian dari pelatihannya sendiri, dikerjakan bersama-sama, oleh ibu-ibu yang sebelum hari itu tidak memiliki pengetahuan teknis mengolah pangan.

Tempatnya Aula Kantor Wali Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Waktunya Agustus sampai Oktober 2025. Yang hadir kelompok tani, kelompok ternak, kader PKK nagari, pemuda nagari, dan pengurus badan usaha milik nagari setempat. Alat yang dipakai hanya empat macam, semuanya bisa dibeli di toko biasa dan dioperasikan tanpa pelatihan panjang.

Kegiatannya dicatat oleh Rahmi Awalina dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas bersama Wellyalina dari Departemen Teknologi Hasil Pertanian dan Tevina Edwin dari Departemen Peternakan di universitas yang sama. Laporan mereka terbit dengan judul Agricultural Innovation and Halal Food Security Through Outreach Activities In Balai Balai Panjang di Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development Volume 6 Nomor 1 tahun 2026.

Daftar Isi
  1. Pisang yang selama ini keluar dari nagari dalam keadaan mentah
  2. Badan usaha yang berdiri pada 2019 lalu berhenti bergerak
  3. Empat alat sederhana dan pekerjaan yang belum selesai di aula itu

Pisang yang selama ini keluar dari nagari dalam keadaan mentah

Ilustrasi seorang pedagang berdiri di antara tandan pisang yang digantung di los pasar.
Ilustrasi seorang pedagang berdiri di antara tandan pisang yang digantung di los pasar. [Foto: Pexels]

Balai Panjang luasnya 25,09 kilometer persegi dengan penduduk 5.689 jiwa. Sebagian besar warganya bekerja di pertanian dan perkebunan rakyat: padi, jagung, gambir. Tanahnya subur dan air tersedia cukup. Dua hal itu yang membuat nagari ini disebut salah satu kantong pangan di kawasannya. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Limapuluh Kota tahun 2023 mencatat lebih dari 70 persen penduduknya hidup dari bertani dan usaha kecil di sektor tersebut.

Baca juga Bias Tersembunyi di Soal Ujian Bahasa Inggris Niaga

Yang tidak berubah adalah bentuk hasil panen ketika meninggalkan nagari. Komoditas dijual mentah, tanpa pengolahan pascapanen. Nilai tambahnya rendah dan harga jualnya ditentukan pedagang perantara. Praktik bertaninya pun masih tradisional dan berorientasi subsisten. Tim Universitas Andalas menuliskan keadaan itu apa adanya: lahan yang subur, tetapi rantai nilainya berhenti di titik paling murah. Teknologinya juga bertahan di tempat. Petani Balai Panjang masih mengandalkan pengairan manual dan cara konvensional untuk pengolahan tanah. Belum ada hidroponik, belum ada irigasi otomatis berbasis sensor, belum ada digitalisasi data pertanian yang bisa membuat pengelolaan lahan lebih efisien. Pada saat yang sama, menurut laporan industri halal yang dikutip tim, permintaan produk pertanian dan olahan halal terus naik di tingkat nasional maupun global.

Angka nasional memberi ukurannya. Sektor pertanian menyumbang 12,4 persen produk domestik bruto Indonesia pada 2023 menurut Badan Pusat Statistik. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 25 persen penduduk dunia menggantungkan hidupnya pada sektor yang sama. Persoalan yang menyertai pun seragam di banyak tempat: produktivitas rendah, sumber daya alam yang menyusut, dan akses yang timpang pada teknologi modern.

Pisang dipilih bukan karena istimewa. Ia dipilih karena banyak. Buah itu tersedia melimpah di sekitar nagari dan selama ini paling sering berpindah tangan dalam keadaan utuh, tanpa pengolahan apa pun. Tim menawarkan dua bentuk olahan yang paling mungkin dikerjakan di dapur rumah tangga: nugget dan cookies. Rahmawati dan rekan-rekannya, yang dirujuk laporan ini, menyebut pelatihan berbasis potensi lokal memang bertujuan menaikkan nilai produk setempat sekaligus membuka peluang usaha baru di desa. Kerangka kebijakannya sudah lama ada. Pemerintah mendorong penguatan ekonomi desa lewat pendirian badan usaha milik desa atau nagari sebagai penggerak ekonomi berbasis potensi lokal. Di Balai Panjang kerangka itu sudah dipasang sejak 2019. Yang belum pernah ada adalah isinya.

Badan usaha yang berdiri pada 2019 lalu berhenti bergerak

BUMNag Jalur Gemilang didirikan pada 2019. Tujuannya menggerakkan ekonomi nagari lewat usaha berbasis potensi setempat: pertanian, perdagangan hasil tani, pengolahan pangan. Enam tahun kemudian, ketika tim datang pada 2025, badan usaha itu belum memiliki satu pun unit usaha yang berjalan. Hanya sekitar 30 persen pengurusnya aktif. Tidak ada sistem administrasi, tidak ada laporan keuangan, tidak ada rencana usaha yang dijalankan.

Baca juga Air Bersih dan KKN Kebencanaan di Kota Padang

Penyebabnya diperoleh dari wawancara dengan perangkat nagari dan pengurus badan usaha itu sendiri. Pembagian tugas tidak jelas. Koordinasi internal kurang. Sistem administrasi dan pelaporan keuangan tidak pernah mapan. Di luar kepengurusan, kepercayaan dan partisipasi warga rendah, terutama di kalangan anak muda, sehingga pergantian tenaga kerja pertanian dan pembaruan usaha nagari sama-sama melambat. Program pemberdayaan sebelumnya, tulis Rahmi Awalina dan dua rekannya, umumnya berhenti pada pelatihan dasar atau kegiatan sosial, tanpa model usaha dan tanpa dukungan teknologi tepat guna. Kebaruan yang mereka klaim untuk kegiatan ini terletak pada penggabungan tiga hal sekaligus: penguatan kelembagaan badan usaha nagari, penerapan teknologi pertanian, dan pelatihan agribisnis halal yang bertumpu pada bahan baku setempat.

Pendekatannya disebut partisipatif. Warga tidak diposisikan sebagai penerima manfaat semata, melainkan dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahapannya tiga: sosialisasi di aula kantor wali nagari, pelatihan pengolahan hasil pertanian, lalu pendampingan. Sosialisasi digelar lebih dulu di aula yang sama. Isinya pemaparan tujuan dan manfaat program, diskusi terbuka tentang potensi pengolahan hasil tani setempat, terutama pisang, dan penilaian kesiapan warga mengikuti kegiatan. Tujuannya, tulis tim itu, membangun komunikasi dua arah dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap program supaya kegiatannya tidak berjalan di luar konteks setempat. Kelompok tani, kelompok ternak, kader PKK, pemuda nagari, dan pengurus BUMNag duduk di ruangan yang sama pada tahap ini.

Empat alat sederhana dan pekerjaan yang belum selesai di aula itu

Daftar alatnya pendek. Blender rumah tangga 300 watt berkapasitas 1,5 liter untuk melumat adonan pisang dan bahan pendukungnya. Oven listrik mini 800 watt berkapasitas 20 liter untuk memanggang cookies. Loyang aluminium ukuran 20 kali 20 sentimeter sebagai cetakan adonan nugget dan cookies. Satu mesin pengemas plastik bersistem sealer manual. Empat benda itulah yang dimaksud tim dengan “teknologi tepat guna”.

Baca juga Nini Anteh dan Chang'e, Dua Perempuan di Bulan

Pelatihannya berlangsung tatap muka dengan demonstrasi dan praktik langsung. Peserta dikenalkan pada karakteristik pisang sebagai bahan baku dan pemilihan bahan pendukung yang aman. Tim mendemonstrasikan urutan kerjanya dari penyiapan bahan, pengolahan, pengemasan, sampai penyimpanan. Sesudah itu peserta mencoba sendiri di bawah bimbingan instruktur. Penilaian bersama atas tekstur, rasa, dan tampilan produk menutup rangkaian tersebut. Pendampingan sesudah pelatihan menyentuh dua hal. Pertama, prinsip dan standar Sistem Jaminan Produk Halal dalam pengolahan pangan, penerapan cara produksi pangan yang baik beserta sanitasinya, dan penyusunan dokumentasi halal sederhana untuk usaha mikro. Kedua, pengemasan yang higienis sekaligus menarik dilihat, ditambah pengenalan strategi pemasaran digital sederhana lewat media sosial dan lapak daring lokal.

Hasil yang dilaporkan berupa perubahan pengetahuan dan sikap, bukan angka penjualan. Warga disebut lebih memahami diversifikasi produk pangan lokal, lebih sadar pada ketahanan pangan berbasis prinsip halal, dan lebih mampu mengolah produk setempat secara kreatif. Muncul pula inisiatif menghidupkan kembali BUMNag Jalur Gemilang sebagai wadah usaha bersama. Sulastri dan rekan-rekannya, yang dirujuk laporan ini, menyebut pendampingan intensif menumbuhkan rasa memiliki atas hasil inovasi.

Tingkat kesulitan pelaksanaannya, menurut catatan tim, tergolong rendah pada tahap pelatihan dan pendampingan. Sambutan peserta tinggi dan dukungan perangkat nagari kuat. Model pengolahan pisang itu dinilai cocok dengan keadaan warga karena memakai bahan setempat, alat sederhana, dan bisa ditiru tanpa modal besar. Produknya dianggap punya peluang pasar karena sejalan dengan tren camilan berbahan buah lokal. Kolaborasi antarkelompok tani ikut tumbuh selama pendampingan berlangsung.

Tim itu sendiri menyebut kelemahannya. Akses pada peralatan berskala produksi masih terbatas. Pengetahuan lanjutan tentang manajemen usaha dan pemasaran digital belum memadai. Tantangan terbesar, tulis mereka, bukan pada tahap pelatihan yang sambutannya justru tinggi, melainkan pada tahap produksi berkelanjutan dan penguatan kelembagaan ekonomi nagari. Dua tahap itu yang akan menentukan apakah kegiatan ini berumur panjang. Batas laporannya perlu dijaga. Ini catatan pengabdian atas satu nagari berpenduduk 5.689 jiwa, bukan uji dampak dengan kelompok pembanding, dan tidak memuat data penjualan, pendapatan, atau jumlah unit usaha yang berdiri sesudahnya. Kenaikan pengetahuan yang tercatat di aula nagari tidak dengan sendirinya berarti kenaikan penghasilan di dapur warga.

Kegiatan itu dibiayai skema kemitraan masyarakat membangun desa lewat direktorat penelitian dan pengabdian masyarakat Universitas Andalas, dengan dukungan anggaran kementerian untuk tahun 2025. Oktober lewat, tim kembali ke Padang. Loyang 20 kali 20 sentimeter itu tinggal di nagari, begitu juga oven mini dan mesin sealer manualnya. Pasarnya belum.

Bagikan

Baca Juga

Radioterapi Kanker Payudara, Empat Bahan Bolus Dibandingkan
Satu Pohon Aren di Talamau Mengalirkan 37 Liter Nira Sehari
Anyaman Mansiang Taratak Raih Sertifikat Indikasi Geografis
Kentang Cingkariang, Planlet Tumbuh tapi Akarnya Menyusut
Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan
58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami