Nini Anteh dan Chang'e, Dua Perempuan di Bulan

A A

Ilustrasi bulan purnama dengan bercak gelap di permukaannya pada langit malam. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Pada 2012, Ari Jogaiswara Adipurwawidjana menggambar ulang bayangan gelap di permukaan bulan. Yang muncul di kertasnya bukan kelinci, bukan pula lelaki penebang kayu. Yang muncul adalah sosok nenek, sebuah alat tenun, dan seekor kucing. Gambar itu dibuat untuk sebuah seminar budaya Sunda di Jatinangor. Empat belas tahun kemudian gambar yang sama dipasang sebagai ilustrasi sebuah artikel jurnal.

Artikel itu terbit pada 10 Juni 2026 di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1, halaman 237 sampai 257. Judulnya Intertekstualitas Legenda Nini Anteh dan Legenda Chang’e: Komparasi Budaya Sunda dan Tionghoa. Penulisnya tiga orang: Yostiani Noor Asmi Harini dari Universitas Pendidikan Indonesia, serta Arief Dwinanto dan Dina Srirahayu dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Naskahnya diterima pada 10 Maret 2026 dan disetujui terbit pada 1 Mei 2026.

Bentuk bayangan di permukaan bulan sama di mana pun orang berdiri menatapnya. Ceritanya tidak. Masyarakat Aztec membaca bayangan itu sebagai kelinci yang menawarkan tubuhnya kepada Dewa Quetzalcoatl. Masyarakat Jepang membaca kelinci yang sedang menumbuk kue mochi. Masyarakat Jerman membaca seorang penebang kayu yang ditendang sampai ke bulan karena lalai beribadah. Empat masyarakat, empat bacaan, satu permukaan yang sama.

Di Selandia Baru, masyarakat Maori mengenal Rona, perempuan yang ditarik ke bulan oleh Marama dan kemudian menjadi pengendali pasang surut air laut. Rona tidak memilih; ia ditarik. Pada dua legenda yang dibandingkan tim penulis artikel ini, perempuannya berangkat atas keputusan sendiri. Perbedaan kecil itulah titik tolak seluruh kajian: perempuan yang memegang kendali atas nasibnya sendiri, bukan perempuan yang dipindahkan oleh kekuatan lain.

Daftar Isi
  1. Dari Dinasti Han sampai Masa Kolonial
  2. Dua Penutur di Bandung dan Alat Baca dari Kristeva
  3. Catatan 2016 dan 2018: Ilmu Saepi dan Alat Tenun
  4. Malam Purnama: Ngabungbang dan Zhongqiu Jie
  5. Batas yang Diakui Papernya

Dari Dinasti Han sampai Masa Kolonial

Ilustrasi deretan lampion merah bergantung rapat di sebuah kelenteng.
Ilustrasi deretan lampion merah bergantung rapat di sebuah kelenteng. [Foto: Pexels]

Catatan kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara ditarik jauh ke belakang. Jejak tertua yang tercatat berasal dari masa Dinasti Han, 206 sebelum Masehi sampai 220 Masehi. Pada masa Dinasti Tang, 618 sampai 907 Masehi, pelayaran ke kepulauan ini berlanjut dalam jumlah besar. Pemicunya perdagangan, terutama kontak dagang dengan Pulau Jawa lewat jalur maritim.

Jumlah imigran melonjak pada masa Dinasti Ching, 1644 sampai 1911, terpicu perang antara bangsa Manchu dan Dinasti Ming. Empat suku bangsa tercatat bermigrasi ke Indonesia: Hokkien, Hakka, Tiu-Chiu, dan Kanton. Pada masa kolonial, abad ketujuh belas sampai abad kesembilan belas, populasinya bertambah lagi. Seluruh rangkaian tanggal itu bersandar pada satu rujukan, buku Benny G. Setiono terbitan 2002.

Rangkaian tanggal itu dipakai untuk satu keperluan. Dalam ilmu folklor ada penjelasan bernama poligenesis: cerita yang mirip muncul sendiri-sendiri di tempat yang berjauhan, tanpa saling menular. Penjelasan itu, tulis tim penulis, sulit dipakai untuk kasus ini justru karena kedua masyarakat sudah bersinggungan berabad-abad lamanya. Yang tersisa adalah penjelasan kedua, yaitu penyebaran dari satu sumber lewat migrasi atau kontak antarkelompok masyarakat.

Baca juga Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis

Perbandingan legenda Indonesia dengan Tiongkok pun bukan hal baru. Sebelumnya sudah ada perbandingan Malin Deman dan Puti Bungsu dengan Niu Lang dan Zhi Nu, juga perbandingan Jaka Tarub dengan pasangan yang sama. Bedanya, perempuan dalam legenda-legenda itu bidadari atau dewi yang turun ke bumi. Nini Anteh dan Chang’e sebaliknya: penduduk bumi yang naik ke bulan.

Dua Penutur di Bandung dan Alat Baca dari Kristeva

Data lisannya dikumpulkan di Bandung. Legenda Nini Anteh diambil dari seorang penutur Sunda, legenda Chang’e dari seorang warga keturunan Tionghoa. Saat perekaman, penutur pertama bertutur dalam bahasa Sunda dan penutur kedua dalam bahasa Tionghoa. Rekaman itu ditranskripsi, ditransliterasi, lalu dibaca ulang memakai kerangka intertekstualitas Julia Kristeva. Nama kedua penutur tidak dicantumkan dalam artikel.

Kristeva menyebut setiap teks sebagai “mozaik kutipan”, hasil serapan teks-teks lain yang mendahuluinya. Dengan kacamata itu legenda tidak lagi dibaca sebagai kisah tertutup. Nini Anteh dan Chang’e dibaca sebagai dua teks yang saling berbicara. Titik temunya satu motif, yaitu “perempuan di bulan”. Legenda, dalam bacaan semacam itu, bekerja sebagai arsip hidup yang merekam perjumpaan dua budaya.

Isi kedua cerita tetap berbeda. Nini Anteh perempuan tua yang gemar menenun sambil menatap bulan, ditemani kucingnya, Candramawat. Ia pergi ke bulan karena panggilan batin, bersama suaminya, Aki Balangantrang, dengan ilmu saepi. Chang’e perempuan muda, istri Hou Yi si pemanah sembilan matahari, yang melayang ke bulan setelah menelan pil keabadian agar pil itu tidak jatuh ke tangan pencuri.

Sesudah itu nasib keduanya berpisah. Nini Anteh tetap manusia, tetap menenun, dan tampak dari bumi hanya sebagai bayangan. Chang’e berubah menjadi dewi. Menurut Yostiani Noor Asmi Harini dan dua rekannya, perbedaan itu menandai dua sistem nilai: kosmologi Sunda yang tidak memisahkan tegas manusia, alam, dan roh, serta gagasan Taois tentang keabadian sebagai pencapaian spiritual.

Ketegangan pada kisah Chang’e dibaca dari dua arah. Ajaran Konfusian menekankan kepatuhan pada peran di dalam keluarga, sementara ajaran Tao menekankan pencarian keabadian dan penyatuan dengan alam semesta. Pil yang ditelan Chang’e memisahkan dirinya dari Hou Yi sekaligus melepaskannya dari batas kemanusiaan. Dua nilai itu bertabrakan dalam satu tegukan, dan ceritanya tidak memenangkan salah satu di antaranya.

Baca juga Cara Tokoh Heartbreak Motel Menyuruh dan Meminta

Perbandingannya disusun dalam tiga baris. Penyebab kepergian ke bulan mereka sebut ideologeme alienasi dan otonomi. Kegiatan menenun mereka sebut ideologeme kemandirian. Perbedaan status manusia dan dewi mereka sebut ideologeme hibriditas budaya. Istilahnya berat, isinya sederhana: satu motif dipakai dua masyarakat untuk menjawab dua pertanyaan yang berbeda. Bulannya tempat yang sama; jalan menuju ke sana tidak.

Catatan 2016 dan 2018: Ilmu Saepi dan Alat Tenun

Nini Anteh sudah lebih dulu masuk catatan akademik. Pada 2016 Yostiani Noor Asmi Harini menulis tentang perpindahan folklor lisan itu ke bentuk novel. Dua tahun kemudian, bersama Ani Rostiyati, ia menulis tentang keterdidikan perempuan Sunda dalam cerita yang sama. Artikel 2026 berdiri di atas dua catatan tersebut. Pada 2025 ia juga menulis tentang ideologi gender dalam legenda di kawasan Danau Patengan, Jawa Barat.

Dari catatan 2016 datang keterangan tentang saepi. Kata itu, dalam bahasa Sunda, tersusun dari sae dan pikiran, artinya pikiran yang baik. Penguasanya dipercaya sanggup berpindah tempat dengan sangat cepat, nyaris seperti menghilang. Pranggono, yang dikutip dalam tulisan 2016 itu, menyebut saepi sebagai salah satu cikal bakal gagasan teleportasi. Tidak semua orang dianggap sanggup menguasainya; hanya orang tertentu, begitu kata ceritanya.

Dari catatan 2018 datang bacaan yang lebih berani. Nini Anteh, perempuan bumi yang menetap di bulan, dibaca sebagai gambaran awal sosok yang jauh kemudian disebut orang astronot perempuan, hadir di kepala para penutur cerita jauh sebelum sains modern memungkinkan perjalanan semacam itu. Bacaan tersebut tetap sebuah tafsir, bukan klaim bahwa masyarakat Sunda mengetahui penerbangan antariksa.

Detail alat tenun juga bukan hiasan. Dalam folklor Sunda, perempuan mandiri kerap digambarkan berdekatan dengan tekstil: Dayang Sumbi, Dewi Purbasari, Nyi Lokatmala. Bedanya, ketiganya menenun pada siang atau sore hari, sementara Nini Anteh menenun pada malam hari. Jam kerja yang ganjil itu, tulis tim penulis, mempertegas keterasingannya dari kehidupan kampung.

Ada satu keterangan lagi yang jarang disebut orang. Dalam salah satu versinya, Nini Anteh dikisahkan tidak dapat memiliki anak, sesuatu yang menjauhkannya dari gambaran perempuan ideal masyarakat Sunda pada masanya. Justru perempuan itu yang ditempatkan cerita pada posisi paling tinggi yang bisa dibayangkan penuturnya, yaitu bulan. Pengetahuan luar biasa itulah yang menggantikan syarat yang tidak bisa ia penuhi.

Malam Purnama: Ngabungbang dan Zhongqiu Jie

Kedua legenda tidak berhenti sebagai tuturan. Di masyarakat Sunda ada tradisi Ngabungbang, yaitu berkumpul menikmati bulan purnama. Orang berkumpul di pelataran rumah, anak-anak bermain permainan tradisional dan bernyanyi, lalu legenda Nini Anteh dituturkan oleh ibu, nenek, atau siapa saja yang bersedia menuturkannya. Tradisi itu biasanya digelar pada bulan-bulan yang dianggap membawa berkah.

Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan

Di masyarakat keturunan Tionghoa di Bandung ada Zhongqiu Jie, Hari Raya Musim Gugur, yang jatuh pada hari kelima belas bulan kedelapan penanggalan lunar. Perayaannya berpusat pada keluarga dan bulan: lampion dinyalakan, tarian naga digelar, kisah Chang’e dituturkan kembali. Dua tradisi itu tumbuh dari akar budaya yang berbeda, tetapi keduanya berpusat pada benda langit yang sama dan pada rasa syukur yang dirayakan bersama-sama.

Batas yang Diakui Papernya

Di titik inilah penulisnya menahan diri. Kemiripan motif itu, tulis Yostiani Noor Asmi Harini bersama Arief Dwinanto dan Dina Srirahayu, tidak serta-merta menunjukkan proses difusi budaya secara langsung. Yang mereka simpulkan lebih hati-hati: ada ruang pertemuan simbolik dalam pengalaman kultural dua masyarakat yang memang lama saling berinteraksi.

Batas datanya perlu dicatat juga. Dua legenda itu diambil dari dua penutur di satu kota, Bandung, bukan dari penelusuran tuturan di seluruh wilayah Sunda maupun di seluruh komunitas Tionghoa Indonesia. Kesimpulannya berlaku bagi dua teks yang direkam, bukan bagi semua varian legenda bulan yang beredar di kedua masyarakat. Papernya sendiri menempatkan temuan itu sebagai indikasi, bukan sebagai bukti jalur penyebaran.

Ada alasan praktis di balik seluruh kerja itu. Legenda dan tradisi bertahan hanya selama masih ada orang yang menuturkannya; setiap penutur yang meninggal tanpa penerus menutup satu jendela ke kearifan lokal yang dikandung ceritanya. Karena itu tim penulis mengusulkan dokumentasi digital, mulai dari animasi pendek sampai bahan ajar, sebagai cara memperpanjang umur kedua kisah.

Bagian penutup artikel itu mengarah ke ruang kelas. Kedua legenda diusulkan sebagai bahan pengembangan Intercultural Communicative Competence, kerangka kecakapan komunikasi lintas budaya yang dikembangkan Byram pada 1997. Pertanyaan sederhana seperti mengapa yang tinggal di bulan justru tokoh perempuan dipakai sebagai pemantik diskusi. Model kecakapan itu memuat pengetahuan, keterampilan menafsir, keterampilan berinteraksi, sikap terbuka, dan kesadaran kritis budaya.

Artikelnya terbit pada 10 Juni 2026, lengkap dengan gambar yang dibuat empat belas tahun sebelumnya. Bayangan di permukaan bulan sendiri belum berubah sejak orang mulai menceritakannya.

Bagikan

Baca Juga

Dua Puluh Cerita Rakyat Maluku Menunggu Jadi Bahan Ajar
Karma Mistis di Balik Legenda Pembunuhan Cangkring
Cerita Rakyat Aceh: Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Legenda Malin Kundang yang Mengharukan: Dari Peluk Ibu ke Batu Dingin
Misteri dan Legenda Danau Kembar Sumatera Barat: Pertarungan Epik Antara Inyik Gadang dan Naga
Larangan Ibu Suliyah yang Berakhir di Atas Kanvas